Menkreasii Ide

24 July 2008 | Ditulis oleh: EWA |

Oleh Ersis Warmansyah Abbas

MAAF. Saya teringat ketika belajar membaca di Sekolah Rakyat. Gagah perkasa guru mencontohkan kalimat aktif-pasif. Ali memukul anjing (aktif), Anjing dipukul Ali (pasif). Kalau tidak salah, dipungut dari buku Sutan Takdir Alisyahbana (STA), Tata Bahasa Indonesia Baru (1957).
 
Saya sampai mempopulerkan lelucon satire. Panitia Hadiah Nobel Swedia menerima usul agar STA diberikan hadiah Nobel atas jasanya mengembangkan pengajaran Bahasa Indonesi. Setelah diteliti dengan seksama dalam waktu yang cukup, usulan ditolak. Gagallah putera Indonesia pertama sebagai penerima hadiah Nobel. Apa sebab?
 
Panitia setuju atas peran kontributif STA, tetapi akibat buku dan contoh tersebut, malahan prihatin. Coba, berapa miliar anjing dipukuli di sekolah-sekolah Indonesia. Tiap hari anjing dipukul Ali melalui pembelajaran membaca. Berjuta-juta. Harap maklum, panitia penyayang binatang.
 
Belakangan populer contoh: Ini Budi. Ini Ibu Budi. Untung saja tidak menjadi: Budi tidak berbudi. Ya, soal mengkreasi itu banyak guru bersikap jahiliyah. Pokoknya contoh di-copy paste.
 
Maknanya adalah, guru miskin ide sekadar mengkreasi contoh lebih menarik, lebih konteksual. Kalau ada ide, kalimat bisa dibuat lebih atraktif: Susilo Bambang Yudhoyono membersihkan rumah. Rumah dibersihkan Susilo Bambang Yudhoyo. Anwar Ibrahim menanam pohon. Pohon ditanam Anwar Ibrahim.
 
Sampai hari ini, kalau tidak percaya silahkan diteliti, kita belajar membaca pusi, menikmati novel. Membahas sembari mengkritik aneka tulisan. Guru paham mana karya bagus mana yang jelek. Kalau peserta didik merakit kalimat, apalagi menulis puisi atau artikel, coretan merah guru akan memperindah karya siswa. Kalau ada siswa yang suka bercanda: Bu, Pak, mana contoh karya Sampeyan?”
 
Bisa-bisa dibenci guru, dan nilai rapor merah meriah. Guru lebih suka ‘mendongeng’ dari memberi contoh nyata. Seorang peserta sharing menulis berkata: “Pak, bagaiamana kami aka termotivasi, tergairah menulis, Pak Dosen selalu mencontohkan dan membandingkan karya kami dengan karya Wlilliam Shakespiere atau Buya Hamka”.
 
Saya jadi maklum. Memang ada guru ‘mabuk’ demikian. Karya penulis-penulis hebat dijadikan alat untuk membunuh ide muridnya menulis. Sementara, dia sendiri tidak berkarya. Guru linglung seperti itu lupa, contoh lebih bermakna dari ‘dongengan’ tentang yang hebat-hebat. Guru yang hanya mampu menilai, tetapi nol koma nol karya. Guru miskin ide. Wajar muridnya lebih miskin ide.
 
Cih, jangan-jangan, sekalipun puluhan juta sepeda motor dipakai di Indonesia, sampai heregene bangsa tercinta ini tidak mampu ‘menciptakan’ sepeda motor nasional. Para petinggih sih, hanya menfasilitasi perakitan, bukan memproduksi. Para sarjana teknik terbaik sih, kalau perlu hanya bekerja di ATPM, bukan menggunakan pikiran dan ilmu untuk mencipta. Bagaimana mau mencipta, menkerasi yang sudah dikuasi untuk melahirkan ide tidak punya. Siapa dulu gurunya.
 
Ide bisa terlahir dari ide sebelumnya, dari ide orang lain, dari ide sederhana atau ide besar. Di atas ide diciptakan ide baru. Karena ide manusia mampu mempertahankan keberlangsungan rasnya.
 
Mengkerasi ide, melahirkan ide di atas ide, bukanlah hal haram. Mula-mula manusia menggunakan kakinya untuk beraktifitas, kemudian memakai kuda, pedati, mobil, kapal terbang, dan terus berkembang. Sejuta abad ke depan susah dibayangkan jenis transportasi apa yang dikembangkan manusia.
 
Ide adalah kehdiupan itu sendiri. Tanpa ide kita mati dalam hidup. Manusia, apalagi guru pemati ide, bisa jadi pendosa besar bagi kehidupan manusia.
 
Bagaimana menurut Sampeyan?
 
Banjarbaru, 24 Juli 2008.

  1. 10 Responses to “Menkreasii Ide”

  2. By zee on Jul 24, 2008 | Reply

    tapi mas, ada jg beberapa guru yg memang sebenarnya punya kemampuan menulis, hanya saja krn terlalu lama jd guru, idealisme pun bs luntur jg, bakat jadi terpendam melempem.

  3. By cinker on Jul 24, 2008 | Reply

    kalo menurut saya ide itu merupakan sesuatu yang muncul tiba2. den merupakan sebuah terobosan baru.

  4. By Wempi on Jul 24, 2008 | Reply

    Guru harus di budidayakan, *hahaha, agak aneh dikit*

    seorang guru saya pernah bilang, guru yang tidak punya ide itu adalah, “terasa di kepala tapi susah tuk disampaikan”.

    baso minang e “lai takana tapi indak takatokan”

  5. By suhadinet on Jul 24, 2008 | Reply

    Betul Pak, banyak guru cuma bisa nyuruh. Dia-nya sendiri gak becus kalau di suruh.

    Kalau bandingannya karya-karya hebat, itu terlalu jauh. Gak terjangkau sama anak-anak.

    Sekarang saya kebanjiran ide*
    Bisa dari komen teman, atau saat saya menjawab komen itu. Bisa juga dari posting teman. Pikiran kita demikian hebatnya, asal terus di asah. Muncul sesuatu yang “baru”.

  6. By zulmasri on Jul 24, 2008 | Reply

    guru menulis saya dulu pernah mengatakan, kalau mau menulis, tulislah yg ada di sekitar tempat kita berada. cermati, pikirkan dan hayati dg pikiran dan perasaan. karya orang lain jadikan sbg sumber ide. dengan kata lain, siswa mestinya diarahkan menulis sesuatu yg ada di di sekitarnya (ortu, tetangga, guru, temannya, dsb). guru tinggal memberi rangsangan aja.

  7. By taufik on Jul 24, 2008 | Reply

    Ide serupa telur, dengan rangsangan yang sewajarnya, baik secara biologis maupun rangsangan obat-obatan semacam concentrate dan mineral, setiap telur bisa keluar kapan saja. Yang menjadi permasalahan adalah bagaimana atau kapan telur-telur itu akan menetas? Jawabannya adalah tergantung bagaimana sang induk mengeraminya. Bagaimana sang induk mengelola telur-telurnya. Kalau disamakan dengan telur, penetasan ide-ide tersebut merupakan hasil pengelolaan yang cukup matang atau sebut saja “hasil pengeraman yang teratur”.
    Saya meyakini bahwa kemampuan mengelola telur-telur ide hingga berhasil menetaskannya menjadi bakal-bakal yang hidup tidak terlepas dari kemampuan mengingat yang tajam serta khasanah bahasa yang lebih dari cukup. Dengan pengetahuan yang cukup seseorang sudah pasti mampu menyampaikan ide-idenya secara benar.

  8. By Epat on Jul 24, 2008 | Reply

    mungkin ide harus dijadikan hobi ya pak, agar tak pernah tergerus oleh kesibukan dan realita

  9. By sawali tuhusetya on Jul 25, 2008 | Reply

    membandingkan karya bisa aja, pak sbg pendekatan intertekstualitas, asalkan jangan sampai perbandingan begitu membunuh ide2 kreatif bagi siswa atau mahasiswa, atau calon penulis yang ingin membangun kreativitas.

  10. By Siti Fatimah Ahmad on Jul 25, 2008 | Reply

    Guru adalah penjana idea. Pantas sekali idea guru lebih mantap, kritis,kreatif dan hebat. Kesannya… murid akan kagum, hormat dan menyanjung. Guru juga adalah juara, hero, pahlawan yang gagah dalam kaca pandang anak didiknya. Idea guru memungkinkan sesuatu akan berlaku dalam perubahan iklim sistem pendidikan dan pemerintahan sesebuah negara, malah dunia.

    Sebaliknya….kalau guru hanya semata mencari contoh mudah sahaja, bagi menyenangkan dia faham….bukan pelajar yang faham….maka tentunya akan lahir warga negara yang akan merosot dari cara fikir untuk maju, berani malah mudah dipermainkan.

    Jika takut menghidupkan “minda” pelajar dengan realiti yang sesuai dengan zaman teknologi ini, baik fikir elok-elok sebelum melangkah ke alam perguruan. Kerja ini penuh cabaran.Menyakitkan. Perlukan pengorbanan yang banyak.Perlukan kekuatan minda dan jiwa.

  11. By marshmallow on Jul 26, 2008 | Reply

    guru yang seperti dicontohkan mungkin bisa menjadi reviewer yang baik, tapi tak mampu berkarya, seperti pengamat sepak bola.

Post a Comment