Membangun Kebiasaan
14 August 2008 | Ditulis oleh: EWA |Oleh Ersis Warmansyah Abbbas
MENULIS mudah, bisa jadi berarti, terampil menulis sebagai buah latihan. Tidak ada orang yang fasih menulis sejak sebelum lahir. Menulis menuangkan pikiran ‘melalui’ kata-kata. Semakin terbiasa menulis akan semakin mudah menulis.
Menulis sebagai produk akhir rangkaian berpikir tidak terjadi serta-merta. Ada rangkaian proses sebelum tulisan menjadi. Pembiasaan yang baik pada setiap etapenya, akan bermuara pada kemudahan menulis. Ambil misal dalam meraih informasi. Manakala dibiasakan membaca koran tiap pagi hampir bisa dipastikan memahami peristiwa aktual. Apalagi kalau dibeking informasi paten buku-buku.
Kebiasaan membaca akan membangun sistem informasi di otak, membangun pengetahuan. Masukan pengetahuan berproses membentuk pola sesuai kuantitas dan kualitas informasinya. Seseorang yang membiasakan membaca atau memelototi situs porno tentu isian rumah pengetahuannya berbeda dengan pecandu bacaan tentang Rasulullah.
Begitu pula, serpihan input informasi yang diprores dengan sikap negatif tentu akan berbeda dengan sikap positif. Kalau sedari kecil dipasok pendapat, lelaki perambut panjang adalah lelaki yang gimana gitu. Apalagi, kalau sampai diidentikan dengan pelaku kriminal. Maka, begitu melihat lelaki berambut panjang ‘hati’ akan bengkak. Bawaannya tidak senang sampai menghujat.
Padahal, kalau masukan informasi baik, lain lagi cerita. Rasulullah berambut panjang, kira-kira antara bahu dan telinga. Begitu informasi hadis. E … di otak dibangun pemaham perambut panjang tidak baik, tidak Islamis, kafir. Ya Allah, bukankah berambut pendek tradisi Paus, pemimpin agama Katholik? Apa tidak lucu orang Islam yang meniru gaya rambut Paus memaki Muslim berambut ala Rasulullah? Kalau Rasulullah berambut panjang, karena itu perbuatan Rasulullah, bukankah hadis yang wajib diikuti?
Nah, pola bangun pikiran apabila dituangkan melalui kata-kata akan mengikuti pola pikiran. Melihat siapa sebenarnya seseorang lihatlah dari tulisannya, pantau dari apa yang dikatakan, atau bisa pula dari body langguage. Lain pemain teater atau sinetron lho. Itu soal lelakon dan pelakon.
Pembiasaan peraupan informasi, pemrosesan informasi, berujung pada pengeluaran informasi. Yang terakhir kita maksudkan menulis. Pada tataran ini, ambil hal sederhana. Kalau membiasakan, membangun kebiasaan menulis kata ‘yang’ dengan ‘yg’ akan terbentuk pola. Kalau mapan susah merubahnya.
Pada tingkat lebih serius, saya menyimak seseorang —identitasnya disembunyikannya— kalau membaca tulisan saya sinis. Dia membangun kesinisan dan menuliskan kesinisan. Maka, kebiasaan dan kehebatan sinis menjadi milik abadinya.
Bagi saya, kalau apa yang ditulis bermanfaat bagi sesama, Alhamdulillah. Menulis, membiasakan menulis akan ‘membentuk’ ulang kepribadian. Menulis berarti pula membangun diri. Pembiasaan menulis, karena itu, bukan saja hanya sekadar akan membangun kemampuan menulis, lebih dari itu membangun diri. Menulis adalah pembelajaran.
Jadi, kalau berkehendak membangun diri, berkemauan belajar, monggo ikut ‘kapal’ Ersis Writing Theory (EWT); membiasakan menulis, membangun kebiasaan menulis. Menulis dalam arti menggurui, ngak usah lah yaw. Membangunkan raksasa tidur potensi diri dengan memotivasi lebih mendasar. Menulis berarti menjadi murid sekaligus guru menulis; Menulis Tanpa Berguru.
Bagaimana menurut Sampeyan?
Banjarbaru, 14 Agustus 2008.













30 Responses to “Membangun Kebiasaan”
By DV on Aug 14, 2008 | Reply
Saya setuju dengan sampeyan, ketika membaca tulisan seorang penulis, saya selalu berpikir apakah “begitu pula” isi otaknya ?
Salut!
By Septha on Aug 14, 2008 | Reply
Saya masih susah Pak, menulis tentang sesuatu itu apa adanya, tanpa di ikuti emosi saya.
By mantan kyai on Aug 14, 2008 | Reply
kalau saya lebih senang berguru pada ahlinya. dan sekrang saya sedang komentar di dalah satu ahlinya menulis. thx oom ersis. saya belajar banyak disini
By erry on Aug 14, 2008 | Reply
Saya mau nulis apa ya, lupa,..hehe,..setuju sama pendapat P.Ersis. Beli ticket satu untuk naik kapalnya pak!
By Syams al Ideris on Aug 14, 2008 | Reply
Biar aja, Pak! kalau ada yang sinis anggap saja sebagai kritikan berguna bagi sampeyan. Mungkin Bapak akan menemukan ide menulis yang berbeda setelah membaca tanggapan yang bernada sinis.
Biarlah ‘anjing menggonggong’, tapi EWT terus maju….. Merdeka
By marshmallow on Aug 14, 2008 | Reply
sinis atau kritik, pak ewa?
yang mana pun, mungkin itu adalah demonstrasi dari kebebasan berpendapat.
sah-sah saja.
berani menulis, berani pula dikritik toh?
hehe…
dalam hal menulis, saya lagi-lagi masih terbentur pada masalah ide bagus nih, pak. koq ya gak bisa bikin tulisan yang berisi opini gitu loh.
padahal saya pikir bisa dimulai dari “stereotyping” itu, memperhatikan sesuatu yang dianggap biasa dulu (kebenaran mayoritas), kemudian membandingkan dengan yang semestinya melalui membaca (kebenaran hakiki).
it’s easy said than done ternyata, pak.
sejauh ini masih jurnal melulu.
mohon arahan dong, pak.
By Anang on Aug 14, 2008 | Reply
bisa karena biasa ya pak>
By Mamud on Aug 14, 2008 | Reply
Assalamu’alaikum w.w.
Tulisan Bapak kali ini membuat saya mengangguk-anggukkan kepala yang mulai terisi dengan pengetahuan dari Bapak. Benar sekali bahwa sesuatu yang telah biasa kita lakukan akan membauat kita mudah melukakannya. Kebiasaan kita juga sering muncul dalam hal lain, seperti seseorang yang terbiasa bergelut dalam dunia bahasa dan sastra kemungkinan besar akan menulis tentang keduanya.
Terima kasih atas pengetahuannya Pak. Silakan berkunjung di laman pribadi saya…!
Wassalamu’alaikum w.w.
By noorlatifah on Aug 14, 2008 | Reply
Iya juga sih. Kalau pun ilmu kita segudang tapi masih di dalam otak, mana ada orang yang tahu jika tidak dikomunikasikan. Lewat tulisan itu paling mudah dikonsumsi orang banyak, kapan saja orang mau baca atau mau dibaca berulang-ulang bisa ajakan.
By mathematicse on Aug 14, 2008 | Reply
Iya kalau dibiasakan akan mudah menulis itu.
Btw, saya mau nanya aja deh kali ini:
Cara agar tulisan kita enak dibaca gemana Pak? Kok saya ngerasa tidak mudah ya agar tulisan kita itu enak dibaca, mengalir, mudah dipahami, menarik, dst. Bagaimana membiasakannya?
By Rafki RS on Aug 14, 2008 | Reply
Weleh…weleh. Sepertinya ada pembelaan untuk pilihan berambut panjang nih Pak?
By Alwi on Aug 14, 2008 | Reply
Salam Pak Ersis…
Saya setuju…Mula-mula saya ingin menulis, emang susah banget pak..tetapi apabila dah terbiasa, ide untuk menulis sentiasa ada…tunggu untuk diluahkan melalui penulisan dan menyusun kata-katanya aje lagi..he he he…
———————
Kalam Abu Musaddad
http://ibnismail.wordpress.com
MALAYSIA..
By 1rw@n on Aug 15, 2008 | Reply
betul Pak … rambut Gondrong identik dengan Pejuang … dan Pak Ersis sekarang berjuang melalui tulisan … selamat Berjuang … Merdeka!
By Daniel Mahendra on Aug 15, 2008 | Reply
Aku selalu membangun pola bahwa menulis sama halnya seperti kita makan, Pak: tidak mungkin dalam sehari kita tidak makan toh.
Jadi, kalau kita rutin makan, maka setiap hari kita pun mesti rutin menulis.
Apa yang kita tulis? Sama halnya dengan apa yang kita makan.
Semua menjadi kebiasaan harian.
By Paseban Kreativitas Mahasiswa on Aug 15, 2008 | Reply
Pak bisa bantu terbitkan karya peserta MK Menulis Kreatif sastra Mahasiswa PBSID FKIP Unlam (Kitab Puisi dan Cerpen)? contoh karya mereka ada blogsainulh.wordpress.com. thanks.
By Syamsuddin Ideris on Aug 15, 2008 | Reply
Mampir lagi..baca-baca…
By unai on Aug 15, 2008 | Reply
Saya masih kesulitan menulis seenak bicara pak…
By sapimoto on Aug 15, 2008 | Reply
Saya pengen bisa menulis, maka saya mencoba untuk menulis dalam sebuah blog. Semoga saya bisa menulis seperti Pak Ewa…
By achoey sang khilaf on Aug 15, 2008 | Reply
mohon bimbingannya selalu
By norjik on Aug 15, 2008 | Reply
menarik pak, sementara apa yang ada di pikiran saya sih tumpah di blog dulu. Lumayan pak, bisa membuat hidup lebih hidup dan punya semangat lah
sukses pak !
By suhadinet on Aug 15, 2008 | Reply
Saya percaya, bahwa kunci keberhasilan belajar sebuah keterampilan (misal menulis) adalah dengan latihan. Latihan membuat keterampilan itu muncul sebagai sebuah kebiasaan. Menjadi alamiah. Natural.
@ marshmallow, kenapa gak berani keluar kotak rasa nyaman. Tulis saja sebuah fiksi. Kita semua bisa kasih feedback, jika kamu memnag ingin menulis selain jurnal. Atau puisi, atau seperti harapanmu: sebuah artikel. Ayo! Kapan lagi mulai kalau tak dari sekarang. Bisa karena biasa. Itulah keterampilan.
By edratna on Aug 15, 2008 | Reply
Awalnya merasa sulit menulis, karena selalu terpikir mesti menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar…akhirnya setelah dipaksakan baru bisa, itupun belum berbahasa Indonesia yang baik…paling tidak target seminggu sekali bisa tercapai.
By cinker on Aug 16, 2008 | Reply
saya paling susah dalam menulis, makanya saya membuat blog sebagai tempat belajar untuk menulis. walau apa yang saya tulis hanya sesuatu yang tak mengandung makna yang berarti
By aRuL on Aug 16, 2008 | Reply
iyah menjadikan kebiasaan…
selain menulis, kegiatan postif lain juga bisa dibiasakan
By utchanovsky on Aug 16, 2008 | Reply
saya belum sampai ke tahap ini kayaknya Pak. Terus terang saya masih butuh tulisan yg diselang-selingin ilustrasi biar bisa nyaman membaca.
Tapi setelah saya paksakan baca tulisan ini, ternyata emang nikmat dan tidak menggurui.
keren pak
By 'Nin on Aug 16, 2008 | Reply
Quote: Dia membangun kesinisan dan menuliskan kesinisan. Maka, kebiasaan dan kehebatan sinis menjadi milik abadinya.
—
Kalau sudah begitu bisakah orang tersebut memperbaiki dirinya?
By panda on Aug 16, 2008 | Reply
merdeka!
By sondang on Aug 17, 2008 | Reply
ya saya ikut kapal bapak saja, betapa menarik kegiatan tulis menulis, setiap malam saya menulis dan jiwa saya semakin ringan dan tenang.
By esa on Aug 19, 2008 | Reply
jazaakallaah Pak. Bapak sudah berhasil membangun ide. Setuju banget Pak. Kapan kapalnya berangkat? Sy ga ketinggalan utk ikut naik kapalnya kan Pak? Biarkan diri ini berlabuh di tempat yang tepat untuk berlabuh.
***Selalu belayar dan terbuka untuk semua penumpang, gratis dan nyaman he he
By Syaharuddin on Aug 20, 2008 | Reply
Membangun kebiasaan yang baik tentu sangat bermanfaat bagi diri seseorang. Misal, seseorang terbiasa sholat tepat waktu, terbiasa bersedeqah, terbiasa membaca atau terbiasa menulis. Saya sendiri selalu berusaha membiasakan hal-hal yg +, ya agar menjadi kebiasaan. Ayo mulai membiasakan hal-2 +……
***Insya Allah. Terima kasih sindiran positifnya.