Kewibawaan Palsu

5 July 2008 | Ditulis oleh: EWA |

Oleh Esis Warmansyah Abbas

TIDAK perlu dibahas lagi, bahwa kita memerlukan kewibaan di luar diri, apalagi kalau menyangkut hal-hal yang bukan keahlian. Dalam tradisi akademis namanya mengutip pendapat pakar, ahlinya. Kalau diskusi tentang antropologi saya suka merujuk Koentjaraningrat, Sejarah Louis Gottscalk, Sosiologi Max Weber, Fisika Albert Einstein, atau pakar sesuai bidang keilmuannya.
 
Tetapi, suatu kali, terperanjat dengan seorang pejabat. “Begini Pak. Kita minta ahli pendidikan saja yang merancang, ini soal esensi pendidikan”. Dengan gagah berani dia menyanggah: “Pak Fulan itu kan profesor. Apanya yang perlu diragukan”.
 
Duh, Gusti. Bagaimana meyakinkan bahwa bukan semua profesor ahli pendidikan. Kalau keahlian profesor yang doktor tersebut Susu Kuda Nil bagaimana? Dia berprediket profesor kan lantaran jadi dosen, bukan ahli pure pendidikan. Jangan-jangan Akta IV, akta mengajar saja tidak punya.
 
Ringkasnya, dalam menulis jangan sampai merujuk Albert Eistein ketika membahas lahan gambut. Einsten orang hebat, yes. Bidangnya fisika. Tetapi, kalau soal tanah gambut, arti kata gambut saja bisa jadi dia belum pernah dengar.
 
Kalau sampai mengutip pendapat Taufik Abdullah yang ahli Sejarah untuk membahas masalah pengeboran ladang minyak Cepu, berarti Sampeyan terjerumus kepada kesalahan logis kewibaan palsu. Jangan mau ya.
 
Bagaimana menurut Sampeyan?
 
Banjarbaru, 5 Juli 2008.

  1. 8 Responses to “Kewibawaan Palsu”

  2. By nenyok on Jul 5, 2008 | Reply

    Salam
    *mikir sejenak* Hmm itu dia tak emoh kali, semua serba digeneralisasikan padahal tak melulu satu pribadi/otak mumpuni segala hal, tiap orang mendalami apa yang paling disukainya kan Pak, semakin luas dan pandai dalam suatu hal bukannya memang dia semakin meruncing dan pandai pada bidang itu saja..soal yang duliar expertnya bisa jadi cuma tahu kulitnya doang *duh nyambung ga ya*

  3. By Hery Azwan on Jul 5, 2008 | Reply

    Setuju, Pak. Hati2 dalam melihat orang bergelar. Jangan minta disuntik sama Dr Komaruddin Hidayat. Lho kan dokter? bukan, itu doktor…Bagi orang awam, dokter dan doktor belum begitu jelas, ya Pak.

  4. By taliguci on Jul 5, 2008 | Reply

    Ada juga Doktor, yang bersemangat soal blue energy..

  5. By ihsan on Jul 5, 2008 | Reply

    setuju pak,kita harus hati-hati dalam mencari rujukan,jangan sampai salah orang

  6. By selvia agustina on Jul 5, 2008 | Reply

    ternyata gelar bisa menipu juga ?????

  7. By Suci on Jul 6, 2008 | Reply

    Good advise…
    Kalau dalam kasus menulis skripsi, yang paling sering menjebak ketika kita mendapat rujukan dari internet.

  8. By Suci on Jul 6, 2008 | Reply

    Good advise…

    Kalau dalam kasus menulis skripsi, yang paling sering menjebak ketika kita mendapat rujukan dari internet.

  9. By ganjar87 on Jul 10, 2008 | Reply

    apalah arti sebuah gelar….. toh di mata Tuhan semua sama

    ***Tapi, kog banyak orang memburu gelar ya?

Post a Comment