Mengetik Pikiran

9 August 2008 | Ditulis oleh: EWA |

Oleh Ersis Warmansyah Abbas

MENULIS Mudah, Menulis Sangat Mudah. Ya, sekalipun ada yang menyoal, bahkan mencemooh sebagai hal tidak masuk akal dan mengada-ada, setiap orang bebas bependapat. Sebaliknya, ada pula yang mengamini setelah memahami konsep Ersis Writing Theory (EWT) dan mempraktikkan, menulis memang mudah. Sangat mudah malahan. Sure.
 
Betapa tidak. Apa-apa yang akan ditulis (diketik) telah terformulasi di otak, tinggal diketik, jadilah tulisan. Bagi mereka yang bermasalah dengan menulis, akarnya adalah, ketika hendak menulis memikirkan apa yang akan ditulis. Dalam EWT jangan memikirkan apa yang hendak ditulis. Lho?
 
Ya iya. Mau berpikir, memikirkan apa yang hendak ditulis, atau, menuliskan (menuangkan) pikiran, apa yang telah dipikirkan? Beda lho hakikat dan implikasinya. Kalau memikirkan apa yang hendak dipikirkan untuk ditulis, pikiran bisa berkelena kemana-mana. Masih panjang jalan menuju menulis (mengetik). Jangan sok hebatlah. Berpikir untuk memikirkan guna menuangkan pikiran sembari mengetiknya, ribet banget Bro. Hal sedemikian sudah pada tingkat puncak kepasihan menulis.
 
Mari lebih duhulu membiasakan mengetik apa yang hendak ditulis. Tepatnya, menuliskan apa yang ada di pikiran, bukan memikirkan apa yang akan ditulis. Mengetik apa sih susahnya? Gampang Bro.
 
Nah, implikasinya yang perlu latihan. Bagaimana berpikir yang baik. Apa-apa yang terpikirkan, dipikirkan di pikiran, ‘ditertibkan’, disaring, diformulasisakan, dan dimantapkan. Mudah. Tidak memerlukan mood, tempat atau hal-hal khusus. Sambil mendengar musik atau menonton keindahan liukan pesenam, saat menulis bisa jadi akan menyupor kebagusan ketikan (tulisan). Lebih dahsyat, tidak memerlukan waktu khusus dan waktu lama, sepuluh sampai lima belasa menit, kelar. Kalau tidak percaya, praktikkan he he.
 
Dalam hal memasihkan menulis, menulis di otak, ‘manjakan’ otak. Saya punya kebiasaan melarang peserta latihan menulis membawa kamus, buku, atau apa saja. Laptop saja. Kenapa?
 
Misalkan ketika mengetikkan pikiran lupa siapa penyenandung lagu Bangladesh yang bercerirta tentang keterlantaran dan matinya ribuan anak-anak Bangladesh. Siapa ya, siapa, ya siapa ya? (Joan Baez). Tidak ingat, kog diingat-ingat yang tidak ingat, ya tidak akan ingat. Lebih bodoh, otak diforsir mengingat-ingat yang tidak dapat diingat. Bisa aus tu otak. Yo opo rek.
 
Begitulah. Lupa ya lupakan saja. Teruskan saja menulisnya. Kalau saya lupa sesuatu sedang menulis, Alhamdulillah. Ketik … menandakan lupa yang seharusnya diketik. Setelah tulisan selesai, cek di kamus. Titik-titik ditular dengan kata yang ketika menulis lupa. Mudahkan?
 
Bandingkan. Ketika lupa sesuatu, mencari di buku atau internet. Aktivitas menulis tehenti. Buku sumber dicari kemana-mana, didapat buku lebih menarik. Dibaca. Muncul ide baru. Lupa deh lupa yang sedang ditulis. Hal sedemikian diulang dan diulang lagi. Jadilah tulisan satu dua alinea. Begitu lagi. Bertahun-tahun kebiasan jorok tersebut dipelihara. Sudah begitu, mengaku hebat. Dasar …
 
Jadi, mantapkan pikiran, formulasikan tulisan di otak, dan setelah itu ketik menjadi tulisan. Oh, itu menurut Pak EWA? Ya, iyalah, yang mengetik tulisan ini kan saya, jelaslah menurut saya. Kalau tidak percaya, buktikan. Saya jamin kebenaran dan kemujarabannya. Tinggalkan kebiasaan lama, menghabiskan waktu, energi untuk menyoal yang belum dicoba. Buktikan.
 
Bagaimana menurut Sampeyan?
 
Banjarbaru, 9 Agustus 2008.

  1. 13 Responses to “Mengetik Pikiran”

  2. By Anang on Aug 9, 2008 | Reply

    apa yang ada di otak langsung saya tulis.. keburu ilang nanti.. hehe… bener pak.. ga perlu mikir mau nulis apa.. tapi nulis apa yang sedang dipikirkan…

    ***Siiip. Makanya tulisan Ma Anang semakin yahud. Aku suka baca lho.

  3. By toni on Aug 10, 2008 | Reply

    yaap ehhhmmm..waah susah banget ni teorinya, tapi apa boleh buat, saya kan bukan orang hebat, ga ada waktu untuk memperlambat, ya nulis seadanya yang ada di otak biar ga telat, kalo nanti-nanti bisa keburu wafat..heee

    ***Jangan menyusahkan yang mudah, tetapi … mudahkan yang susah he he

  4. By Rafki RS on Aug 10, 2008 | Reply

    Wah, mantap juga EWT theory itu ya Pak? Menulislah apa yang ingin di tulis jangan terlalu difikirkan. Mikirnya belakangan setelah tulisan hadir. Tul nggak Pak?

    ***he he makasih as Rafki. E jangan-jangan saya lebih rajin ke blog Sampeyan dibanding sampeyan ke blog saya he he

  5. By Epat on Aug 10, 2008 | Reply

    saya sering kesulitan untuk memulai kalimat awal kekeke padahal kerangka ide sudah mantab di otak

    ***Bagus, tinggal dibiasakan. Ibarat menyetir, kalau mau jalan terkadang sulit, tapi kalau dah lancar, tokcer deh … Trus laihan dengan menulis.

  6. By hidayat on Aug 10, 2008 | Reply

    sepakat puol…menulis gak usah ragu. tapi yakin….siiip

  7. By Septha on Aug 10, 2008 | Reply

    Saya sudah mencobanya pak, dan emang betul kata bapak, apa yang kita ingat langsung ditulis, jadi deh.

    ***Tinggal dibiasakan aja lagi.

  8. By Siti Fatimah Ahmad on Aug 10, 2008 | Reply

    Menulis juga seperti bercakap. Tidak perlu banyak fikir-fikir. Keluarkan sahaja perkataannya seperti butiran peluru yang dibidik melalui jaluran senjata mulut. Kalau payah yang difikirkan, payah juga mahu dihasilkan. slogannya SENANG UNTUK SENANG.

    Menulis juga seperti memasak. Perlukan ramuan yang menyedapkan rasa dan aromanya. Bagaimana mahu mendekorasikan masakan itu sehingga menarik untuk ditatang dan dihidang. Ini perlukan kemahiran senang dan susah. Gaulkan kepayahan itu. Jawabannya kembali kepada SENANG UNTUK SENANG. Semuanya bermain di FIKIRAN. Kitalah Tukang ceritanya juga Tukang masaknya.

  9. By enggar on Aug 10, 2008 | Reply

    Masih terus belajar dan terus belajar menulis. Ingin deh bisa seperti Bapak yang ide tulisannya banyak dan lancar sekali.

  10. By suhadinet on Aug 10, 2008 | Reply

    Sekarang saya baru datang dari sebuah kegiatan selama 2 hari, kemarin berbincang tentang pengalaman seorang kawan. Mudah-mudahan dari cerita pengalamannya yang menarik itu dapat saya tulis. Soalnya begitu mengusik pemikiran saya.

  11. By madhe3d on Aug 10, 2008 | Reply

    tapi pa, misalnya kita cuma mampu untuk mengungkapkan dalam beberapa alenisa saja(tepatnya beberapa kalimat saja) gimana pa, coz biasanya kalau saya pikiran bisa ngambang kemana2,,
    makasih.

    ***Menulis dalam artian menuangkan pikirian, semakin pendek semakin sulit. Sebab, pilihan diksinya sangat bermakna dan tepat. Kalau say sih belum sanggup tu, kevuali untuk puisi.

  12. By irwan on Aug 11, 2008 | Reply

    akhirnya terjawab juga penyakitku … jadi segera tuliskan apa yang ada di otak, meskipun itu adalah pikiran terliarmu wkwkwk …. tengkyu Pak

    ***He he … sama-sama tenkyu Ma Irwan. Makasih, Sampeyan memantik inspirasi lho.

  13. By erry on Aug 12, 2008 | Reply

    setuju sama pak EWA. Itu yang saya praktekan sekarang. Walaupun suerr,..banyak tulisan yang menurut saya sendiri aneh karena belum terformulasikan dengan rapih di otak,..hehe..maklum, hampir 90% tulisan saya dikerjakan di sela-sela kesibukan kerja. Jadi seringkali tulisannya nggak tamat atau akhirnya bahasannya nggak jelas dan dangkal akhirnya…hihi.., ketika dorongan menulis muncul, cepet-cepet buka blog dan mulai nuuliss deh sambil lirik kanan kiri….

    eh..btw,..komen nya nyambung nggak pak???

    ***Nyambung dong, siapa dulu pengomennya. Oh ya, bagus kali, dalam kesibukan tulis saja. Sibuk mengajarkan kita bekerja cepat, berpikir cepat, berbuat cepat, menghasilkan cepat, dan … ada buktinya.

  14. By sondang on Aug 13, 2008 | Reply

    kembali saya tertegun membaca tulisan ini
    “menuliskan apa yang ada di pikiran, bukan memikirkan apa yang akan ditulis”
    kemalasan saya mulai sirna.

Post a Comment