Potong Generasi

8 July 2008 | Ditulis oleh: EWA |

Oleh Ersis Warmansyah Abbas

KLONING: Dalam suatu diskusi rada-rada nyeleneh, seorang kawan berkesimpulan —sekalipun ngawur pantas disimak— korupsi di Indonesia tidak mungkin diberantas. Argumennya —lebih yeleneh lagi— bagaimana bisa kalau pemberantasnya punya gen sama. Sesama sopir angkot dilarang saling mendahalui.
 
Kira-kira maksudnya, kalau pemberantas adalah pula koruptor, tidak mungkin membongkar apa yang dia juga lakukan. Bisa-bisa, rahasia sama-sama terbongkar. Bahaya bo. Tetapi, ada bukti lain. Gebrakan KPK semakin ‘jernih’. Menandakan masih ada sisa-sisa Laskar Pajang.
 
Kawan yang lain punya resep lain pula. Katanya, untuk memberantas korupsi harus potong generasi. Misalnya selama Pertamina, PLN, atau jabatan apa saja, dari mereka yang sudah ‘dididik’ di lingkungan tersebut tidak akan terjadi perubahan signifikans. Dasar pikir, sistem, bahkan ‘gaya’ operasional tidak akan berubah. Sebab, sudah ‘berpengalaman’ pada instasni yang sama. Tidak mungkin melakukan perubahan. Apalagi, lompatan kemajuan. Sebab, sudah menjadi kebudayaan.
 
Karena itu, semua harus dipensiun. Potong generasi. Pegawai yang berumur di atas 40 tahun dipensiunkan. Lalu, pegawai lama, yang masih dapat dikategorikan muda, ditatar ulang, dan dimasukan pegawai baru gres.
 
Si Kawan tidak lupa memberi contoh. Soeharto menjadi presiden bermur 44 tahun, dan melakukan gerakan cepat. Sayangnya, dimapankan dengan alasan, ‘rakyat menghendaki”. Soekarno berumur 40-an tahun. Hatta, syahril, dan para pemimpin waktu itu bukanlah dari kalangan berjanggut.
 
Hamid Kadzai umur 40-an seperti juga Tony Blair, dan banyak lagi. Qadafi bahkan memulai sebelum umur 30 tahun. Atau ambil yang paling fenomenal, Muhammad SAW, umur 40 menjadi Rasul.
 
Wah, kalau begitu, karena saya sudah berumur 50 tahun, terpotong dong. Yah, sudah. Masalahnya, ada ngak orang muda muda Indonesia yang berani mengambil risiko menjadi pemimpin? Kebanyakan enjoy sebagai Tim Sukses atau Juru Bicara.
 
Potong generasi, dalam artian positif, tentu  bagus. Sekalipun begitu, perlu studi khusus tentang efektifitas kepemimpian orang tua dan orang muda. Tapi, kalau soal keberanian, saya pegang yang muda. Anak muda ‘berani’ meruntuhkan pagar DPR he he.
 
Terkepas dari guyonan Si Kawan, setidaknya ada makna, generasi muda lebih bersiap diri. Generasi muda hidup dalam explorasi ilmu pengetahuan dan tehnologi, dan jaman yang dihadapi jauh lebih rumit saat generasi tua memapankan kehidupan. Sayangnya, yang ada hanyalah ‘kenakalan remaja’. Padahal, kalau diteliti, kenakalan orang tua lebih kompleks dan rumit.
 
Setidaknya, kita tidak salah merindukan Bil Gates atau Sergey Brin dan Larry Page yang mampu menciptakan inovasi tehnologi aplikasi. Bukan, pemimpin yang maunya menjual aset bangsa dengan gaya lucu, menjual aset (BUMN) bukanlah dosa. Ya iyalah. Tetapi, kenapa tidak berpikir, membeli aset bangsa lain lebih mulia.
 
Tinggalkan cara berpikir saudagar, membeli untuk dijual dengan keuntungan (diri) sebedar-besarnya kalah jauh dibanding memproduksi sesuatu untuk dijual. Kalau lebih cerdas, memproduksi dan sekaligus menjadi saudagar.
 
Lebih elok mengibarkan say good bye Durian Bangkok. Sebab, kita bisa memproduksi. Kita akan keluar dari jeratan Jepang sebagai ‘pemangsa’ sepeda motor, sebagai ahli rakit, sebab bisa mencipta.
 
Mau potong generasi atau memberdayakan potensi generasi muda? Mau memberantas korupsi atau ‘membunuh’ semua pelaku korupsi? Atau hidup berdampingan agar semua pihak aman?  
 
Tidak usah terlalu serius, tulisan ini sekadar tulisan nyeleneh. Yang pasti, generasi muda adalah harapan, dan semoga kita tidak pernah kehilangan generasi muda.
 
Bagaimana menurut Sampeyan?
 
Banjarbaru, 8 Juli 2008.

  1. 9 Responses to “Potong Generasi”

  2. By marshmallow on Jul 8, 2008 | Reply

    potong generasi di zaman sekarang sulit jadi jaminan, pak.
    gak seperti dulu deh kayaknya.
    bukan menyangsikan,
    tapi generasi sekarang rasanya lebih lambat matang ketimbang generasi dulu
    saya sendiri merasa tidak sedewasa semestinya.
    baik pola pikir, apalagi perilaku.
    *dikeroyok generasi muda*

  3. By laporan on Jul 8, 2008 | Reply

    Betul itu, generasi mungkin selama yg menjabat sekarang masih peninggalan pendidikan regim orba, maka mental kinerja yg tertanam masih seperti, ningrat. Pejabat tidak melayani masyarakat tetapi justru ingin dilayani. Korupsi seperti rumput, dipotong tumbuh, dipotong lagi tumbuh lagi. Satu2 jalan pakai obat kimia sehingga diberantas ke akar-akarnya.

  4. By Hery Azwan on Jul 9, 2008 | Reply

    Kalau menurut saya, rekrutmen penegak hukum harus lebih ketat. Kalau bisa, penegak hukum itu harus orang yang sebatang kara, tidak punya saudara, tidak punya anak, tidak punya keluarga. Dengan demikian, dia tidak termotivasi untuk korupsi. Toh, kalau korupsi nggak ada yang bisa menikmatinya….Hi hi…Mimpi kali ye…

  5. By suhadinet on Jul 9, 2008 | Reply

    Saya tangkap poin ini Pak:
    “generasi muda lebih bersiap diri. Generasi muda hidup dalam explorasi ilmu pengetahuan dan tehnologi, dan jaman yang dihadapi jauh lebih rumit saat generasi tua memapankan kehidupan.”

    Pokoknya setuju dengan itu!
    Orang muda harus lebih baik dari generasi sblumnya.

    **deal?

  6. By uwiuw on Jul 10, 2008 | Reply

    sy suka tuh dengan ucapan bapak mengenai bagaimana watak generasi muda. generasi kami memang mengekplorasi teknologi namun entah sampai kapan dosa dosa masalah lalu tidak berulang. Semoga kami tidak dihujat nantinya (oleh generasi yg lebih muda) saat kami yg memang kendali :)

    ***Soal mudah: jangan pernah berbuat ‘dosa’ (seperti generasi terdahulu)

  7. By sawali tuhusetya on Jul 11, 2008 | Reply

    wew… bener banget tuh, pak, nyeleneh tapi masuk akal, mana mungkin sapu yang kotor bisa membersihkan lantai, malah bikin tambah kotor. yang bagus sapunya dibuang, ganti baru, kalau perlu yang berbulu tajam, utk ngogrok-ogrok sampah sampai ke lorong2, hehehe :lol:

  8. By syaharuddin on Jul 14, 2008 | Reply

    potong generasi harus melalui kajian mendalam agar tidak salah arah. Yang paling logis menurut saya adalah menjalankan aturan dan hukuman sesuai dengan UU. Kalau perlu buat UU hukum gantung sebagaimana di Cina. Efek jerah akan membekas kepada pelaku dan masyarakat lainnya yang menyaksikan. Tapi entah kenapa hal ini gak pernah dicoba. saya khawatir karena “kita” pelaku korupsi itu sendiri, jadi cari aman deh….

    ***Setidaknya tersangkut ya; ironis memang, negara dimana mayoritas Muslim korupsi justru tumbuh subur.

  1. 2 Trackback(s)

  2. Jul 16, 2008: Mengalir Darah Perampok « Gunung kelir’s Weblog
  3. Dec 29, 2008: Mewarisi Darah Perampok

Post a Comment