Generalisasi tergesa-gesa

3 July 2008 | Ditulis oleh: EWA |

Oleh Ersis Warmansyah Abbas

KESALAHAN logis karena salah penalaran induksi yang berpankal pada sampling hal khusus yang tidak cukup atau karena tidak memakai batasan yang tepat dinamakan generalisasi tergesa-gesa. Misalnya kadang-kadang, banyak, sering, jarang, hampir selalu, sebagian besar, dalam keadaan tertentu, sebagian kecil atau sebagian besar dan seterusnya.
 
Misalkan, Sampeyan bertetangga dengan orang Padang yang berjualan di Pasar Rambutan. Dia lihai berdagang. Ketika ke Pasar Tanabang membeli kaos oblong, e … penjualnya orang Padang. Lalu berkesimpulan orang Padang pintar berdagang. Begitu memang streotip orang Padang.
 
Suatu kali, Sampeyan bertemu dengan saya, Ersis Warmansyah Abbas. Saya orang Padang yang lebih Indonesia, he he. Jangan bertanya tentang dagang-dagangan. Saya hanya paham secuil. Gara-gara bertemu dengan beberapa orang Padang yang pintar berdagang jangan berkesimpulan semua orang Padang pintar berdagang.
 
Saya berani memastikan, lebih banyak orang Padang yang tidak paham berdagang. Menjadi petani, pegawai, pemikir, dan sebagainya. Bahwa ada orang Padang yang PNS sekaligus berdagang, bisa jadi. Dalam kaitan diskusi kita, jangan sampai berdasarkan sampling khusus lalu mengambil konklusi serta-merta.
 
Saya punya lelucon yang mendekati kebenaran. Kalau membawa teman-teman makan ke rumah makan Padang saya katakan: “Kalian beruntung, bisa makan masakan Padang di rumah makan Padang. Kalau saya pulang kampung, di Padang tidak ada rumah makan Padang”.
 
“Ah yang benar saja”, mereka terheran. “Ya, iyalah”, kata saya dengan mimik serius. “Karena masakan Padang semua, tidak ada rumah makan Padang yang memakai merek ‘Masakan Padang’. Kalau rumah makan Sunda atau Jawa ada, he he”.
 
Selanjutnya perhatikan kosakata sering. Apa definisi sering? Menurut KBBI (1988: 626): sering kerap, acap. Apa arti kerap, apa arti acap? Kita harus ‘berburu’ lagi hingga didapat denifinisi yang pas. Dia sering tidak menulis. Ya, seberapa sering?
 
(Semua) PNS malas. Begitu kesimpulan Sampeyan ketika mengurus sesuatu menemukan di banyak kantor PNS yang ongkang-ongkang, membaca koran, atau main games (harap maklum era komputer, bo). Atau, bangsa Indonesia korup, orang Indonesia korup. Menerima sogokan ‘pekerjaan’ anggota DPR. Hakim-hakim Indonesia bobrok. Atau, sejenisnya. Haiya … tarik nafas, tenangkan pikiran.
 
Adakalanya kita, setidaknya saya, tergesa-gesa mengambil kesimpulan tanpa menjigi hakiki dan atau kondisi onyektifnya. Kalau bertergesa-gesa dalam penalaran, lalu menuliskannya, bisa jadi kesalahan logis akan mematen.
 
Ada kesan, mereka yang (pernah) kuliah di fakultas sastra lebih paham menulis sastra. Kesan, atau boleh pula, kesimpulan tersebut logis. Harap maklum, mereka belajar teori sastra. Tetapi, coba tanya Taufik Ismail, Adrea Hirata, atau Habiburrahman El Shirazy? Taufik Ismail sarjana kedokteran hewan lho.
 
Hati-hati. Banyak orang mengeluh, bahkan mencaci-maki, kualitas guru-guru Indonesia payah, jelek. Tidak kompeten mengajar, apalagi mendidik. Bisa jadi. Tapi, coba pikir, orang-orang pintar, pejabat pendidikan, atau siapa saja yang berkesimpulan demikian, barangkali lupa, mereka cerdas karena guru. Tipikal orang bak kacang lupa kulit.
 
Kenapa menaikkan gaji guru, kesejahteraan guru Indonesia, begitu susah? Padahal para pengambil kebijakan semua dipintarkan oleh guru. Kenapa ya kenapa? Karena mereka ‘anak harimau’; durhaka pada guru. Wajar kesejahteraan guru memprihatinkan.
 
Perhatikan! Kalimat tersebut adalah kalimat dalam bentuk kesalahan logis karena generelisaai tergesa-gesa. Jangan dicontoh ya.
 
Bagaimana menurut Sampeyan?
 
Banjarbaru, 3 Juli 2008.

  1. 7 Responses to “Generalisasi tergesa-gesa”

  2. By marshmallow on Jul 3, 2008 | Reply

    hmm…
    sepertinya generalisasi prematur ini juga sering menghinggapi saat membaca.
    makanya saya pikir reading skills itu penting.
    tapi bener juga, dari membaca artikel-artikel pak ewa, saya sempat mengambil kesimpulan kalau pak ewa juga orang minang.
    taunya bener!
    ahhh…
    *bangga dengan kesimpulan sendiri*

    ***Harus bangga dengan kesimpulan (dan diri sendiri), asal jangan fallasi he he.

  3. By Epat on Jul 3, 2008 | Reply

    paparan yang bagus pak,
    ini bukan generalisasi tergesa-gesa loh :-D

    ***Tercepat-cepat kali he he

  4. By suhadinet on Jul 3, 2008 | Reply

    Berarti, terbuka kesempatan bagi siapa saja untuk menjadi penulis ya Pak.
    Saya jadi makin bersemangat nih.

    ***Sangat terbuka, bebas asal … mau dan mampu.

  5. By Supriman on Jul 3, 2008 | Reply

    Hmmm…. Baru tau ada blog begini
    Asik juga mencermati logika dalam berbahasa ya Pak :D

    Bisa menambah kualitas tulisan yg ada di blog sy nih

    ***Senang deh Sampeyan berkunjung. Sering-sering saja.

  6. By selvia agustina on Jul 4, 2008 | Reply

    tidak semua orang yang kuliah memahami secara betul tentang ilmu yang dipelajarinya,
    contohnya saja : anak sejarah,
    kalau kita telusuri,tidak semua anak sejarah benar-benar memahami peristiwa sejarah yang dipelajarinya,
    bisa saja orang yang tidak mengambil pendidikan itu lebih mengerti akan ilmu sejarah itu.
    tidak menutup kemungkinan kan pak?

  7. By Tria on Jul 5, 2008 | Reply

    hmmm….. baru sadar neh bahwa menggeneralisasikan sesuatu secara tergesa-gesa dapat memberikan suatu pemahaman menyimpang dan mungkin menjurus ke arah yang negetif seperti bangsa korup itu tadi, kan ga semua orang di indonesia korupsi.

  8. By irma on Jul 7, 2008 | Reply

    bener pak…
    dalam mengambil keputusan janganlah tergesa-gesa, apalagi dalam menulis terus tulisannya dipublikasi lagi,wah..bisa jadi bahaya bagi yang membacanya.

Post a Comment