Otak Kiri Otak Kanan

11 July 2008 | Ditulis oleh: EWA |

Oleh Ersis Warmansyah Abbas

SESEORANG yang ‘hebat’ secara akademis, pada umumnya sangat kuat dalam logika, kata, daftar, angka, linieritas, analisis, dan sejenisnya.  Menurut Tony Buzan (Use Your Head: 1993):  hasil aktivitas otak kiri manusia.
 
Adapun otak kanan lebih berkaitan menangani irama, imajinasi, warna, angan-angan, kesadaran ruang, gambaran menyeluruh dan dimensi. Belakangan berkumandang anjuran, jangan hanya memanfaatkan otak kiri, otak kanan juga dong.
 
Konon, para ilmuwan hebat memanfaatkan otak kiri. Para seniman kuat di otak kanan. Mana tahu, Sampeyan hebat memanfaatkan otak kiri, canggih membedayakan otak kiri. Piawai menghitung fulus fasih berimajinasi. Mana tahu lho.

Kita tidak usahlah terlalu jauh mencari contoh ke Einstein atau Picasso. Perhatikan saja sekeliling. Di sekitar kita banyak orang hebat. Hanya saja harap diingat, konon Eistein yang gagal di banyak pelajaran, seperti bahasa dan seni, yang dikatakan Si Jenius itu baru memakai sekitar 3% kapasitas otaknya. Sampeyan? Kira-kira sendiri.

Bisa jadi, banyak orang hebat memberdayakan otak kiri piawai menafatkan otak kanan. Yang pasti, satu sisi otak saja dimanfaatkan dengan baik, hasilnya spektakular.

Kebetulan, kemarin saya diundang makan oleh mantan Dirut BPD di provinsi kami. Dia berkehendak mencalonkan diri sebagai anggota DPD; kami bicara banyak hal. Dan, yang menarik saya, kebetulan adiknya ikut pembicaraan. Lebih menarik lagi, si adik berkeluh kesah: anaknya tidak lulus UN.

Alasannya, anaknya jago menggebuk drum. Hobinya, main musik. Ketidakhadirannya belajar mencapai 70%. Saya teringat hal belahan otak.

“Pak, coba bawa ke psikolog. Kalau otak kanannya lebih hebat, kecenderungannya ke seni, jangan memaksa ke bidang akademis”. Ah, sistem pendidikan Indonesia nampaknya bertitiktekan pada akademis, kurang memperhatikan potensi pembelajar. Celakanya pula, kalau lemah di bidang akademis divonis ‘tidak berguna’ alias bodoh.

Renungkan. Kita punya ribuan doktor ahli secara akademik, tetapi banyak sisi potensi terlupakan. Bayangkan, dengan demikian banyak ahli, kita menjadi pengimpor beras terbesar di dunia, pengimpor kedelai terhebat di jagat raya ini, pasar otomotif tak terbatas, dan bla-bla. Kita kurang imajniasi, kurang mampu ‘bermimpi’ dan mewujudkannya.
 
Perhatikan, begitu banyak sarjana ‘ilmu keras’ yang tidak mampu mengembangkan, apalagi memantik kehidupan dan kemajuan dengan ilmunya. Susah-susah belajar ‘ilmu murni’, eh … malah mengambil Akta IV, akta mengajar. Ada-ada saja. Pendidikan yang begitu mahal terbuang.
 
Doktor energi, bekerja di bank, menjadi menteri yang megurus tenaga kerja, misalnya. Hitungan dasarnya, ‘untung rugi’, matematis. Wajar to kita kelabakan soal pangan, energi, dan seterusnya. Jadi tentara kog mengurus pendidikan, ahli ekonomi kog ngak ngurusi keuangan negara yang mencemaskan, malah jadi menteri (…). Ada-ada saja.
 
Kembali ke otak kanan dan otak kiri, memang idealnya keseimbangan. Tetapi, fakta menunjukkan, mungkin karena keterbatasan mansuia, mereka yang hebat —sangat menonjol— di otak kanan belum tentu hebat di otak kiri. Begitu sebaliknya. Sekalipun begitu, tentu tidak jadi soal. Asal, jangan mematikan fungsi belahan. Kalau mati satunya, bisa stroke he he.
 
Pesannya, otak kiri atau otak kanan yang lebih dominan berkembang, mungkin tergantung pada hal lain, gen misalnya. Tapi sudahlah. Tulisan ini tidak membahas secara filsafati atau teknis. Apungannya, jangan sampai terjebak, kalau otak kiri kurang berkembang, langsung divonis bodoh.
 
Sayangliah kedua belahan otak karena belahan tersebut saling berkaitan dan menunjang. Perkembangan yang satu bukan berarti membunuh yang satunya. Mari dikembangkan dan dimanfaatkan maksimal.
 
Bagaimana Menurut Sampeyan?
 
Banjarbaru, 11 Juli 2008.

  1. 13 Responses to “Otak Kiri Otak Kanan”

  2. By Alex Abdillah on Jul 11, 2008 | Reply

    Pertamax, juga sudah didapat di negeri kaya minyak seperti Riaw ini pak Ersis……hehehe

  3. By Alex Abdillah on Jul 11, 2008 | Reply

    koreksi : susah didapat bukan sudah didapat

  4. By ulan on Jul 11, 2008 | Reply

    kalo aku udah pake otak ku 100%, *tapi tetep mbambet*
    gimana donk

  5. By Dasmi N W on Jul 11, 2008 | Reply

    Benar pa Er,otak kanan sangat perlu dikembangkan,terutama pada siswa yang nilai USBN(SD) nya rendah dan bersekolah dipinggiran kota,agar mereka dapat maju dan dapat mengukir prestasinya,walau bukan pada prestasi akademik

  6. By Denny on Jul 12, 2008 | Reply

    intinya sih keseimbangan kalau saya boleh bilang, otak kira dan otak kanan itu sama pentingnya, tinggal bagaimana kita menyeimbangkan kedua otak tersebut, selama ini sistem pendidikan kita lebih mengutamakan pengembangan otak kanan sih…

    cuman yang lebih penting dari semua itu saya rasa adalah intelejensi Emosional dan intelejensi Spiritual :D

    dulu sekolah, kini E-Learning

  7. By emfajar on Jul 12, 2008 | Reply

    berarti selama ini qt kurang mendayagunakan potensi dari otak… :mrgreen:

  8. By suhadinet on Jul 12, 2008 | Reply

    Ya, kita tidak adil dengan anak-anak.
    Anak yang, katakanlah lemah dalam matematika, bahasa, ipa, dikatakan tidak cerdas. Kasian to mereka. Padahal mereka juga seringkali punya kelebihan lain yang tidak diakomodasi dengan baik, misalnya pandai menari, melukis, menyanyi, olahraga, dll. Itu juga bentuk kecerdasan yang lain. Cuma, di sekolah, itu tak dihargai dengan baik.

    Di negara kita, anak dibentuk sesuai keinginan sekolah-lebih, menonjolkan otak kiri. Anak susah tumbuh dan berkembang sesuai potensi yang dimilikinya, walaupun ini seringkali juga karena terkendala fasilitas pendidikan yang sangat jauh dari standar minimal (wong sekolah SSN itu baru memenuhi standar minimal pendidikan, jumlahnya saja sekarang baru berapa ya? dikit banget. di HSU cuma ada 2 sekolah yang memenuhi standar pelayanan minimal ini, sisanya, jauuhhh).

  9. By budimeeong on Jul 13, 2008 | Reply

    bener juga tuh pa EWA, pas waktu ulun prajab oktober 2007 kemaren sempat main tes belahan otak juga, tak dinyana, otak kanan ulun katanya lebih dominan, maklum jarang mehayal..heheheh
    tetapi 2 belahan otak kiri dan kanan tentunya tidak seimbang kalau tidak didukung spiritual yang tidak memadai, baca aja disini…hehehe

    http://webersis.com/category/nyaman-memahami-esq/

    ***Olah pikiran ranah imajinasi perlu juga bo

  10. By kambingkelir on Jul 14, 2008 | Reply

    membaca tulisan ini saya kembali membacai proses kehidupan saya dulu yang saya tahu 1+1=2 dan sebangsanya sampai suatu masa sekolah dulu diancam guru bahasa dan pmp kalo dikasih 5 gak lulus walau nilai mipa dan kejuruan diatas 8 dasar saya badung maka saya bilang kalo saya mata pelajaran itu nilai jelek yang bodoh gurunya berarti tak berasil ngajarin saya ,(tapi tetep lulus dg nilai 6 )hal tersebut menjadi memori dan kenangan yang terbukti saya harus tertunduk bahwa dalam hidup yang sebenarnya dan dalam saya menjalani profesi saya ternyata tidak cukup menggunakan intelgensi ataupun logika matematika namun peranan emosional dan management spiritual pegang peranan yang dominan kadang bahkan sering logika matematika saya dimentahkan oleh faktor ketidakpastian sedangkan ketajaman emosi dan spiritual akhirnya memegang peranan yang sangat penting keiklasan dan rombakan mentalitas juga mempengaruhi proesionalisme dalam berkarya ….tapi saya begitupun setelah membaca dan mencoba memahami ESQ dari karya Bang Ersis maupun Bang Ary Ginanjar dan tentu lantaran tulisan tulisan Bang Ersis mudah mudahan saya bisa lebih mengendap dan belajar
    Tentu Terima kasih Tak terkira.

    ***OK banget. Otak bagian kecil, sekalipun ‘mengendali’ banyak hal, dari tubuh raksasa potensi berian Allah SWT. Kalau potensi itu dimanfaatkan, manusia itu sungguh dahsyat; dari Allah, menuj kehebatan Allah. Maha Kuasa Allah.

  11. By syaharuddin on Jul 14, 2008 | Reply

    pendidikan seharusnya mengakomodasi kedua fungsi otak. Artinya sebenarnya tidak ada anak yang bodoh yang ada adalah anak yang memiliki potensi berbeda. Tapi kalau ada anak tidak memiliki keduanya, namanya jadinya apa ya?…he..he…he

    ***Udang. Isinya tahi, makanya punya mata tapi ngak melihat, dan ada pula orang yang suka makan kepala udang yang isinya tahi atau hasil olahannya seperti acan alias terasi. Waduh … Otak udang adalah tahi, ih ngeri

  12. By salwangga on Jul 14, 2008 | Reply

    prinsip orang indonesia aseli : “masih mending, mau pake otak. kadang cuma buat pelengkap doang”.

    udah tahu diri sendiri ndak suka, dilempar keorang lain.

    udah tahu banyak yang butuh, di timbun buat diri sendiri.

    nah tuh, saya juga sering terjebak seperti itu. gimana dong? apakah karena saya harus menjaga ke-autentik-an sebagai rakyat indonesia? bingung saya.

  13. By Bibidapi on Jul 17, 2008 | Reply

    kalau pusing kepikiran masalah yang berat berarti kita lagi membebani otak yang mana yaaaaaa…

  14. By haerul on Dec 4, 2008 | Reply

    otak kanan mesti didahulukan, bukankah nabi menyuruh kita mendahulukan yang kanan.

Post a Comment