Menulislah di Otak

8 August 2008 | Ditulis oleh: EWA |

Oleh Ersis Warmansyah Abbas

SETIAP berpikir pada hakikatnya kita menulis; menulis di otak. Apalagi, kalau pikiran mengenai sesuatu diformulasikan sedemikian rupa sehingga menjadi ‘kesatuan’. Apabila menyimpan kosakata di memori (otak) berarti kita menyimpan konsep. Ada miliaran konsep tersimpan di memori.
 
Misalnya konsep Bumi, sungai, demokrasi, atau pacar. Konsep konkret atau abstrak menjadi hal abstrak dalam penyimpannya. Tentu saja kita tidak mungkin memasukkan kursi ke dalam otak, tetapi kita mampu menimpan konsep kursi. Bahkan, jagat raya dan segala isinya mudah saja disimpan. Semakin banyak simpanan semakin berpengetahuanlah seesorang.
 
Apabila kita ‘mengumpulkan’ dukungan konsep atas tema sesuatu dalam pikiran berarti kita sedang menulis (di otak). Menulis di otak adalah pekerjaan, yang sebenarnya dilakukan siapa saja manakala  berpikir. Banyak orang mematangkan tulisan di otak (berpikir), lebih banyak orang yang setengah-setengah atau sambil lalu saja.
 
Ketika bulan memurnama, bintang-bintang berkedip-kedip menghimbau imajinasi ke angkasa luas, kita berkelana dalam pikiran. Kita sedang menulis. Perjalanan imajinatif tersebut, apabila dirakit sedemikian rupa, menjadi kesatuan pada tingkat tertentu, berarti tulisan. Tulisan di otak.
 
Ya, menulis di otak. Menulis yang dapat dilakukan kapan saja, dimana saja, dalam keadaan apa saja. Semakin banyak, semakin matang kemampuan menulis di otak, maka menulis dalam artian konvensional semakin mudah. Semakin mudah?
 
Tentu Sampeyan masih ingat prinsip dasar menulis mudah ala EWT. Menulis menuangkan pikiran, menuliskan apa yang ada dipikiran, apa yang terpikirkan, atau yang tepola di pikiran. Bukan, memikirkan apa yang akan ditulis. Jangan terjerembab memikirkan apa yang akan ditulis, menulis akan susah bo.
 
Pada pemahaman demikianlah, ide-ide bernas saya justru muncul ketika sedang menyetir saat seluruh pancaindera digunakan. Atau, ketika bosan mendengar pidato atau ceramah yang tidak jelas ujung pangkalnya. Akan lebih seru manakala alat indrea dipantik sesuatu. Otak merespon, pikiran membuat formula, jadilah tulisan.
 
Apa-apa yang terpikirkan, terpola di pikiran, di otak itulah yang dituliskan. Menulis —kini mungkin perlu istilahnya diganti dengan mengetik— karena itu, tidak memerlukan waktu berpanjang-panjang. Tidak memerlukan mood, atau apa-apa yang ‘disyaratkan’ teori menulis kuno. Menulis ya menyalin apa yang ada di pikiran. Karena itu wajar saja sangat mudah. Gampang nian, bro.
 
Pada tingkat berikutnya, menulis bukan saja mudah, tetapi nyaman dan menyamankan. Setiap menulis, manakala hal-hal yang terpikirkan menjadi tulisan duh nyamannya. Apalagi, sembari mendengar lantunan Lionel Richie atau Asep Sunarya, hentakan Michel Jackson atau Joan Baez, rintihan dalam Ebiet G. Ade atau ingatan suara khas Oma Irama. Adakalanya sembari menonton bola. Menulis, karena itu, tidak memerlukan konsentrasi sebab menulis dipahami sebagai sistem nyaman dan menyamankan.
 
Dus, sebelum menulis (mengetik) menulislah di otak, buatlah formula tulisan di otak. Setelah OK punya, salin. Ketik melalui jasa tuts keyboard. Jadi deh tulisan. Menulis itu mudah. Sangat mudah malahan.
 
Bagaimana menurut Sampeyan?
 
Banjarbaru, 8 Agustus 2008.

  1. 20 Responses to “Menulislah di Otak”

  2. By DV on Aug 8, 2008 | Reply

    Kalau saya, kadang-kadang memanfaatkan alat perekam suara juga.. jadi supaya ndak lupa dan lenyap begitu saja, apa yang tertulis di otak direkam dalam suara sehingga nanti waktu hendak menulis tinggal diputar rekamannya sembari diketik-ketik..:D

  3. By Sandy Guswan on Aug 8, 2008 | Reply

    Bila tingkatannya sudah sampai menulis di otak tentu tinggal menyalinnya saja. Namun untuk sampai pada tahap demikian diperlukan syarat tertentu. Sehingga menulis mudah hanya untuk orang2 yang berusaha saja.

  4. By Alwi on Aug 8, 2008 | Reply

    Salam Pak Ersis…Semoga susces selalu…

    Emm..Kalau saya, apa yang terfikir di fikiran / otak,saya catatkan dihelaian kertas isi-isinya, kemudian baru bisa mengetik agar tersusun kata-katanya..Bisakah begitu ?

    ————————
    Kalam Abu Musaddad
    http://ibnismail.wordpress.com
    MALAYSIA

  5. By Tria on Aug 8, 2008 | Reply

    Say juga sering melakukannya, tapi masihkurang efektif pak banyak yang lupa. hehe,,

    ***Soal ketika, soal latyihan, soal pembiasaan saja tu.

  6. By marshmallow on Aug 8, 2008 | Reply

    tips ini sulit diterapkan pada orang yang pelupa seperti saya, atau orang yang otaknya sudah jenuh terokupasi oleh jenis tulisan yang lain.
    jangan-jangan pas mau ditulis di komputer, yang tertuang malah daftar belanjaan.
    berabe.

    **Ha ha becanda nich ye. Kalau soal lupa leboh mudah lagi resepnya, ingat apa yang akan dilupakan, dan ingat apa yang lupa he he.

  7. By Edi Psw on Aug 8, 2008 | Reply

    Kadang-kadang di dalam otak ini sudah penuh dengan gambaran-gambaran, tapi kenapa ya Pak, mau mencurahkan isi dari dalam otak ke dalam tulisan itu susah.

    ***Wong tulisan Sampeyan bagus gitu, kog. Untuk yang urang bagus, kurang latihan he he

  8. By taufik on Aug 8, 2008 | Reply

    Malu bertanya, sesat di jalan. Malu menulis, bikin otak enggak jalan. Menulis adalah mengasah otak dan mengembangkan imajinasi, lho. Ayo nulis dari sekarang!

    ***YUp. Konklusi inpiratif yang bagus.

  9. By Syams al Ideris on Aug 8, 2008 | Reply

    He..he..dapat tambahan ilmu lagi nih tentang menulis menurut EWT. Trims Pak Ersis!

    ***he he juga. Bagaimana kelanjutan proyeknya?

  10. By max on Aug 8, 2008 | Reply

    betul Pak… saya sudah terbiasa menulis di otak.. terutama dalam menyiapkan bahan berita.. lebih ngalir rasanya, karena lead sudah ada di kepala dan sudah jelas mau diarahkan kemana tuh bentuk tulisannya.
    bahkan sebelum ditulis, judulnya pun sudah ada. Ternyata punya otak itu memang indah, hehehehe

    * lai sehat pak?

    ***Wartawaaaaaaaaaaan he he. Baiak-baiak saja. Baa kaba kampuang?

  11. By Imoe on Aug 8, 2008 | Reply

    kalo saya, jika ingin menulis, sesudah ada di otak, maka mesti ke keybord komputer…api kalo pake keyboard orang lain gak bisa pakkk kenapa tuhhh.

    ***Soal psikologis. Bagus malahan, cuman kalau ‘terdesak’ gimana?

  12. By Siti Jenang on Aug 8, 2008 | Reply

    …Jangan terjerembab memikirkan apa yang akan ditulis, menulis akan susah bo….

    yes… setuju sangat..

    ***Maksih atensinya. Pie kabare Mas Jenang?

  13. By suhadinet on Aug 8, 2008 | Reply

    Waw, dapat pencerahan baru Pak. Terimakasih.

    ***he he bisa aja. Gimana tu Novel atau noveletnya?

  14. By franciska dyah on Aug 9, 2008 | Reply

    iya,ya.. jadinya klo saia komputernya malah jadi kek buku harian, ada tulisan2 apa yg sedang terpikirkan, tinggal dibaca n disempurnakan lagi……
    makasih ya pak infonya……. :smile:

    ***Senang membaca komennya. Itulah hakikat menulis. Kata kuncinya, sempurnakan dan selalu sempurnakan, sebab tidak ada yang sempurna di dunia he he

  15. By erry on Aug 9, 2008 | Reply

    awalnya saya pikir menulis itu super sulit,..waktu sekolah saya paling sebel kalau disuruh mengarang. Tapi sekarang, kalau tidak menulis malah jadi mumet,.jerawatan deeh..hehe,..walaupun kadang-kadang nggak penting juga apa yang dituliskan. Menulis di otak, bener banget,..mungkin kalau bisa dilihat tulisan yang ada di dalamnya,..waah,..seribu buku tebal juga masih kurang..di tik di kompie pun mungkin akan error..(hehe..didramatisir)..,..nulis apa lagi yaa?….udah dulu ah,..salam tulis!

    ***Ya ya ya. Sampeyan dah sampai ke makifat menulis. Semakin ditulis semakin asyik, otak semakin fresh, otak semakin bekerja, dan menulis emakin mudah. Bisa-bisa kita nantinya encari serum anti menulis he he.

  16. By Daiichi on Aug 9, 2008 | Reply

    Kayaknya nyenengin ya Pak.. jadi mau nyoba ikutan… Ditunggu tips selanjutnya… makasih dah mau berbagi ilmu..

    ***Yoi, maksih atas dorongannya.

  17. By kakanda on Aug 9, 2008 | Reply

    lagi terus belajar nih pak Ersis :)

    ***Siip, semua kita selalu sedang belajar. Salam.

  18. By irwan on Aug 9, 2008 | Reply

    kalo saya sering nulis di otak Pak … sayangnya sewaktu mau di ketik yang ada di otak tiba tiba kosong, knapa yah ..:(

    ***he he pasti kurang latihan.

  19. By Siti Fatimah Ahmad on Aug 10, 2008 | Reply

    Rasanya minggu ini otak saya perlu istirehat daripada memikirkan banyak persoalan. Sudah penat. Mesti bolehkan.Sekejap aje. Otak ini juga mahukan senamannya. Tapi bagaimana ya!

  20. By sluman slumun slamet on Aug 10, 2008 | Reply

    kalo saya biasanya ngoceh dulu pak…..
    kayak orang kesueupan…
    terkadang juga cuman di benak aja sih ngocehnya
    :D

  21. By esa on Aug 19, 2008 | Reply

    saya seringkali lipa Pak sehabis menulis di otak ini. sama kaya Irwan, kadang yg ditulis di otak ga semuanya muncul lagi ke tulisan nyata. Malah bisa sampe lupa sama sekali.
    latihannya gimana yg efektif?

    ****Nulis. Informasi di otak begitu banyak, lupa itu karena informasi atau tulisan yang saling tindih. Maka … keluarkan, tulis. Semakin banyak yang ditulis akan semakin ‘licin’ olinya. Lalu, jalannya mulus. Menulis jadi mudah. Praktikkan ya.

Post a Comment