Nikmat Sibuk Nyamannya Menulis
11 August 2008 | Ditulis oleh: EWA |Oleh Ersis Warmansyah Abbas
SUATU kali saya disulang seseorang: “Sampeyan pantas saja mudah menulis, banyak punya waktu. Kalau saya, pulang dari kantor capek. Sehariaan banyak acara yang harus dihadiri”.
Dalam berkehidupan wajar saja sibuk. Waktu memang terbatas, dan waktu tidak berdusta. Pantas Khairil Anwar ingin hidup seribu tahun lagi. Hanya saja, setelah sulangan tersebut dipikir mendalam, kesimpulan yang didapat terbalik. Maksudnya?
Kalaulah saya dikategorikan ‘subur’ menulis, justeru karena sibuk. Pertama-tama, dari kesibukan banyak ide yang diraup. Semakin sibuk semakin bertimbun gagasan. Aneh ya.
Sabtu, 9 Agustus 2008. Saya agak terlambat bagun. Rupanya anak-anak sudah berangkat ke sekolah. Isteri pun sudah berangkat kerja. E … Septha, mahasiswa yang bertugas mendata proyek pemetaan guru rupanya telah berinternetria di kamar kerja saya. Selesai mandi, Septha menyodorkan nama-nama 37 terakhir guru SD Banjarbaru yang penampilan kerjanya diamati. Ada 1500 guru yang kami observasi.
Bersama teman-teman, mengendalikan proyek educational mapping. Dalam dua minggu ini, dari pagi sampai malam kami berkutat hal tersebut. Ada sekitar 100 orang yang terlibat. LPMP Kalsel menjadi markas kami.
Saya menguhubungi Suciati, bendahara proyek agar membayar seluruh upah. Kemudian mengecek kesiapan mencetak Bandjarbaroe Post. Via HP. Beres. Dan, menelepon Zainal serta Suaidillah. Suaidillah menseriusi TOFEL dan Zainal merancang Sekolah Bertaraf Internasional yang menjadi tugasnya.
“Boss. Hari ini kita libur total. Kita berehat-rehat”, mengingatkan sesuai kesepakatan kemarin. “Siap, Boss”, jawab Zainal.
“Sepuluh menit lagi saya ambil”. Dan, saya menyinggahi Zainal di rumahnya. Kami ke Banjarmasin.
Dalam 45 menit sampai di RM Sop Buntut di bilangan Banjar Indah. Sehabis itu ke kantor Supriadi, mantan murid saya. Seorang dokter memainkan jarum suntiknya. Imunisasi untuk mendapatkan kartu kuning persyaratan umroh.
Lalu ke distibutor komputer terbesar Kalsel, Widya Kencana. Pesanan 38 komputer kami sudah OK. Laptop Toshiba terbaru saya dalam pengiriman dari Jakarta. Banyak hal yang kami selesaikan. Kantor kami di LPMP dapat dikatakan memadai secara IT.
Sekiar jam 14.00 sampai di Banjarbaru. Istilah Zainal, memanjakan badan ke Jimmy salon. Setelah itu ke Djemari, pijat refleksi. Asyik. Saya baru kali ini ke Djemari, dan refleksinya rada aneh, seluruh tubuh. Tapi, hasilnya menyamankan.
Menjelang magrib ‘mendarat’ di RM Padang Simpang Raya, Banjarbaru. Begitulah cara kami santai. Dalam kesantaian tersebut banyak hal dibicarakan, dan dari situ meraup ide untuk ditulis.
Sesampai di rumah, setelah magrib, membaca. Lalu, anak-anak mengeret ke kamar ibunya, menonton Extravaganza. Malam minggu kami sekeluarga tidak ke luar karena besok, Minggu, akan ke mall. Sekitar jam 22.00 acara di kamar selesai. Saya ke kamar kerja.
Lalu, mengirim arikel ke Radar Banjarmasin untuk Senin. Menulis beberapa artikel, seperti yang diposting di www.webersis.com. Seperti biasa, deshtop dan laptop diaktifkan. Jam 2 dini hari usai.
Saya menoton film terakhir tayangan Trans TV sembari membaca The History of Java, Raffles. Dalam rangkaian aktivitas tersebut, menulis yang paling merehatkan. Menikmati sibuk menuai nyamannya menulis.
Bagaimana menurut Sampeyan?
Banjarbaru, 11 Agustus 2008.













21 Responses to “Nikmat Sibuk Nyamannya Menulis”
By si Dion on Aug 11, 2008 | Reply
Leres sanget pak, menulis bisa menjadi suatu kerjaan yang nikmat. malah sekarang udah bisa dilakukan dimanapun dgn gadget2 yg udah canggih2 pula (mobile blogging).
salam kenal pak..
By sluman slumun slamet on Aug 11, 2008 | Reply
wah sibuk juga sempat nulis ya pak….

btw sudah mulai metroseksual nih pak….
By Rindu on Aug 11, 2008 | Reply
Awalnya saya menulis adalah saya merasa tidak ada yang bisa mendengar suara jiwa saya lewat ucapan saya … ternyata sahabat-sahabat saya lebih mengerti saya menulis daripada saya bicara.
Sejak itu saya nyaman menulis …
By mantan kyai on Aug 11, 2008 | Reply
menulis memang paling menyenangkan … yah setidaknya jika dibandingkan nonton trans tv
By marshmallow on Aug 11, 2008 | Reply
jadi memotivasi nih, dalam arti saya bakal malu kalau tidak menulis dengan alasan sibuk, padahal kesibukan saya gak sepersepuluhnya kesibukan pak ewa.
sejauh ini yang bikin nyaman bagi saya hanyalah saat menulis jurnal, pak.
masalahnya kalau menulis artikel yang rada-rada berat bukannya bikin refreshing, malah distressing. soalnya jadi ingat assignment terus.
halal gak tuh dalam teori pak ewa?
By Kurt on Aug 11, 2008 | Reply
Menulis dan berbisnis rupanya melengkapi nuansa kehidupan Pak Ersis. Semoga berkah dan melimpah ruahi semua orang, semua pembaca dan penikmat tulisan2 Pak Ersis.
By Sandy Guswan on Aug 11, 2008 | Reply
Malu juga tidak terlalu sibuk tapi tidak produktif menulis. Malaslah nampaknya yang menyebabkan tidak produktif.
By suhadinet on Aug 11, 2008 | Reply
Wew! Mo bikin banjarbaroe post Pak? Koran itu? Terbit harian? Saya boleh ikutan? Boleh kan? He..he…… Ada-ada saja saya ya Pak?
Memperoleh ide bisa dimana saja sekarang. Betul, makin sibuk makin banyak ide. Sekarang masalah saya adalah, masih malu nenteng laptop di bahu kalau ke sekolah atau ke mana-mana. Kadang sore juga saya masih ada pekerjaan selain urusan sekolah. Masih malu, saya sedang mencoba cara donny verdian yang komen di tulisan Bapak lalu, katanya merekam ide dengan perekam suara. HP bisa digunakan, tapi saya, dasar pemalu–kalau berkelakuan agak aneh, jadi belum terlaksana juga. He..he…
Semoga korannya lekas terbit banjarbaroe postnya lekas terbit ya.
By budimeeong on Aug 11, 2008 | Reply
Sibuk EMANG DASAR menyehakan badan. ORANG
BILANG setiap kesibukan mendapat pelajaran berharga. Dalam otak ulun yg tidak begitu encer ini, setiap hari pasti tersirat beberapa ide untuk menulis. Akan tetapi hanya beberapa saja yg sempat ditulis, maklum komputer destop drmh ga nyambung jarnet krn jauh dengan tiang telkom, modem hp tergantung “pulsa”, kewarnet kalau lg punya uang lebih,,btw any way bus way..berbahagialah yg udh punya fasilitas lengkap..
By DV on Aug 11, 2008 | Reply
Saya setuju dengan Anda, di tengah kesibukan ide dapat kita temukan.
Tapi memang bagaimanapun agenda penulisan dari ide-ide yang didapat itu tetap harus diselipkan ditengah kesibukan kita ya, Pak ?
By imoe on Aug 11, 2008 | Reply
Kalo saya kadang-kadang nulis di halte…kalo lagi nunggu teman heheheheh jadi begitu ada ide, langsung tulisssssss begitu kan pak….
By dhany on Aug 11, 2008 | Reply
setuju pak dengan tulisan kita,kita bisa menghasilkan uang…siapa tau dengan tulisan pula kita bisa dikenang seperti chairil anwar contohnya
By 1rw@n on Aug 12, 2008 | Reply
wah enaknya, semakin sibuk semakin banyak ide menulis … kalo saya banyak bengong ga ada ide he he
By dra on Aug 12, 2008 | Reply
sebenarnya saya sibuk tapi buat….. bapak
saya sempetin aja dah kasih komennya…
semoga silahturahminya gak putus.
semangat
By Alwi on Aug 12, 2008 | Reply
Salam Pak Ersis…
Emm..walaupun sibuk, tetapi kalau kita pandai mengurus masa dengan baik pasti kita tidak ketinggalan…Di situlah nikmatnya kesibukan..he he he..
—————
Kalam Abu Musaddad
http://ibnismail.wordpress.com
By Anang on Aug 12, 2008 | Reply
saya sedang menikmati sibuk menulis hehe menulis blog kan juga salah satu bentuk dari menulis yakanpak?
By kambingkelir on Aug 13, 2008 | Reply
Mengikuti Semua Artikel maupun tulisan Mbah Ersis memang membuat menikmati hidup dan memahatnya dengan tulisan
sudah banyak tertulis sampai hari ini walau sibuknya menjelang online telkomsel di agustus ini
salam
dan masih sekedar mengikuti dengan gprs kadang pake HP langsung Nggak komentar
Sudah dari Sumbar Pulang jawa aaah
By esa on Aug 13, 2008 | Reply
betul. Setuju Pak. Sibuk..semakin sibuk, semakin banyak ide untuk menulis. Jika terlalu sibuk, maka luangkan waktu untuk menulis ide-ide itu. Jika masih terlalu sibuk juga..kapan rehatnya bos?
By sondang on Aug 13, 2008 | Reply
seperti inilah contoh kalau menulis sudah berurat-berakar dalam diri, sesibuk apa pun masih sempat menulis. saya kadang kalah oleh kesibukan yang kelewat hingga malam saya benar-benar mengantuk karena cape.
By Willy Ediyanto on Aug 16, 2008 | Reply
Wah, Pak Ersis, menulis emang mengasyikan. Sibuk hanyalah alasan untuk tidak melakukan sesuatu. Mohon doanya, karena tulisan saya di blog saya ada yang meminta untuk diterbitkan oleh seorang kawan di Semarang. Informasinya sih bulan Oktober mungkin bisa terbit. Nanti saya kirimi contohnya kalau benar-benar sudah terbit. Isinya ya sama persis dengan yang ada di blog, hanya saja lebih dinasionalkan, kalau yang di blog memang untuk konsumsi koran lokal. Sekali lagi mohon bantuan doa dan dorongan dari semua kawan di dunia maya ini. Semoga makin menjadi cambuk untuk berkarya.
By toyibah on Aug 16, 2008 | Reply
pak ersis, aku dh mncoba tulis n tulis tpi… gln cranya agar tulisanq bs dbc orng lain?
bs dikrm dmn? mksh