Memahat Malam
17 August 2008 | Ditulis oleh: EWA |Oleh Ersis Warmansyah Abbas
MALAM ini, Ya Yang Mahabijaksana, seperti pada ribuan malam-malam, mata jantung kalimah jiwa. Tak pahamlah hamba, namaMu ditoreh, entah dalam benar atau kesesatan. Berburu di padang dalam, menebar mimpi dalam nyata. Lubuk hati memahat malam. Menggapai RidhoMu labuhan ingin.
Tarian jemari memabukkan, menganyam lidah pada huruf, talian diksi balutkan makna. Isian-isian memanjang juadah silaturahmi lampaui pulau seberangi samudera bertambat di relung-relung dermaga harap. Tak kupagut seutas keluh, seikat bosan, apatah lagi pongah. Ada jiwa-jiwa nampan silturahmi, hablum minannash.
Kutahu yang kumau ketika neuron melecut nyali, tapi kutaktahu yang kutahu seperti ku belum tahu yang kutaktahu. Tahuku menyadar ketaktahuan dalam tahuMu. Layar terkembang menjaring muatan pada harap di lipatan rindu.
Ajarkan aku hikmah-hikmah ke relung nafas, selusuri aliran darah pada denyut jantung menanda ke-ada-an bahwa aku digenggamMu. Mudahkan ya Allah, ujung jari-jari berpangkal berkahMu di batok kepala di dalam dada yang belum terasah memanah makrifat.
Malam ini beban tumpah, pinta dipanjatkan, risalah disampaikan dalam degup detik jantung merambah dataran siratul mutaqqim. Batas pandang menembus roh, dalam doa pada pena. Jauhkan dungu berbungkus riya, firmanMu dicerna terkadang lupa helaan nafas ketika tangan belum menyeirama.
Dzikir amanah zikir menoreh kata menancap mau warkah-warkah. Jarak menjadi jembatan kata, ruang menyempit melempangkan gerak, syair-syair didendangkan dalam diam lekad pada alinea muatan tak berukuran. Penghalang tak lagi menenda, ketakberdayan di telan sejarah, simponi semangkin menantang, ujian baru dimulai.
Betapa beban rasa alahkan logika, betapa rasio berbagi rupa, menyelam dalam lautan tak berarir. Pesan-pesan dilayangterbangkan mengetuk pintu hati jendela mau. Semangat memakan dungu, enyahkan takut lumatkan kendala. Surat-surat terkirimkan, keluh kesah bumbunya, mengalir bak air bah.
Wahai angin nan lalu, wahai dinginya malam, tenangnya gundah, tolong sampaikan salam hikmah, pesan-pesan bukanlah dusta. Ayat-ayat beban makna torehan kata-kata.
Wahai energi yang tak tampak, wahai kuasa yang menyembunyi, bangunkan raksasa badaniah, pantikkan api kenikmatan lelapkan durjana, di malam nisfu gelora mengaung tinggi. Rindu hamba rindu kami menyemput kereta kencana memetik seribu malam di helaan nafas.
Kukirim doa padaMu, kusampaikan maaf pada kalian, kuhidangkan nampan pelipur lara, kutangguk kasih kata-kata, menulis diri, memalu langit obat rindu yang tak berkesudahan.
Ya Allah, Ya Rabb, tetesan kasihMu tereguk sudah membasuh aliran darah dalam pengakuan. Syekh Siti jenar mungkin menjadi dongeng, perjalanan masih jauh. Petruk dadi raja.
Kembangkan layar terpaan angin, melaju dari pangkalan. Pengakuan telah divonis. Kehidupan tidak perna surut.
Para pembaca sekalian. Bisa jadi tulisan yang Sampeyan baca ini susah dimaknai, tetapi tetap menjadi tulisan kan? Saya ingin memberi contoh, tidak ada salahnya penulis ‘meggoda’ pembaca agar bingung. Bahasa ‘kelas tingginya’, pembaca juga perlu diberi ‘pelajaran’, memahami penulis, dan … berpikir.
Bagaimana menurut Sampeyan?
Banjarbaru, 17 Agustus 2008.













15 Responses to “Memahat Malam”
By Syamsuddin Ideris on Aug 17, 2008 | Reply
…rangkaian kata religi puitis penuh kedalaman makna.
By suhadinet on Aug 17, 2008 | Reply
Indah sekali Pak. Tulisan yang membuat pembaca berpikir, menjelajah makna kata, adalah tulisan yang dapat membangunkan kecerdasan pulas tak terguna Pak. Itu menurut pemikiran saya.
By aRuL on Aug 17, 2008 | Reply
semalam sy mencari makna kemerdekaan kita pak
By widiya on Aug 17, 2008 | Reply
membuat wid bingung tuk ngerti makna na…
maklum lah wid kan orang awam di dunia menulis…
jd sakit kepala wid… rupa na wid masih hrz bnyk belajar untuk memahami setiap kata..
By Iwan Awaludin on Aug 17, 2008 | Reply
Maknanya ngga saya dapatkan. Tapi saya bisa baca bagian depan dan bagian belakang tulisan, dan menemukan pertanyaan Bapak.
Jawaban saya, yang penting nulis yang baik-baik dulu. Ngga masalah yang baca ngerti atau ngga.
By imoe on Aug 17, 2008 | Reply
amazingggg untaian katanya indah luar biasa….melayu banget menurut saya….
By Alwi on Aug 18, 2008 | Reply
Salam Pak Ersis…
Emm tidak faham sangat bahasanya. Banyak dah lupa bahasa indonesianya..he he he..Apapun sangat puitis bahasanya dan penuh bermakna…
————
Kalam Abu Musaddad
http://ibnismail.wordpress.com
By Alwi on Aug 18, 2008 | Reply
Selamat Menyambut HUT RI ke-63…MERDEKA!!!
By subakhi on Aug 18, 2008 | Reply
inilah contoh tulisan yang indah mahal harganya, saya baca ulang2 sampai mumet.. (tulisan ini merespon komen mas windede rupanya ya).
***He he langsung nebak dan nembak nich ye …
By marshmallow on Aug 18, 2008 | Reply
Mohon ralat, Pak EWA.
Apakah ini puisi yang berisi keluhan akan negeri ini kepada Sang Maha Bijaksana?
Saat bersamaan juga berisi kalimat-kalimat motivasi diri?
Wah, kalau dikaji satu per satu kalimat, bisa gak kelar-kelar bacanya.
Kapan-kapan saya mau bikin diksi yang menggoda juga ah…
***Untaian kata-kata terbuka untuk interpretasi … lamgsung saja biar dinikmati banyak orang. Apa kabar Ausie?
By esa on Aug 19, 2008 | Reply
hmm..dibilang tidak dimengerti, ngga juga. Bahasa yang tinggi, iya. Bahas yg tinggi itu membuat kita agak sulit untuk mengerti, tp bukan tidak dimengerti sama sekali. Indah Pak. Subhanallaah. Keren.
***Wow dapat suntikan semangat nich. Maksih ya.
By Daniel Mahendra on Aug 20, 2008 | Reply
Aku mabuk kepayang membaca tulisan ini, Pak Ersis…
***He he, aku berhasil …
By Jauhari on Aug 20, 2008 | Reply
Bener bener bingung sayah.
***Alhamdulillah, berhasil membuat bingung Mas Jauhari he he.
By fahrizalmochrin on Aug 20, 2008 | Reply
tulisannya lebih berbentuk puisi yang berangkai,,dibutuhkan ketelitian menautkan bait-baitnya..(kalo dibaca dengan penuh kebeningan jiwa memiliki makna terdalam) kalo yang baca sekilas pandang yah ndak ketemu maknanya malah jadi bingung..
***Wow senangnya saya baca komen Sampeyan … Alhamdulillah.
By Komang on Oct 18, 2008 | Reply
Rasanya indah dan enjoy apabila membca saran-saran untuk menjadi penulis pada kolom ini. Ada yang menganjurkan harus lebih serius membaca, berkelana bahkan membuat penelitian untuk menghasilkan tulisan yang bagus namun ada yang menggugah ‘mental block’ para calon penulis. Indah sekali apabila saya bisa memetik dan mempraktekan dalam kehidupanku yang nyata. Memang saya ingin jadi penulis tetapi selalu ada hambatan mental untuk mulai melakukannya apalagi kalau sampai dimuat di surat kabar. Tolong saya …. dari kejauhan Flores-Nusa Tenggara Timur. Negara sudah terisolir, kurang bahan bacaan dan juga jauh dari sentuhan hingar-bingarnya pembangunan ….
Ende, 18 Oktober 2008
***Kalau di mental, ya self-image dan mndset diunprade he he … Ya apa yang bisa saya bantu Mas? Dengan internet batas-batas terelimir to, mari berbuat.