Mengalirkan Pikiran
2 August 2008 | Ditulis oleh: EWA |Oleh Ersis Warmansyah Abbas
MEMBATU. Cogito ergo sum, aku berpikir maka aku ada. Begitu kalimat terkenal Rene Descarter. Masih ingat patung terkenal karya Rodin? Manusia tegap menundukkan kepala melambangkan berpikir. Kita berpikir setiap hari. Tanpa berpikir kita mati dalam hidup. Berpikir penanda utama manusia.
Allah SWT Mahapemberi. Dibekalinya manusia segenggam otak bermuatan setrilun sel saraf (neuron) yang kalau dibentangkan panjangnya bisa mengelilingi Bumi. Kapasitasnya lebih ‘luas’ dari jagat raya. Jagat raya bisa ‘disimpan’ di otak manakala yang punya otak mampu melakukannya. Otak sumur pengetahuan yang tidak akan pernah penuh atau dangkal.
Pertanyaannya, jagat raya pengetahuan yang ditumpuk sedari kecil apakah hanya sekadar untuk disimpan? Ataukah sengaja dibiarkan menjadi kerak-kerak membatu? Buktinya, pengeluaran pengetahuan sangat sikit. Paling-paling untuk melamun atau bicara. Akibatnya membatu, dan ketika dikeluarkan ngadat.
Jangan-jangan bagi mereka yang kesulitan menulis karena memang pengetahuannya telah menjadi karang di otak. Tidak pernah dialirkan sih. Menulis sedikit mandeg, ada ide begitu mau dituliskan ngadat. Pengetahuan dikerangkeng, dipenjarakan di rumah otak. Hingga sabda Rasulullah, ikatlah imu dengan menuliskannya, menjadi susah.
Dus, agar otak selalu fresh alirkan pikiran dan atau apa yang dipikirkan dengan menulis. Dengan begitu, penegatahuan tebarui dan akan berproses yang akan semakin memudahkan penerimaan dan pengeluarannya. Sebab, pada proses tersebut akan bergulir sebagaimana mestinya. Ibarat oli pada mesin, menulis melancarkan kerja otak.
Lagi pula, keterampilan menulis bukan saja pembeda manusia dengan binatang. Bagi mereka yang pernah belajar sejarah, manusia yang tidak mampu menulis, dan atau meninggalkan tulisan, dikategorikan mansuia prasejarah. Tidak mampu menulis.
Konon, dengan ditemukan tulisan pada prasati Kutai, 400 M. maka bangsa Indonesia memasuki era historis. Sebelumnya, tergolong manusia purba, manusia purbakala, manusia jahiliyah. Tidak heran, antropolog menjadikan tulisan sebagai pendayung peradaban. Tulisan juadah bagi pengembangan pengetahuan, ilmu, teknologi, dan bla-bla.
Kembali ke pangkal paparan ini, menulis adalah ‘memelihara’ otak. Semakin dilatih, bak pisau semakin tajam. Implikasinya, menulis menjadi mudah, fasih. Pengetahuan tidak akan menjadi kerak-kerak, apalagi karat yang merusak otak. Lebih dahsyat, apabila menulis daya panggil pengetahuan yang disimpan di file-file otak akan meringankan beban otak. Kalau otak fresh, hidup dan kehidupan lebih nyaman.
Misalkan begini. Sampeyan jatuh cinta (emang batu). Kalau tidak disampaikan pada sasaran, bisa pusing sendiri. Kalau ditulis di diari otak menjadi nyaman, ringan di rasa. Sebab, tidak ditabat, tidak dibendung. Coba saja, manakala selesai menulis sesuatu, dipastikan pikiran plong. Nyaman.
Karena itu, demi hal-hal baik untuk otak, menulislah. Alirkan pikiran melalui menulis. Jangan hanya dengan merenung. Hal tersebut bisa jadi akan membebankan pikiran.
Sekali lagi, mari menulis. Mari alirkan pikiran dengan menuliskannya.
Bagaimana menurut Sampeyan?
Banjarbaru, 2 Agustus Juli 2008.










19 Responses to “Mengalirkan Pikiran”
By Syams Ideris on Aug 2, 2008 | Reply
Ayoo semua…alirkan pikiran dengan menulis agar otak kita jangan membatu. Ajak keluarga, teman, anak didik dan seluruh lingkungan untuk belajar menulis. Ya kan pak?
***Ha ha ha.
By norjik on Aug 2, 2008 | Reply
memang benar pak, menulis itu bisa membuat kita lebih aktif. Bisa membuat kita punya semangat baru dan ide-ide baru. Menulis bisa menghasilkan sensasi tersendiri buat saya.
***Yoi. Begitu juga maksud saya. Sama kan.
By laporan on Aug 2, 2008 | Reply
“Otak manusia ibarat sumur yang tidak memiliki dasar, luasnya seluas jagad raya”. Manfaat yang harus manusia syukuri dan manfaatkan.
***Soal manfaat dan memanfaatkan tergantung manusianya.
By toni on Aug 2, 2008 | Reply
yap…input - output, itu yang bisa menyeimbangkan, jika terus dipikir tanpa di output kan heee…bisa bikin kurus, peng efektifan waktu hidup, dengan berpikir dan mengeluarkan isi pikirannya,, itu seharusnya menjadi proses alam kehidupan.
Pikiran => Menulis => Tulisan…yapp
***Yoi, ujung-ujungnya tulis.
By suhadinet on Aug 2, 2008 | Reply
Setuju Pak, mengalirkan pikiran, dengan menulis, tidak jadi beku.
***Ya ya ya, yang membekukan pikiran kita ya kita sendiri.
By suhadinet on Aug 2, 2008 | Reply
Pak, saya mulai kemarin, tgl 1, kalau kasih komen dari kompie selalu dianggap spam di blog Bapak. Dua komen ini pakai hape, kok bisa begitu ya? Tau kira2 kenapa Pak?
***Ha? Ulun jua kada paham tu, mana tau yang lain bisa bantu. Lagi pula kalau komen masuk area spam saya main delet aja hingga banyak yang protes. Habis spamnya banyak banget yang terjaring, sampai yang ngak spam pun dijaring saking Mas Aski bersemangat ha ha.
By zoel on Aug 2, 2008 | Reply
saya juga mencoba mengalirkan pikiran jadi tulisan pak
***Bukan mencoba lagi Zoel, Sampeyan dah melakukan kog, dan … hasilnya bagus. Saya mengunjugi blog Sampeyan kog.
By Rafki RS on Aug 3, 2008 | Reply
Saya setuju kalau menulis adalah salah satu cara untuk mengupgrade kemampuan otak.
***Sama. Menulis adalah pula membaca yang melicinkan kerja otak, ibarat oli gitu. Salam.
By kambingkelir on Aug 3, 2008 | Reply
saya juga lagi belajar menulis dari mbah ewa dan belajar membaca mbah…..
nah kelamaan di pedalaman ketinggalan tulisan terus hihihi
tulisan mbah Ersis selalu memotifasi menulis walau aku masih mengejanya
salam salut
***Sama dong, kita sama-sama belajar. Nah itu die, pengalaman di pedalaman itu yang bagus jadi bahan tulisan. Tulis yu tulis.
By kambingkelir on Aug 3, 2008 | Reply
eh iya mbah ada karya mbah lagi yang berhasil aku dapati judulnya surat buat kekasih yg laen belum ketemu maklum masih di pedalaman sumsel hehehe baca postingan mbah saja pake gprs heehehe jadi pengen pulang seperti yang tertulis di blog saya hehehe gara2 mbah ersis dkk.
***Emang dapat dimana tu? Mau tau aja.
By Siti Fatimah Ahmad on Aug 3, 2008 | Reply
Untuk apa kita dicipta? Pernahkan kita bertanya pada alam yang menghijau, mengapa di benua sebelah sana, alamnya memutih tanpa pokok yang menenangkan mata dan jiwa?
Pernahkah kita merasa saat gementar hati bila kedamaian cinta itu mengalir dalam diri? Pernahkan kita menangis melihat ibu tua yang duduk dipinggir jalan menghulurkan secawan gelas meminta simpati ihsan wang ringgit bagi mengenyangkan perutnya ?
Subhanallah….Begitu banyak sekali persoalan-persoalan yang perlu diungkap untuk kita fikir dan tulis….fikir dan tulis lagi…. sebagai mencerna dan mencambah benih pemikiran agar kita sentiasa menjadi pemikir yang berbudi. Lalu apa yang difikirkan itu, ditulis pula untuk tatapan umum sebagai bacaan bersama dan diambil iktibarnya.
Firmah Allah swt dalam surah aali’Imran : ayat 190 yang bermaksud :
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.”
Salam kejauhan dari Malaysia buat semua.
MENULIS GAYA SENDIRI
http://websitifatimah.sosblog.com
***Makasih pencerahannya. Bisa jadi ide tulisan nich he he
By Daniel Mahendra on Aug 3, 2008 | Reply
Ya, menulis seperti pelepasan. Ada sesuatu yang dikeluarkan. Tidak meluber di gudang kepala. Ada kenyamanan tersendiri ketika telah menuliskannya.
***Istilah lainnya menuangkan pikiran.
By franciska_dyah on Aug 3, 2008 | Reply
wah saia jadi termotivasi untuk menulis…..!!
menulis memang mengasyikan ya pak ^^
***Yop mari menulis. Asyik. Tunggu apa lagi. Nulis yu nulis.
By franciska_dyah on Aug 3, 2008 | Reply
walaupun yg saia tulis hal2 yg sederhana…..
tapi asyik ya, belajar menulis…..!! ^^
***Paling utama menulisnya. Soal, sederhana atau tidak itu penilaian. Orang sering lupa, justru yang sederhana itu yang dahsyat.
By cinker on Aug 4, 2008 | Reply
ia bener mari menulis biar pun asal2lan, yang penting luapkan pikiran. dari pada kebanyakan melamun ntr jadi kesampet loch.
***Yoi. Pokoke nulis biar pikiran fresh … dan jadi nyaman berpikir.
By uwiuw on Aug 5, 2008 | Reply
wah syaangnya sy ngak gitu ngerti soal otak. namun perihal curhat, kayaknya sy setuju…apabila curhat gaya mafia : “i speak only those who cannot snitch”…maksudnya ngelapor ke polisi. Makanya hewan favorit sy kucing, karena selain lucu imut, kita pun bisa curhat ke dia tanpa khawatir dia bakal ngeggosipin kita hahahaha
By meiy on Aug 6, 2008 | Reply
nah itu kok pikiran mengalir sih pak, mang air hehe…cando pak…
mari mengalir bersama impian, tuliskanlah
By sondang on Aug 13, 2008 | Reply
setuju banget pak, dari pada hanya bicara tak kenal waktu lebih baik kita mencoba kekuatan menulis
By esa on Aug 20, 2008 | Reply
Pak..Pak..mengalirkan pikiran ya? Iya kadang suka susah Pak. butuh “pipa” utk mengalirkannya. Nah, kadang pipanya jg ga nemu
Merenung. Ya jangan hanya merenung. Renungan adalah air yg akan jadi bermanfaat banget kalo dialirkan dan dibagikan ke semua orang, seperti Bapak.
Makasih ya Pak sudah mau selalu berbagi pada kami
***NGak ngak susahlah, soal kebiasaan aja. Lakukan, ntar lancar sendiri …