Memahat Makna

31 July 2008 | Ditulis oleh: EWA |

Oleh Ersis Warmansyah Abbas

BERARTI. Menulis, tentu dengan tujuan tertentu. Penulis yang pertama memahami tujuannya menulis. Hampir bisa dipastikan, sebagian besar bertujuan baik. Ada memang yang rada ‘aneh’, tetapi prosentasenya kecil. Saya mengamati tulisan seseorang di blog dan media cetak, yang isinya rada-rada miring. Cenderung ‘menyerang’ orang lain. Sakit jiwa kali.
 
Secara tidak tertulis, ada konvensi, tidak menyerang pribadi. Dalam mengkritik, sebaiknya lebih ditujukan pada umum dalam artian sebagai korekasi bagi sesama. Dengan demikian tulisan lebih berarti, bermakna, berguna bagi khalayak. Misalnya, sistem  pendidikan atau guru, bukan Ersis guru SMU Anu.
 
Jujur saja, karena semangat memotivasi mengebu-gebu, misalnya, dalam tulisan mengkritik cara pengajaran menulis yang sangat teoritik. Saya berpendapat, ada kelemahan mendasar dalam pendidikan (menulis) di sekolah formal. Mengabaikan praktik. Hal tersebut saya motivasi dengan jargon, tulis, tulis, dan tulis. Ya, katakanlah sebagai lawan teori konvensional.
 
Revolusi menulis ala Ersis Writing Theory (EWT) dimana menulis ditempatkan dalam bangun mindset mudah dan memudahkan. Ratusan tulisan tentang menulis, dan telah menjadi 10 buku tercetak, membahas hal dimaksud. Ada memang pembaca yang merasa tersentil urat malunya, ada pula yang tersenang, dan bla-bla. Tergantung masing-masing pembaca.
 
Padahal, tujuan menulis serial menulis, tidak lain tidak bukan, agar pembaca, terutama penulis pemula, lebih termotivasi. Pembacaan pribadi terhadap berbagai hal, ditambah pengalaman yang belum seberapa, mematri menulis sebagai satu kunci bagi peradaban. Tulisan mensilaturamihi jutaan manusia.
 
Melalui tulisan kita saling berbagi hal-hal bermakna. Perjumpaan dan persaudaraan tanpa bersua. Bertukar pengalaman, berbagi pengetahuan, saling ‘berbincang’ tanpa bertatap. Asyik.
 
Makna-makna disampaikan dan tersampaikan. Harap harapan, saling menolong, dan berbagai hal disampaikan untuk ‘dipecahkan’. Yang berkelebihan di satu hal berbagi untuk yang membutuhkan. Tulisan memuat dan menyampaikan hal-hal berguna.
 
Sampeyan boleh tinggal di Sabang, NAD atau Merauke, Papua. Tari di Chile atau Mega San di Jepang, menjadi saudara tanpa pernah melihat wajahnya. Saya merasa begitu dekat dengan Siti Fatimah Ahmad yang kuliah di Universiti Kebangsaan Kuala Lumpur; seolah-olah berbincang tiap hari melalui tulisan. Belajar bahasa Malaysia dari Cikgu secara tidak langsung.
 
Seperti apa sih tampang asli Sawali Tuhsetya atau Anang Tutur, Suhadi, Yari NK, Ani Batam, Mey Medan, Unai Jogja, dan ribuan lainnya yang telah menjadi keluarga besar saya dalam menulis, sungguh tidak pernah melihat. Tapi, dari tulisan-tulisan mereka saya meneguk makna, dan memaknai sebagai sedekah bagi rumah pengetahuan dan persaudaraan. Sungguh, kiriman makna-makna tulisan begitu dahsyat.
 
Saya juga ngak kenal Marsmallow yang rajin komen atau pendatang baru seperti Ozan, Aminhers, Epat, Achoey Sang Khilat, Enpe, Sigit, sampai Robert Manurung. Tak kenallah lah awak.
 
Yang pasti, ketika berkunjung ke blog mereka atau mereka menyapa di blog saya, ada sesuatu yang mengeliat di ulu rasa. Saya menikmati persaudaraan. Ada rindu, ada kangen. Menjadi bagian kehidupan. Karena itu saya tak merasa rugi secuilpun menatap layar komputer.
 
Wahai Sudara ‘seiman’ dalam tulisan. Kirimkan daku makna-makna kandungan kalbumu, layangkan melalui awan madah-madah kehidupan, asahkan pikir dan jiwaku melalui jari-jari kalian. Terimalah pula paket kata-kataku. Ajari aku, atau mari saling memberi agar torehan kalimah kita semakin bermakna. Amin.
 
Bagaimana menurut Sampeyan?
 
Banjarbaru, 31 Juli 2008.

  1. 16 Responses to “Memahat Makna”

  2. By Ikkyu_san on Jul 31, 2008 | Reply

    mengunjungi-dikunjungi
    membaca-ditanggapi

    merupakan interaksi yang terjadi di atas net yang jika diselami lebih jauh lagi saling mendekatkan pemikiran dua atau lebih penulis.
    Tapi pak EWA kan seleb, mungkin sulit untuk bisa membuka semua blog komunitasnya. Kalau itu dilaksanakan tiap hari pasti waktu pak EWA untuk yang lain juga terpangkas ya.
    salam saya pak….dari Ikkyu_san yang sedang berlibur di jakarta.

  3. By suhadinet on Jul 31, 2008 | Reply

    Wah, Bapak hari ini tulisannya ‘dalem banget’. Makasih Pak, ikut disebut dalam tulisan ini.

  4. By suhadinet on Jul 31, 2008 | Reply

    O ya, satu lagi hal yang Bapak rasakan itu pula yang membuat saya kecanduan ngeblog. Saya bisa punya ‘guru’ dari berbagai kalangan, tak terbatasi oleh umur, profesi, lokasi, interest, status sosial, dll.

  5. By Syamsuddin Ideris on Jul 31, 2008 | Reply

    Benar sekali kata Bapak, dengan tulisan seseorang dapat memahat makna. Dengan tulisan kita menjadi dekat baik sebagai penulis maupun sebagai pembaca. Mungkin salah satu hal positif dari blogging adalah timbulnya rasa persaudaraan walaupun belum pernah bertemu dan hanya sekedar di dunia maya.
    Menulis juga membuat pemikiran-pemikiran seseorang menjadi abadi. Tidak lekang oleh waktu dan tidak tergerus arus zaman. Tentu saja jika tulisannya bermanfaat bagi kehidupan.
    Semoga bapak dapat terus selalu membimbing kami semua untuk menulis lewat tulisan-tulisan bernasnya.

  6. By SHALEH on Jul 31, 2008 | Reply

    Mengunjungi sesama net bisa saling berbagi krn rata2 hampir setiap hari dapat informasi dan pencerahan dari berbagai tempat.

    ***Persis.

  7. By marshmallow on Jul 31, 2008 | Reply

    “Melalui tulisan kita saling berbagi hal-hal bermakna. Perjumpaan dan persaudaraan tanpa bersua. Bertukar pengalaman, berbagi pengetahuan, saling ‘berbincang’ tanpa bertatap. Asyik.”

    bener, pak.
    dengan begini tali silaturahim bisa terentang seluas dunia ya, pak?
    tanpa batas.

    ***Yap, hakiki keilahian yang dihibahkan kepada kita. Terserah mansia mau memanfaatkan apa tidak.

  8. By Rindu on Jul 31, 2008 | Reply

    Koq nama saya gak disebut … tulisan saya bagaimana bang? ah masih belajar.

    ***He he … maaf.

  9. By dhany on Jul 31, 2008 | Reply

    sama pak ngeblog itu senangnya gak bisa diungkapin dengan kata2…selain itu dengan ngeblog itu juga mempererat tali silaturahmi

    ***Persis.

  10. By Alwi on Jul 31, 2008 | Reply

    Salam Pak Ersis…
    Menghubung silatulrahim bukan hanya dengan bertemu dan bersua serta menyapa…Tetapi melalui penulisan juga boleh merapatkan hubungan kita sesama insan biarpun kita tidak mengenali apatah lagi bersua…

    Ya..Apabila kita membaca tulisan seseorang seolah-olah kita sedang ngomong bersamanya, lalu terkesan dihati sanubari, maka di situlah wujudnya perasaan kekawanan dan persahabatan…

    ——————————
    Kalam Abu Musaddad
    http://ibnismail.wordpress.com
    MALAYSIA.

    ***Yap. Mari kita jalin silaturahmi antar bangsa. Salam dari Indon ya.

  11. By Ronggo on Jul 31, 2008 | Reply

    sip dah

    ***Siiiiiiiiiip.

  12. By taliguci on Jul 31, 2008 | Reply

    betul pak.. melalui tulisan kita bisa bersama, tanpa merasa terkotak-kotakkan.

    ***Tulisan mengantar kita tanpa menghadirkan jasad.

  13. By Daniel Mahendra on Aug 3, 2008 | Reply

    10 hingga 20 tahun mendatang, bagaimana rupa sastra kita ya… Karena dengan blog, makin banyak orang yang tersulut dan terpacu untuk terbiasa menuliskan gagasan di kepala. Ide tak melulu sebatas lisan. Bukankah ini mengagumkan.

    ***Menjadi sastra sungguhna, tidak ‘milik’ segelintir orang yang menamakan diri sastrawan. Ada lho yang nagku-ngaku sastrawan, e … nulis buku puisi atau cerpen aja ngak. Susah dimengerti he he.

  14. By adi fitriansyah on Aug 4, 2008 | Reply

    Dengan tulisan ternyata kita bisa menyambungkan perasaan, bersilaturahmi dengan insan-insan lainnya di seluruh dunia. Meski tak pernah bertatap muka dan bersua tapi kita merasa begitu dekat. Tulisan mampu menghadirkan sejuta makna, sejuta pengetahuan yang tak akan pernah kita dapatkan hanya dari ucapan lisan belaka.

  15. By Siti Jenang on Aug 5, 2008 | Reply

    karena rasa adalah segalanya… muahahaha…

  16. By meiy on Aug 6, 2008 | Reply

    nilai silaturahim, pengetahuan dan pengalaman tak ternilai dari tulisan yg bermanfaat. kita tak mungkin mengetahui atau mengalami hal yg persis sama dg yg dialami orang lain dg keragamannya.

  17. By esa on Aug 8, 2008 | Reply

    keluarga meski tak pernah bersua, menyatu meski tak pernah bertemu. Subhanallaah..

    ***Yap. Amin.

Post a Comment