Membodohi Otak
10 August 2008 | Ditulis oleh: EWA |Oleh Ersis Warmansyah Abbas
SEMANGAT menulis menggebu-gebu. Bacaan memadai. Pengalaman hebat dan cukup. Kerja otak bagus. Sehat rohani dan jasmani. Tetapi, mengidap ‘penyakit’; menulis satu-dua alinea, dan … stop. Padahal, kehendak menulis menancap di ubun-ubun. Tekad mantap. Menulis mandeg. Kacien dech lo.
Illustrasi derita panjang tersebut, setelah dianalisis, ternyata berbasis kebiasaan menanamkan kebodohan di otak. Tidak dipungkiri lagi, otak adalah lambang kepintaran, lambang kehidupan. Hanya saja, tidak paham bagaimana setiap saat memperbodoh otak, menanamkan, menancapkan kebodohan. Memantapkan kebodohan di otak. Nah, lo.
Betapa tidak. Kehidupan disamping kecerdasan adalah pula kebiaasaan. Dari kecerdasan dan kebiasaan terbentuk habit, dari itu menorehkan hasil, prestasi. Semakin bertumpuk hasil yang dituai ranah kesuksesan akan memuncak. Hidup bukanlah milik orang bodoh dan berkebiasaan buruk. Kalau dirangkai dalam kalimat pamungkas, kehidupan adalah perjuangan dalam melakukan perubahan ke arah lebih baik, change in progress.
Dalam menulis, ada orang berprilaku bodoh memantapkan kebiasaan jelek, memperbodoh dan membodohi otak. Misalnya dalam menulis. Ketika memulai menulis, satu-dua alinea mandeg, dibiarkan. Besok menulis, satu-dua alinea, mandeg lagi. Minggu depan, bulan depan, mandeg lagi, lakukan lagi. Tanpa sadar, yang ditanamkan adalah kebiasaan menulis satu-dua alinea.
Lucunya, lalu mengeluh. Menulis itu susah. Satu-dua alinea, tidak bisa dilanjutkan lagi. Heran Pak, kenapa begitu ya. Akibatnya, file komputer berisi tulisan satu-dua alinea. Mengeluh sih mudah. Tetapi, kenapa otak dibiasakan pada kondisi menulis satu-dua aline en stop? Kalau otak sudah ‘terbiasa’ akan berlaku refleks. Begitu dua alinea, otomatis akan stop. Sesuai kebiasaan, pembiasaan.
Apabila shalat sudah menjadi habit, menyatu dengan kehidupan, begitu waktu salat otomatis otak akan bekerja, mengingatkan: “Waktu shalat Bro”. Bahkan tanpa melihat jam penanda waktu, otak mampu otomatis mengingatkan pada waktunya. Kalau punya kebiasaan membaca atau menulis menjelang tidur, otak akan terpola ‘memerintahkan’.
Sebaliknya, kalau ditanamkan ‘Menulis Mandeg’, ya akan mandeg. Akan semakin sempurna manakalah dilengkapi dengan menyalahkan diri, lalu mengeluh. Puncaknya, memvonis diri: I’m Goblok Menulis. Hayya kebodohan kog ditanamkan, dibiasakan. Allah SWT memberikan kecerdasan, kita membiasakan kebodohan. Sudah begitu, mengaku-ngaku orang beriman. Lalu bagaimana keluar dari lingkaran setan tersebut?
Pupuskan kebiasaan jelek. Manakala menulis, sampai tuntas. Jangan pernah mau digoda kebodohan, menulis setengah jadi, istirahat dululah. Besok-besok disambung. Bodoh itu. Menanamkan kebodohan. Lawan diri dengan menulis tuntas, tas tas tas.
Para ikwan, para dangsanak tercinta. Mari kita biasakan menulis tuntas. Jangan pikirkan jelek-bagusnya, bermutu-tidaknya. Kita biasakan menuliskan pikiran. Setelah menjadi habit baru bicara kualitas. Kita berlatih menulis saja dululah.
Tapi, malu kalau dibaca orang. Nanti dicemooh guru, para kritikus. Biar saja. Namanya saja berlatih, melawan kebodohan. Untuk mendapatkan hasil yang baik diperlukan latihan, pembiasaan agar fasih. Kalau sudah fasih monggo bermanuver.
Kecerdasaan hibah AllahSWT kepada setiap manusia, born to be a genious. Kesuksesan adalah kehendak atas hasil usaha. Kebodohan adalah pilihan bebas. Silahkan melilih yang sesuai keinginan, buktikan dengan apa yang dilakukan. The life is choise.
Bagaimana menurut Sampeyan?
Banjarbaru, 10 Agustus 2008.













29 Responses to “Membodohi Otak”
By toni on Aug 10, 2008 | Reply
yaaap..kayaknya ada penyakitnya pak, yang sering melambat-lambatkan gitu, apa yaa namanya? lupa lagi saya, heee..jarang tuntas. saya juga punya penyakitnya..dirubah ah sekarang mah…biar otak saya kembali kepada kodratnya Born To be a genius..heeee dibiasakan ah..
By Siti Fatimah Ahmad on Aug 10, 2008 | Reply
Salam hormat Tuan Ersis dan teman pembaca.
Menulis dan menulis tidak pernah lekang dari kehidupan manusia. Hebat menulis adalah kemahiran abadi manusia yang diibaratkan senjata pelbagai guna. Pengasahnya adalah otak yang menjadi alat proses bagi menajamkan butir-butir perkataan untuk tujuan tertantu.
Cergaskan otak dengan jalan berfikir secara sihat, kritis, kreatif dan penuhi ia dengan sulaman metafora dan analogi bagi meningkatkan kecerdikan otak dan menjunamkan aksi kebodohannya.
Orang barat kini secara tidak sadar telah membodohi otaknya dengan berfikir tentang keberanian umat Islam yang berani mati. Kenapa orang Islam sanggup menggadaikan nyawanya untuk menegakkan agamanya. Tidakkah otak itu diperbodohkan untuk fikir perkara yang senang sebegitu. Apakah jawabannya?
Pastilah jawabannya adalah Jihad.Iman yang sudah mantap kepada Tuhan Yang Esa. Cinta yang tidak boleh digugat oleh mata peluru,mata pedang dan mata-mata songsang. Maka sihatkan otak dan rehatkan ia untuk kesinambungan kehidupan yang masih belum menemui jalan matinya.
Tuan Ersis..terima kasih atas semua ilmu yang dipaparkan. Segalanya meningkat kekurangan saya dalam bidang penulisan ini. Percikannya sungguh hebat dan mengujakan untuk terus melayari jalan ini sampai bila-bila.
MENULIS GAYA SENDIRI
http://websitifatimah.sosblog.com
By aminhers on Aug 10, 2008 | Reply
sepertinya setiap rumah punya pisau di dapurnya masing2, tapi hanya beberapa rumah saja yang pisaunya tajam karena terus menerus di asah.
salam menulis !
go write go !
By ogi fajar nuzuli on Aug 10, 2008 | Reply
Pintar dan bodoh adalah satu keadaan yang sangat tipis jaraknya, namun sangat besar akibatnya jika kebodohan yang menjadi panglima, jika kalau dibanding kepintaran yang di kedepankan. Mau contoh yang mudah, bicara soal energi alternatif; Bapak Presiden mencari orang yang gila terhadap tekhnologi. Jika hal ini ditafsirkan dengan kaca mata kebodohan maka jadilah si Joko “Blue energi” masuk ke istana. Sungguh betapa malunya kita sebagai bangsa “terdidik” dapat dengan mudah diperdaya orang yang takjelas latar belakang keilmuannya. Namun jika membaca amanat bapak Presiden dengan nuansa kecerdasan, jika ada hal yang “rada-rada aneh” tentang teknologi, seyogyanya tanyakanlah dengan para pakar yang telah teruji kepakarannya misal dari Perguruan Tinggi ternama di Indonesia atau bertanya dengan LIPI. Ngomong-ngomong soal tulis menulis dan “drop” dalam menulis saya berpikir sebagaimana bung Ersis drop menulis adalah salah satu ciri kelalaian yang sangat dekat dengan kebodohan.
Mengapa hal ini harus saya katakan, sebab jika saya berpendapat orang yang tidak menulis adalah ingkar dengan kecerdasan yang telah diberikan oleh sang pencipta, berarti saya sendiri adalah orang bodoh. Sungguh sangat banyak pekerjaan yang dapat dilalui tanpa harus menulis. (dalam artian yang dapat dipublikasikan). Misal arsitek dalam membuat rancangan dengan menggambar, sehingga menggambarlah tugasnya namun akan menjadi lebih baik, ketika sang arsitek dapat mendeskrifsikan arti dan maksud dari rancangannya. Demikian koment dari saya……
By unai on Aug 10, 2008 | Reply
tulisannya kena banget pak, mandeg=stag=berhejalan di tempat, akhirnya berhenti. tanpa sadar membodohi diri sendiri, tak yakin akan kemampuan yang dimiliki. Saya merasa tertampar pak…thanks sudah menyadarkan
By dp on Aug 10, 2008 | Reply
Apabila shalat sudah menjadi habit, menyatu dengan kehidupan, begitu waktu salat otomatis otak kasi tau.
Tul tu, solat juga kaya nulis. He3
By Rafki RS on Aug 10, 2008 | Reply
Setuju Pak. Ayo provokasi terus biar semua menjadi penulis. Tambah mantap aksi provokasinya Pak. Salut.
By Epat on Aug 10, 2008 | Reply
saya suka paragraf diatas, menjura deh sama pak ersis….hehehe
By Kurt on Aug 10, 2008 | Reply
Alhamdulillah saya masih diberi kesempatan untuk terus mendengarkan “tausiah” yang sangat langka. orang yang selalu mendorong orang untuk beraksi dalam karya tulis bukan “karya tuli” adalah Pak Ersis ini. Makaisih ya bos hingga saya pun diberi tahu via sms.
Tersentak, sekaligus tersinggung juga karena aktivitas menulis di blog saya cukup lama terhenti. Namun saya memang tengah istirahat sejenak u menulis di blog. Namun demikian “virus menulis” yang Bos injeksi pada saya, belum ada antivirusnya: “bosan, mengeluh, merasa bodoh, dll” itu belum ada. Yang terjadi sekarang saya tetap dan terus menulis meskipun tidak mencauntumkan nama diri. kadang nama samaran, kadang nama orang lain kadang apa saja. Saya merasa enjoy berbagi karya tulis dengna nama orang lain.
Saya yakin, siapa yang menanamkan kebaikan, maka si penanam, si penyuruh dan si pengajur kebaikan akan mendapatkan berkahnya…. thanks so much my teacher… ilallaiqooo…
wassalam .
By taufik on Aug 10, 2008 | Reply
Setiap manusia sungguh luar biasa. Tak satu pun manuisa yang harus disebut dengan kata “bodoh”. Kemampuan yang luar biasa ini hanyalah berupa potensi. Kecerdasan adalah ketika setiap kita senantiasa melatih dirinya, dengan kata lain kecerdasan adalah terjadinya koneksi-koneksi antarsel otak.
Kata “bodoh” seharusnya diganti dengan BELUM BISA. Artinya, ketika kita terus dilatih maka suatu saat akan tercipta koneksi dalam sel otaknya. Dan pada saat inilah, sesuatu yang masih BELUM BISA dikerjakan menjadi BISA dikerjakan.
Otak yang jarang digunakan atau tidak dilatih dalam jangka waktu lama bisa berkarat dan kehilangan fungsinya. Kita tahu bahwa otak terdiri dari sel-sel saraf yang bertugas membawa pesan yang bisa membentuk kehidupan yang kita jalani.
Kalau sel-sel otak itu tidak digunakan, mereka mendapatkan pesan bahwa mereka tidak dibutuhkan lagi untuk bertahan. Pada saat itulah mereka mulai menyingkir dan menciut serta mengabarkan kepada sel-sel lainnya untuk melakukan hal serupa. Maka, sejak itu pula kita mulai kehilangan kemampuan untuk memahami makna dan apa yang terjadi di sekeliling kita.
Jadi, jangan heran kalau kemudian kita disebut BBL alias bolot bin lemot atau bodoh dan lemah otak. Pasti enggak mau kan? Bisa dibayangkan seperti apa jadinya negara kita kalau generasi mudanya banyak yang BBL.
Terakhir, saya ingin mengutipkan kata-kata dari Jean Houston:
“Berapa banyak pemikir dan jiwa kreatif yang disia-siakan, berapa banyak kekuatan otak yang terbuang percuma karena pandangan kuno dan picik kita tentang otak.”
Mohon maaf agak panjang… Salam!
By Septha on Aug 10, 2008 | Reply
Yap, intinya sekali menulis dari awal sampai tuntas, jangan mandeg n sesuai dengan ingatan yang ada dipikiran kita khan pak? Biar ga lupa ma ide yang akan kita tuangkan di otak kita.
By windede on Aug 10, 2008 | Reply
Menulis perlu tuntas, ini saran yang baik bagi pemula. Tapi tidak bagi penulis-penulis hebat, yang justru saking hebatnya lalu tulisannya jadi sulit dimengerti, tidak dituntaskan karena sengaja dibaluti misteri, dan pada fase itulah si penulis akan bilang: pembaca juga perlu diajari berpikir, supaya tidak keenakan diberi bacaan yang terlalu gampang dimengerti.
Nah, percaya atau tidak, menulis tulisan yang sengaja diolah supaya “sulit dimengerti” itu terkadang jauh lebih susah dibandingkan menulis tulisan yang terlalu polos dan apa adanya.
Ibarat lukisan abstrak yang tak bisa dimengerti, tapi berharga ratusan kali dibandingkan lukisan realis yang menyerupai gambaran asli objek, maka tulisan yang “sulit dimengerti” itu sering pula dihargai lebih mahal baik oleh pembacanya maupun dunia bisnis kata-kata.
Hmmm… komentar ini belum tuntas sih, tapi kalau dilanjutkan bisa lebih panjang dari posting penulisnya.
By Tria on Aug 10, 2008 | Reply
Tinggal masalah alasan dan kebiasaan malas untuk tidak menyelesaikan suatu tulisan dalam satu waktu yang menjadi masalah saya sekarang ini pak.
By suhadinet on Aug 10, 2008 | Reply
Membiasakan ya Pak. Latihan membuat kita semakin terlatih. Setuju. Menurut teori, keterampilan, kalau ingin diperlihai, cara terbaiknya adalah dengan latihan. Menulis adalah keterampilan, skill. Jadi harus dilatih.
By madhe3d on Aug 10, 2008 | Reply
kalau masalah saya ada pada topiknya pa, biasanya sudah ditulis 2-3 alenia, eh dikepala malah berubah topik.. contohnya gini, saya mau nulis tentang kejadian yang saya alami hari ini, setelah beberapa alenia saya ketemu dengan hal baru, sedang tulisan tentang kejadian tersebut masih belum selesai, walau begitu dikepala sudah kepikiran hal baru tersebut, gitu..
tapi ini cuma contoh pa, n kayaknya masalah ini tidak sesederhana itu..
terima kasih.
***Silahkan baca tulisan saya seputar memfokus tulisan dan konsistensi menulis.
By zoel on Aug 10, 2008 | Reply
wahhhh bener banget tu pak,,, aku hanya ingin menulis heheh promosi judul blog
***Saya menikmati tulisan sampeyan kog. Kan rajin ke blog Sampeyan. Salam.
By bambang subiyakto on Aug 10, 2008 | Reply
bagaimana menurut sampean?
menurut ulun nih, setuju bin ok bos.
ttp orang itu ada speaker, ada writer, ada uler, iler n koler, he he he, eh ada juga pinter tapi ada juga go-blog-er (nah lo, hi hi hi). ada juga lo bos pemakalah dan ada juga ‘pembicara’ (tukang bicara), keduanya beda ‘kan bos? pemakalah tampil dengan makalah, ‘pembicara’ tampil dengan omong aja. tapi tukang omong aja bisa meniti sukses juga. tuh …, buktinya bisa jadi jubir SBY. dulu (sebelumnya) kemana-mana kalo tampil dengan modal omong aja, makanya dulu sidin digelarin ‘pembicara’ (meski intelektual) bila tampil selalu saja dengan omong aja tanpa makalah sih. karena kebiasaanya itu kali ya, sidin direkrut jadi tukang omongnya SBY. tp mnrt gw nih bos, bagusnya sukses omong sukses nulis, tp sebagian org ada tkg omong, tkg nulis, tkg dagang, tkg jahit, tkg parkir, tkg kayu, tkg batu, tkg rawat, tkg suntik (eh, semua org apa jadi tkg ya, hi, hi), ada org tkg ngajar, tkg belajar, bagusnya sukses ngajar sukses belajar ya bos. eh bos, dulu tuh kayaknya gw tkg baca tp sekarang senengnya jd tkg denger (’het is echt waar’: bener loh), gak papa ya bos? yg penting jgn sukses sbg tkg ngibul n dikibulin, ‘dat diende tot niets’ (gak ada gunanya). ok bos sukses deh. salam, daaagh.
***Yoi. Maksih ya. Setiap orang punya peran, berlakulah seuai peranan, dan … kalau ingin dijewer agar terpantik menulis kunjungi blog ini. Inya Allah telinga panas, dan … berani menulis tuntas he he.
By Zul ... on Aug 11, 2008 | Reply
Kebutuhan dan orientasi hidup setiap orang berbeda dan beragam. Menulis hanyalah salah satu dari sekian kebutuhan. Sulit dipastikan jika seseorang yang (biasa) menulis tiba-tiba ‘mandeg’ menulis sebagai bagian dari pembodohan otak (maaf kalau aku salah tafsir).
Barangkali seorang penulis profesional pun (yang tiap hari hanya memikirkan hari ini menulis apa dan esok menulis apa) ada saat untuk kontemplasi dan istirahat dari menulis. Sesungguhnya bukan sebuah pembodohan otak, tapi justru memberi kesempatan kepada otak untuk membagi kecerdasan memikirkan hal-hal lain lagi (selain menulis)
Aku sekarang sedang mengalami ‘mandeg’ menulis. Aku yakin ini bukan persoalan otakku juga ikut ‘mandeg’, tapi ada hal lain yang harus aku kerjakan dan cukup menyita waktu, tenaga, serta kapling-kapling berpikir di otakku.
Namun, menulis harus tetap menjadi kebiasaan.
Menulis mencerdaskan!
Tabik!
***Setuju. Ini kan khusu dala memotivasi mereka yang berkeinginan menulis, ya ngomporilah. Saya sependapat dengan pendapat Sampeyan. Salam kangen.
By irwan on Aug 11, 2008 | Reply
wadew kena banget Pak … postingnya inspiratif banget … jadi semangat nulis lagi.
***Yoi. Mari menulis, menulis, dan terus menulis.
By Ahmad Nur Irsan Finazli on Aug 11, 2008 | Reply
Saya teringat, sewaktu sering ke BJM dulu, sekitar tahun 2004-2005 saya menciptakan judul sebuah permainan (games) untuk out of bound bagi para pejabat pelayanan, yakni “Mengalir Tuntas”. Intinya ya sama sbgmn tulisan pian. Ya, menulis memang harus tuntas, kalau tidak, ya akan terbiasa dengan ketidaktuntasan.
Saya Setuju, pak Ersis.
By mantan kyai on Aug 11, 2008 | Reply
saya mantapkan saya pandai menulis, nah lo. jatuhnya kok jadi sombong oom ersis
*kabur*
By marshmallow on Aug 11, 2008 | Reply
@toni:
procrastinate?
iya tuh, suka menunda-nunda pekerjaan itu memang beracun banget.
@pak ewa:
jadi triknya, kalau lagi ada ide, langsung aja dituangkan, jangan menunda-nunda ya, pak?
jadi ingat resep 5 kiat menulis novelnya daniel mahendra.
By esa on Aug 11, 2008 | Reply
heheh..sy sering Pak kaya gituh. Akhirnya klo belakangan meski akhirnya disambung-sambungin aja ke ide berikutnya

Bener Pak, klo ditunda malah idenya bisa ngilang begitu aja,,minimah topik utamanya tersimpan
oya, sy link di tulisan..gapapa ya Pak.
By DV on Aug 11, 2008 | Reply
Jadi ingat waktu nyusun skripsi dulu, sekalimat sehari..:D
Hoehoehoeheo… bukan pemalas Pak tepatnya, tapi penunda waktu ahahahahaha
By Acmad Yani on Aug 12, 2008 | Reply
Saya jadi ingat waktu masuk SD dulu. Awalnya diajari membaca, lalu menulis….. . Setelah membaca tulisan sampeyan ini, menyadarkan saya bahwa diantara kita ada beberapa golongan kaum :
1. yang rajin menulis karena rajin membaca.
2. yang tetap rajin menulis meskipun jarang membaca.
3. yang tetap rajin membaca meskipun tidak mampu menulis
4. yang mampu menulis tapi malas melakukannya
5. yang tidak pandai menulis tapi tetap melakukannya
6. yang tidak membaca dan tidak menulis
Ijinkan saya berdo’a ………. Yaa Allah…….Semoga hamba tidak termasuk golongan kaum yang nomor enam. Terima kasih Brur Ersis
By erry on Aug 12, 2008 | Reply
Weleh weleh,….saya yang termasuk membodohi otak nggak ya?…dua alinea stop..satu dua alinea stop,…, jadi tersindir juga nich,..hiks,.tapi insya allah nggak mandeg buat belajar pak!…trims ya tulisannya.
***Ngak-ngak, nayatanya Sampeyan aktif menulis kog. Illustratif aja tu.
By sondang on Aug 13, 2008 | Reply
membaca tulisan bapak ini, saya jadi semangat kembali menulis walau hingga kini tulisan saya tidak pernah masuk koran….
By syaharuddin on Aug 15, 2008 | Reply
saya setuju dan saya sering mengkampayekan hal ini. Kemampuan baru bisa dilakukan dengan pembiasaan. Kalau seseorang sering menulis mandeg, maka hal itu akan terus terjadi dan berulang-ulang. yakin dech.