Fallasi Menulis

1 July 2008 | Ditulis oleh: EWA |

Oleh Ersis Warmansyah Abbas

FALLACY, atau dalam bahasa Indonesia kesalahan logis, sengaja atau tidak, sering dilakukan dalam menulis. Banyak orang (penulis) tidak sadar, dalam merangkai kata terjadi kesalahan yang tidak disadari. Tulisan ini tidak mendetail membicarakan ranah logika (penalaran) dalam arti ilmunya, tetapi pada pindaian praktik. Eh … kog ada sih kesalahan (yang) logis?
 
Kesalahan logis (fallacy) bukanlah dalam arti fakta seperti, mahasiswa melakukan aksi demo karena pemerintah RI menaikkan harga BBM, 24 Mei 2008. Akan tetapi, terjadi manakala pengambilan kesimpulan dikarenakan penalaran tidak sehat. Penalaran tidak sehat?
 
Yes. Misalkan Sampeyan menulis: Sawali adalah guru ternama di Kendal yang piawai menulis cerpen, oleh karena itu dia curang. Kalimat tersebut, bisa jadi dirakit karena dasar logika yang salah. Dalam pelaksanaan UN, demi meluluskan peserta UN, guru (umpamnya) curang dengan memberikan kunci jawaban. Sawali adalah guru, karena itu dia curang. Camkan! Betapa ngawurnya kesimpulan tersebut.
 
Pada faktanya, Pak Sawali adalah guru yang teramat prihatin dengan praktik pendidikan curang. Hal tersebut dilihat dari tulisannya di www.sawali.info. Postingannya menggugah alam kesadaran tentang pentingnya nilai-nilai moral, apalagi pada ranah pendidikan (begitu juga praktiknya, Insya Allah).
 
Sering kita membaca atau mendengar statemen pejabat atau ‘ilmuwan’, bangsa Indonesia adalah bangsa korup, budaya korupsi telah mendarah daging. Atau, manusia Indonesia, manusia pemalas. Apa iya?
 
Sigi fakta (kebenarannya). Emang para petani orang-orang korup? Memang mereka mengorup apa? Jangan-jangan arti kata korupsi saja tidak paham. Sebaliknya, perilaku korup bukankah dilakukan oleh mereka yang berkuasa, yang berdasi, yang terpelajar? Kog tega-teganya menjadikan milik bersama. Ditabalkan jadi budaya bangsa. Aneh.
 
Bangsa pemalas? Perhatikan petani atau buruh pelabuhan. Ketika matahari terbit melangkahkan kaki ke sawah atu pelabuhan, bekerja sepanjang hari, hingga matahari terbenam, berpeluh darah, apakah orang-orang pemalas? Mereka tidak (terlalu) mengeluh tentang listrik PLN yang hobi byarpret, atau, BBM yang harganya doyan naik-naik ke puncak …
 
Tidak syak lagi, ‘kesimpulan-kesimpulan’ sedemikian sebagai cerminan kalimatnya, diproduksi dari kesalahan logis, kesalahan dalam mengambil kesimpulan dalam penalaran. Bukan fakta.
 
Falasi, secara umum tertampak dari praktik pemahaman yang tidak tepat, dikategorikan karena: (1) generalisasi tergesa-gesa, (2) belum tentu; non sequiter, (3) analogi palsu, (4) deduksi cacat, (5) pemikiran simplistik, (6) penalaran melingkar, (7) argumen ad hominem dan argumen ad populum, (8) kewibawaa palsu, (9) sesudahnya maka karenanya, dan (10) karena tidak relevan.
 
Saya tidak tahu persis berapa sering teman-teman melakukan fallasi, tetapi ketika membaca ulang beberapa tulisan sendiri, membuahkan ketawa terpingkal-pingkal. Lucu. Dan ketika ‘memeriksa’ karya tulis mahasiswa, lebih terkekeh-kekeh. Ya, tersebab fallasi.
 
Satu kesimpulan, dalam menulis, agar terhindar dari fallasi, setidaknya mengurangi kadarnya, tempuhan jalannya dengan menulis, menulis, dan terus menulis. Dengan begitu, tentu dengan membaca ulang tulisan, kesalahan bisa ditipiskan karena kita melatih menulis dengan menulis. Percaya atau tidak, silahkan coba.
 
Bagaimana menurut Sampeyan?
 
Banjarbaru, 2 Juli 2008.

  1. 22 Responses to “Fallasi Menulis”

  2. By Septha on Jul 2, 2008 | Reply

    Fallasi, menyimpulkan sesuatu yang sifatnya objektivitas terkadang menjadi kesimpulan yang nyeleneh dan ga jelas juntrungannya, dan tak sesuai dengan kondisi subjektivitas yang sebenarnya. Hal ini lebih disebabkan kurangnya pemahaman tentang sesuatu yang disimpulkannya tersebut.

  3. By toni on Jul 2, 2008 | Reply

    Menarik kesimpulan yang terburu-buru tanpa ada pengetahuan yang cukup, subyektifitas yang kadang bermain dalam pikiran kita,,itu yang berbahaya…ngawur jadinya. penilaiannya jadi ngawur gak karuan…….FALLACY kata yang aneh heee baru tahu..

  4. By hanggadamai on Jul 2, 2008 | Reply

    bener pak, banyak orang yang terlalu cepat mengambil kesimpulan, padahal analoginya jauh…

    ***Ya, begitulah; mari kita belajar dengan praktik hingga terhindar dari hal-hal sedemikian

  5. By laporan on Jul 2, 2008 | Reply

    Mungkin ada kaidah menuju kesimpulan yaitu deduksi induksi, premis mayor dan minor, causalitas, ataupun silogisme, sehingga bisa dijadikan quality control untuk menguji substansi pembahasan suatu tulisan jadi samar-samar atau terang benderang (*kayak lampu aja*).

    ***Ya ya penalaran kesimpulan

  6. By Donny Verdian on Jul 2, 2008 | Reply

    Saya jadi ingat pelajaran Bahasa Indonesia ketika SMA dulu. Guru saya mengajarkan tentang premis, konklusi, sahih dan benar.
    Bahwa konklusi bisa bernilai sahih tapi tak benar, meski sabenar itu pasti sahih.
    Betulkan pendapat saya ini jika salah, Pak!

    ***Ya ya memang dari pelajaran logika, penalaran. Ntar kita bahas lebih lanjut.

  7. By M Shodiq Mustika on Jul 2, 2008 | Reply

    Sepertinya, aku mesti lebih mengasah kemampuan tulisku supaya pembaca tidak ‘salah-paham’ atau pun ‘sesat-pikir’. (‘Salah-paham’ mengacu pada kelirunya hasil penyimpulan; ‘sesat-pikir’ menunjukkan kelirunya proses pengambilan kesimpulan.)

    ***Jadi ingat permintaan Mas Shodiq tentang endersemen; apa masih perlu Pak?

  8. By Rita on Jul 2, 2008 | Reply

    Berarti harus paham betul apa yang akan ditulis
    Dan jangan lupa dikoreksi ulang sebelum di publish. Terimakasih atas artikel ini :)

    ***Ya ya ya

  9. By masenchipz on Jul 2, 2008 | Reply

    wah.. jdi inget ibu guru niy… tpi klo menurut gw sih fallacy bisa jadi bumbu yang sedap dalam tulisan… soalnya fallacy itu tetangganya bembi, sementara bembi itu suka menulis jadi menulis itu jadi makanan yang sedap buat bembi…. hiks…hiks…. pucing ah om…. pissss

  10. By meiy on Jul 2, 2008 | Reply

    aku membaca membaca dan membaca saja dulu, mudah2an bisa mengurangi kesalahan

  11. By ulan on Jul 2, 2008 | Reply

    aku kira Fallacy itu perkataan yang bikin bingung.. tenyata bukan ya

    ***Ternyata oh ternyata …

  12. By taufik on Jul 2, 2008 | Reply

    Kesalahan dalam logika ini akan mengakibatkan hasil suatu proses tidak sesuai dengan yang diharapkan. Nah,kita memang harus hati-hati dengan kesalahan secara logic.Berikan informasi sesuai dengan yang anda berikan. Makanya ketelitian diperlukan di sini.Salam

    ***Sip. Persis. Mari kita saling mengingatkan dalam kebaikan.

  13. By Ahmad Nur Irsan Finazli on Jul 2, 2008 | Reply

    Ya, ya pak. Memang terkadang saya juga ketawa sendiri ketika membaca tulisan sendiri jika ternyata fallacy. Kalau kesalahan penyimpulan dalam bentuk perkataan ,lain lagi ya, pak?

    ***Bila penalaran dalam mengambil kesimpulan tidak ’sebagaimana adanya’ tetapi berdasarkan sampling yang tidak ckup atau defini yang tidak klir kita melakukan kesalahan yang ‘tampaknya’ logis.

  14. By DINA on Jul 2, 2008 | Reply

    FALLACY….memang sangat lucu dan aneh bila terjadi dalam sebuah tulisan, tapi toh sering terjadi khan..hal ini bisa saja karena si penulis membawa perasaan pribadi pada objek tulisannya..tapi apapun alasannya penulis kan juga manusia yang bisa saja sering ngawur..siapa tau esok - esok fallacy na hilang dengan tetap semangat menulis, yang penting khan menulis dan menghasilkan tulisan..

  15. By sawali tuhusetya on Jul 2, 2008 | Reply

    fallacy? wah, dapat kosakata baru, pak ersis. jadi inget ketika membahas soal silogisme dan entimem, pak. memang banyak pak, simpulan yang didasarkan pada kesalahan logika karena relasi antara premis mayor dan minornya yang nggak nyambung, haks. padahal, sebenarnya silogisme dan entimem ini sangat mendasar dan amat perlu dipahamai, bahkan dikuasai oleh mereka yang sering bergerak dalam ranah kepenulisan. simpulan yang keliru bisa berakibat fatal makasih, pak eris. btw, jadi malu nih, pak, dijadikan contoh dalam postingan ini, hiks. padahal, keprihatinan saya juga ndak akan terbaca oleh mereka yang terbiasa duduk di belakang meja saat mengambil keputusan :cry:

    ***yap bukan kosakata baru dong, dalam Logika itu kan selalu ada, yap pada bahasan silogisme.

  16. By suhadinet on Jul 2, 2008 | Reply

    @ Pak Ersis,
    Fallasi itu tidak disadari oleh penulisnya ya Pak? Kalau betul tak disadari, susah juga ya..
    Jangan-jangan tulisan saya banyak fallasinya.

    @ Pak Sawali,
    entinem, kosa kata baru buat saya.
    Buka kamus dulu ah, mudah-mudahan ada di KBBI.

  17. By tria on Jul 2, 2008 | Reply

    Fallacy?? kosakata baru ya pa, baru tau hehe
    yah, jika kita tidak mau fallacy, bersihkan dulu pemikiran sampah yang ada di otak kita. seperti yang sering bapak bilang, jangan lah memasukkan suatu informasi yang “kotor” kedalam otak kita agar ketika kita menulis tidak terbawa perasaan yang diakibatkan oleh informasi yang ga bener dan tidak akan terjadi fallacy dalam penulisan.

    ***Tidak, saya mengaitkan dengan menulis. Pengethaun ’sisa-sia Lasdkar Pajang’, dulu saya pengampu mata kuliah Logika. Saya sekarang sudah dihapus di kurikulum FKIP. Di buku-buku logika ada tu. Silahkan baca.

  18. By Siti Fatimah Ahmad on Jul 2, 2008 | Reply

    Maafkan saya tuan Ersis….sila betulkan jika saya salah memahami maksud fallasi ini. Sesuatu yang baru saya pelajari dari tuan berkaitan istilah tersebut. Jika benar pemahaman saya…terima kasih atas pencerahan ilmu di atas.

    Ya….saya setuju dengan kebenaran tulisan tuan. Kadang-kadang penulis menulis dengan membawa jiwa, fikiran dan perasaannya berada dalam dunia tersendiri. Sambil dia memikirkan apa yang patut ditulis, bagaimana menepati contoh dengan isian faktanya sehingga melupakan rujukan-rujukan yang sangat relevan sebagai kesahan bukti kepada hasil tulisannya.

    Pada pendapat saya….menulis bukan sekadar menemukan idea yang dihasilkan oleh pemikiran sendiri atau tulisan orang lain. Tetapi tulisan yang mempunyai data dan rujukan sumbernya amat penting agar tidak berlaku fallasi dalam penulisan. Jika tidak, akan timbul salah faham dan terjadi perselisihan serta permusuhan.

    Keadaan ini berbeza dengan tulisan-tulisan biasa/santai yang memungkinkan segala jenis pemikiran memasukinya. Pada saya itu satu kreativiti dan inovasi dalam penulisan kreatif yang membolehkan pembaca membuat interpretasi terhadap corak pemikiran penulis tersebut. Ini satu kehebatan menulis.

    Apakah benar….apa yang difikirkan di dalam kotak ingatan…..semestinya berlaku diluar atau dilaksanakan ? atau hanya bertujuan “sengaja” untuk membangkitkan “ejakulasi” pemikiran pembaca agar bangkit mempertahankan sesuatu kebenaran yang difikirkan salah atau palsu dalam penulisan.? Maka…apa yang saya tulis ini juga dikatakan fallasi di dalam penulisan? Mohon penjelasan kerana saya kurang mantap pemahaman dalam tajuk ini. Terima kasih.

    Salam hormat saya dari Malaysia.

    ***Salam dari Indonesia. Sebenarnya tulisan tersebut sdiadopsi secara kreatif dari (ilmu) logika bagian penalaran, khusunya dalam penarikan kesimpulan, khusu bagian kesalahan logis. Pemahaman saya, sebenarnya koklusi yang kita ambil ‘logis; tetapi sebenarnya salah alisa tidak pas. Akan lebh baik diikuti tulisan selanjutnya. Tulisan ini bari bagian pendahuluan saja. Insya Allah akan saya tulis pada 10 postingan.

  19. By fertob on Jul 3, 2008 | Reply

    Saya jadi terbiasa dengan fallacy karena dulu sering “dibantai” sama dosen pembimbing thesis. Beliau adalah orang yang sangat taat dalam berbahasa Indonesia yang baik dan taat berlogika. Jadi sekarang saya malah suka mengkritik seseorang jika menampilkan logika yang salah dalam beropini.

    ***Bagus dalam kerangka berpikir konstruktif.

    Makanya saya sering hati-hati kalau menganalisis sesuatu. Langsung melompat ke kesimpulan tanpa terlebih dahulu mematangkan premis yang diambil, itu sudah termasuk fallacy yang lumayan fatal kalau di jurnal ilmiah.

  20. By Supriman on Jul 3, 2008 | Reply

    Wah kang Ersis pakar Bahasa yaksss….
    salam kenal Pak…
    Blogku banyak Fallacy nya gak yah :-?
    kayak yang ini nih
    Salam

    ***Ngaklah, malah ngak paham bahasa, sedang belajar aja; kita sama-sama belajar aja deh. Saya suka baca aja tu, dan …menulis.

  21. By irma on Jul 3, 2008 | Reply

    falasi terkesan membingungkan, falasi sering ditemui dalam kehidupan sehari-hari. karena membingungkan maka sering kita salah dalam menyimpulkan….

    ***Maaf, kalau kita bingung perlu menghentikan kebingungan dengan memengertinya

  22. By selvia agustina on Jul 4, 2008 | Reply

    hendaknya sebelum kita menarik kesimpulan alangkah baiknya kita teliti lebih dulu tentang kebenarannya,
    daripada nanti berujung Fallacy

  23. By siti hariyah on Jul 4, 2008 | Reply

    Ass. Bertemu lg dg wong Solo (kalau sampeyan masih ingat). Bagaimana kalau pelajaran bhs indonesia di tempat saya on line saja dari pak Ersis? kan seru! Oya pak dulu buku ESQ nya belum nyanpai lo!.www

    ***Maksudnya? Apa saya janji ngirim? Kalau ya tolong lagi deh alamat; yang ngurus itu staf saya mana tahu dia lupa. OK?

Post a Comment