Membaca Tulisan
28 June 2008 | Ditulis oleh: EWA |Oleh Ersis Warmansyah Abbas
MANUSIA ‘moderen’, dapat dikatakan beruntung. Manusia ‘modern’ diberkahi otak plus pancaidera, satu diantaranya mata. Mata memampu membaca. Bacaan mengaktifkan otak, melempangkan pengetahuan, dan karena itu membangun peradaban (moderen).
Manusia purbakala atau manusia prasejarah tentu memiliki otak dan mata, tetapi pengembangan kapasitasnya masih terbatas. Belum mampu membaca, apalagi menulis. Kita, susah payah menelusuri sejarah kehidupan mereka, mempelajari apa yang dimaksud pada gambar-gambar sederhana di gua-gua kuno. Bagaimanapun, akar sejarah nenek moyang adalah sejarah kehidupan manusia; mata rantai manusia.
Kini, di era modern, kalau masih ada manusia yang tidak, atau kurang maksimal, memanfaatkan mata dalam gelitik mengoperasikan otak, sungguh sayang sangat disayang. Apalagi, kalau dimantapkan dengan semiliar alasan. Mata melihat, otak bekerja, tetapi tidak mampu ‘membaca’, naauzubillahi min zaliq.
Pentingnya membaca, dapat diperhatikan dari ‘belokan’ pendidikan sedari kecil. Mula-mula kita dilatih bicara dalam artian membaca, a, i, e, o. Ini Budi. Ini Ibu Budi. Budi tidak berbudi, misalnya. Setelah itu, kepada alat raihan membaca yang tertulis. Begitulah pendidikan dasar di SD. Membaca, dan sesekali mengeluarkan hasil olahan bacaan di otak. Namanya mengarang.
Pada tingkat sekolah menengah, kita dapatkan dasar-dasar keilmuan, dan kemudian ditabalkan pada semasa di perguruan tinggi. Pengasahan kemampuan membaca menjadi dasar pembelajaran, dan ketika di PT, ranah membaca untuk lebih mengaktifkan otak menjadi pijakan.
Artinya, membaca yang tertulis; pengetahuan (ilmu) hasilan pemikiran ahli ‘dimasukkan’ pada kolam pengetahuan diri. Memahami sesuatu lebih mudah dan lempang. Dan, ‘mengolah’ hasil bacaan menjadi tantangan tersendiri.
Entah iya entah tidak, konon ketika pendidikan mencapai tingat pascasarjana, hasil bacaan ‘diolah’ dalam gabungan dengan pengalaman atau eksperimen, atau setidaknya pada pembuktian lebih meyakinan secara akademik dan ilmiah. Gerbang terakhir ketika sesorang mencapai prediket formal, Doktor. Paripurna capaian pendidikan. Terlalu memakan waktu, energi, dan dana. Adakalanya membosankan.
Bahwa sesunguhnya, ada jalan pintas, jalan yang lebih mudah segalanya. Apa itu?
Manfaatkan mata membaca yang tertulis, gabungkan dengan raupan indera lain, dan padukan dengan pengalaman, baik diri sendiri atau orang lain. Tidak usah capek-capek meraih predikat akademis. Istilahnya otodidak.
Sesungguhnya, sepanjang kehidupan, belajar sesungguhnya adalah belajar mandiri; membelajarkan diri. Kitalah yang tahu apa yang kita butuhkan, bukan orang lain. Apalagi menara pendidikan. Tetapi, potensi tersebut diabaikan. Sungguh bodoh.
Harap dicatat, belajar formal, bukanlah segalanya. Contoh sederhana, saya bukan orang yang pernah belajar teori membaca dan menulis secara formal. Saya pelajar otididak dalam banyak hal.
Kalau untuk sekadar menjadi petambak ikan, ngapain berpendidikan doktor. Tanpa belajar membaca, menulis, writing I sampai IV di PT, pantaskan potensi menulis tidak dikembangkan?
Melakukan adakalanya lebih bermakna. Lagi pula, membaca tidak memerlukan aturan ‘kuno’, dapat dimana saja, kapan saja asal mau. Asal tidak beralasan. Semua akan jadi mudah dan mengairhakan.
Pertanyaannya, sudahkah kita membaca secara benar? Sudah sadarkan kita, dalam membelajarkan diri; membaca yang tertulis? Sadarkah kita, dan karena itu maksimal mengambil manfaat, zaman moderen begini, pikiran-pikiran brilian sudah ditulis di buku, di layar komputer, pada jaringan internet, dan entah apa alagi. Sudahkah dibaca sesuai kebutuhan?
Membaca (tertulis) modal dasar pengetahuan, pembentukan diri, dan langkah awal mengasah kemampuan menulis. Membaca adalah rahmat mata, karuniah Allah SWT, dan mata rantai pembelajaran. Mari, mari mempraktikkan, melakukan. Monggo.
Bagaimana menurut Sampeyan?
Banjarbaru, 28 Juni 2008.













17 Responses to “Membaca Tulisan”
By Septha on Jun 28, 2008 | Reply
Pengalaman yang diperoleh dalam hidup kita ini sesungguhnya dapat dijadikan suatu pelajaran yang berharga bagi diri kita. Sudah sepantasnya kita memanfaatkan segala sesuatu yang ada pada diri kita untuk memperbanyak pengalaman hidup dan menggali potensi diri, dengan dibarengi dengan pendidikan formal. Bukan begitu pak? Hehe
By achoey sang khilaf on Jun 28, 2008 | Reply
Pak, saya sedang belajar menulis dan saya membiarkannya mengalir
Tolong masukannya selalu
***ha ha wong dah pintar kog nulisnya, tinggal fasihkan dengan menulis, dan terus menulis. Itu resep jitunya.
By sawali tuhusetya on Jun 28, 2008 | Reply
sepakat banget, pak. membaca plus menggabungkan ketajaman indera mampu merangsang otak utk “gila” menulis.
***Mari gila membaca, gila menulis, waras di pikiran. Salam.
By taliguci on Jun 28, 2008 | Reply
“Manfaatkan mata membaca yang tertulis, gabungkan dengan raupan indera lain, dan padukan dengan pengalaman, baik diri sendiri atau orang lain.”
Ah, indah sekali, sangat mencerahkan pak..
***Ah masyak sih.
By Siti Nur Hidayati on Jun 28, 2008 | Reply
Benar bang Ersis, saya setuju. Membaca adalah jendela dunia, membimbing kita untuk melihat segala dan apa saja yang ingin kita ketahui. Membaca meningkatkan kualitas otak kita sehingga otak yang berkualitas dapat menggiring sikap dan perilaku hidup yang berkualitas pula. Karena itu bacaan sangat mempengaruhi seseorang dalam bersikap, bertindak dan berperilaku. Tidak heran jika untuk mengenali pola pikir seseorang, bisa dilihat dari tulisan yang sering dibacanya
***Ya itulah kuncinya, mari membaca, mar menulis
By oeddin on Jun 28, 2008 | Reply
“Alah bisa karena biasa” mungkin kata tepat, walaupun sudah belajar segala hal tentang menulis maupun membaca, kalau kita tidak memulai dan membiasakan diri untuk menulis, maka kita tidak bisa menulis dengan baik.
***Ya ya … praktik, ngak belajar teori juga OK kog
By mathematicse on Jun 28, 2008 | Reply
Membaca, membaca, membaca, baru deh menulis.
***Yo yo yo, baca, baca, dan baca; tulis, tulis, dan tulis
By wawan halwany on Jun 28, 2008 | Reply
setuju pak
***Setuju he he
By suhadinet on Jun 28, 2008 | Reply
@ pak sawali: saya pingin terjangkiti gilanya bapak…
***Hayo …
By zoel on Jun 28, 2008 | Reply
MAMUSIA ‘moderen’, > mo koreksi aja pak,,, kaya nya salah nulis
maksud nya MANUSIA kan
***he he makasih. Jangan pernah takut salah dan ngak usah beralasan, ntar kalau sempat dibaiki.
By Rizal Hasannor on Jun 29, 2008 | Reply
membaca dan terus membaca, setelah itu menulis..ya asal jangan mengcovy tulisan orang aja..ya kan pak…??
By selvia agustina on Jun 30, 2008 | Reply
yah.,
tidak bisa di pungkiri membaca_lah dasar pertama kita untuk mengetahui segala sesuatunya yang ingin kita ketahui.
dengan membaca kita dapat mengetahui informasi yang kita perlukan.
namun sebagai generasi muda,
saya merasakan sendiri bahwa kendala utama yang menghalangi untuk rajin membaca adalah perasaan malas yang tidak bisa di hindari.
By ihya ul ihsan on Jun 30, 2008 | Reply
SEMUANYA AYO MEMBACAAAAAAAAAAAA………
By Siti Fatimah Ahmad on Jul 1, 2008 | Reply
MEMBACA…satu kewajiban yang dituntut dalam ajaran Islam.
Telah tercipta satu lembaran sejarah yang nantinya mengungkapkan satu tamadun baru yang membawa revolusi ilmu dan revolusi pendidikan dalam dunia peradaban manusia akan datang.
Hebatnya…tamadun ilmu itu bermula dalam sebuah gua. Gua itu adalah sekolah, pusat pendidikan awal dan gua juga jadi saksi keramat perguruan mengenal bacaan secara talaqqi musyafahah. Mengapa gua dipilih sebagai fungsi sekolah.
Mari kita fikir semula…bicara-bicara tuan Ersis dalam tulisan yang berkaitan dengan manusia pra sejarah. Gua juga tempat meng’anekdot’kan segala peristiwa yang akhirnya cuba difahami tulisan tersebut melalui bacaan kefahaman oleh manusia moden ketika ini. Itu sejarah tamadun awal kemanusiaan. Ia berulang lagi sebagai petanda tamadun ilmu yang tinggi pada zaman moden jahilliah.
Ternyata gua amat berkesan dalam pendidikan ilmu. Di ruang kamar sempitnya, memberi ketenangan kepada jiwa insan agung, ummi (buta huruf) yang kemudiannya mencatat sejarah besar tamadun dunia sebagai pemimpin yang membuka dada keilmuan manusia.
Bermula dengan membaca….diteruskan dengan menulis. Baca….tulis. Baca…tulis. Kenapa keduanya sentiasa digandingkan bersama ?…… Supaya apa-apa tulisan yang ditulis nanti…..tidak sia-sia. Maksudnya.. menulis adalah untuk dibaca. Bukan direnung. Bila membaca harus dengan pemahaman.
Orang yang menulis sudah pastinya pandai membaca. Bacalah tulisan sendiri dan bacalah juga tulisan orang lain. Melalui pembacaan, gaya penulisan kita akan menjadi mantap, menarik, garapan bahasa yang indah, boleh diubahsuai mengikut bentuk alun cerita yang hendak ditulis.
Saya suka membaca tiap tulisan Tuan Ersis…..tuan boleh menjadi sesiapa sahaja dalam tulisan tuan. Daya fikirnya hebat. Ini terserlah melalui tulisan yang diluahkan di dada kertas atau skrin taipan ini. Mengkaji dan membaca pemikiran seorang manusia yang mampu menggerakkan manusia lain kepada satu anjakan paradigma yang tinggi adalah satu cabaran.
Jika ada mahasiswa PKIP UNLAM yang sanggup dan berani untuk mengkaji corak fikir tulisan seorang tokoh. Saya cadangkan buat kajian terhadap gaya fikir Tuan Ersis Warmanshah Abbas ini. Beliau masih bertapak segar dibumi Allah. Kesahan dan kebolehpercayaan data-data dari beliau amat jitu. Jika beliau sudah bersemadi….sayangnya ….banyak maklumat terkubur bersama jasad yang abadi.
Semoga panjang umur dalam keberkatan Ilahi. Kalau saya diizinkan buat kajian tentang gaya atau corak pemikiran tuan….saya sanggup dan amat menghargainya.
By ganjar87 on Jul 1, 2008 | Reply
membaca koran,majalah,dan apalah terserah setelah itu jadikanlah ilmu tersebut berguna bagi orang banyak…… buat siti di atas (PKIP its wrong but FKIP)……..
***He he
By Siti Fatimah Ahmad on Jul 2, 2008 | Reply
Buat ganjar87 …..terima kasih atas teguran tersebut. Maaf tersalah taipannya. Hanya perasan apabila sudah di”submit”. Tak boleh buat apa-apa. Tiada ruangan “edit” untuk pengguna di sini.
Saya amat terkesan dengan sedikit kesilapan walau “satu huruf atau abjad”..kerana memungkinkan terjadi pengertian yang lain dan boleh disalah tafsir. Terima kasih sekali lagi. Salam kebaikan dari saya.
Buat Tuan Ersis pula, …hanya he..he..he..sahajakah untuk saya ? Terima kasih atas segala ilmu penulisan yang saya baca. Semuanya mencerahkan minda saya. Semoga sihat dan dapat berbakti kepada bangsa dan negara.
***Sekali-sekali. He he itu maknanya kan dalam; bersetuju, bercanda, kagum, atau apa begitu. Tergantung penafsiran. Dalam kaitan komen Sampeyan, saya mengamini. He he
By Ganda R on Jul 4, 2008 | Reply
Setiap individu memiliki pengetahuan sebagai sebuah hasil kerja otak yang merespon rangsangan dari indera yang ia miliki. Hanya saja yang menjadi masalah adalah ketidaksadaran manusia itu sendiri atas apa yang dimilikinya (indera) dan apa yang telah dihasilkan dari kepemilikan indera tersebut. “Ketidaksadaran” tersebut terkadang menghinggapi manusia yang sempurna atau paling tidak dikatakan lengkap inderanya, dan malahan individu yang inderanya tidak lengkap lebih terpacu untuk memaksimalkan indera yang ada. Bukan bermaksud untuk membanding-bandingkan, tetapi sebagai bahan pertimbangan, kita tentunya dapat menilai manusia mana yang lebih unggul di antara keduanya.
Mari membaca agar tidak “ketinggalan”…
***Pertama sadari, kedua lakukan yang benar. Buat ringkas sajalah.