Nikmatnya Kuliner

29 July 2008 | Ditulis oleh: EWA |

Oleh Ersis Warmansyah Abbas

MAKAN. Apabila ke Jakarta, sejak kuliah di Jogja dan Bandung, dua sahabat sejak kecil saya, Ahmad Faisal Tahir dan Sabri Achmad membawa ke tempat makan nyaman. Ke Kramat, berburu Sate Padang sudah rutin. Faisal (almarhum) pejabat keuangan di Departemen Perhubungan dan Sabri Direktur Utama perusahaan ekspedesi sukses. Semasa rutin ke Jakarta, tidak terhitung tempat makan nyaman yang didatangi.
 
Ketika baru-baru ini ke Jogja, bernostalgia berburu masakan semasa kuliah. Kalau RM Padang, wajib hukumnya. Menikmati Soto Pintu Tertutup di jembatan Gondolayu, duh nikmatnya. Dua mangkok soto lewat plus goreng daging renyah.
 
Enam tahun di Bandung, yang paling diingat Californian Fried Chicken. CFC adalah perkenalan pertama dengan gaya masakan ala Amerika. Kini mengurangi makan jenis demikian. Hidup sebagai wartawan, membawa ke RM Ponco. Kalau masakan Studio East di Cihampelas, biasa saja. Djoni Toat, big bosnya selalau wellcome. Gratis segala hal he he.
 
Semula ngak suka diskotik, tapi disitulah kenal Paramitha Rosady sampai Nia Zulkarnain. Saya menulis tentang mereka. Sebulanan meliput Mitha dan Kang Ibing syuting sinetron Anemar Bankong. Di Bandung mengenal banyak selebritas dan tokoh popular. Yang paling asyik tentunya kulinernya.
 
Khusus masakan, susah ditulis karena ragamnya banyak. Begitu juga ketika di Kalimantan Selatan. Variasi makanannya luar biasa. Kalau masakan utama, sebagai penganut ideologi masakan Padang tulen, tidak mungkin tergoyahkan. Tetapi, panganannya, Urang Banjar, jagonya. Mereka menyebut wadai (kue). Variasinya tak terkalahkan.
 
Berburu Soto Banjar menjadi kenikmatan tersendiri. Soto Banjar Malam di Pal 1, Yana Yani, Jembatan, dan seterusnya. Paling istimewa wadai Bingka. Rasanya khas berbasis lidah Melayu. Apa hubungannya dengan menulis?
 
Seorang pejabat, kalau kami ke Jakarta, paling doyan membawa ke jalan Sabang. Saya mengamati ada sesuatu yang lain dari penjual atau pedagang makanan orang-orang Padang. Saya tidak tahu persis, benar atau tidak. Tetapi, begitulah anggapan sementara.
 
Makanan mencerminkan budaya. Di RM Padang dilayani begitu cepat, efisien, dan harga jelas. Dan, para  ‘pialang’ kuliner itu memanfaatkan keramahtamahan untuk mensukseskan dagangan. Mencari uang. Tentu, berbeda dengan di Ranah Minang. Keramahtamahan lebih kepada ‘tugas’ relasi sosial.
 
Ya, lambung pengetahuan kita bisa semakin berisi. Makan bukan sekadar makan, tetapi ada apa dibalik makanan. Saya pikir,  makan dan makanan perlu dipikirkan. Kalau makan untuk kenyang saja, kurang eloklah.
 
Dari mBok-mBok bakul Gudeg Jogja kita bisa belajar, betapa mereka menjual gudeg demi menyambung hidup dan menghidupkan sesama. Karena itu, tidak perlu untung banyak. Lain halnya dengan penganut ideologi bisnis, harga gudeg berlipat-lipat. Untung menjadi prioritas. Ketenaran gudeg dijadikan lahan bisnis. Kita bisa belajar, kita bisa menulis. Menulis kuliner, bukan sekadar menikmati aneka masakan saja.
 
Hidup bukan untuk makan, makan bolehlah agar tetap hidup. Racikan masakan bukan sekadar agar Nyus Mak Nyus, tetapi dibaliknya tersimpan nilai-nilai filosofis. Kuliner, pintu masuk pengetahuan, dan lahan pijak bagi menulis. Melalui lidah meraup pengetahuan melalui ujung jari menuliskannya. 
 
Bagaimana menurut Sampeyan?
 
Banjarbaru, 29 Juli 2008.

  1. 18 Responses to “Nikmatnya Kuliner”

  2. By SHALEH on Jul 29, 2008 | Reply

    Jadi lapar mau sarapan dulu ah

  3. By sigid on Jul 29, 2008 | Reply

    Hi hi, benar pak, saya baca paragraf #10 jadi ingat kalau penjual gudeg di sepanjang jalan kaliurang jogja itu jam 06.00 pagi sebagian sudah pada habis tapi mereka ndak kemudian menambah stok agar bisa jualan sampai siang.
    Benar-benar untuk menyambung hidup …

  4. By sigid on Jul 29, 2008 | Reply

    Tapi banyak juga yang menganut pemahaman bisnis dan jadi kaya juga ya pak … :D

  5. By imoe on Jul 29, 2008 | Reply

    hahaha kalo saya ke jogja merana pak, karena saya tidak suka manis,,,,saya orangnya suka pedas…hahahahah MAK NYOS…..

  6. By marshmallow on Jul 29, 2008 | Reply

    *nunggu ditraktir pak ewa*
    makan apa aja jadilah asal gratis.
    nah, ini baru ideologi pebisnis beneran, maunya untung terus.

  7. By ferri on Jul 29, 2008 | Reply

    betul pak… :) (main betul aja)
    sate padang paling enak kalo pake krupuk pedes

    saya pernah bertanya kepada penjual gado2 di daerah percetakan kebayoran.

    “Mas jam 12 gini kok udah habis aja? Kan orang2 baru pada makan?”

    “Udah pada mesen mas, dari tadi jam 10.. jadi langsung habis..”

    “Ooo… saya perhatiin sering begitu, kok ga ditambah aja stoknya mas, biar ampe jam 2, kan mayan untungnya nambah”

    “Jangan mas… bagi2 rejeki sama yang lain.. “

    Saya terdiam sejenak, lalu melanjutkan makan gado2 yang enak itu.

  8. By suhadinet on Jul 29, 2008 | Reply

    Kuliner? Wow saya suka. Waktu di Surabaya, saya rela berburu “gangan waluh” sampai ke ampel. Mencari “wadai bingka dan amparan tatak serta soto banjar” sampai ke kedungduro.

    Kalau di Blauran ada juga soto banjar-nya, kami sampai kenal akrab sekali dengan penjualnya. Biasanya setelah ngobrak-abrik toko buku-buku bekas.

    Saya suka pula masakan padang. Paling suka sih, ikan tongkol yang pakai kuah santan kental itu, apa namanya? He..he.. saya tidak tau namanya. Yang penting enak saja.

  9. By DV on Jul 29, 2008 | Reply

    Saya pernah makan soto di Yana Yani, Banjarmasin dilanjutkan dengan bersampan dan… handpone yang saya simpan di saku kemeja pun jatuh terkena air, untung masih di perahu :)

  10. By achoey sang khilaf on Jul 29, 2008 | Reply

    yup
    seperti meracik menu
    menulis adalah seni mengolah rasa :)

  11. By Inas on Jul 29, 2008 | Reply

    Numpang baca Pak, sambil nyari inspirasi.

  12. By Edi Psw on Jul 29, 2008 | Reply

    Saya baru sadar, Pak, ternyata mencicipi beraneka macam makanan itu memang perlu. Tapi kalau memang lidahnya lidah ndeso seperti saya, masih harus milih-milih makanan yang bisa masuk ke perut, karena kadang-kadang makanan yang agak aneh gitu, lidah seperti nggak mau terima.

  13. By Mahmud on Jul 29, 2008 | Reply

    Nyuwun sewu! Wuih! Makanan! Mantap Pak tulisannya. Mengapa mantap? Karena, dengan tulisan Bapak ini, saya jadi ingin makan. Perut saya minta diisi dengan yang namanya makanan.Sekali lagi mantap!

  14. By kambingkelir on Jul 30, 2008 | Reply

    tapi pak pas saya ada project di padang di sana gak ada rm padang hehehe malah kantor 2 yang bentukya gitu hehehee
    di sepanjang taplau juga nggak di dapati hehehehe
    salam

  15. By taufik on Jul 30, 2008 | Reply

    Potensi kuliner di Kalsel merupakan ekspresi terpenting dari kebudayaan kemudian bagaimana lewat lidah dan perut kita ajak para wisatawan baik domestik maupun mancanegara untuk datang dan lebih mengenal lagi budaya dan keindahan alam tanah Borneo ini.
    Kunjungi:http://taufik79.wordpress.com/2008/07/24/menggali-khazanah-kuliner-tradisional-kalsel/#more-388

  16. By taufik on Jul 30, 2008 | Reply

    Potensi kuliner di Kalsel merupakan ekspresi terpenting dari kebudayaan kemudian bagaimana lewat lidah dan perut kita ajak para wisatawan baik domestik maupun mancanegara untuk datang dan lebih mengenal lagi budaya dan keindahan alam tanah Borneo ini.

    ***Siiip … aku lagi bikin bukunya he he. Mau bergabung?

  17. By Septha on Jul 30, 2008 | Reply

    Ayam goreng Sadulur di kayu tangi enak pak. Hehe,,

    ***Yap. ntar dicoba.

  18. By Ikkyu_san on Jul 31, 2008 | Reply

    Hidup bukan untuk makan, makan bolehlah agar tetap hidup. —— benar sekali pak, dan kita boleh kan memilih jenis makanan apa yang memenuhi syarat dan standar enak (baca=terpilih) diri kita sendiri hehehe.

    jadi lapar dan ingin cari soto banjar….di Jakarta yang enak di mana ya?

  19. By meiy on Aug 6, 2008 | Reply

    mantaps pak, hikmah dari apapun ya?

    kuliner menjadi sumber byk hal, pengetahuan dan uang, yg jeli bisa memanfaatkan utk beragam bisnis kaya di TV, sampai jualan kualu dsb :D

Post a Comment