Menjemput Ide

23 July 2008 | Ditulis oleh: EWA |

Oleh Ersis armansyah Abbas

MOOD. Suatu kali peserta sharing EWA’MCo. menyoal: ”Pak, begitu teori yang saya baca dan diterima dari dosen, dalam menulis kita memerlukan mood. Menulis manakala in the mood”.
 
Saya tertawa terbahak-bahak yang membuat dia bingung dan agak tersinggung. Setelah dijelaskan baru agak nyaman. Lalu, saya goda, coba Sampayan nongkrong di terminal bis kota, tunggu tu Si Mood. Kalau datang, baru menulis. Begitu logikanya. Kalau ngak datang-datang, ngak menulis dong.
 
Dia mangut-mangut. “Bro, mood itu suasana hati. Kog ditunggu sih, kenapa kog tidak ‘hati senang’ yang diciptakan”. Aneh.
 
Yes. Sekalipun masuk ranah psikologi, manakala hati lagi senang dan tersenang, hakikinya bukan menulis saja menjadi mudah, apa pun yang kita lakukan terasa lebih mudah. Anak muda sekarang punya istilah ala Djarum LA, enjoi aja.
 
Lebih bermanfaat ke pangkal menulis, meraup ide. Bahkan, menjemput ide. Ide bisa dijemput? Ya, iyalah. Jangan pernah menunggu ide, menanti mood kalau hendak menangkap ide.
 
Seperti telah ditulis berkali-jkali. Ide ada di pikiran. Selama pikiran masih OK punya, selama itu pula ide bermunculan. Sumur ide bak sumur tanpa dasar. Takkan pernah habis. Bisa-bisa dalam tidur pun getayangan. Minimal, dari mimpi ide bermunculan. Kalau paham lho.
 
Menjemput ide berarti, menatap diri. Lebih khas, menggunakan otak memikir dalam otak sendiri. Coba ingat-ingat betapa susahnya guru SD  mengajarkan huruf A-Z, angka1-9. Betapa pengorbanan Beliau. Duh, saya kini sudah ‘jadi orang’ (seblumnya orang-orangan, kali, he he). Sekadar untuk menghargai, akan mendatangi sekolah, akan membantu satu spidol ke sekolah tempat belajar dulu. Ide, bisa datang dari entry behavior.
 
Malam-malam bertabur bintang, duduklah di kursi santai di halaman rumah. Bayangkan betapa luasnya jagat raya, betapa agungnya Sang Pencipta. Duh, akan muncul di pikiran betapa selama ini mengabaikan perintah Allah SWT. Kini … saya akan rajin sholat, berbagi sesama manusia, sesama makhluk dalam kerangka bakti pada Sang Mahakuasa.
 
Atau, ketika mata tidak mau mengantuk, secangkir kopi diseduh. Lalu membayangkan betapa nikmatnya bila duduk berdua dengan Sandra Dewi atau Chelsia Olivia.
 
Kutatap matanya … kupegang tangannya, kuremas jarinya, kubelai rambutnya … kukecup bibir, ku … ku … Untung aku tersadar sambil mengucap astagfirullah. Aku lelaki perjaka, engkau masih muda belia … terlarang melakukan itu (syair lagu siapa, hayo?).
 
Yang terakhir bisa dikategorikan imajinasi. Tepatnya, barangkali pikiran (imajinasi) yang dilandasi ‘pikiran kotor’. Kita tidak membahas hal tersebut, terserah masing-masing aja deh.
 
Bisa pula, ketika asyik membaca Di Bawah Lindungan Ka’bah karya Hamka, atau Ayat-Ayat Cinta  karya Habiburrahman El Sirazy muncul ide untuk lebih mencintai pasangan karena titipan Allah SWT.
 
Ya, ide bisa dijemput, dari dalam diri, dari luar diri, dan atau, dari relasi diri dengan dunia luar diri. Ide ada dimana-mana, datang dari apa saja. Yang penting dipahami, remote controle atau on-off ada di pikiran. Ingat, ide itu pikiran.
 
Kita semua masih punya pikiran kan? Dus, ide bisa dijemput kapan saja, pabila mau, tanpa ada akan penolakan dari “Si Ide”. Wong punya kita, pikiran kita, di otak kita.
 
Bagaimana menurut Sampeyan?
 
Banjarbaru, 23 Juli 2008.

  1. 10 Responses to “Menjemput Ide”

  2. By Siti Fatimah Ahmad on Jul 23, 2008 | Reply

    Aduuuh….Tuan Ersis, bikin saya ketawa membaca postingan ini. kalau mahu dibaca cara fikirnya…..saya berpendapat Tuan Ersis ini orangnya senang dibawa bicara, ‘friendly’ dan boleh tahan juga menggugat rasa hati dengan sindiran begitu begini….pasti ramai yang sudah ber”api” mata dan ber”asap” telinganya. he…he..he…gaya macam sang naga saja bunyinya. Mohon ampun.

    Tersangkut perasaan saya dengan keenakan bunga- bunga bahasa yang dilirikkan pada setiap genggaman ceritanya.Menarik dan penuh makna.
    Tuan juga baca dan punyai buku Di bawah Lindungan Kaabah ya ?

    Saya suka idea tuan tentang si mood tu. Senang menanggapi maknanya. Saya juga sering memberi contoh kepada pelajar saya, jika mereka tidak ada ilham untuk menulis.Saya suruh mereka panggil “Ilham” itu datang kepada mereka….Ilham oh Ilham, di manakah engkau? Gitu caranya. Jika dia tidak datang, maka tak usah menulis lagi. Bawa balik kerja itu, buat di rumah dan cari ilham di mana-mana sampai jumpa.

    Salam hormat dari Malaysia.

  3. By salwangga on Jul 23, 2008 | Reply

    ya, setuju. mood, idea, kehendak, kemauan, memang sudah ada dalam diri. hanya saja, belum kenal. kenalan dulu kali ya?

    lebih heran lagi, ketika saya membaca postingan di situs ini. greget untuk menuils, begitu besar. saat mau mulai, lah koq macet lagi.

    ujung-ujungnya, ya baca-baca-baca dan baca terus. biar menumpuk. persoalannya memang bukan terletak pada idea, mood, dan sejenisnya. melainkan “mau” atau “tidak”.

    nikah saja kalau sudah mau, tak bisa dicegah. apalagi menulis.

    salam hormat, pak ersis.
    salwangga

  4. By Farida Nurhasanah on Jul 23, 2008 | Reply

    Assalamualaikum,….
    Salam kenal dari Saya yang sedang belajar menulis.
    Terima kasih atas sebuah kontribusi yang amat berharga dalam upaya belajar saya.
    “Menjemput Ide” tulisan yang menggugah dengan tutur yang menggelitik

  5. By suhadinet on Jul 23, 2008 | Reply

    Kalau mood gak datang (*pinjem komentarnya namakuananda):
    “tinggalkan aja naik ojek!” he..he..

  6. By jiwakelana on Jul 23, 2008 | Reply

    mood itu tergantung suasana hati ya pak… bagaimanapun keahlian kita megolah kata-kata tp kalau moodnya gak da gak akan membawa hasil yang baik. bukan demikian pak guru…?

  7. By wardani on Jul 23, 2008 | Reply

    ngak mood…!!!
    malas kali,hehehehe…
    kalimatnya aja diperhalus jadi badmood,hee

  8. By Effendi on Jul 23, 2008 | Reply

    simple..jangan mau dikondisikan. Kita yang menciptakan kondisi dan mengaturnya. Bapak emang kreatif. Luar biasa.

  9. By Catra on Jul 23, 2008 | Reply

    kalau saya pak, dipaksain nulis ga bakalan slesei2, tapi kalau lagi ada ide dikit aja dan pengen di share ke orang pasti semangat

  10. By Alwi on Jul 24, 2008 | Reply

    Ya..Saya setuju bahawa ide itu adalah fikiran. Mmg kita harus mikir untuk mendapatkan ide.Merenung, menghayati dan menikmati apa yang ada di depan mata juga bisa tercetusnya ide…Secara jujur setiap hari saya mikir untuk mencari ide agar bisa menulis.

    Melihat sekitar kehidupan masyarakat, isu-isu terkini, merenung alam sekitar dan paling kurang pun merenung diri sendiri. Maka di situ tercetusnya ide-ide baru untuk bisa saya menulis..

    Apa yang diperkatakan oleh Tuan Ersis saya setuju sekali…

    Salam dari Kalam Abu Musaddad
    http://ibnismail.wordpress.com
    MALAYSIA.

  11. By L 34 H on Jul 24, 2008 | Reply

    susah cari inspirasi? baca aja koran….
    *ga boleh iklan* :D

Post a Comment