Mengamankan Ide
26 July 2008 | Ditulis oleh: EWA |Oleh Ersis Warmansyah abbas
HANG. Pada bahasan pilahan terdahulu, introdusir bagaimana mencari ide telah dipapar secara simpel. Pemahaman dan teknik ‘menjaring’ ide begitu mudahnya. Tinggal, bagaimana membuat kiat-kiat baru menangkapnya. Lebih lanjut, tebaran ide yang mencuat, mampir, dan terbesit, tentu perlu ‘diamankan’ agar tidak menjadi hal sia-sia.
Ide perlu ‘diamankan’. Mengamankan ide dengan menuliskannya. Bisa saja disimpan dan terus disimpan. Hanya saja, kalau sampai karatan, menjadi kerak-kerak akan membebani pikiran. Akibatnya, bisa menganggu pikiran. Beban otak terberat, susah dipanggil. Bikin stres. Puncaknya, otak bisa hang.
Pikiran kita, bak sumur tanpa dasar. Semakin ditimba semakin banyak air yang terkumpul. Semakin bersih dan jernih. Adalah keliru apabila dipahami, ide yang dicetuskan atau diwujudkan akan menghabiskan ide. Ide sebagai gugusan pikiran tidak pernah berputus. Kitalah yang mengelola ide.
Ibarat jalan, ide sambung menyambung tanpa awal tanpa akhir. Pikiran adalah ide. Tepatnya, selama seseorang mampu berpikir, ide bersama dan menyatu dengannya. Sebodoh apa pun sesorang, pasti punya ide. Setidaknya, dari orang paling bodoh sekalipun kita bisa merakit ide.
Perbedaan pada manusia, barangkali terletak pada kapasitas, kuantitas dan kualitas idenya. Pada, apakah dia mampu mengamankan ide, mampu mewujudkan, dan kemampuan menyamakan frekuensi muatan ide sehingga diamini oleh yang lain. Ide pada setiap orag tidak sama. Maklum, manusia bukan copy paste lainnya. Apalagi pikirannya, idenya.
Pada manusia-manusia unggul merupakan wujudan aktualisasi diri. Adakalanya ide adalah pangkal seseorang mematangkan infleunce. Tokoh-tokoh kharismatik menjadi karena ide-idenya menjadi ‘pengangan’ banyak orang, para pengikutnya.
Tentu saja, tidak semua orang punya ide besar yang mampu menpengaruhi dunia. Tetapi, apakah kita tak hak mempunyai ide sekadar untuk diri sendiri? Ide yang berlompatan mengambil tempat di ranah pikiran tiap saat, pada hakikatnya untuk diri, untuk perbaikan diri. Alhamdulillah kalau manfaatnya bisa juga bagi sesama. Ide bagus namanya.
Karena itu, demi nilai kemanfaatkan, tentu lebih baik beragam ide ditulis. Ide-ide yang tidak ditulis akan sulit dipindai sesama. Tidak seorang pun mampu masuk ke pikiran kita. Sebaliknya, apabila pikiran dibuka dan hasilnya dibuat terbuka, banyak manfaat bisa diraih banyak orang.
Dengan kata lain, kita mendiskusikan mengamankan ide dengan menuliskannya. Saya, tidak punya ide-ide besar. Ibarat kata orang Jawa, ide saya tergolong cilik mentik, tiny. Ya, semacam ide menulis tentang menulis. Mengalir begitu saja yang terkadang susah dihentikan. Semakin ditimba, ditulis, ide baru datang, datang, dan datang lagi.
Tetapi, kalau ide merubah dunia, ide menulis hal-hal besar dalam bandingan contoh karya-karya sohor, orang-orang hebat, tulisan saya jauh dari itu. Sesuai kapasitas, hanya menelorkanide-ide kecil.
Ide sederhana, yang kecil-kecil, yang maknanya bukan gegap-gempita, mana tahu bermanfaat. Minimal, mengurangi beban pikiran dan menimbulkan ‘sesuatu’ di pikiran. Pikiran jadi ternyaman.
Ada hadis Rasulullah, ikatlah ilmu dengan menuliskannya. Bisa dilebarkan, amankan ide dengan menulisnya. Mari menulis, menulis, dan terus menulis. Merealisasikan ide menulis yuk.
Bagaimana menurut Sampeyan?
Banjarbaru, 26 Juli 2008.










17 Responses to “Mengamankan Ide”
By laporan on Jul 26, 2008 | Reply
Wah, betul pak Ersis, ide harus diamankan, karena meloncat-loncat dan mengalir, jika tidak tidak diamankan akan terbenam lagi dengan ide-ide yang baru, sehingga tidak pernah matang untuk ditelorkan. Mematangkan ide itu yang sulit, hehehe, seperti telor ayam yang tidak bisa menetas, karena proses eraman yg tidak baik. Hehe, ternyata ada ya, ilmu manajemen ide itu.
By Daniel Mahendra on Jul 26, 2008 | Reply
Aku baru tau ada hadis Rasulullah, bahwa ‘ikatlah ilmu dengan menuliskannya’. Wah, terima kasih, Pak Ersis.
By Rafki RS on Jul 26, 2008 | Reply
Ide besar biasanya lahir dari kumpulan ide-ide kecil yang terus menerus digali dan disempurnakan Pak. Sangat menggugah tulisannya Pak Ersis.
By ven on Jul 26, 2008 | Reply
kadang ketika ide muncul tp hati sedang gundah knp ide jd gag bisa ditelorkan ya om..
tp terkadang jg ketika hati gundah tiba2 aja ide jd mengalir bak air dimusim hujan…lancaaarrr
gmn ya om caranya memaparkan ide tanpa dipengaruhi suasana hati..mo senang atw sedih ide tetep bisa ditelorkan
tp memang bener om sebaiknya ketika ada ide cepet2 aja diamankan
By Achmad Sholeh on Jul 26, 2008 | Reply
setuju pak, karena ketika ide tidak direalisasikan kita tidak akan pernah tahu manfaatnya, selamat berkarya dan sukses selalu
By fenny on Jul 26, 2008 | Reply
dari ide-ide kecil bisa membuahkan hasil yang besar, bukan?
By Yari NK on Jul 26, 2008 | Reply
Ide memang harus diamankan sebelum ia menghilang. Karena setelah menghilang mungkin akan sulit untuk mendapatkan kembali. Mungkin saja untuk mendapatkannya kembali namun kemungkinan juga tidak akan sama dengan aslinya, bisa lebih buruk namun terkadang bisa juga lebih baik.
Walau begitu ide tetap perlu diamankan, karena ide yang telah diamankan akan lebih mudah untuk diselesaikan kelanjutannya. Siapa tahu, ada ide besar yang diteruskan oleh orang lain dari ide kecil kita…. betul nggak?
By antown on Jul 26, 2008 | Reply
ada cara lain untuk mengamankan ide selain harus menulis, pak ersis?
kalo divisualkan lewat gambar gmn menurut anda?
By yella on Jul 26, 2008 | Reply
ide yang kecil-kecil seringkali disepelekan, padahal jika dikumpulkan dan rakit akan menghasilkan sesuatu yang luar biasa begitu yang saya tangkap dari tulisan pak Ersis, sungguh inspiratif pak
By suhadinet on Jul 27, 2008 | Reply
Ide tentang tulis menulis Pak Ersis telah mengubah pikiran dan keyakinan banyak orang, termasuk saya, bahwa menulis itu mudah.
By suhadinet on Jul 27, 2008 | Reply
Terimakasih Pak. Saya telah berhasil mewujudkan satu obsesi saya. Bapak pasti sudah tau, he.he.. Cerpen saya ‘Umi’ dimuat di Radar Banjarmasin hari ini.
By enggink on Jul 27, 2008 | Reply
Yah mau koment aja saya ga punya ide,, hik….
By Alwi on Jul 27, 2008 | Reply
menulis..menulis…dan terus menulis…salah satu cara mengamankan ide..he..he..
Kalam Abu Musaddad
http://ibnismail.wordpress.com
Salam dari Malaysia..
By Management AQU PRESIDENT on Jul 27, 2008 | Reply
Yang lebih riilnya adalah bagaimana ide yang dimiliki bukan kopian ide dari orang lain.
By Willy Ediyanto on Jul 27, 2008 | Reply
Ya, saya sering menyia-nyiakan ide dengan membiarkannya menguap hilang entah ke mana. Padahal ketika ide itu berkecamuk dalam pikiran, membuat kita tidak bisa tidur. Penyesalan datang ketika ide yang sudah tersia-sia itu tidak bisa direkonstruksi lagi.
Biasanya, bagi saya, penyebabnya adalah malas menuliskannya walau hanya pada sepotong kertas. Apalagi untuk menghidupkan komputer tua yang lelet atau laptop.
Sekali lagi, rasa malas itu setannya penulis.
By sawali tuhusetya on Jul 29, 2008 | Reply
mengamankan ide? kira2 butuh satpam, nggak, ya, pak ersis? hehehehe
memang bener sekali, pak, punya ide ndak diamankan langsung kesingsal di tengah bejibun informasi. bagusnya begitu ada ide langsung diamankan dalam bentuk tulisan. tak hanya memfosil untuk diri sendiri, tapi juga menyejarah bagi orang lain. salam kreatif, pak. pak ersis kalau nulis memang ndak pernah kehabisan ide. selalu saja ada ide2 menarik yang bisa ditulis. salut banget, pak!
By mantan kyai on Jul 30, 2008 | Reply
apa perlu kalo nyari ide pergi ke gunung slamet mas …