Rindu Menulis
1 August 2008 | Ditulis oleh: EWA |Oleh Ersis Warmansyah Abbas
TULIS. Apabila berharap sungguh-sungguh, sangat ingin, atawa rindu (menulis), tidak perlu berpanjang-panjang. Rindu menulis paling mudah direalisasikan. Syaratnya sederhana. Selama mampu berpikir, pikiran tersebut ditulis. Jadilah tulisan. Putik rindu (menulis) terpenuhi seketika. Ringkas.
Menulis menjadi susah dan rumit kalau disusah-susahkan. Misalnya, harus begini-begitu, begini-begina, dan segerobak aturan yang ditimpakan. Aturan, entah siapa yang membuat, tentu baik agar tulisan baik. Tetapi, dalam memasihkan menulis, menjadi lain soalnya. Adakalanya aturan atau teori menjadi belenggu, penjara menulis.
Pada satu sisi ada keinginan, kehendak menulis. Pada sisi lain, menakut-nakuti diri dengan aturan. Hal tersebut ditancapkan pada mindset. Akibatnya, pikiran linglung. Ingin menulis, tetapi takut salah ini-itu. Menjadi rindu. Menulis kog dirindui. Aneh.
Kalau punya anak yang ditinggalkan di Tanah Air lantaran bersekolah ke Rhodesia, bolehlah. Kalau merindukan bulan penuh berkah, Ramadhan, wajarlah. Namun, janganlah aneh-aneh. Menulis kog ditempatkan pada tingkatan rindu. Pikiran dan perasaan diposisikan pada pilahan berlawanan, keinginan menggebubu, disengaja dihambat bayangkan kelam aturan.
Tetapi, merindukan tulisan bagus memang menjadi obsesi. Untuk menggapainya fasihkan menulis. Fokus EWT. Fasihkan menulis dengan menulis, bukan mempertebal teori. Melakukan jauh lebih berarti dari berteori. Banyak orang jago teori (menulis), tetapi mandul menulis. Kita, belajar teori sebelum dan sesudah menulis. Teori adalah alat, bukan tujuan. Lalu?
Lakukan menulis dengan memudahkannya. Apabila ingin menulis, tulis. Pasti jadi tulisan. Biasakan menulis setiap hari. Jangan pedulikan apa yang ditulis, baik buruknya. Pokoknya, tulis apa yang hendak tulis. Sederhana. Mudah. Bagaimana dengan kualitas?
Itu dia. Kebanyakan kita, memikirkan apa yang hendak ditulis, bagaimana kualitasnya, apa ‘kata dunia’ kalau menjadi. Yang belum maujud dikupas tuntas. Apa tidak lebih baik setelah menjadi tulisan, baca dan baca lagi. Kalau kurang, perbaiki, tulis lagi. Berikutnya, sebelum menulis perkuat teori (pengetahuan).
Kepada kawula EWA’MCo. ditekankan: Jangan memikirkan apa yang akan ditulis, tulis apa yang dipikirkan. Menuliskan pikiran tentu berbeda dengan memikikan apa yang akan ditulis. Kalau tidak pernah berpikir, kalau pikiran hang, ya tidak mungkin menulis.
Oh ya, tiba-tiba saya teringat blog rindu. Apalagi Rindu setengah protes: Koq nama saya gak disebut … Tulisan saya bagaimana Bang? Begitu tulisan Rindu di bawah postingan Memahat Makna. Mohon maaf kepada teman-teman yang namanya tidak bisa ditempatkan pada tulisan tersebut. E … nulis-nulis, siapa Rindu?
Rindu adalah seorang perempuan yang mencari makna hidup, arti napas, yang sedang belajar mencari arti kehadiran demi kehadiran dan kepergian demi kepergian. Tulisnya di www.rinduku.wordpress.com: Saya adalah perempuan di titik nol yang tidak memiliki apa yang seharusnya saya miliki.
Saya merekomendasikan Sampeyan membaca tulisan Rindu. Kalaulah dia di Banjarbaru atau di Kalsel, akan didatangi. Saya akan belajar merangkai kata; sajiannya kuat, pilihan diksi bagus, susunan kalimat ngenyatra. Saya juga akan menyuntiknya dengan pilihan diksi agar kata-katanya berotot dan lebih bermakna. Eh … ngawur kata-kata kog berotot.
Yoha, saya merindukan membaca tulisan rindu. Seperti merindukan tulisan anyar para bloger manakala berkunjung, tetapi tuisannya tidak di apdet. Dan, tidak membiarkan rindu bergayut pada pikiran untuk menulis (sesuatu). Begitu ada ide, langsung ditulis. Tidak perlu sampai menjadi rindu.
Bagaimana menurut Sampeyan?
Banjarbaru, 1 Agustus Juli 2008.










15 Responses to “Rindu Menulis”
By Prabu Dian Sori on Aug 1, 2008 | Reply
Pertamax……………….
Pendapat tentang menulis itu Bener banget Mass…
tapi kalo curhat dengan menceritakan di media apa termasuk Menulis?????
***Pasti. Curhat apabila dikemas baik, bisa sangat bermakna. Menulis pada intinya curhat pikiran.
By Syamsuddin Ideris on Aug 1, 2008 | Reply
Naahh..ini Pak, yang saya cari-cari. Kenapa saya selama ini kalau udah mulai menulis selalu mandeg di tengah jalan. Udah 2 tahun mencoba menulis buku tapi yang jadi baru daftar isi/kerangka dan setengah halaman Bab I. Ternyata otak saya dipenuhi aturan harus begini, teori anu dan berbagai hal yang membuat tangan takut menulis rangkaian kata yang telah ada di otak.
Terima kasih Pak Ersis atas pencerahannya, berarti pertama-tama tulis apa yang ada di kepala saya, mengalir seperti air. Setelah selesai baru di edit. Apa benar begitu? Baru sampai taraf ini pemahaman saya tentang tulis-menulis.
***SEnang saya membacanya. Tulis apa yang ada di pkiran, jangan memikirkan apa yang akan ditulis.
By heri on Aug 1, 2008 | Reply
punya saya dua-duanya diupadet pak
salam saja dari malang
http://hmc.web.id
**Yoha. Saya kunjungi kog.
By hanggadamai on Aug 1, 2008 | Reply
diriku rindu sekali nulis di blog..
***Obatnya menulis, kan sudah dilepaskan. Tulislah terus sebelum merindu. Salam.
By erwin on Aug 1, 2008 | Reply
betul juga sih pendappatnya..:
***KIra-kira he he
By DV on Aug 1, 2008 | Reply
Rindu yang menggunung malah jadi beku ya Pak
Saya sih berusaha update setiap hari sekali atau setidaknya ya… dua hari sekali lah
***YUp, makanya kita nulis sebelum jadi rindu.
By imoe on Aug 1, 2008 | Reply
kata orang, menulis adalah tingkat tertinggi kemampuan seseorang setelah melihat, mendengar dan bicara…..
***Dan … berpikir
By taufik on Aug 2, 2008 | Reply
Menulis, mencurahkan pikiran ke dalam bentuk informasi entah berita, entah kejadian harian. Rindu juga tangan ini berkalaborasi dengan otak dan hati untuk coba terus belajar menulis yang baik. Sekarang waktu tak ada cukup untuk itu, kalau tidak pagi, malam jua bekerja. Jika semua telah teratur jadwal dan apa yang mesti diatur serta pandai memanfaatkan waktu akan datang juga kesempatan itu.
***Ada empat tulisan saya tentang ‘melipat waktu’; inspiasri dar Surah Wallasri dan Isra’ Mikraj. Silahkan dibaca.
By Siti Fatimah Ahmad on Aug 2, 2008 | Reply
Terima kasih Tuan Ersis….kerana rindu itu saya mengunjungi dan menulis diblog tuan hari ini. Talian internet bermasalah sejak pagi kelmarin hingga petang ini baru dapat digunakan. Sering menatapi (membaca)wajah blog ini hampir setiap hari, namun masa kerap kali cemburu memburu saya dengan kesibukan seawal pagi hingga ke petang tanpa menitipkan kata-kata walau satu ayat.(alasan agaknya…he..he…)
Lantaran terlalu sibuk juga. Sibuuuuuk sekali dengan assignment yang sudah mencecah 7 kertas kerja, 2 pembentanagn, 1 proposal (tesis) dan satu praktikal di masjid (3 hari 2 malam dalam tempuh 3 minggu ini.
Dalam kesibukan itu, kerinduan untuk menulis tetap diutamakan. Menulis untuk kertas kerja juga satu jalan melepaskan kerinduan menulis itu. Malah lebih kritis dan bermakna dalam erti pengisian ilmu akademiknya. Terima kasih atas ingatan melalui email, mungkin saya kurang memahami maksud Tuan tersebut.
Buat teman-teman pembaca yang lain, saya sering merindui membaca tulisan-tulisan anda yang amat menarik dari penyusunan bahasa, kosa katanya sehingga saya juga sudah mulai sedikit menguasainya.
Saya juga bisa bercakap sedikit-sedikit dalam lenggok bahasa indonesia kerana punya empat teman kuliah dari Indonesia.(dua dari Kalsel)
Salam penghormatan dan persaudaraan dari saya di UKM, Bangi.
Jika ada kelapangan masa sudilah Tuan Ersis dan teman pembaca berkunjung ke blog saya :
MENULIS GAYA SENDIRI
http://websitifatimah.sosblog.com
***Selamat dech. Menulis di blog lakukan disela-sela atau jedah tugas utama. Hangan pernah jadikan beban, tapi ranah buat rekreasi. Pikiran fresh dan pekerjaan utama terselesaikan. Itu tersebab ngeblog. Jangan sampai dibalik, gara-gara ngeblog tugas utama terabai. Saya juga lebih memahami bahasa Malaysia sekarang he he.
Salam dari Indon.
By Artha on Aug 2, 2008 | Reply
saya tia hari rindu nulis, tapi kagak pernah bisa nulis. Malu dan takut tulisan dibilang jelek, kagak bermutu kagak bermanfaat.
***Berarti tinggal menulisnya aja lagi. Tulis, pasti jadi tulisan. Saya jamin dech.
By SHALEH on Aug 2, 2008 | Reply
Menulis memang menyenangkan terutama ketika kita tidak berani mengucapkannya.
***Memang ada saat berucap ada ketika menulis, dan berucap sembari menulis, menulis dan juga mengucapkan. Salam.
By Daniel Mahendra on Aug 3, 2008 | Reply
Ya, aku membiasakan diri menulis dengan hati. Jadi meluncur saja tanpa banyak pilih. Baru setelah selesai, dibaca kembali dengan pikiran.
***Bagus juga, tapi bukan dalam pengertian leterlijk he he. Sekadar menggoda, kini kita tidak menulis lagi, tapi mengetik he he
By JP on Aug 4, 2008 | Reply
Salam. Lama juga tidak mampir di laman ini.
Mahu menulis. Tapi ilhamnya malu-malu mahu datang. Bagaimana?
By Rindu on Aug 6, 2008 | Reply
Duh saya tersanjung … ternyata saya bisa menjadi matahari untuk seseorang disini, walaupun saya bukan siapa-siapa.
Terima kasih atas segala kata-kata indah untuk saya.
By esa on Aug 8, 2008 | Reply
kalo saya rindu menulis ketika tak ada koneksi internet. Sy tuangkan pada oretan di atas OpenOffice writer. Menuangkan segalanya sebisa saya.
Sy juga merindukan mengunjungi situs dan membaca tulisan pak EWA. Sy tidak mau mengatakan sy terlalu sibuk karena saya pernah dapat teguran mengenai kata-kata itu. SY hanya ingin mengatakan, sy senang masih bisa seperti sekarang. Meski blog sy tidaklah sebagus blog rindu atau blogger lainnya, tapi saya akan tetap terus menulis, berbagi dan memperbaiki semuanya.
***He he bagus, sama dong. Nah, tetapi ngak usah membandingkan tulisan dan blog, kecil manfaatknya. Sebab, Allah SWT menciptakan manusia berbeda satu dengan lannya. Masing-masing kita punya stiil sendiri. Kalimat terakhir paling penting. Saya pun demikian.