Memburu Ide

25 July 2008 | Ditulis oleh: EWA |

Oleh Ersis Warmansyah Abbas

PROSES. Secara kamusis ide berarti: rancangan yang tersusun di dalam pikiran; gagasan (KBBI, 1988: 319). Pengertian pertama mengarah proses operasional pikiran (otak) dalam merespon sesuatu. Dalam pengertian lebih umum, boleh jadi berarti, sesuatu yang ‘bermain’ di pikiran untuk diformulasikan, dan atau, diwujudkan.
 
Pengertian kedua lebih kepada sesuatu yang telah terformula di pikiran, atau hasil pemikiran. Ide, karena itu, tidak datang tiba-tiba. Bahwa, begitu terpikirkan tentang sesuatu muncul ide, bisa jadi. Tetapi, sebenarnya telah terjadi proses. Sayang alat slow motion pemindai proses kerja otak belum ada.
 
Banyak contoh klasik. “Eurika, Eurika”. Tanpa sadar dia berlari kegirangan … “Aku dapatkan. Aku dapatkan”, katanya dengan ‘pentungnya’ melambai kemana-mana. Mbah kita ini tidak sadar telanjang. Harap maklum. Si mBbah teramat girang. Teka teki tugas Hiero, raja Syracuse, terpecahkan. Mengukur berat emas. Ide didapat dari bak mandi.
 
Archimedes pantas bangga. Kejadian itu, tiga abad sebelum masehi. Memang dalam buku-buku klasik apa yang dialami Archimedes lebih dikategorikan pada ranah penemuan. Tetapi, bukankah penemuan perwujudan ide?
 
Simak kisah mBah Issac Newton. Menurut tuturan Stukeley (Memoirs of Sir issac Newton’s Life, 1752): Setelah makan malam Newton pergi ke taman, berleha-leha duduk sembari menikmati minuman teh. Dalam suasana kontemplatif, sebuah apel jatuh. Mengapa apel jatuh ke tanah? Kog ngak menyamping? Hanya hal jatuhnya apel.
 
Saya ingin menandaskan, ide bukan muncul tiba-tiba. Bahwa bisa jadi muncul seketika, yes. Tetapi, prosesnya bukanlah perkara sederhana. Newton telah lama ‘memikirkan’ alam. Dari jatuhnya buah apel lahir ide yang menjadi landasan ilmu, Teori Grafitasi.
 
Dus, jangan melihat ide sebagai hal yang datang begitu saja, sekonyong-konyong. Penampakkannya bisa jadi sekelabat, durasi ke arah penampakkan itu memerlukan proses. Semakin sesorang memiliki entry behaviore semakin mungkin idenya bak mitraliur.
 
Dengan kata lain, ide bisa diburu. Setidaknya ‘dipersiapkan’. Ah, yang benar, ide kog bisa dipersiapkan. Ya iyalah, kenpa tidak?
 
Pemahamannya begini. Apabila Sampeyan membaca tulisan-tulisan tentang menulis, Insya Allah akan dengan sangat mudah memunculkan ide untuk menulis aneka rupa tulisan. Silahkan dibuktikan.
 
Seseorang yang suka membaca, seksama mengamati apa saja, dijamin dapat pancaran kemudahan ide. Hasil bacaan dan amatan, begitu biasanya, apabila kita memikirkan sesuatu atau melihat sesuatu, tiba-tiba memunculkan ide. Sehari bisa ribuan ide lho menghentak.
 
Apa yang terpikirkan, respon terhadap pindaian alat indera melahirkan gagasan, membuahkan ide, pada dasarnya adalah pematik. Sekali lagi, pemantik ide. Dikatakan pemantik, sebab sebelum ide mencuat telah tersedia sejumlah pengetahaun memadai di ranah pikiran.
 
Logikanya ide bisa diburu. Caranya? Ya, itu tadi, perbanyak timbunan pengetahuan di otak. Kalau pengetahuan memadai, ya bisa jadi diburu pemantik, diburu ide. Saking banyaknya ide, pusing sendiri. Terlalu banyak ide, dalam kaitan menulis, bisa berakibat susah melahirkan ide dalam tulisan, he he.
 
Dus, mari memburu ide dengan menyiapkan beragam pengetahuan di otak. Begitu ada pemantik, ide akan muncul tanpa dapat ditolak. Kalau entry behaviore cekak, ya susah mendapatkan ide. Apalagi, memburu ide. Diri kita dan hal di luar diri kita adalah pemantik ide, sebab ide adalah hasil proses kerja otak atawa buah pikiran.
 
Bagaimana menurut Sampeyan?
 
Banjarbaru, 25 Juli 2008.

  1. 10 Responses to “Memburu Ide”

  2. By achoey sang khilaf on Jul 25, 2008 | Reply

    ide ada di sini
    ide ada di sana
    ide ada di sana sini :)

  3. By yella on Jul 25, 2008 | Reply

    sebenarnya dengan hobi membaca, kebutuhan menulis itu pun akan muncul sendiri tanpa dipaksa-paksa, begitu pengalaman saya,,:)

  4. By suhadinet on Jul 25, 2008 | Reply

    Ide “tidak datang dengan sendirinya”. Ada pijakan terlebih dhulu di otak kita. Ada cantelannya yang harus sudah siap. Cantelan atau pijakan itu adalah pengetahuan kita tentang sesuatu. Saat kita mendapat ide baru, itu berarti kita siap memijak maju selangkah, atau siap mencantelkan sesuatu yang baru di cantelan yang sudah ada tadi.

    Bisa juga ide muncul karena sesuatu yang kita baca, kita amati, kita dengar, kita rasa, kita ketahui, telah terkubur lama, lalu “terlecut-terbongkar” kembali karena adanya “trigger” melalui membaca atau rangsangan lainnya.

  5. By artja on Jul 25, 2008 | Reply

    ide memang bisa dipersiapkan. tidak melulu hanya lentikan dari dalam pikiran. buktinya, kita sering mendengar orang mengatakan, “saya sedang mencari ide.” atau saat sedang bengong, lalu tiba-tiba ada yang bertanya sedang apa, maka sering juga kita menjawab, “lagi cari ide.” berarti ide mmang bisa dicari, direncanakan, lalu ditemukan, bukan?
    tapi ada bahayanya juga ide semacam ini, yang mengandalkan pengendapan pikiran berdasarkan pengetahuan yang sudah diperoleh, yaitu ketika ide yang muncul ternyata tiruan dari ide-ide orang lain. wajar saja, sebab referensinya memang pengetahuan yang sudah kita telaah, pelajari, dan diendapkan dalam pikiran kita.
    makanya, saya lebih senang dengan ide yang spontan, bukan hasil perenungan atas pengetahuan kita.

  6. By monsterikan on Jul 25, 2008 | Reply

    ide itu tersebar bak bintang di alam semesta. banyak dan acak. tinggal gimana dibahasakan ke orang2 sekitar lewat tulisan aja :D

  7. By taliguci on Jul 25, 2008 | Reply

    ide kadang muncul seperti menjentikkan jari. tapi kadang buntu pak. kalau sudah buntu, susah bagi saya pak, untuk berburu id. mungkin karena saya tidak tahu apa yang mesti saya buru..

  8. By sawali tuhusetya on Jul 25, 2008 | Reply

    otak manusia memang dapat menyimpan berbagai peristiwa pada masa silam, masa kini, bahkan membayangkan peristiwa2 pada masa yang akan datang. semua itu sebenarnya bisa membangkitkan ide2 besar utk terus digali. pokoknya, “saya punya ide, karena itu saya ada, hehehe :lol:

  9. By Siti Fatimah Ahmad on Jul 25, 2008 | Reply

    Idea mengatur dunia. Sesuatu idea itu lebih baik ditanam dalam fikiran orang lain daripada fikiran pencetus idea itu sendiri. idea tidak dapat dihancurkan dengan membunuh manusia yang mengeluarkan idea itu.

    Contoh sahaja : Jika ada orang yang mahu “menghilangkan ERSIS WARMANSYAH ABBAS dari sisi dunia ini; hanya kerana idea-idea kritisnya, maka nanti akan ada pula - satu juta ERSIS WARMANSYAH ABBAS yang lain bangkit untuk mempertahankan ideanya.”

    Salam hormat dan diberkati umurnya oleh Allah swt sentiasa.

  10. By zoel on Jul 25, 2008 | Reply

    wahhh saya juga lagi memburu ide buat posting yg bermanfaat :D

  11. By marshmallow on Jul 26, 2008 | Reply

    ide yang sama bisa jadi buahnya berbeda oleh pemikir yang berbeda.
    jadi meskipun ide sama, belum tentu setelah dituliskan hasilnya juga akan sama.
    ingat tugas menulis dari guru.
    meskipun dengan topik yang sama,
    hasil yang diberikan para siswa selalu berbeda.

Post a Comment