Memahami Ide
26 July 2008 | Ditulis oleh: EWA |Oleh Ersis Warmansyah Abbas
ALAM IDE. Ide sebagai gagasan atau rancangan dalam pikiran dipunyai setiap orang. Kita hidup di alam pikiran (ide) dan alam kenyataan (obyektif). Apa-apa yang kita lakukan, apa-apa yang kita tampakkan adalah ‘pantulan’ alam ide. Sadar atau tidak, hidup dan kehidupan ‘dikendalikan’ pikiran, ‘dituntun’ ide.
Dalam bentuk lain, saya teringat bacaan yang kini lagi ngetren, tentang mindset. Kalau alam pikiran, kalau alam ide memapan, misalnya, menganggap menulis itu susah, menulis akan sulit. Sebaliknya, bila dipatri, menulis itu mudah, menyenangkan, dan potensi diarahkan untuk, maka menulis akan mudah. Bisa jadi akan sangat mudah.
Pikiran dan ide secarah pilahis bisa jadi dipahami berhimpitan. Pikiran lebih umum, ide sebagai pikiran yang terformulasi atau tersusun sedemikian rupa, lebih khusus. Berpikir belum tentu beride. Kita mengarahkan pikiran untuk menangkap ide, dan atau, dari ide, untuk mewujudkan ide, kita berpikir lebih keras. Ide lebih spesifik.
Ide milik orang berpikir. Rene Descartes merakit kalimat terkenal, sekalipun bisa dikatakan berlebihan, cogito ergo sum. Kita hidup sebenar-benar hidup karena berpikir. Manusia hidup tetapi tidak berpikir, mati dalam hidup. Orang mati alias mayit pasti tidak mampu berpikir dan mustahil mempunyai ide. Ide besar lahir dari orang berpikir besar.
Karena ide adalah pilahan sistematis hasilan pikiran, kalau berkehendak menyuburkan ide, kita harus memelihara pikiran. Semakin bagus pikiran diasah, semakin baik bagi mencuatnya ide.
Ide, karena biasanya tercetus sekonyong-konyong, adakalanya dipahami sebagai cetusan tiba-tiba. Padahal, ide menjadi sebagai proses puncak pikiran yang, seolah-olah muncul mendadak, sejatinya melalui proses pikiran. Apabila ada pemantik, maka ide muncul. Apabila otak bekerja, ide menjelma.
Menulis pada dasarnya melahirkan atau menuangkan pikiran, menjelmakan ide. Setiap menulis berarti menuliskan ide. Contoh sederhannya, “Ah, ada saja ide yang ditulis”. Ya, mustahil menulis tanpa ide. Setidaknya, betapa pun sederhana ide yang ditulis, menulis adalah perwujudan ide.
Sebagai lanjutan berpikir, ide tentu saja datang dari pikiran atau pikiran itu sendiri. Menulis tentu berbeda dengan berpikir atay beride. Tanpa ide tidak mungkin sesuatu ditulis. Menulis mengembangkan ide. Lebih hebat, mengkonkretkan ke alam nyata.
Ibarat deret, kita berpikir, kita menelorkan ide, kita menuliskan pikiran (dan ide). Ide menulis hingga menjadi tulisan tentang ide adalah pula ide itu sendiri yang ditulis. Ide, tidak punya batasan limit seperti juga berpatokan baku. Artinya, ide bisa tercuat kapan saja dan dimana saja.
Mau menyemput ide di WC, please. Mau merenung setelah pikiran lebih jernih setelah sholat malam, ya monggo. Oh, setelah perjalanan wisata ke Singapura dan Malaysia ide saling berebut tempat di rumah pikiran untuk ditulis, ya apa salahnya. Dari bertengkar dengan isteri melahirkan ide koreksi diri dalam berumahtangga itu pertanda bagus.
Ide adalah pikiran. Selama memelihara ide menuangkan pikiran menjadi tulisan, selama itu pula tulisan akan mengalir. Konon, setiap satu ide ditulis akan melahirkan ide yang beranakpinak. Ide takkan pernah mati pada pikiran yang hidup. Ide adalah kehidupan itu sendiri sekaligus sebagai penanda hidup dan kehidupan.
Jadi, mari menulis agar ide mengaliri darah pikiran. Tidak percaya? Buktikan. Ide akan datang tanpa diundang atau dicari. Semakin ditulis semakin tumbuh. Bak janggut, apabila dicukur akan tumbh dan tumbuh lagi. Ide sumur tanpa dasar.
Bagaimana menurut Sampeyan?
Banjarbaru, 26 Juli 2008.










2 Responses to “Memahami Ide”
By suhadinet on Jul 27, 2008 | Reply
Ha.ha.. Bapak bisa saja. (membayangkan marshmallow tumbuh janggutnya, *LARI SEBELUM DILEMPAR PAKAI SENDAL JEPIT*)
By aminhers on Jul 27, 2008 | Reply
Dari ide yg baik dan terukur, kita akan memetik hasil dan pengalaman.
***Yoha, sepaham.