Parasit Pendidikan
10 July 2008 | Ditulis oleh: EWA |Oleh Ersis Warmansyah Abbas
RENUNGKAN. Kalau ditanya siapa guru SD yang pertama kali mengajarkan huruf, kata, atau kalimat, bisa jadi sudah lupa. Nama guru SMP atau SMA, masih bersarang di memori? Bahkan, ada yang sudah lupa siapa dosennya? Banyak orang lupa kepada yang memberi, tetapi selalu ingat apa yang diberikan. Kurang eloknya pula, yang diingat guru ‘killer’, tetapi lupa guru yang berjasa.
Masih ingat sekolah tempat belajar ‘tempo doloe’? Mungkin Sampeyan kini bekerja di ruang ber-AC, punya penghasilan jutaan, atau sering seminar atau aneka kegiatan di hotel mewah. Dunia moderen, dunia kemewahan. Tetapi, pernahkan melihat alias berkunjung ke sekolah dimana dengan sarana dan prasarana, fasilitas seadanya, masih seperti sedia kala? Bisa jadi, lebih parah. Hampir roboh.
Ya, bisa jadi, ‘kita’ sudah punya rumah lumayan atau hidup di luar negeri, atau ‘menguasai’ negeri ini, namun lupa dari mana kehidupan dilambungkan. Lupa sekolah dan para pendidik. Kalau tidak, mustahil pendidikan di negeri ini berairmata darah. Sakit sesakitnya sakit paling sakit.
Saya punya illustrasi. Anak Pak Oemar Bakry, sebut saja Oemar Jr. kini telah jadi dosen. Bisa pula pengusaha atau anggota dewan yang sibuk dengan soal-soal keduitan. Bisa pula menteri atau presiden sekalian. Pintar karena guru, karena sekolah, karena bersekolah.
Suatu hari Oemar Jr. berandai-andai. Kalaulah untuk SD dihabiskan ‘subsidi’ Rp.25 juta, SMP Rp.25 juta, SMA Rp.50 juta, S1 Rp.100 juta, S2 Rp.200 juta dan S3 Rp.300 juta. Proses pendidikan menghabiskan uang Rp.700 juta dalam bentuk sarana dan prasarana, gaji guru, operasional dan segala macam.
Apakah tidak hina, ketika sudah ‘menjadi orang’ masih meminta-minta kepada pemerintah aneka fasilitas. Jangankan memberi, ‘membayar ulang’ apa yang diambil semasa pendidikan tidak mampu. Lagi pula, bukankah pemerintah begitu memprihatinkan? Kalah melulu. Hutang bertimbun-timbun.
Coba tanyai diri. Pernahkan datang ke sekolah tempat belajar dulu. Tempat menimba ilmu? Datang saja sangat membanggakan guru dan sekolah. Apalagi kalau menyumbang serupiah atau dua rupiah. Pernahkah?
Begitu banyak yang diambil tanpa pernah pernah diberikan. Setelah sukses, setelah ‘jadi orang’. Manusia macam apa itu? Bahkan, berjamaah berdendang tentang aneka keburukan sekolah dan guru, tempat dan manusia yang memintarkannya. Monyet saja tidak akan berprilaku demikian.
Galibnya, karena tamatan sekolah, para educated yang pintar-pintar, punya argumen kuat dan didengung-dengungkan; menyediakan fasilitas pendidikan adalah tugas negara (pemerintah). Ya, iyalah. Masalahnya negara kita bukan negara gemah ripah loh jinawi. Negara pengutang bo.
Perhatikan perusahaan atau instansi ketika merekrut pegawai. IP minimal 3, rekrumen orang cerdas. Hanya mengambil hasil pendidikan yang dibiayai negara. Sudah begitu, mempekerjakan mereka untuk ‘merampok negara’. Mengambil gratis, memilih pula, diberdayakan, … tidak mau berbagi. Luar binasa.
Kalaulah perusahaan atau instansi mau berbagi dengan lembaga pendidikan darimana pegawainya berasal, dijamin sekolah-sekolah akan menjadi sekolah benaran, bukan sekadar tempat belajar. Semua pihak, mengambil dari pendidikan, tetapi kalau soal berbagi, bemiliar-miliar alan siap sedia mendukung. Paling celaka, para anak harimau tersebut, membom kebobrokan sekolah, kualitas pendidikan, mutu guru, tanpa berkontribusi. Aneh. Maunya gratsi melulu. Menghajar kan gratis. Gila.
Merenunglah. Kalau sampai hari ini tidak pernah mengunjungi sekolah, mendatangi guru atau dosen, apalagi berkontribusi pada pendidikan, bukan tidak mungkin terkategori menjadi parasit pendidikan. Kalau perilaku demikian, lalau meminta dan terus meminta kepada pendidikan sembari mencaci-maki disana-sini tanpa mau berbagi, berkontribusi barang serupiah, itu mBahnya parasit; parasit pendidikan sempurna.
Saya hanya berdoa … semoga kita semua terhindar dari hal-hal sedemikan (syair lagu, lho). Dan, menjadi pembelajaran berharga.
Ya Allah, ya Rabb, bukanlah pintu hati agar tidak mengeluh dan selalu mengeluh kepada pendidikan nasional yang sekarat. Gerakkan nurani kami, untuk memberi. Berkontribusi secara nyata. Pendidikan tidak hanya memerlukan nasehat, usulan, atau harapan, tetapi butuh hal nyata, kontribusi kita semua. Maukah? Ngak jamin deh. Kalau memberi, berbagi, kami punya segudang alasan.
Bagaimana menurut Sampeyan?
Banjarbaru, 10 Juli 2008.













19 Responses to “Parasit Pendidikan”
By made eka on Jul 10, 2008 | Reply
saya masih ingat kok nama guru waktu mengajar di SD. Bekas sekolah saya itu sekarang malah jadi sekolah paporit lagi. Semua dah pada bagus kayak hotel. Percuma klo saya bantu juga.
Klo yang paling terpelosok sih emang kasihan..
Sering pulang pagi karena ga ada guru yang ngajar. Gurunya diem di kota sih..
Jadi bingung..
***Tapi, pernah nyumbang ngak? Pernah berterim kasih setelah sekian tahun tamat? Ya, sudah. Banyak cara berkontribusi, semoag kita, saya dan Sampeyan, melakukan. Untuk kontribusi tidak perlu diskusi, atau abnalisis. Mudah, lakukan. Jadilah.
By R on Jul 10, 2008 | Reply
berandai-andai. Kalaulah untuk SD dihabiskan ‘subsidi’ Rp.25 juta, SMP Rp.25 juta, SMA Rp.50 juta, S1 Rp.100 juta, S2 Rp.200 juta dan S3 Rp.300 juta. Proses pendidikan menghabiskan uang Rp.700 juta dalam bentuk sarana dan prasarana, gaji guru, operasional dan segala macam. <<<<<<< balik modal nya kapan akang????
***Pemerintah ngak akan kembali modal. Yang ‘disubsidi’ saja tidak sadar? Banyak orang lupa, proses pembelajarannya dibayarkan pemerintah.
By Siti Fatimah Ahmad on Jul 10, 2008 | Reply
Kunjungan kali ini sangat TERKESAN dengan artikel di atas. Alhamdulillah, saya tidak pernah lupa di mana ilmu dijejak dan sentiasa mengingati dan mendoakan guru yang mengajar saya sehingga menjadi manusia. Malah setiap tibanya “HARI GURU” tanggal 16 Mei di Malaysia, saya akan menghantar kad ucapan, kek dan buah-buahan buat sekolah yang pernah berjasa kepada saya.
Ucapan terima kasih buat tuan Ersis yang saya anggap sebagai guru maya saya dalam dunia penulisan ini. Walau tidak pernah bersua, hanya menatapi wajah ceria dengan senyuman yang mengundang keharmonian tiap kali membuka blog ini.
Hati saya sentiasa mendoakan kebaikan buat tuan kerana telah banyak mengisi minda dan jiwa saya dengan membuka jalan ke arah berfikir secara kreatif dan kritis.
Kesal kepada apa yang dilakukan oleh sebahagian manusia yang tidak mengenal jasa gurunya. Malah kalau guru marah, disangkanya guru benci. Kalau guru menasihat, dikatanya guru membebel . Kalau guru menegur dikatanya guru menyibuk. Semua yang guru buat , serba tidak kena dalam pandang sudut jiwanya.
Tidak pernah difikirkannya. Kemarahan guru itu kerana guru sayang padanya. Nasihat guru itu kerana ingin membimbingnya dan teguran guru itu kerana memang dia seorang penyibuk terhadap tingkah onar yang memusnahkan hidup masa depannya.
KESIAN GURU. Sentiasa tidak dipandang dalam “wadah” kehormatan yang tinggi. Sedangkan guru, ilmuan mengikut penjelasan Rasulullah saw adalah PEWARIS PARA ANBIYA’. Akibatnya, ramai murid yang ‘ketulahan’ bila besar. Mereka tidak mampu membawa diri dengan cemerlang kerana kecemerlangan sebagai manusia telah hilang sejak zaman sekolah lagi.
Pastinya apa yang saya coretkan ini merujuk kepada GURU SEBENAR GURU (guru mengaji Quran, guru tuisyen, guru prasekolah, guru SD, SMP, SMA atau dosen) : KE SEKOLAH TIDAK JEMU, MENGAJAR TIDAK LESU.
Guru penerang jalan yang gelap, penunjuk arah tepat ke destinasi yang jelas. Pembimbing akhlak dan peribadi yang unggul. Pewarna dunia kabur kepada ceria cahaya. Oleh itu, bergaullah dengan guru secara hormat dan patuh.
Sebutlah nama guru di hadapan orang lain dengan panggilan yang hormat. Jangan sebut nama mereka seolah-olah mereka kawan kita. Guru yang mengajar kita erti kehidupan yang payah. Guru juga yang mengajar kita erti kejayaan yang meriah. LETAKLAH NILAI DIRI GURU KITA, PADA TEMPAT YANG TERHORMAT.
Harap sudi mampir ke blog saya. Rindu untuk membaca tulisan tuan di blog saya. Malah saya juga menulis tentang tuan yang menjadi sumber inspirasi saya melalui artikel “Menulis Menajamkan Minda” dan ” Hebat Menulis”.
Salam penuh hormat dari saya di UKM, Selangor, Malaysia. Sudah kembali ke kampus untuk pengajian semester ke 2.
By taliguci on Jul 11, 2008 | Reply
Kalau gitu, mustinya gaji guru SD lebih besar dari guru SMP, gaji guru SMP lebih besar dari guru SMA..
Yang paling kecil gaji dosen S3
*halah..*
By SHALEH on Jul 11, 2008 | Reply
Masih ingat namun sekarang jarang pulang ke kampung halaman.
By sawali tuhusetya on Jul 11, 2008 | Reply
*eh, mau kabur, dicegat postingan pak ersis terbaru, balik lagi*
sudah terlalu banyak sanjungan untuk guru, pak ersis. maaf, ini bukan keluhan, tapi riil. bahwa sebenarnya guru itu ndak butuh sanjungan dan pujian kok. mereka cenderung berpikir yang praktis. saya justru merasa iri dengan semangat teman2 sejawat yang melakukan tugas di pelosok2 dusun yang jauh dari pusat keramaian. tapi mereka tetap enjoy melaksanakan tugas. hanya satu yang mereka mohon pengertian pada yang punya wewenang, agar ndak mudah ingkar janji. tadi ada temen guru yang komentar di rumah saya, sejak tahun 2006 dapat sertifikat, 2 bulan dapat menikmati tunjangan profesinya, setelah itu, sepeser pun ndak nyanthol ke rekeningnya lagi. walah, lha peunika kados pundi, pak ersis. sekali lagi bukan keluhan, pak ersis, cuma menggerutu. *sekarang bener2 kabuuuur!*
By Harjo on Jul 11, 2008 | Reply
Saya masih inget koq Pak, bahkan guru yang paling berkesan hingga sekarang. Sebaliknya, beliau juga koq masih kenal saya. Padahal banyak guru-guru lain setelah SD, justru malah sudah enggak kenal saya. Jadi inspirasi, nanti saya akan nulis mengenai guru ini di blog saya he he he…
Mengenai parasit? bener juga ya …
Koq mikirnya jauh bener … tetapi bener juga ya …
By Anang Banjar on Jul 11, 2008 | Reply
Pendidikan itu memang suatu kewajiban dan keharusan untuk diselenggarakan oleh pemerintah… Kan udah termaktub pada pembukaan UUD ‘45, bila pemerintah gak menjalankan amanat pendidikan, sama saja seperti termakan omongan sendiri!!!
Analogi lebih konkretnya dapat kita rasakan sekarang ini, namun gilanya lagi banyak orang seperti pejabat, ahli maupun praktisi pendidikan atau apalah namanya yang ngaku-ngaku udah makan asam garam di dunia pendidikan memanfaatkan dan menjual dari makna pendidikan itu sendiri! Mungkin apakah anda golongan orang-orang seperti itu, saya tidak tau… Mudah-mudahan saja bukan…
Pendidikan sepertinya menjadi lahan basah bagi orang-orang yang mengatasnamakan mempunyai jiwa sosial yang sangat-sangat tinggi terhadap dunia pendidikan Indonesia saat ini! Selalu memperlihatkan kontribusinya dihadapan orang banyak, agar dapat mencapai prestise maupun kepopuleran dirinya, agar masyarakat tau tuh ini “aku”…!!!
Gilanya lagi dana-dana untuk pendidikan selalu dijadikan lahan basah oleh oknum-oknum yang mengaku mahaguru pendidikan, siapa orangnya??? Masing-masing tentu punya jawabannya… Apakah tidak malu mereka mengambil dan memakan sesuatu yang bukan haknya??? Memberi makan anak dan istri hasil dari rezeki yang salah jalan… Apa kata anak kita apabila si anak bertanya “darimana asal rezeki yang didapatkan untuk menafkahi anak mu ini??? Miris sekali saya mendengarnya… Ini di dunia bung, semua perbuatan kita mungkin tidak dapat diketahui oleh orang, tapi nanti di akhirat tunggu saja pertanggungjawabannya.. Buat proyek untuk meningkatkan pendidikan, eh… ternyata banyak dana yang disunat dan disulap sedemikian hebat.. Beri tepuk tangan buat mereka..??? Hitung-hitung menyelam sambil minum air katanya..
Tidak menyangka banyak orang-orang hebat maupun tokoh panutan yang terjerumus jurang yang seperti itu… Sangat disayangkan sekali.. Berbuat untuk sesama tidak mesti harus diperlihatkan dengan gagah dan mewahnya, tidak usahlah orang tau… tetapi makna dibalik berbuat yang sebenarnya ada makna ibadah yang sifatnya ikhlas tanpa ada sedikitpun riya dalam segala perbuatan dan tindakan…. Semoga kita terhindar kedalam golongan orang-orang seperti itu… Amien…
By ika on Jul 11, 2008 | Reply
pendidikan gratis apakah suatu saat bisa kita rasakan yah? kalo para pengatur nya aja kayak gitu,,kayaknya hal itu hanya ada di impian kita semata..
By dp on Jul 11, 2008 | Reply
ada yg lebih dari sekedar parasit, lho?
By marshmallow on Jul 11, 2008 | Reply
wah, entry kali ini bener-bener bikin telinga panas deh.
mudah-mudahan para pembaca terketuk hatinya, termasuk saya.
syukurnya, sumbangan para kolega jebolan kampus selalu besar tiap ulang tahun fakultas, sampai-sampai nominal sumbangan ini bisa mengalahkan subsidi pemerintah (anecdotally).
tapi mirisnya, mungkin tak banyak yang masih ingat SD, SMP, maupun SMA-nya.
makasih untuk artikel yang menggugah ini, pak.
By suhadinet on Jul 11, 2008 | Reply
Bapak bikin saya ingat guru SMP Biologi saya yang sangat berkesan. Beliau laki-laki, tapi sampai nangis (mengeluarkan air mata) saat saya pertama kali tampil di depan beliau untuk menatar. Mantan murid menatar gurunya. Kata beliau, beliau bahagia sekali. Namanya Pak Bakhrani. Beliau adalah salah seorang yang paling berpengaruh dalam kehidupan saya, terkait pilihan profesi menjadi guru. Saya rasa ketulusan guru adalah salah satu modal penting ya, Pak.
Sampai sekarang saya, Alhamdulillah masih suka kontek beliau yang sekarang melanjutkan study ke S2 di Malang. Beliau sekarang sudah menjadi pengawas di Depdiknas Balangan.
Orang-orang berdedikasi mungkin takkan pernah berevolusi menjadi parasit pendidikan, macam Guru saya di atas. Saya senang, jika sekembali beliau dari studi nanti mendapat jabatan yang layak di Balangan. Saya tahu persis integrity beliau.
By nengthree on Jul 11, 2008 | Reply
hehe…
hidup guru SD…
hidup saya..
wew ah ga nyambung..
maaf ya nyampah
By edratna on Jul 11, 2008 | Reply
Dulu, saat masih bujangan, setiap pulang kampung saya masih datang ke rumah mantan guru SD, SMP dan SMA yang memang dekat dihati, dan saat menjadi siswa banyak berdiskusi dengan saya. Hal ini terbentuk karena ayah ibu guru, dan saat muridnya sudah jadi orang dan pulang kampung, tak lupa meluangkan waktu datang kerumah, mengobrol dan bapak banyak cerita kenakalan bekas muridnya yang telah jadi bos itu. Setelah ayah ibu tiada saya jarang pulang, jadi sudah jarang ketemu bapak ibu guru, walau beritanya masih mengikuti. O. iya kami punya milis angkatan, dan sering menyumbang untuk sekolah, melalui milis tsb.
By totok on Jul 11, 2008 | Reply
Saya masih inget kata-kata seorang guru saya waktu di SD. Beliau adalah guru matematika, Sarwan namanya (panggilannya pak ewong). Setiap kali beliau memberikan latihan soal, beliau selalu bilang “amati dan hayati soalnya, agar kamu bisa menjawabnya”. Hingga saat ini, ketika saya mengerjakan contoh soal untuk materi perkuliahan, saya selalu melaksanakan pesan beliau. Alhamdulillah, pesan beliau sangat manjur. TERIMA KASIH GURUKU.
By IMoe on Jul 11, 2008 | Reply
Saya masih ingat guru pertama yang menyambut saya di kelas PAK. Namanya IBU ITA….. dan saya begitu terkesima dengan beliau. terakhir ketemupun dia masih ingat saya (pernah saya tulis di blog judul kalau gak salah KAPAN KAWIN)…memang guru pertama itu selalu OK…..
KANGEN NIY SAMA IBU ITAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA
By totok on Jul 13, 2008 | Reply
oh…ya…, hingga saat ini, kepada semua guru saya, saya tidak berani bilang mantan guru. Selain karena semua ilmu yang telah diberikan olehnya takut hilang dalam ingatanku, saya juga merasa beliau adalah orang yang sangat berjasa. Jadi, kepada teman-teman, saya harap jangan bilang mantan guru. Sebaiknya, itu guru saya waktu di…(SD, SMP, SMA, atau PT). Kalo guru bilang, “itu mantan murid saya” itu ungkapan wajar. HIDUP GURU.
By nurhamidah on Mar 26, 2009 | Reply
profesi kependidikan/keguruan adalah suatu profesi sebagai pendidik.
pendidik suatu bentuk investasijangka panjang yang penting bagi sorang manusia
By marisa DM on Mar 26, 2009 | Reply
profesi kependidikan atau guru adalah profesi yang mempersiapkan sumber daya manusia untuk meyongsong pembangunan bangsa dalam mengisi kemerdekaan,,gook luck……..