Menangguk Ide

18 July 2008 | Ditulis oleh: EWA |

Oleh Ersis warmansyah Abbas

OBROLAN. Dalam kehidupan sehari-hari, bahkan dalam situasi pelik dan rumit, dari mulut banyak orang muncul beragam ide. Pada kondisi tertentu, bisa ternganga-ngaga saking kagum apa yang dibicarakan. Idenya hebat. Tontonalh penjual obat di pinggir jalan ‘berpidato’ yang bisa membuahkan kerinduan, seandainya guru-guru piawai menyampaikan gagasan seperti tukang obat, duh nyamannya belajar.
 
Ya, dari penjual obat pinggir jalan kita bisa menangguk ide. Saya banyak mendapat ide dari teman yang suka ngomong. Luar biasa (bisa jadi luar binasa). Betapa buaian hebat pengomong seolah-olah membawa kita ke alam kenyataan, realitas.
 
Tetapi, begitu biasanya, manakala rasionalitas bermain, tersadar, wah hal itu hanya ada diomongan. Atau begini, ikutlah kampanye partai tertentu atau pencalonan sesorang menjadi pejabat pemerintahan. Seolah-olah, apa yang dikampanyekan adalah kenyataan itu sendiri. Begitu partai atau calon pejabat menang, dan berkuasa, janji-janji menguap. Kehidupan bahkan bisa jadi semakin buruk.
 
Sebagai dosen suata kali tercenung, setiap kuliah lancar memberikan materi kepada mahasiswa, bahkan ketika ada pertanyaan tidak terduga dijawab mulus-mulus saja. Kenapa apa yang dibicarakan, apa yang didisusikan tidak ditulis?
 
Sebagai dosen, atau guru yang puluhan tahun mengajar, kalau tidak mampu menulis apa yang diomongin tiap hari, apa tidak keterlaluan. Kalau begitu apa sih bedanya dosen dengan pendongeng?
 
Para pakar ngonomg, pendongeng, atau penjual obat, membuai menang. Suatu malam menganalisis, bagaimana proses pengeluaran pengetahuan dari otak dan mengolah jawaban tiba-tiba. Sungguh ajaib. Hampir tidak memerlukan waktu; cepat, tangkas. Pertanda otak itu kerjanya cepat. Saya membeli beragam buku tentang otak. Hebat nian memang.
 
Pada suatu ketika terpana, ketidakmampuan menulis disadari sebagai pernyataan tidak ternyatakan, takut. Takut? Takut apa? Takut ketahuan pengetahuan yang dimiliki sebagai pengetahuan selayang pandang. Kalau di depan mahasiswa berani saja soalnya punya kekuasaan. Lagi pula, begitu selesai, diomongin ditelan ruang. Kalau ada yang menggugat bisa berdalih, saya tidak bicara begitu kog. Sampeyan salah tangkap.
 
Oalah … kalau menulis lain ceritanya. Salah satu huruf saja akan ketahuan. Apalagi salah diksi atau konsep. Ketahuan deh betapa bodoh diri. Muncul ide, untuk melawan ketakutan, menyerah. Akui diri bodoh, dan belajar menulis. Mula-mula sulit, banyak kesalahan. Apalagi, mereka yang tidak pandai menulis biasanya main cerca saja. Jadi sansak deh.
 
Tapi, tidak patah semangat. Mau dicaci, disidang, atau dipojokkan, silahkan. Yang penting menulis. Idenya kan menulis untuk melawan diri, melawan kebodohan diri. Dihujat orang? Risiko.
 
Ide tersebut berkembang. Kini, pada saat-saat tertentu terasyik mendengar pembicara hebat, para pendongeng. Saya pernah membayar orang agar  bercerita dengan mentraktirnya. Menangguk ide. Dia bangga dengan dongengnya, saya menulisnya, he he.
 
Ide demi ide mengalir. Hasilnya ratusan tulisan dan puluhan buku. Sementera para pembicara hebat, para pendongeng, mereka yang suka memberi nasehat plus petunjuk tentang menulis harus begini-begitu, belum juga menulis. Ada kehebatannya semakin mapan, menilai dan membantai tulisan orang. Please.
 
Ide menjelang selama kehidupan bergulir. Kehidupan bermuatan ragam hal yang takkan mampu ditulis sekalipun sedanau tinta dihabiskan (kini sih pakai komputer walau PLN doyang menghambatnya). Sebab, kehidupan adalah ide itu sendiri yang setiap detik melahirkan ide. Mari ditangguk untuk ditulis.  

 Bagaimana menurut Sampeyan?
 
 Banjarbaru, 18 Juli 2008.

  1. 16 Responses to “Menangguk Ide”

  2. By Achmad Sholeh on Jul 18, 2008 | Reply

    Setuju saya bang atas tulisan anda, menulis sesuai teori dan kaidah bahasa memang bagus,tetapi menulis dari ide pikiran dan ekspresi perasaan akan lebih mengena walaupun dari segi tata bahasa agak kacau …. salam

  3. By Anang on Jul 18, 2008 | Reply

    kalau saya dapat ide langsung ditulis saja.. keburu ilang.. entah struktur bahasanya acakadut biarin lah

  4. By dhany on Jul 18, 2008 | Reply

    wah saya mesti memiliki banyak ide biar saya tambah maju…siip pak postinganya

  5. By enggar on Jul 19, 2008 | Reply

    setuju, Pak. Dicaci maki? Biar saja. Anjing menggonggong khalifah berlalu.. hehehe. Nggak juga sih, karena kita pasti belajar sesuatu dari sana :)

  6. By Moh Arif Widarto on Jul 19, 2008 | Reply

    Ide saya banyak yang tidak jadi tulisan karena ditunda-tunda terus.

  7. By edratna on Jul 19, 2008 | Reply

    Saat kecil, karena rumah saya penuh buku bacaan, dalam acara penting (ulang tahun dsb nya) hadiahnya selalu buku, saya bercita-cita ingin menulis.
    Persolannya, ide cuma mandeg di otak, bahkan menulis di blog (saya anggap masih latihan)…rasanya belum memuaskan, belum fokus….yahh memang perlu semangat….

  8. By Yari NK on Jul 19, 2008 | Reply

    Dunia omongan dan dunia kenyataan memang dua dunia yang berbeda. Dalam dunia omongan apapun bisa terjadi walaupun tidak masuk akal (termasuk janji2 kosong), sedangkan dalam dunia kenyataan itulah yang pada kenyataannya terjadi. Lalu buat apa gunanya dunia omongan?? Salah satu kegunaan dunia omongan tentu adalah menuangkan ide, menumbuhkan optimisme (walau bisa juga sebaliknya menjadi pembunuh optimisme) dan tentu saja bisa sebagai penyemangat agar ide tersebut dapat terlaksana…

    Yang penting adalah bagaimana menyelaraskan atau memparalelkan antara dunia omongan dengan dunia nyata agar omongan kita menjadi lebih dihargai dan berguna bagi lingkungan kita, tidak hanya sekedar omong kosong belaka yang menipu, menfitnah dan bahkan hanya menghujat, yang mengakibatkan kualitas omongannya tidak beda jauh dengan meongan kucing atau gonggongan anjing belaka…. hehehe……

  9. By mathematicse on Jul 19, 2008 | Reply

    Ya, seringkali saya menyerap ide dari obrolan dengan orang-orang yang pandai bicara, pandai ngomong. Tetapi, bagi saya, ide-ide dari para tukang omong itu tidak serta merta ditulis sesuai apa yang diomongkannya, tapi kita analisa dulu, baru kita sintesis dengan beragam pengetahuan yang kita miliki, dan tuangkan dalam bentuk tulisan.

    Jadi paratukang omong itu hanyalah sebagai inspirator kita dalam menulis saja.

    Sedangkan para tukang omong khususnya para calon-calon wakil rakyat (gubernur, walikota, atau lainnya), itu saya anggap hanya bualan belaka (selama tidak ada realisasinya), siapapun yang mengatakannnya. :D

  10. By suhadinet on Jul 19, 2008 | Reply

    Wah, judulnya mengingatkan saya dengan sebuah lagu banjar yang sebagian liriknya begini:
    “manangguk sapanjang sungai, bulihi iwak ganal parutnya…” He..he..

    ============

    Jadi kita aambil untung dari pembicara-pembicara hebat itu Pak ya. Sip!

    ***Yap. Tepatnya, tangguk ide dari situasi apa pun, dan tulis.

  11. By sbakhi on Jul 19, 2008 | Reply

    ide sering muncul mulai dari rumah, dijalan, ketemu sahabat, melihat kejadian, sampai pulang ke rumah lagi banyak sekali ide2 yang muncul setiap harinya, malam dihadapan komputer siap2 nulis spt yang Bang Ersis sering wacanakan…menulis itu mudah, tapi kenyataannya ada katakutan yang belum bisa saya lawan yaitu takut pada diri sendiri.. takut bhw tulisan ndk enak dbaca dll..sampe2 blog yang dibikinkan oleh sahabat kita (windede)sampe sekarang blm ada isinya hehehe..gmana caranya mlwn rasa takut itu boss ae..tks

    ***Itu hal paling gampang. Tulis, tulis, dan tulis. Kalau sudah maujud, nikmati, benar atau salah soal kecil saja.Tulis, tulis, dan tulisa lagi. Akhirnya jadi biasa to, takutnya kabur … Ingat: Takut kan karena belum menjadi kenyataan, kalau sudah jadi kenyataan ya hadapi, hilang deh takutnya. Takut itu byangan Iblis he he

  12. By Siti Fatimah Ahmad on Jul 19, 2008 | Reply

    Saya setuju dengan pendapat Tuan Ersis.

    Lahirnya saja kita sudah bersuara, merengek minta disusukan. Besar sikit minta disuapkan nasi, tentu dengan suara yang kurang jelas bicaranya. Besar lagi- kanak2 - banyak lagi cakapnya dan sudah pandai menulis. Suka menulis pada dinding. sofa. kerusi. baju.muka.apa sahaja mahu ditulis.

    Tapi bila sudah besar dan dewasa banyak pula bercakap, bercakap dan ilmu menulisnya semakin kurang. Teorinya orang yang banyak bercakap maka banyaklah ideanya. kalau banyak ideanya Maka eloklah ditulis idea itu agar tidak hilang. Berlalu begitu sahaja.Pelikkan manusia ini. Unik. Aneh dan menakjubkan.

    Sebab itu namanya manusia….lupa..Lupa menulis tapi tidak pernah lupa bercakap. Sebab itu bila dalam kuliah, ambil apa sahaja idea dari perbincangan dosen yang boleh dicerna dan dekembangkan menjadi tulisan kita.

    Terima kasih tuan Ersis, saya selalu menangguk idea tuan melalui tajuk artikel yang ditulis. Membaca tulisan tuan menjadikan saya mempunyai idea tersendiri untuk dihasilkan dalam tulisan saya. Semoga ilmu yang dikongsikan bersama mendapat manfaat berkekalan hingga ke akhirat.

    ***Ho oh … kita semua saling berbagi ide, melempar ide, dan (mungkin) menangkap ide. Soal bagaimana menuliskan ide itulah yang kita kembangkan. Setuju aza khan?

  13. By sawali tuhusetya on Jul 20, 2008 | Reply

    Tapi, tidak patah semangat. Mau dicaci, disidang, atau dipojokkan, silahkan. Yang penting menulis. Idenya kan menulis untuk melawan diri, melawan kebodohan diri. Dihujat orang? Risiko.

    saya setuju banget, pak, menulis adalah proses kreatif. ada yang suka, tapi ada juga yang tidak. bagi saya, itu sebuah dinamika yang justru akan membuat kita makin tertang utk makin kreatif. semangat mesti terus dibakar, ya, pak?

    ***Siap komandan. Sampeyan inspirator saya, lho. Mari sama-sama digalakkan semangat menulis. Cherrio Pak Guru.

  14. By ariss_ on Jul 20, 2008 | Reply

    Ini menarik sekali, Pak Ersis. Bahwa paradoks Indonesia menjadi kian semarak, ketika minat baca mayoritas masyarakat masih berjalan terseok-seok, hasrat untuk menghidupkan budaya menulis begitu tinggi, entah kapan akan mencapai titik kulminasinya. Verba valent, scripta manent.

    ***Namanya saja usaha he he. Mungkin lebih baik, mungkin lho, daripada mengumbar dongeng-dongeng membangun Indonesia oleh para pendongeng, padahal kehiodupan semakin terpuruk (dan menantang).

    Salam,

  15. By Ahmad Nur Irsan Finazli on Jul 20, 2008 | Reply

    Orang yang banyak bicara sebenarnya punya potensi yang baik untuk menulis, dengan syarat ia mau menuliskan apa yang diomongkannya.

    ***Persis, mari kita provokasi manusi-manusia yang diberkati tersebut he he

  16. By theloebizz on Jul 20, 2008 | Reply

    SETUJUUUH paaaak….ide mo dituangkan dlm tulisan ataupun omongan selama itu bisa melegakan hati dan jiwa mah hayoo ajah :)

    ***Yoi, jadikan tulisan.

  17. By marshmallow on Jul 21, 2008 | Reply

    syukur ada wadah bernama blog.
    biar gak melulu ide itu diobrolin saja,
    mendingan ditulis dan dibagi ke pembaca.
    dapat feedback lagi melalui komen rekan-rekan.
    how cool is that?
    btw, membaca artikel ini membuat saya senyum-senyum sendiri, berkaca katanya.

Post a Comment