Deklarasi Perang
7 July 2008 | Ditulis oleh: EWA |Oleh Ersis Warmansyah Abbas
MAUK: Ya, betapa tidak. Untuk mendapatkan BBM diperlukan antri 4 jam. Itu pun kalau BBM di SPBU ada. Sesampai di rumah, sehabis magrib, listrik PLN sebagaimana ritual hariannya, tidak menyentrum alias modar. Padahal, saya baru berkeliling ke kompleks PT PLN Kalselteng yang fasilitasnya bagus.
Tiba-tiba, ingat pelajaran sejarah Jepang. Ketika bangsa Barat menembus isolasi Jepang, mereka mengaku kalah segala hal dari Barat. Meji Restoration, jawabannya. Mereka belajar tentang banyak hal, ya di Jepang dan mengirim pelajar ke mancanegara. Ujung-ujungnya Jepang maju pesat.
Celakanya, Jepang ambisius. Dimulai dengan mengalahkan Rusia di Port Arthur, awal Abad XX birahi ekspansionismenya menjadi-jadi. Kalau awalnya berjaya di Perang Dunia II, akhirnya dihadiahi Amerika Serikat, bom atom di Hisroshima dan Nagasaki. Jepang hands up.
Kaisar Hirohito bertanya: Masih adakah guru yang tersisa akibat bom laknat tersebut? Guru adalah tumpuan mendidik bangsa ketika menyerah kepada AS. AS bukan saja sebagai umbrella, tetapi juga membantu memenej Jepang ke arah moderen. Hasilnya Jepang bukan saja sukses sebagai raksasa ekonomi dunia, tetapi terlebih ‘pemilik’ ilmu dan tehnologi. Jepang yang mempesona.
Jepang bukanlah negara penghasil minyak bumi, tetapi mereka ikut mengendalikannya. Berbekal energi yang dibeli, mengembangkan industrinya. Jangan ditanya bagaimana mereka mengembangkan industri. Konon, sangat piawai mengembangkan energi.
Konon pula, boleh percaya atau tidak, semasa pendudukan AS, Jepang ‘belajar’ sungguh-sungguh menangguk apa yang baik dari AS. Tidak mengherankan produk indsutri Jepang menguasai dunia. Jepang yang cerdas belajar. Indonesia?
Sebagai negara merdeka, sebenarnya Indonesia mengambil jalan cantik. Ribuan putra-putri terbaiknya disekolahkan ke mancanegara. Kita banyak punya Doktor yang ahli dibidangnya. Hasilnya?
Semasa Orde Baru, perencanan pembangunan nasional dilokomotifi sejumlah pakar lulusan Amerika, diplesetkan dengan Mafia Berkeley. Hasilnya seperti yang kita rasakan sekarang. Negara pengutang.
Saya percaya, intelektual kita di bidang pertanian hebat-hebat. Begitu juga kehutanan, industri, dan bidang lainnya. Hanya saja, kenapa ya kita kog mengimpor durian, beras, ketan dari Bangkok (Thailand)? Banyak pakar kehutanan, hutan kita malah gundul. Lebih setengah abad merdeka, tidak mampu membuat mobil nasional, sepeda motor saja diimpor. Paha ayam atau kondom bekas pun ‘diterima’.
Seorang kawan menggoda dengan pikiran nyeleneh: “Seharusnya kita deklarasikan perang terhadap AS”. Pertama, agar kepongahan Pama Sam di bawah pimpinan Gorege Bush dapat dilawan. Kedua, kemungkinan besar kalah. Alhamdulillah. Seperti perlakukan AS kepada Jepang, kita akan dibantu memenej negeri Rayuan Pulau Kepala ini. AS kan bukan Belanda yang serakah itu.
Kalau dijajah, disamping jadi tegar, kuat tekad, dan bahkan mungkin tidak sempat berpikir untuk korupsi, kita dapat ‘menikmati’ bagaimana bahagianya menjadi negara merdeka. Dalam penjajahan itulah memenej diri, menata kehidupan bangsa, dan … membuang keserakahan diri atau kelompok.
Ah, jujur saya, sekalipun akal sehat tidak akan pernah menerima gagasan ‘gila’ tersebut, pikiran nyeleneh menggoda, mana tahu dengan begitu kita maju. Ada-ada saja.
Terserah Sampeyan, mau merdeka menderita, dijajah ada kemungkinan lebih baik, … atau merdeka, membangun bangsa, dan bahagia.
Bagaimana menurut Sampeyan?
Banjarbaru, 7 Juli 2008.













29 Responses to “Deklarasi Perang”
By sawali tuhusetya on Jul 7, 2008 | Reply
ide cemerlang juga, pak ersis, hehehehe
saya juga rindu negeri ini dijajah saja. siapa pun mereka. kalau bisa sih bangsa linggis. paman sam pun mnggak masalah, hiks. daripada pusing mikiran para pejabat yang korup, hehehe
***Ha ha sama nyelenehnya.
By Donny Verdian on Jul 7, 2008 | Reply
Saya setuju dengan ide melawan Amerika supaya kita ikut dibantu di-menej.
Tapi masalahnya siapa yang akan jadi Soekarno-Hatta baru nanti seusai lepas dari Amerika?
Eh, atau jangan-jangan kita ndak bisa lepas, Pak?
***Ha ha kog dilanjutin sampai kesitu; melawan eks Timtim (Timor Leste) aja susah, apalagi AS he he
By made eka on Jul 7, 2008 | Reply
Jepang termasuk penyumbang angka bunuh diri terbesar di dunia.. Emang mau kita maju tetapi krisis kepribadian??
Seharusnya contoh negara Skandinavia seperti Norwegia, Swedia dan Denmark. Negara2 di kawasan tersebut selalu sebagai negara terbahagia di dunia. Bahkan di Norway ada budaya bahwa mereka akan malu kalau kelihatan lebih foya-foya dalam hal (kemewahan) daripada tetangganya. Jadilah Norway negara paling aman dari korupsi..Padahal Norway juga salah satu penghasil minyak terbesar di dunia. Tapi pemasukan terbesarnya justru dari perikanan. Malahan negara ini menolak untuk masuk Uni Eropa karena kemakmurannya tersebut.. Beda dengan Jepang yang warganya sampai workoholik sehingga penduduk Jepang didominasi golongan Tua. Yah karena anak mudanya gila kerja sehingga ga ada waktu untuk bercinta-cintaan…
Masih mau menjagokan Jepang????
***Masih dong. Yang penting kita kan bangsa Indonesia (yang duh … gimana ya).
By antown on Jul 7, 2008 | Reply
antownholicontest#3 sudah dibuka. Gratis…tis…tis, semuanya bisa ngikut. Please visit my blog.
***Yoi.
By cinker on Jul 7, 2008 | Reply
weleh….tak kirai mau perang sama siapa……..!
***Perang sama diri sendiri.
By Epat on Jul 7, 2008 | Reply
bangsa ini selalu butuh common enemy ya pak?
By Ani on Jul 7, 2008 | Reply
Tampaknya saya masih harus terus bersyukur, di sini BBM masih aman2 saja, nggak perlu ngantre sampai 4 jam seperti itu. Semoga permasalahan BBM di negara kita segera bisa diatasi (tapi…apa mungkin ya?)
By june on Jul 7, 2008 | Reply
waduh ntar recehan dari US ga jalan lagi deh di indo
By Qizink on Jul 7, 2008 | Reply
saya inget dialog ini pada 2001 lalu dengan Saut Situmorang (penyair doyan tuak itu). Waktu itu dia bilang kalo problem di indonesia ini sudah akut, kronis, dan tinggal menunggu ajal. Dengan senewennya, dia mengusulkan agar minta aza ke negara adidaya agar sudi meluncurkan bomnya ke sini… biar mati semunya… biar habis semuanya… dan generasi baru yang kelak muncul itu diharapkan bisa membangun indonesia lagi… ya istilahnya cuci gudang lah!! hiks hiksss
By Rizal Hasannor on Jul 7, 2008 | Reply
wah klo Indonesia merdeka atau dijajah sama saja pak..sama-sama rakyat yang menderita..hehe
By wardani on Jul 7, 2008 | Reply
jangan sampai dech dijajah lagi..
maunya mengisi kemerdekaan aja,, takutnya setelah dijajah akan lebih parah dari yang dibayangkan,,
hii ngeri…
By Hery Azwan on Jul 7, 2008 | Reply
Kayaknya lucu juga tuh kalau kita dijajah lagi biar ketularan etos kerjanya. Enaknya dijajah siapa ya? Dijajah Perancis aja ya…Biar pemain Indonesia (PSSI) ada yang main di Les Bleus..
By utchanovsky on Jul 7, 2008 | Reply
Wah, bener2 mengguncang “iman” nih Pak.
Terus terang saya sudah gak menaruh harapan lagi pada pemerintah yg semakin ke sini gak pro-rakyat.
Mudah2an aja nemu pemimpin yg bener dan mau ngelawan.
***Jangan juga terlalu pesimis, generasi muda adalah harapan ke depan.
By marshmallow on Jul 7, 2008 | Reply
wah, pak ewa udah desperado banget ya?
memang kadang-kadang terlintas ide konyol saat kita sudah frustrasi ya, pak?
memang ada dua sisi gendang penjajahan versi pak ewa: makin maju atau makin terpuruk.
pilihan yang sulit.
mudah-mudahan ada jalan lain ke roma, tak hanya melalui penjajahan.
***Ngak juga, sekadar pelampiasan kesal aja. Nenek moyang kita kan berbudaya tinggi, lain dengan orang Australia yang awalnya adalah para kriminal di Inggris. Perjalanan sejarah kemudian membuktikan, Australia lebih maju.Saya adalah pencinta sejati Indonesia.
By fanani on Jul 7, 2008 | Reply
masalah sebenarnya bukan terletak pada “mau merdeka menderita, dijajah ada kemungkinan lebih baik, … atau merdeka, membangun bangsa, dan bahagia” tapi pada jati diri kita.
kalo mau jujur kita ini mengalami kebimbangan jati diri, meski katanya punya tanah yg subur tapi kok masih beli duren, meski punya hutan tapi kok masih beli furniture…bagaimana dunk…?
***Itu kata kuncinya. Kita kan lebih berjatidiri ‘pemangsa’ dan ‘produsen’ dan peraih nilai tambah.
By Wempi on Jul 7, 2008 | Reply
tanah kita emang subur.. terbukti dijajah 350 tahun tuk ngambil hasil buminya indonesia. sayang masyarakatnya cuma “pekerja keras” tapi tidak “pemikir keras”
***Lebih kalau kalau tidak punya pemikir (yang benar-benar berkehendak memajukan negeri) he he. Tapi, yakinlah banyak, cuma hasilnya saja yang mengecewakan.
By suhadinet on Jul 7, 2008 | Reply
Pak Ersis, buku-buku hadiah Bapak sudah saya terima. Terima Kasih Pak. Sangat berarti buat saya.
Harusnya para koruptor dihukum mati saja. Atau potong tangan.
Dijajah? Sekarang kita dijajah oleh budaya asing dan para pejabat korup.
***Ya, cuman kan ‘kita’ mgak paham, itu soalnya. Masalahnya adalah, siapa yang menghukum? Masak jeruk makan jeruk.
By SJ on Jul 7, 2008 | Reply
lho bukannya sekarang kita sudah dijajah lagi, pak? betul kata pak suhadinet itu…
***Ya, dijajaha secara pikiran (dan kebudyaan).
By zawawi on Jul 7, 2008 | Reply
mmm.. menarik… Seharusnya kita mengadopsi teknologi Jepang dalam motor. Ga cuma hanya dijadikan tempat merakit dan pasar saja.
seharusnya …
***ya ya, lokalisasi rakitan dan pasar … maklum bangsa saudagar.
By Ery on Jul 7, 2008 | Reply
Kok yo ada benernya ya, tapi….
By sandi on Jul 7, 2008 | Reply
MERDEKA!!!! (diteriakkan dengan getir…)
By enzha21 on Jul 7, 2008 | Reply
Perang umumnya hanya mencari kesenangan duniawi “penuh dengan nafsu”…. kenapa tidak jihad? landasan dan alasannya pasti suci!
banyak kalangan yang menolak Negara Indonesia dikuasai oleh orang2 yang keislamannya benar2, karena jika demikian maka kemungkinan besar Indonesia akan subur makmur loh jinawi segera dan bisa bayar utangnya secepat mungkin lantas rakyatnya akan sejahtera…. namun ingat! para pejabat korup dan penjahat tidak akan bisa berkeliaran dengan mudah dan seenaknya… semua ini hanya kepercayaan politik, selama kepercayaan ini dipegang teguh Indonesia tidak akan pernah merdeka seutuhnya. Yang muncul hannyalah alasan2 belaka…
By achoey sang khilaf on Jul 8, 2008 | Reply
aya pilih merdeka
bangkit negeriku
harapan itu masih ada
By SHALEH on Jul 8, 2008 | Reply
Ayo perang
Bangkitlah negeri ku
selalu harapan untuk bangsa ini
*teriak dengan pesimis*
By meiy on Jul 8, 2008 | Reply
kalo lagi bete mikirin negeri kita, aku kdg mikir juga, ‘mending jual aja nih negeri ke orang, mungkin lebih maju hehe…*lagi geblegdotcom*
tp aku tetap cinta endonaysa
By ganjar87 on Jul 10, 2008 | Reply
kayaknya sampai hari ini bangsa kita masih dijajah deh….. memang benar kata bung karno yang menyatakan “perjuangan saya melawan penjajah dari luar memang sulit, akan tetapi perjuangan di masa yang akan datang lebih sulit lagi karena mereka harus melawan bangsa mereka sendiri”.
***jangan-jangan sampai besok-besok he he … makanya generasi muda jangan meniru kami yang tua lah (generasi gagal).
By syaharuddin on Jul 14, 2008 | Reply
salah satu jalan keluarnya mungkin para pemuda (mahasiswa) jangan berfikir dan bertindak (yang negatif/salah, dll) sebagaimana pendahulunya.Jadi memotong pemikiran bukan memotong generasi atau perang (apalagi). Proses pendidikan tampaknya lebih efektif, tapi pendidikan yang dimulai dari keluarga, sekolah dan masyarakat (wah sungguh sangat luas proses pendidikan itu) karena itu perlu perancangan dan program yang tepat agar bisa dilakukan secara efektif dan efisein.Tapi kalau saya di suruh memilih, saya suka negara yang merdeka dan damai sejahtera, kapan ya….?
***Itu bisa dimulai kalau ‘kemerdekaan’ dimulai dari pikiran individu warganya. Itu yang susah. Soal kebudayaan, the power of culture yang mengakar, yang membelenggu.
By pendy on Jul 14, 2008 | Reply
pendidikan yang di utamakan,
kalau pemimpin berlatar belakang pendidik, maka mantap sudah,
jadi kuliah lah di fkip
hehehehe,bener nga pa ?
By Joseph Stalin Starvation on Aug 28, 2008 | Reply
diam kamu semuanya manusia brengsek! sy tidak peduli apa yg kalian bicarakan, sy bunuh kalian semua pake shotgun! sy tidak takut dgn semua orang! mau teroris, al qaeda, nazi, komunis, presiden, haji, mentri, ustad, vietcong, gestapo, orang islam, kisten, budha, hindu, atheis, dll! sy cuma takut sm ALLAH SWT saja, titik!