Mengasah Rasa
4 August 2008 | Ditulis oleh: EWA |Oleh Ersis Warmansyah Abbas
KOSAKATA rasa, adakalnya agak susah dipahami. Secara kamusis, dalam arti kelima, berarti: Pendapat (pertimbangan) mengenai baik atau buruk, salah atau benar, dan sebagainya (KBBI: 1988: 729). Diskusi ini tidak mencampuradukan dengan pengertian ‘perasaan’ sebagai konsep psikologi.
Lagi pula dalam kaitan sharing menulis, rasa dalam menulis dimaknai sebagai pendapat ‘baik’ atau ‘buruk’, ‘salah’ atau ‘benar’ ketika mempertimbangkan tulisan yang dihasilkan. Rasa, karena itu, menjadi ‘pisau pembedah’ karya dimana semakin tajam akan semakin baik. Artinya, dalam melajukan kualitas tulisan, di satu sisi mengasah rasa, di sisi lain rasa ‘menilai’ tulisan.
Perhatikan kutipan dari skripsi yang saya koreksi bersamaan dengan menulis artikel ini: Sesuai dengan isi GBHN 1999-2004 yang berbunyi: Mengupayakan perluasam dan pemerataan …. Hayo, bagaimana bisa GBHN berbunyi. Ada nyomplang rasa ketika membaca kalimat tersebut. Emang burung?
Rasa-rasanya kurang pas ketika seseorang merangkai kalimat tanya: Mas, air di rumah Sampeyan jalanlah? Ledeng jalanlah? Air adalah benda cair yang kalau berpindah dari suatu tempat ke tempat lain pastilah mengalir. Ledeng yang terbuat dari pipa atau besi, kalau berjalan berbaris mengelilingi kota apa tidak membuat geger?
Dalam mengasah rasa berbahasa, berbeking logika, sungguh tidak lucu kalimat: Bu, sudahlah menanak nasi? Jangan menyoal yang ditanak beras. Apalagi protes, kalau menanak nasi apa tidak jadi bubur? Sampeyan yang memiliki rasa bahasa dan bernar secara logika, bisa-bisa divonis gila. Dalam masyarakat orang gila, orang waras yang gila, he he.
Betapa seringnya ‘kita’ merangkai kata-kata atau kalimat konyol. Bis itu pulang pergi Jakarta-Bandung. Pulang dulu baru pergi. Apa tidak terbalik tu? Kata orang-orang hebat, tidak perlu dipersoalkan, sebab sudah merupakan taken for granted.
Ya, silahkan saja. Cuma, rasa-rasanya kog tidak berasa. Silahkan pula pula Sampeyan menuntut ilmu sekalipun bisa memunculkan tanya: Apa sih salah ilmu kog dituntut? Emang koruptor yang perlu diadili Pak Hakim? Saya memilih kosakata belajar (ilmu). Jelas dan terpilah.
Rasa-rasanya, sangat bodoh kalau dosen, guru, atau birokrat berkata: “Jangan lupa menandatangani absensi ya”. Yo opo rek. Orang hadir diperintahkan menandatangani ketidakhadiran. Logisnya, presensi alias daftar hadir yang ditandatangani. Kalau yang mangkir, tidak hadir, ya wis to. Kalau mau menandai kasih silang saja di daftar hadir.
Bahasa menunjukkan bangsa. Bahasa menandai manusia. Bahasa Sampeyan menunjukkan siapa Sampeyan. Ersis yang berbahasa suka-suka, adalah Ersis yang suka-suka dalam pengertian berjiwa bebas. Tetapi, memperhatikan makna kosakata dan logika bahasa lho. Walau, tidak selalu he he.
Ya, dengan menulis mengasah rasa, menilai pantas atau tidak apa yang ditulis, baik atau buruk. Mengasah rasa berarti kita ‘mengevaluasi’ pikiran, sebab pikiran yang dibahasakan adalah perwujudan pikiran dalam bentuk tulisan. Kalau berpikir kacau, pasti tulisannya kacau.
Dus, mari menulis. Mari mengasah rasa. Mari menggunakan rasa untuk mengasah bahasa, mengasah tulisan. Eh … emang bahasa itu pisau kog diasah? mBuh. Kali ini saya menggoda Sampeyan.
Bagaimana menurut Sampeyan?
Banjarbaru, 4 Agustus 2008.










22 Responses to “Mengasah Rasa”
By Epat on Aug 4, 2008 | Reply
wahaha saya orang yang termasuk berbahasa suka-suka, terlebih bahasa yang saya gunakan diblog
***NGak juga tuh, bagus kog bahasa Sampeyan.
By mantan kyai on Aug 4, 2008 | Reply
menulis mencerahkan jiwa. no argue!!! hidup blogging !!!
***Yap. Hidup bloger, kalau ngak hidup gimana blogingnya tu he he
By suhadinet on Aug 4, 2008 | Reply
Memilih kata. Penting sekali ya Pak.
***He he dah paham aja pasti Pak Guru. Giman kabar Danau Panggang? Kapan saya diundang kesana he he
By unai on Aug 4, 2008 | Reply
saya tenggelam dalam pekerjaan nih pak? duh duh..ketinggalan banyak ilmu dong saya. tapi masih suka baca dan menulis kok, gada waktu saja mau publishnya. Aimisyu pak
By meiy on Aug 4, 2008 | Reply
tapi kdg sudah jadi bahasa budaya loh pak. hehe alasan, nah coba rumah sakit, rumah kok sakit
pa kabar pak, baru kalua rimbo ko ambo, alun sempat jalan2 byk di dunia maya lai.
ketinggalan byk aku pak.
By Syamsuddin Ideris on Aug 4, 2008 | Reply
Apakah mengasah kata itu berhubungan dengan pengalaman atau lamanya jam terbang menulis ya? Saya perhatikan, penulis populer memang kata-katanya enak di baca, pemilihan katanya tepat, suasana yang dibangun benar-benar dapat dihayati penulis.
Tidak demikian bagi pemula dan pelajar “menulis” seperti saya ini. Rasa-rasanya ide yang ada di otak sudah bagus, sudah mantap dan sudah meyakinkan. Tapi begitu dituangkan ke dalam tulisan kayanya ada yang kurang. Ide saya tidak dapat ditangkap maksudnya oleh pembaca dengan baik.
Apakah ada saran atau petuah praktis yang bisa saya terapkan agar ide dapat dituangkan dalam bentuk tulisan dengan utuh tanpa adanya kesalahpahaman dari pembaca.
Terima Kasih.
By qizink on Aug 4, 2008 | Reply
Bener mas… kekeliruan berbahasa itu sudah amat lumrah dan menjadi dimaklumi di tengah masyarakat. Coba saja ketika kita ke warung nasi, kita bilang ke pedagang, “Coba minta nasi rawonnya, Mas.”
Walau sudah mengatakan minta, tapi itu dipahami beli. Saya lupa dalam ilmu mantiq ini ada bagiannya… ada yang tahu???
By laporan on Aug 4, 2008 | Reply
Betul pak ersis, sama halnya dengan menggali sumur, atau menanak nasi, yang seharusnya mengali tanah untuk dibuat sumur atau menanak beras. Ternyata banyak ya salah kata dalam penggunaan masyarakat umum.
By DV on Aug 4, 2008 | Reply
Anda bilang saya jagonya ngulas lagu, Anda jago banget banget banget ngulas kata
Saya suka!
By marshmallow on Aug 4, 2008 | Reply
Ada juga penggunaan kosa kata kerja yang bersifat personifikasi, Pak. Misalnya di contoh GBHN yang “berbunyi” itu.
Jadi gak salah juga kan?
By zoel on Aug 4, 2008 | Reply
Ya, dengan menulis mengasah rasa, menilai pantas atau tidak apa yang ditulis, baik atau buruk. >> hihihihihi bener banget ni pak
By Siti Jenang on Aug 5, 2008 | Reply
he he he… betul itu, pak. kalo menurut teman saya yg lulusan sastra indonesia, menulis sebaiknya diawali dari kuatnya logika bahasa. setelah menulis lalu dibaca (sendiri), barulah muncul rasa.
By cinker on Aug 5, 2008 | Reply
saya merasa kalo tulisan saya tidak berasa…..!tapi bagai mana lagi saya ingin menulis tapi tidak pendai menulis…..!
apa boleh di kata, apa boleh di buat, biarkan saja mengalir begitu saja
By Daniel Mahendra on Aug 5, 2008 | Reply
Nah-nah! Ini pembahasan seru dan paling kusuka. Aku kerap dapat olok-olok dari lawan bicara karena suka membetulkan penggunaan kalimat. Dibilang sok ribet lah, sok editor lah, tidak diambil praktisnya lah.
Padahal contoh-contoh yang Pak Ersis sodorkan sangat-sangat jamak salah kaprahnya dalam bahasa lisan masyarakat.
Di Bandung kerap digunakan istilah “aliran” untuk menerangkan keadaan listrik mati. Padahal secara logika berpikir: bukankah aliran berarti justru ada arus listriknya. Apa boleh buat, ini salah kaprah kolektif.
Aku setuju: Bahasa menunjukkan bangsa. Bahasa menandai manusia. Jadi, masyarakat kita ini masyarakat yang doyan salah kaprah? Hehehe!
By taufik on Aug 5, 2008 | Reply
Dengan ‘akal manusia bisa menimbang, menganalisa, memahami, dan akhirnya membuat atau menentukan pilihan yang paling baik untuknya. Sedangkan dengan fasilitas rasa, manusia akan mampu meresapkan dan/atau menciptakan keindahan, menghayati dan/atau menggubah kesenian. Dengan mengembangkan ni’mat rasa, manusia akhirnya bisa menjadi pencinta kebenaran, keindahan atau kesucian, dan keadilan; bukan sekedar menjadi penuntut kebenaran (hak) dan ke’adilan.
By Siti Fatimah Ahmad on Aug 5, 2008 | Reply
Sangat bagus sekali bicara Tuan Ersis tentang mengasah rasa. Saya jadi senyum sendirian. Mungkin saya juga terbuai oleh rasa indah bahasa yang boleh digabung seenak rasa yang merona arti keharuman puitisnya jalan cerita yang hendak dibawa.
Namun saya setuju, jika tulisan dan kata yang bercelaru, mungkin seperti yang saya hidangkan (seperti makanan saja bunyinya) di atas dalam aspek normal tulisan yang menyentuh peradaban bahasa untuk urusan tertentu, maka ia perlu diperhatikan agar bahasa tidak bercampur aduk.
Ya…bahasa jiwa bangsa. Tanpa bahasa, masyarakatnya tidak punyai budaya dan peradaban tersendiri sebagai satu mercu kewujudan bangsa itu. Maka jangan digauli bahasa seperti membuat campuran kek atau biskut.
Malah bahasa sms sudah mulai membinggungkan rasa para pencinta bahasa di nusantara ini.Bukankah itu wujud atas keunikan rasa ingin menyampai maklumat sebanyak mungkin? Malah kita juga mencipta lagi bahasa yang berserak tetapi akan hilang sedikit demi sedikit bahasa asalnya.
Ini bermakna generasi akan datang sudah tidak lagi mengenali bahasa-bahasa nenek moyang yang indah-indah kerana rasa mudah yang dipamerkan oleh generasi masa kini. Salam dari UKM, Bangi.
MENULIS GAYA SENDIRI
http://websitifatimah.sosblog.com
By marshmallow on Aug 5, 2008 | Reply
second thought, “berbunyi” itu bukan personifikasi dong ya, pak?
kan manusia gak “berbunyi”, tapi “bersuara”.
*siap-siap dikritik daniel mahendra*
By norjik on Aug 5, 2008 | Reply
udh kbiasaan pak he3x, susah kl mo merubahnya .. apalagi sering denger kata2 yg keluar … Misal “JUJUR saja ya, saya paling gk suka Bohong” .. brarti baru kali ini dia JUJUR :d ..trus ucapan2 kmrn yg tanpa di awalin “JUJUR SAJA” .. brarti bo’ong smua donk .. ha..3x (Just Kidding)
By Syamsuddin Ideris on Aug 5, 2008 | Reply
Ada lagi ungkapan anak-anak mahasiswa di Banjarmasin yang naik taksi kota. Jika mereka ingin meminta sang sopir berhenti di suatu tempat, maka istilah yang digunakan: “kiri man”. (Stop di kiri, paman sopir). Tapi kalau orang yang tidak tahu dikira artinya “kiriman”. Jadi ada teman yang baru datang ke Banjarmasin heran. Dia bertanya, apakah berhenti dalam bahasa Banjar adalah “kiriman”.
He..he..he… nyambung nggak ya? dengan topik bahasannya Pak Ersis?
By toni on Aug 5, 2008 | Reply
yaap…taksi tu ternyata angkot ya disini,,bukannya taksi tu yang bentuknya sedan? mungkin karena kebiasaan ya, alah kata karena biasa, yang biasa jadi biasa-biasa saja, ehm mau dirubah ya dibiasakan aja.
By Rafki RS on Aug 5, 2008 | Reply
Menurut saya memang kita sudah dari sononya kekurangan kosa kata dan salah kaprah menggunakan kata-kata. Hal ini sebenarnya bisa dirubah tergantung kemauan dan komitmen kita semua. Sayangnya, dalam praktek malahan semakin menjadi-jadi salahnya.
By Alwi on Aug 6, 2008 | Reply
Salam Pak Ersis..
Penggunaan bahasa juga melambangkan keperibadian seseorang….
—————————-
Kalam Abu Musaddad
http://ibnismail.wordpress.com