Menagkap Ide
17 July 2008 | Ditulis oleh: EWA |Oleh Ersis Warmansyah Abbas
MALAM. Menonton Piala Eropa sungguh menghibur. Saya kepincut Tim Turki dan Cheko. Terbayang Liga Indonesia. Pemain asing semakin berjaya. Klub minta dana ke Pemda. Pengurus PSSI yang ‘tangguh’ walau bermasalah. Pemukulan wasit. Suporter berantam. Pokoknya ramai. Prestasi menunduk.
Pikiran bekerja. Muncul pertanyaan, bagaimana agar persepakbolaan nasional membanggakan? Otak bekerja. Tiba-tiba ide menyeruak. Hentikan kegiatan sepakbola, minimal aneka pertandingan. Dana, energi, dan potensi fokuskan membangun lapangan sepakbola, minimal satu di setiap kecamatan. Lapangan sepakbola yang memenuhi standar.
Gerakan membangun lapangan sepakbola di tiap kecamatan, merupakan ‘kewajiban’ pemerintah dan masyarakat. Klub sepakbola membangun lapangan sepakbola sebagi base camp. Lucu juga kalau kub sepakbola profesional tidak mempunyai lapangan sendiri.
Setelah soal lapangan di setiap kecamatan, barulah menata sistem. Selama ini, hal paling pokok tersebut diabaikan. Bagaimana mengembangkan potensi pemain kalau tempat berlatih saja tidak memadai. Omong kosong bicara pasokan pemain, mustahil mendapatkan kader terjamin.
Kenyataan adalah bukti. Sejak Ligina diputar apa prestasi persepakbolaan Indonesia? Apakah dengan menjamurnya pemain asing kita mampu ‘berbicara’ di tingkat dunia? Pernahkan dihitung berada sumberdaya dana dihabiskan untuk itu.
Saya geleng-geleng kepala ketika ada Pemda yang menyediakan dana untuk membantu klub profesional sekian miliar dari dana APBD. Bukankah menyiapkan lapangan sepakbola lebih mendasar sebagai kewajiban Pemda dari pada membantu klub dalam putaran kompetisi profesional. Lucu juga ya Indonesia ini, klub profesional kog meminta dana ke Pemda. Aneh.
Itulah ide. Ide sebagai rancangan di pikiran, sebagai gagasan individual bisa datang dari mana saja. Bisa ketika otak sedang bekerja karen stimulasi sesuatu, dirangsang satu atau banyak hal, dan atau apa saja dalam relasi otak dengan dunia di luar pikiran. Bisa pula dari dalam pikiran itu sendiri.
Gagasan tersebut yang ditulis. Karena itu, sangatlah wajar dikatakan, menulis menuangkan pikiran, merajut gagasan, membangun ide dalam bingkai kata-kata. Tersebab pemahaman demikian pula pertanyaan seorang bloger, bagi saya jadi lucu. Pak, darimana mendapatkan ide menulis beragam hal hingga mampu tiap hari menulis.
Tepatnya, selama kita berpikir, selama kita berintegrasi dengan dunia di luar pikiran, selama kehidupan, selama itu pula ide didapat. Ide bak sumur tanpa dasar. Semakin ditulis semakin menjamur. Ide tidak akan pernah mati atau habis selama manusia ada, selama manusia berpikir.
Bagaimana mendapatkan ide, merupakan rangkaian tulisan yang akan disajikan berseri pada buku ini. Ide, hampir setiap kita berpikir, ketika mata melihat, saat telingan mendengar, lidah merasa, tangan meraba. Ide adalah pula respon diri, respon pikiran ats sesuatu.
Pak, saya punya ide menulis tentang anu, tetapi begitu ditulis, idenya terbang entah kemana. Untuk hal tersebut, dapat dibaca pada bagian lain buku ini. Fokus kita mendiskusiakn, dari mana datangnya ide dan bagaimana menangkap ide.
Ide adalah diri kita, pikiran kita.
Bagaimana menurut Sampeyan?
Banjarbaru, 17 Juli 2008.













10 Responses to “Menagkap Ide”
By cinker on Jul 17, 2008 | Reply
sebenarnya ide banyak tapi masalah terbesarnya adalah. kurang PD untuk memunculkan ide tersebut
By suhadinet on Jul 17, 2008 | Reply
Wah, bagus Pak. Diterbitkan berseri tentang bagaimana memperoleh ide menulis.
By salwangga on Jul 17, 2008 | Reply
saya sering mengalami itu, hanya saja masih berberat jari untuk segera nyamber pulpen dan kertas. “tar aja ah, nanti juga ingat”.
tak tahunya, ide itu melintas hanya sekejap. klo ndak segera ditangkap, pastilah lewat.
By Badiyo on Jul 17, 2008 | Reply
Ide ada, tetapi ketika sudah mulai ditulis, tulisan ke mana-mana, ngalor-ngidul, tidak fokus. Gimana nih?
By marshmallow on Jul 17, 2008 | Reply
seringkali ide muncul,
namun ketika hendak dituliskan,
ide tersebut tiba-tiba berasa basi, gak menarik,
gak terlalu berarti buat dituliskan.
gimana tuh, pak ewa?
By doelsoehono on Jul 18, 2008 | Reply
SALAM …
Wah klo soal Ide ,memang banyak tapi pas mau di kluarin ” E ” datang ide yang lain ,ya gini jadinya ….
By adi-permana on Jul 18, 2008 | Reply
Sahibar perkenalan dulu Pak. Assalamualaikum. Ulama zaman dulu, seperti Ibnu Sina, Al Jabar, Ibnu Taimiyah sampai Datuk Kalampayan merupakan sosok yang baru bisa benar-benar disebut ulama. Kenapa? Karena mereka tidak hanya membekali dirinya dengan ilmu tauhid, fiqih dan syariat saja, melainkan hingga ilmu-ilmu yang disebut secara sempit hati oleh orang sebagai ilmu dunia.
Coba tengok Ibnu Sina, ia juga ahli dalam ilmu kedokteran, psikologi dan lain-lain. Al Jabar, tidak hanya alim dibidang ilmu fiqih, karena ia jago matematika. Begitu juga dengan ibnu Taimiyah yang juga ahli dibidang kemiliteran dan ilmu politik.
Bahkan, banyak ilmuwan politik komtemporer yang menyadur ilmu dari beliau. Nah, Datuk Kalampayan juga komplit, mulai dari ilmu pertanian, astronomi, ekonomi.
Jadi, saya sebenarnya tidak setuju kalau ada dikotomi antara ilmu akhirat dan ilmu dunia seperti yang dikatakan para ulama yang sebenarnya diragukan keulamaannya. Seluruh ilmu jika ia baik dan ditujukan untuk kebaikan maka semuanya dikatakan ilmu agama. Bukankah setiap perbuatan akan berimplikasi kepada pahala dan dosa sebagaimana yang diatur agama. Jangankan ilmu matematika, ilmu politik, ilmu militer, ilmu jurnalistik dan lainnya, bahkan ilmu bagaimana kencing yang benar pun seluruhnya adalah ilmu agama.
Dikotomi itu tanpa disadari umat Islam sebagai racun yang membuat kita tak bisa maju-maju. Tengoklah orang lain sudah ke bulan ke planet mars, punya teknologi internet seperti yang adinda gunakan sekarang ini, sementara kaum Muslimin masih berkutat pada masalah bacaan qunut, ada tidak ada Imam Mahdi, siapa yang pantas memimpin partai Islam, merangkak dari kesulitan ekonomi dan lain-lainnya yang melelahkan.
So, semua ilmu selagi ia positif dan digunakan untuk kebaikan adalah ilmu agama. Perhatikanlah firman Allah, “Jika itu baik, maka ia datang dari sisi-Ku.” Jadi, adinda, ilmu agama bukan hanya sebatas ilmu yang diajari di IAIN belaka, atau madrasah ngaji duduk atau ilmu syariat atau ilmu hakikat. Wassalam………
By Siti Fatimah Ahmad on Jul 19, 2008 | Reply
Ya betul….idea itu adalah diri kita sendiri. Fikiran kita bukan fikiran orang lain. Yang berfikirnya kita. Yang membayangnya juga kita. Tetapi dilahirkan melalui mulut untuk dijelaskan kepada orang lain. Jika tidak, idea itu hanya khayalan semata-mata tanpa dicurah keluar dari minda. Cukup membazir dan merugikan.
Menangkap idea sangat mudah. Contoh; kita melihat seorang perempuan cantik sedang menangis keluar dari kereta dan berlari-lari masuk ke dalam rumahnya. Kita sudah punya idea dan tertanya mengapa dia menangis.
Maka kitapun membuat andaian sendiri. Jangan fikir sahaja. Terus tulis idea yang melewati minda. Maka kita akan menghasilkan sesuatu tulisan yang sudah selesai dengan melihat situasi tadi.walaupun hanya dengan andaian semata-mata.
Konklusinya…biarkan idea itu ditangkap mudah melalui keadaan santai dan bersedia. ia akan mampir dengan penuh kehalusan menyelinap ruang minda tanpa perlu dipaksa-paksa pencariannya. Jumpa pagi tuan Ersis. Permisi duluan. Salam dari UKM, Bangi Malaysia.
Oh ya lupa…..saya ada teman kuliah baru yang datangnya dari Banjarmasin. Hamdan namanya. Dulu belajar di IAIN di sana. Saya senang kerana dapat mendengar sendiri cerita tentang tempat tuan melalui dia. Kalau dia balik ke sana nanti, akan saya kirimkan ole-ole buat tuan sebagai kenangan dari Malaysia.
***Makasih dulu ya. Oh yah, ‘minda’ arti haikinya apa ya, mBak. Salam buat Hamdan, saya belum pernah jumpa dia he he. Oh, ya jangan lupa kamus ya. Alamat Sameyan mana? Tu, anak-anak pada nanya, kirim buku ke Siti Fatimah Ahmad tu gimana caranya ya. Ntar dikirim ke yang lain jadi ngak pas dong. Salam dari Banjarbaru.
By Siti Fatimah Ahmad on Jul 20, 2008 | Reply
MINDA itu adalah MIND alias otak, fikiran atau akal.
Tuan Ersis, terima kasih atas ziarah tuan ke blog saya. Sungguh gembira kerana tuan sudi singgah. Aduh….Asyik senyum saja saya membaca komen tuan. Rindu agaknya. Gaya anak-anak dibeli mainan oleh bapanya.
Kamus itu saya tidak pernah lupa, cuma belum ada kesempatan mahu dikirim. Alamat tuan saya masih simpan. Nanti saya tulis alamat saya melalui email dengan tuan. Ceria dan senyum selalu dari saya di Bangi, Malaysia. Salam juga buat anak-anak tuan di sana.
By dewi on Jul 25, 2008 | Reply
asw. pa ersis ulun pernah baca buku pian nang tentang nyaman memeahami ESQ dan kota Banjarbaru. minta saran pa, kaya supaya bisa nulis kayk pian. makasih pa.