Merenggut Ide
23 July 2008 | Ditulis oleh: EWA |Oleh Ersis Warmansyah Abbas
ANTRIAN. Dua tiga kilo antrian aneka kendaraan berjejar mematri sabar. Ada yang sejak malam hari memarkir kendaraan, ada keluh kesah. Ada yang mengambil praktisnya, membeli BBM di pinggir jalan. Pengecer BBM gembiraria. Peluang usaha dalam kekalutan. Luar biasa solidaritas Indonesia.
Kalau pun mengeluh, kondisi takkan membaik. Pertamina takkan mampu berbuat apa-apa, sekalipun gaji para pegawai, apalagi petingginya melampaui langit gaji dosen. Bermiliar alasan tersedia sudah. Amin Rais boleh beranalisis, Kurtubi berwejangan bla-bla, atau Drajat Wibowo garang menertawakan ‘kebodohan’ pengelolaan BBM, derita ada pada rakyat banyak.
Sebagai orang kebanyakan wajar bosan membaca tentang kedunguan pengelolaan SDA negeri berkah Allah SWT ini. Apalagi menyimak ‘permaian’ mafia perminyakan atau sepak terjang makelar minyak di Singapura. Duh, kaya SDA namun membiarkan pengarukkan kekayaan Indonesia tidak berdampak positif maksimal bagi kemamuran rakyat.
Mengunyah-ngunyah kerumitan tersebut, ‘menikmati’ Tanah Kalimantan yang kaya raya SDA, penghasil bahan mentah BBM, penghasil batubara ‘pembakar’ mesin pembangkit energi, kog ya untuk mendapatkan BBM begitu susahnya, listrik byrapret mengacaukan pekerjaan, menghancurkan aneka barang elektronik. Dahsyat. PLN tidak perlu menampilkan tanggung jawab, rakyat pun tak menuntut saking pahamnya. Indonesia yang hebat.
Muncul ide untuk menulis permasalahan tersebut. Ide yang terenggut dari kerihatinan, dari kenyataan yang langsung dialami, dari derita jutaan orang. Sampai-sampai muncul ide, bagaimana ya kalau diteliti, apakah para pegawai yang bertugas di bidang tersebut tidak terganggu secara psikologis? Kerjanya, dan gajinya yang diterima tidak berbanding positif dengan hasilan kinerja. Apakah para petinggi instansi tersebut tidak malu menerima gaji?
Aha, terlalu rumit. Lalu, kenapa para sopir mau antri semalaman untuk menempatkan kendaraannya di urutan pertama ketika SPBU dibuka pagi hari? Ah, ditongkrongi ah. Bisa pula dibilang ide agak konyol.
Rupanya, para sopir truk lebih enjoy mengantri seharian, sebab solar bersubsidi bisa dijual ke industri, untungnya jauh lebih besar dari mengoperasikan truk. Sopir angkutan lebih senang mengantri, sebab hasilnya jauh lebih besar dari menarik penumpang yang tidak pasti. Wajar penjual BBM eceran tak pernah kehabisan stok. Menurut istilah lokal, BBM didapat dari para pelansir alias pengantri tersebut yang dibeli dengan harga Rp.7.000,00.
Ah, sudah. Dari pada mengeluh, nikmati saja harga BBM Rp.8.000,00 per liter. Itu belum seberapa, beberapa minggu lalu, Rp.20.000,00 per liter. Minimal, pernah membeli BBM mahal, tidak kalah dengan negara-negara maju yang tidak mempunyai sumber-sumber energi alami.
Ide yang direnggut dari kondisi obyektif, berkembang begitu cepat. Bak pohon besar, akarnya bercabang-cabang, dahan ranting beranak pinak, jangan dihitung daunnya. Agar pilihan untuk ditulis tidak membeban, ide dijinakkan, difokuskan.
Artinya, ide takkan pernah habis manakala kita mampu memindai diri, dan hal-hal di luar diri secara seksama. Ide-ide tersebut dapat direnggut sesuka kita, atau dibiarkan berlalu. Ada orang yang mengerutu melulu. Apabila bersikap demikian, dijamin ide tidak akan pernah bisa ditangkap dan dikembangkan.
Ide ada di otak. Otak bermuatan pikiran. Apabila pikiran diganggu ‘perasaan’, Sampeyan akan membenamkan ide. Merenggut ide berarti berpikir, menggunakan pikiran. Jagalah pikiran kalau mau merenggut ide dari kondisi obyektif.
Bagaimana menurut Sampeyan?
Banjarbaru, 23 Juli 2008.










12 Responses to “Merenggut Ide”
By made eka on Jul 23, 2008 | Reply
klo masalah ini saya kehabisan kata2..mudah2an DPR (yang ga bisa diharapkan itu) berhasil dengan hak angketnya untuk membasmi semua mafia minyak singapura..
salam
By laporan on Jul 23, 2008 | Reply
Saya jamin pak, ekonomi singapura akan merosot ke titik minimal, jika penyelundupan dari Indonesia dihentikan. Bisnis Singapura adalah bisnis penadah. Akh… kita yang punya SDA, kita pula yang miskin, negara lain yang makmur.
By Wempi on Jul 23, 2008 | Reply
yang salah sdm nya ya? kalo sdm nya yang salah gak pande mengelola sda… tentu tenaga pendidik yang paling bertanggung jawab, baik itu guru sekolah, guru ngaji, dosen, orang tua, de el el.
By SHALEH on Jul 23, 2008 | Reply
Ya
Rp.8000.- yang bikin motor jadi berasap dan mesinnya tambah panas.
*kebanyakan campurannya*
By Siti Fatimah Ahmad on Jul 23, 2008 | Reply
Begitu bermanfaat idea yang disuntik oleh tuan dalam artikel di atas. Tersentuh rasa dengan situasi yang berlaku dalam dunia kehidupan kita. Saya amat setuju dengan kata bicara dalam tulisan tuan ini.
Hebat dan penuh sindiran pedas. Banyak persoalan yang menduga rasa dan jiwa, mengujakan minda untuk berfikir dan melangsungkan keinginan untuk meneruskan perjuangan.Tapi beranikah kita bertindak? Kerana kita tidak punya kuasa apa-apa malah kita juga bukan siapa-siapa?
Kita bisa berfikir dengan macam-macam cara. Merenggut idea melalui jalan pemerhatian, pengalaman, pembacaan malah persoalan-persoalan yang dilontarkan oleh sesiapa sahaja yang berbicara dengan kita.
Anehnya…ramai yang hanya menjadi pemerhati tanpa apa-apa tindakan, mengalami situasi tetapi tidak bergerak untuk bertindak bijak mengatasinya, membaca tulisan-tulisan yang terpapar bersama gambaran yang dimengertikan tetapi tidak mengambil iktibar untuk pemulihan diri atau sekadar menjadi pendengar yang setia tanpa mampu membantu mencari penyelesaiannya.
Terima kasih atas pencerahan ilmu tuan ini. Satu pengajaran buat saya dalam melontarkan ide melalui reggutan paparan di hadapan mata supaya berani berdiri untuk menulis dalam aspek yang “mencuri hati” manusia seperti ini.
By endang on Jul 23, 2008 | Reply
banyak yg bisa dituliskan…tapi jika kita ingin membatasi ranah penulisan kita, tentu lebih sulit lagi ya pak….dan pastinya lebih mengasah pikiran dan jiwa…….
By salwangga on Jul 23, 2008 | Reply
sehari saja, tak mengunjungi blog ini. berasa ada yang kurang. untung di kantor bisa nebeng akses i-net-an.
sukses untuk pak ersis. postingannya selalu membikin gatal jemari untuk segera menulis. apapun.
By suhadinet on Jul 23, 2008 | Reply
Betul, merenggut ide dari kondisi yang menjengkelkan sangat mudah. Tapi seringkali muncul kesan subyektivitas dan kata-kata keluh kesah yang kuat pada tulisan saya. (he..he.. masih belajar kok sudah bisa menilai, aneh to?). Mungkin karena saya menulis dengan hati kesal ya Pak.
By achoey sang khilaf on Jul 25, 2008 | Reply
bener deh
nih judulnya membuat aku tertantang
By Dhan on Jul 26, 2008 | Reply
Langit gaji dosen kayanya gak nyampe langit kedua ya Pak?
Meski begitu, terasa nikmat kalo disyukuri.
By marshmallow on Jul 26, 2008 | Reply
kondisi yang melemahkan semangat justru sering menjadi sumber ide.
apakah itu manusiawi manunjukkan bahwa manusia itu memang suka berkeluh kesah?
By ganjar87 on Jul 27, 2008 | Reply
minyak-minyak, minyak-minyak…………..
negeri kita ajaib pak…….
mudahan harga minyak mentah dunia turun amiennn