Naluri Menulis
6 August 2008 | Ditulis oleh: EWA |Oleh Ersis Warmansyah Abbas
KEPRIBADIAN manusia dibentuk atas tiga hal, pengetahuan, perasaan, dan naluri. Dalam kaitan menulis, pada bagian terdahulu, hal pengetahuan dan perasaan telah dibahas. Bagaimana dengan naluri? Apakah manusia punya naluri untuk menulis?
Secara kamusis (KBBI, 1988: 607) naluri berarti: (1)dorongan hati yang dibawa sejak lahir; pembawaan alami yang tidak disadari mendorong untuk berbuat sesuatu, (2) perbuatan atau reaksi yang sangat majemuk dan tidak dipelajari yang dipakai untuk mempertahankan hidup, terdapat pada semua jenis makhluk hidup. Bahasa lainnya, kalau lebih agak kebinatangan, insting. Masih ingat filem Basic Insting?
Kalau dikaji secala akademikal bisa panjang bahasannya. Bisa jadi manusia tidak mempunyai sifat bawaan menulis, tetapi bukankah Allah SWT membekali dengan potensi? Tidak ada manusia yang langsung mampu bicara, tetapi dalam kehidupan bicara menjadi bagian ‘wajib’ kehidupan. Kecuali bagi yang tuna runggu tentunya.
Pemahamannya, menulis adalah keterampilan yang diperdapat dalam menjalankan kehidupan. Naluri lebih kepada kehendak ‘mengatakan’ sesuatu. Kalau demikian, menulis adalah cara lain dari berbicara, dan atau, cara ‘penampakkan’ pikiran. Pada hal-hal tertentu, kita menunjukkan sesuatu dengan body language.
Ringkasnya, naluri menulis halal saja manakala pemahamannya sebagai dorongan ‘menyatakan’ sesuatu, menuangkan atau menampakkan pikiran. Naluri menulis milik semua orang. Ya, sekalipun belum mantap, saya dan Sampeyan sabaratan punya naluri menulis. Ih … punya insting menulis. Buktinya?
Setiap saat, manakala jedah atau pikiran lagi tidak digunakan untuk sesuatu, muncul keinginan menulis. Apabila melihat, mendengar, atau meraba sesuatu, setelah direspon otak, ada keinginan menuliskannya. Nalurikah itu? Biarlah para psikolog yang menuntaskan jawabannya.
Menulis, karena itu, dapat dikatakan dorongan dari dalam diri manakala di diri entry behaviore mencukupi. Semakin mantap entry behaviore semakin kuat dorongan menulis dari dalam diri. Pada hal sedemikian, keterampilan menjadi pendorong dan apabila menjadi milik diri akan semakin membuncah dorongan menulis, naluri menulis.
Menulis, selain dari dorongan dalam diri akan semakin mantap manakala juga dipicu dari luar diri. Masih ingat bagaimana diberi tugas dosen menulis laporan kuliah, pengamatan, makalah, dan sebagainya? Mula-mula sih merasa terpaksa, akhirnya menjadi hal positif manakala dipahami sebagai hal bermanfaat. Bisa jadi, pada tingkat paling positif menjadi naluri.
Sebaliknya, apabila tugas (latihan) menulis dijadikan beban, gerutuanlah yang membuncah. Kalau semasa sekolah dan kuliah, (latihan) menulis dijadikan beban, jangankan menjadi naluri, menulis menjadi momok, hantu menakutkan. Kini tuailah akibatnya, menulis menjadi susah dan menyusahkan.
Secara illustratif, kepada murid-murid saya contohkan secara terbalik dari refleks mata. Manakala ada benda tidak dimaui, kelopak mata segera menutupi, berkedip. Dalam menulis, refleknya bukan dalam bertahan, tetapi menyerang. Menyerang?
Yes. Melihat, mendengar, mencium, merasa, atau merabah sesuatu otak otomatis merespon, dan apabila terjadi dialog di otak, apalagi sampai pada tingkat analisis dan terbentuk formula baru, maka tinggal dituangkan, ditulis. Hal-hal tersebut bisa terjadi kapan saja dan dimana saja. Menjadi naluri.
Bagaimana menurut Sampeyan?
Banjarbaru, 6 Agustus 2008.













19 Responses to “Naluri Menulis”
By budimeeong on Aug 6, 2008 | Reply
iyaaa menulis memang memerlukan naluri, lalu bagai mana dengan MENULIS BAWAAN DARI ORANG TUA pa ewa..?
By suhadinet on Aug 6, 2008 | Reply
Sejak lama saya merasakan ada naluri menulis. Tapi naluri ini tak terakomodasi oleh saya. Waktu SD saya suka menggambar. Selanjutnya saya lebih senang membaca. Mungkin naluri menulis saya tak terakomodasi karena tak ada media misal mading, atau semacamnya waktu jaman saya sekolah. Baru beberapa bulan ini saya mulai memberi ruang-waktu untuk naluri menulis. Mencoba mengasah keterampilan menulis saya. Thanks, untuk membuka mata hati saya, melihat betapa menyenangkan kegiatan menulis itu.
By Sandy Guswan on Aug 6, 2008 | Reply
naluri kita adalah ingin diperhatikan baik fisik atau pikiran, salah satu cara menyalurkan naluri alamiah itu adalah dengan menulis
By Syamsuddin Ideris on Aug 6, 2008 | Reply
Kalau menulis merupakan sebuah naluri, berarti bisa dong menulis tanpa berguru?
By DV on Aug 6, 2008 | Reply
Pakdhe, kadang ketika naluri menulis sudah menggebu-gebu saya membayangkan bahwa pipa kata-kata dari otak menuju jemari itu yang terlalu sempit sehingga setiap kata yang hendak tercurah membentuk cerita pun saling berebut masuk dan lewat pipa sempit itu … dan akhirnya bingung mau bagaimana menuliskannya
Itu yang sering terjadi, setidaknya pada diri saya sendiri.
Gimana menurut sampeyan, hayo…
By sawali tuhusetya on Aug 6, 2008 | Reply
yaps, bener banget, pak ersis. setiap orang sebenarnya punya naluri menulis. tapi kemungkinan utk meresponnya itu yang beda2. ada yang langsung tergerak utk beraksi, tapi sebagian yang lain menunggu mood. yang lebih repot, ada desakan naluri yang kuat, tapi sering membiarkan nasib naluri menulis itu merana, haks….
By marshmallow on Aug 6, 2008 | Reply
keterampilan menulis seperti halnya berbicara menempati area broca di hemispher kanan.
kalau dulu orang menuangkan pikiran dalam bentuk coretan, yakni gambar dan lambang-lambang yang rumit sebelum ada huruf; menghitung ternak dengan menggunakan turus sebelum ada angka.
sekarang menulis sudah sangat mudah karena diakomodasi oleh berbagai medium.
jadi kenapa tidak menulis?
By Siti Fatimah Ahmad on Aug 6, 2008 | Reply
Menulis adalah aktiviti yang senang dan menyenangkan. Mudah, malah semakin memudahkan jika kita suka menulis.Menghargai dan mncintainya.
Menulis perlukan paksaan pada peringkat awal penulisan. Tidak mengapa. Asal keinginan menulis itu diusahakan. Jika tidak, pasti sampai bila-bila kita akan jadi manusia yang buta huruf atau malas menulis. Kerana itu , ramai manusia yang tidak mahu membuat apa-apa aduan kerana malas membuat laporan berbentuk penulisan yang menjadi bukti kejadian. Akhirnya tiada apa-apa tindakan. Rugi segala.
Jangan biarkan naluri susah menghantui kita. Buat dan fikir sesuatu yang menyenangkan kita, pasti ayat-ayat yang terhasil dari tulisan itu akan berimpak tinggi walau hanya beberapa baris sahaja.
Motivasinya adalah diri kita sendiri. Senang-senangkan diri dalam menulis agar naluri menulis itu lahir semulajadi tanpa dibantu orang lain.
MENULIS GAYA SENDIRI
http://websitifatimah.sosblog.com
By Siti Jenang on Aug 7, 2008 | Reply
setuju pak. ketika sedang berpikir, menurut saya, sebetulnya kita sebenarnya sedang ‘menuliskan’ gagasan di kepala. dipapar, dijabar, digelar supaya terbaca dengan jelas persoalan yg sedang dipikirkan.
By laporan on Aug 7, 2008 | Reply
Proses analisa yg sulit karena membutuhkan ketajaman, inilah yang membedakan antara satu orang dengan orang yang lain.
By Daniel Mahendra on Aug 7, 2008 | Reply
Banyak hal yang tak dapat aku ungkapkan di mana hal tersebut bisa dikeluarkan melalui tulisan…
By Achmad Sholeh on Aug 7, 2008 | Reply
Betul apa yang bapak tulis, pada dasarnya menulis itu berdasarkan yang kita temui, dengar, baca, rasakan dan baru kita tuliskan meski kadang sulit untuk merangkai katanya….salam
By erry on Aug 7, 2008 | Reply
assalamualaikum.
Salam kenal mas. Setuju apa yang dikatakan mas Ersis. Dorongan unuk menulis sering nggak bisa ditahan. Walaupun kadang-kadang nggak tertuang dalam tulisan, tetapi dalam benak kita terangkai kalimat-kalimat yang ingin kita ungkapkan. Mampir ke blog saya ya mas. Wass.Wr.Wb
By Qizink on Aug 7, 2008 | Reply
saya sepakat mas ersis. Dalam menulis perlu kepekaan semua indera. dan kepekaan itu muncul dari sebuah naluri, bukan gitu mas?.
By Mahmud on Aug 7, 2008 | Reply
Ass. Wah mantap tulisan Bapak…! Buktinya? Sekarang ada keinginan menulis dalam jiwa saya.
By aminhers on Aug 8, 2008 | Reply
menulis perlu niat dan semangat.
By Kurt on Aug 10, 2008 | Reply
Menulis tidak susah namun anehnya tidak gampang bagi sebagian besar orang. Ini berarti ada naluri manusia dilahirkan untuk bisa menulis dan betul semua orang bernaluri untuk itu.
Orang yang tidak mau menulis itu hanya pilihan saja karena dia tidak menikmati apa yang ditulisnya. Sebagian orang yang merasa nikmat maka akan ketagihan sebagaimana orang yang terbiasa mengerjakan shalat atau amal lainnya…
begitu kah my bos?
By Kurt on Aug 11, 2008 | Reply
bos tulisan ini saya gazab untuk menebarkan virus ke tempat saya… makasih.
By esa on Aug 19, 2008 | Reply
naluri menulis..insting..
hari ini belum berhasil meyakinkan seseorang untuk menerima saya jd army nya, padahal pengen bgt. Krn beliau mengikuti insting dari tulisan sy, “kamu ga akan kuat katanya”. tapi tak apa. menulis tetap akan dilanjutkan, dan semoga bisa lebih baik 
dg menulis bisa jadi orang bisa menebak macam apa kita ini, benar kan ya Pak?
makasih ya Pak.
***He he … soal sabar, atau instingnya ngak bagus aja kali. Robah mindset dia, Pasti Kuat.