Mahasiswa Menulis

26 June 2008 | Ditulis oleh: EWA |

Oleh Ersis Warmansyah Abbas

SENIN, 14 Juni 2008. Masih segar dalam ingatan. Ketika itu, 40 mahasiswa FKIP Unlam Banjarmasin, dari berbagai program studi dan jurusan, mengikuti sendagurau dengan saya, bersendagurau tentang menulis. Meniru titel blog www.webersis.com, Menulis Tanpa Berguru. Ya, menulis tidak memerlukan guru. Menulis urusan pribadi.
 
Saya tidak memperdulikan mereka ternganga. Sampeyan tidak memerlukan modal pengetahuan lagi. Sebagai mahasiswa, pengetahuan tentang menulis cukup saja sudah. Bukankah sejak SD sudah diajarkan menulis? Lebih dari cukup. Saya minta, dalam sebulan ke depan, jangan berpikir (lagi) tentang menulis.
 
Jangan membaca buku teori menulis, kamus, apalagi bertanya. Kalau dilakukan, tidak akan ‘cepat’ memasihkan menulis. Mengikuti Ersis Writing Theory (EWT), dalam sebulan dijamin bergairah menulis.
 
Setiap kita, dibekali Allah SWT pancaindra: hingga mampu melihat, mendengar, mencium, merasa (menjilat), dan meraba. Pengaktifan satu fungsi saja, membuahkan ‘pengetahuan’. Selama 20 tahun terlalu banyak ‘pengetahuan’ yang ditumpuk. Lebih dari cukup sekadar untuk menulis, tepatnya melatih menulis.
 
Sebagai pengguat, ditampilkan Syamsuwal Qomar dan Suciati yang saya bantu ‘membangunkan’ potensi menulisnya. Keduanya baru menyelesaikan pendidikan Bahasa Inggris dan menerbitkan buku Geliat Kampus dan Aku Bangga Jadi Urang Banjar terbitan Gama Media Jogakarta, 2008.
 
Mereka diwajibkan menulis satu artikel setiap hari. Dalam 30 hari, bukan tulisan parsial saja yang menjadi, tetapi buku. Mereka kaget. Tidak menyangka kemampuan mereka begitu dahsyat.
 
Tidak lupa mahasiwa pengambil MK Pengantar Antropologi yang sedang mengedit buku ajar ala mahasiswa. Mereka, mahasiswa semester IV dan VI 2008 namun mampu (berlatih) membuat buka ajar.
 
Peserta orientasi, tidak boleh membaca, merujuk referensi, bertanya, dan atau hal-hal yang biasanya dijadikan hal paling mendasar dalam pendidikan formal. Bagi saya, semua itu membelenggu. Itulah EWT.
 
Kemudian, dikemukakan apa yang disebut zero mind proces (ZMP). Tekniknya, jangan memikirkan apa pun yang akan ditulis. Kosongkan pikiran. Biarkan pikiran tersibak menjadi lahan yang siap ‘ditanami’. Ciptakan suasana nyaman di otak. Bukan menunggu mood, in the mood. Itu kuno.
 
Tidak lupa disadarkan, Allah SWT telah membekali kita setrilun neuron, sel saraf. Terdiri dari 100 miliar sel aktif dan 900 miliar sel pendukung. Setiap sel mampu berkoneksi 20.000. Hitung sendiri betapa besaran kapasitasnya.
 
Pengalaman 20 tahun telah direkam di (memori) otak. Apa yang terekam tinggal diungkap. Karena itu, setelah ZMP tinggal memantik satu hal pada area memori. Misal, ingat tentang BH. Begitu ‘bayangan’ BH berkelabat, semua informasi tentang BH ‘menyerbu’ titik ingat. Otak bekerja, dan dengan mudah kita formulasikan sesuai yang kita kehendaki. Proses menulis dimulai.
 
Tentu tidak lupa diingatkan, berbeda dengan belajar teori menulis. Menulis berbeda dengan berdebat atau berdiskusi tentang menulis. Menulis melakukan, dan pasti ada hasilnya. Berteori, berdiskusi, atau berdiklatria, tidak menjamin mampu menulis. Melakukan tindakan menulis menghasilkan tulisan.
 
Alhamdulillah, Senin 16 Juni 2008, email saya, ersis-wa@yahoo.com dibanjiri tulisan mereka. Siapa saja yang tidak mengirim tulisan pada hari itu, berarti undur diri sharing menulis ala EWT. Ternyata, sebagai pemula, tulisan mereka terlalu bagus malahan.
 
Majalah FKIP-U-VIEW sedang disiapkanuntuk mempublish tulisan mereka. Direncanak Agustus 2008 terbit perdana. Satu lagi ‘bukti’ menulis sangat mudah.
 
Menulis, melakukan tidakan menulis. Menulis memang mudah. Sangat mudah malahan. Asal, dilakukan.
 
Bagaimana menurut Sampeyan?
 
Banjarbaru, 26 Juni 2008.

  1. 69 Responses to “Mahasiswa Menulis”

  2. By suhadinet on Jun 26, 2008 | Reply

    Lagi-lagi sebuah tulisan yang dapat memotivasi saya. Terimakasih Pak. Baidewei, kok pemantiknya BH, he.he.he..

  3. By Willy Ediyanto on Jun 26, 2008 | Reply

    Wah, saya menulis jadinya untuk koran. Targetnya sekali dalam dua minggu. Di koran lokal.
    Ngeblog jadi jarang karena fasilitas kurang. Mau ke kafe yang nyediain hotspot gratis, kejauhan dari rumah, nanti malah bibir istri bertambah maju.
    Tetap menulis deh. Gak penting komentar orang. Yang penting kita luapkan isi pikiran kita.

  4. By Wempi on Jun 26, 2008 | Reply

    yang paling bagus pajangin pak, kasih hadiah…
    pengin tau… ada blog nya gak?

  5. By wawan halwany on Jun 26, 2008 | Reply

    Benar pak terkadang kita udah takut duluan tulisan kita kan jelek. Padahal kalau kita bebas menulis apa aja kayanya enak juga yah. Tapi saya juga lagi belajar menulis. Saya pengen ikutin jejak mas kok bisa nulis tiap hari.

  6. By Septha on Jun 26, 2008 | Reply

    Sudah seharusnya Mahasiswa itu mulai menulis, menulis apapun yang dipahami dan dimengerti oleh dirinya sendiri lebih dahulu. terserah orang mo bilang apa, yang pnting kita udah melakukannya (menulis), benar ga pak? Hehe,,

  7. By prayogo on Jun 26, 2008 | Reply

    Bener, memang kita dari sd sebenarnya sudah di ajarin nulis. Dulu saya ingat kalau hari senen, pasti di minta untuk mengarang. Misal tentang apa saja yang dilakukan waktu libur kemarin, pergi ke rumah nenek, jalan2 dan lain sebagainya.

    Nah memang, setelah itu menulis sudah tidak atau jarang dilakukan kembali. Dan baru2 ini saja menulis sudah menjadi sebuah ke asikan tersendiri. Apalagi bisa di baca oleh orang lain. Karena pernah saya menulis di blog yang judulnya Masturbasi, salahkah?

    http://prayogo.wordpress.com/2006/08/16/mansturbasi-salahkah/

    Masturbasi di sini bukan masturbasi secara biologi. Tetapi masturbasi dalam menulis, yakni di tulis sendiri, kemudian di baca/di nikmati sendiri.

    Tetapi sekarang saya sudah tidak pernah masturbasi lagi. Karena sudah ada temennya, he he he

    Sukses Pak….

  8. By ihya ul ihsan on Jun 26, 2008 | Reply

    Mahasiswa menulis membukktikan betapa mudahnya menulis,karena tanpa harus belajar sekalipun.
    moga sukses ya pak tulisan mahasiswanya

  9. By selvia agustina on Jun 26, 2008 | Reply

    Dengan adanya “mahasiswa menulis” dapat membantu menggali potensi diri yang sudah dibekali Tuhan demgan berbagai pengetahuan menjadi bermanfaat.

  10. By Dewi komalasari on Jun 26, 2008 | Reply

    Mahasiswa menulis?
    sebenarnya sudah sewajibnya sebagai mahasiswa kita menghasilkan sesuatu untuk negeri ini karena namanya saja mahasiswa berarti pelajar yang tinggi.jadi tinggal individunya saja mau atau tidak mengembangkan dirinya dalam menulis.

  11. By Fien Prasetyo on Jun 26, 2008 | Reply

    kalo dosen kyk p.ewa smua enak bgt ya…sukses bkin buku g dinikmatin sndiri tp ilmunya dibagi2…

  12. By kamsinah on Jun 26, 2008 | Reply

    Mahasiswa Menulis,ya syukurlah saya mengambil mata kuliah antropologi semester ini jadi saya juga termasuk mahasiswa yang akan membuat buku. Mahasiswa menulis memang sangat penting dan perlu karena kita sebagai orang yang berpendidikan harus mengembangkan ilmu yang kita punya, yang mana menulis sendiri seperti yang sering didengungkan sangat mudah dan tidak perlu guru untuk belajar menulis,asal kita rajin membaca dan mempunyai pengetahuan yang banyak kita akan dapat menulis. Tulis apa yang ada dipikiran dan dituangkan dalam bentuk tulisan maka jadilah sebuah tulisan hasil karya kita. Jangan pernah takut salah akan tulisan kita, karena dari kesalahan kita dapat belajar dan memperbaikinya,jadi teruslah menulis dan hasilkan tulisan yang bermutu.

  13. By laporan on Jun 26, 2008 | Reply

    Hehe kalau pematik BH itu selalu terlintas di otak saya.

  14. By Donny Verdian on Jun 26, 2008 | Reply

    Tiap saya mbaca tulisan Anda, saya jadi semangkin tersemangati untuk tetap menulis, Pak.

    Mbikin pelatihan di Jawa dong! :)

  15. By Erina Marsiana on Jun 26, 2008 | Reply

    Mengambil Mata Kuliah Antropologi, banyak sekali ilmu pengetahuan yang saya dapat. Selain kuliah mata kuliah ini banyak segi positif yang saya dapat ambil, dan ada nilai plusnya yaitu saya jadi termotivasi untuk menulis. Tidak hanya itu saja hikmah yang saya dapat dan yang sedikit membanggakan juga kami mampu menyelesaikan tantangan menulis untuk membuat buku ajar. Memang benar menulis tidak perlu seorang guru ataupun membaca buku-buku teori tentang menulis, kamus serta bertanya karena kita dari SD sudah mendapat pengetahuan tentang menulis.

  16. By Dwi Setiowati on Jun 26, 2008 | Reply

    Mengajak (menugaskan) mahasiswa menulis buku ajar yang (semoga) kemudian hari dapat digunakan oleh orang lain adalah cara yang paling ampuh untuk membuat seorang mahasiswa pemalas mempunyai kemauan untuk membaca dan mngekspresikan kemampuannya dan penetahuannya dalam sebuah tulisn.

  17. By Mini Febrianti on Jun 26, 2008 | Reply

    Motivasi untuk menulis yang sebenarnya kami perlukan untuk memulai belajar menulis.Dapat menulis apabila mempunyai keinginan untuk menulis.Tidak percaya diri dan takut salah bukan itu saja dengan menulis kita tahu dan orang lain pun tahu seberapa besar pengetahuan dan tingkat kebodohan kita. Ini yang selama ini menjadi kendala untuk menulis. Teringat kata bapak bahwa menulis yang benar bagi pemula seperti kami bukan menjiplak tetapi memahami referensi buku yang mau ditulis dan dituangkan dengan bahasa sendiri dan pemahaman sendiri.Sekarang kendala untuk menulis tidak ada lagi apabila salah saya yakin itu adalah proses belajar mengetahui apa yang benar. Untuk itu terima kasih sebelum dan sesudahnya. Menulis mudah kalau kita punya keinginan untuk menulis dan melaksanakan apa yang menjadi keinginan tersebut.

  18. By Melisa Prawita Sari on Jun 26, 2008 | Reply

    Mahasiswa menulis, sudah sepantasnya kami sebagai mahasiswa berkewajiban untuk menulis, menulis hal-hal yang bermanfaat. Setelah mengikuti mata kuliah antropologi ini saya baru sadar bahwa untuk menulis kita tidak perlu belajar karena kita sudah dibekali otak oleh Allah SWT. Dengan adanya otak kita bisa langsung menulis apapun yang kita pikirkan dan kita ketahui yang sudah tersimpan dari kita kecil sampai sekarang di dalam otak. Orang-orang yang tidak mau menulis hanyalah orang-orang yang selalu beralasan bahwa menulis itu sulit, karena mereka tidak berupaya menggunakan otak mereka untuk menulis. Dengan mengikuti MK Antropologi ini saya bersyukur dan berterimakasih telah diberi motivasi untuk belajar menulis.

  19. By Am. Hamsin Fitriyadi on Jun 26, 2008 | Reply

    Mengambil mata kuliah Antropologi, kalau boleh saya jujur ada manfaat yang saya dapatkan selain mendapatkan ilmu pengetahuan dari bapak tapi tidak terlepas juga saya dibiasakan menulis, ibarat pisau yang tumpul apabila sering diasah pasti akan tajam seperti silet begitu juga dengan seseorang yang rutin menulis pada umumnya bagi para pemula tidak menutup kemungkinan dikemudian hari kemampuan menulisnya luar biasa, mksih banyak
    atas bukunya pak…

  20. By Tria on Jun 26, 2008 | Reply

    memang, sejak belajar menulis dengan menulis kita akan terbiasa mengungkapkan pikiran dengan tulisan tanpa memperdulikan komentar orang tentang tulisan kita. mengingat kata bapak, menulis tidak perlu membawa perasaan, dan tidak perlu bertanya dan belajar tetapi hanya memahami dan mengungkapkan apa yang kita lihat dan kita rasa sesuai kondisi yang ada adalah cara yang paling mudah dalam membuat sebuah tulisan bagi saya sebagai pemula. Saya bingung mo koment apa lagi masalahnya alasan saja lah yang menghambat kita untuk melakukan sesuatu termasuk menulis. Seperti saya,, Hehehe……

  21. By Helmi Hakim on Jun 26, 2008 | Reply

    Mahasiswa menulis,memang perlu dilakukan karena mereka sebagai intelektual yang nantinya diharapkan mampu memberikan sumbangan bagi masyarakat,bangsa dan negara…..salah satu sumbanganya yang nyata dan dapat di lakukan semasa masih menjadi mahasiswa ialah melalui tulisan.

  22. By Farida Ariyani on Jun 26, 2008 | Reply

    ass…
    kalau orang menulis pastinya orang lain tak melihat dari status yang menulis tapi melihat dari hal apa yang dia tulis,jadi mahasiswa atau siapapun yang menulis itu wajar.
    wslm…

  23. By M. Yumni Rasyid on Jun 26, 2008 | Reply

    Menulis menurut saya sebuah kegiatan yang mengasikan, di sana kita dapat menumpahkan segala perasaan kita dan pikiran kita.saya dapat menyenangi menulis karena saya telah mengenalnya sejak mengikuti mata kuliah bapak yang memberi saya pngertian dan pemahaman tentang bagaimana caranya menulis dengan mudah.saya mengucapkan banyak terima kasih atas semua ilmu yang bapak berikan.Mungkin ini hari terakhir mata kuliah kita yakni mata kuliah Antropologi, semoga kita bisa bertemu lagi di mata kuliah lainnya.

  24. By Rumadi on Jun 26, 2008 | Reply

    selama ini yang saya tahu menulis adalah sesuatu yang sulit,tapi sekarang saya mulai menyadari ternyata tidak sesulit yang saya bayangkan selama ini.yang kita prlukan dalam menulis hanyalah keinginan untuk menuliskan apa yang menjadi keinginan kita tersebut.menulis adalah salah satu cara untuk membuktikan bahwa kita tidak lagi barada pada zaman pra sejarah….daripada cuma bisa ngomong aja kan lebih baik nulis.

  25. By hadi rahman on Jun 26, 2008 | Reply

    Memang benar kata bapak, menulis itu lebih banyak dan nyata manfaatnya dari pada hanya sekedar berdiskusi dan berdebat tanpa menghasilkan sesuatu yang pasti. Jadi menulis memang harus digalakkan dalam hal menanggung beban sebagai manusia yang telah masuk zaman sejarah.

  26. By Hamidah ulfah on Jun 26, 2008 | Reply

    Menulis,.
    Berbicara mengenai menulis, sebagai mahasiswa memang sudah sepantasnya kita menghasilkan sebuah tulisan yang bermanfaat baik itu untuk kita sendiri ataupun untuk orang lain. Namun kembali lagi kepada individunya mau atau tidak menulis.Jadi,tulislah apa yang mau ditulis, jangan pernah takut salah karena hasilnya tidak memuaskan, justru kita dapat belajar dari kesalahan itu agar mendapatkan tulisan yang berkualitas.Pepatah mengatakan kegagalan bukanlah akhir dari segalanya.

  27. By siti nurul kamila on Jun 26, 2008 | Reply

    menulis menurut saya awalnya memang sulit,namun setelah menyadari dan atas motivasi bapak tentunya menulis menjadi lebih mudah.Sebagai makhluk yang berpikir apa salah nya kita menuangkan apa yang kita pikirkan atau kita alami menjadi sebuah tulisan.

  28. By Rizal Hasannor on Jun 26, 2008 | Reply

    Banyak orang berpikir menulis adalah pekerjaan bodoh yang membosankan. Tetapi mereka tidak sadar bahwa dengan menulis kita sudah membuat suatu budaya yang positif dengan memaksimalkan segala rahmat yang telah diberikan ALLAH SWT. kepada kita. Jadi kira-kira siapa yang bodoh yaaa ????

  29. By DINA YULINDA on Jun 26, 2008 | Reply

    Alhamdulillah…Ewa membuat gebrakan baru ” memaksa mahasiswa khususnya yang mengambil MK antropologi menulis “…awalnya memang terkesan memaksa+ diselingiancaman..lumayan menakutkan, tapi itu hanya awal cerita, diakui atau tidak ancaman itu sekarang kita nikmati, bagaimana tidak dalam hitungan minggu kita akan melihat hasil karya kita. itulah bedanya saat mahasiswa di tuntut menulis dan berdiskusi, ketika berdiskusi dan selesi takkan ada sisa yang bisa kita tampilkan di esok hari, tapi saat kita menulis dan menjadi sebuah tulisan maka esok hari ataupun saat kita meninggal, maka tulisan itu akan slalu ada dan memaksa orang untuk ingat dngan kita saat melihat tulisan tersebut. setiap manusia pasti bisa menulis dan mmpu menulis semua hanya tergantung niat sang penulis inginmenulis atau tidak, terlepas dari apapun niat mahasiswa yang mengambil MK Antropologi untuk menulis, mereka telah membuahkan sebuah tulisan yang mudah - mudahan jadi langkah awal mereka membiasakan diri menulis.

  30. By Diah Eka Rini on Jun 26, 2008 | Reply

    ini adalah sebuah ide besar dan suatu terobosan baru bagi mahasiswa Fkip Unlam. jadi kesempatan ini jangan di buang-buang begitu saja.menulis itu memang mudah apabila kita menulis dengan niat yang tulus. terima kasih untuk bapa yang selama ini telah memotivasi kami untuk menulis sehingga bangga rasanya telah menjadi salah satu anggota team penulis buku ajar antropologi semoga ini menjadi pacuan semangat bagi saya untuk membuat karya tulis selanjutnya. dan semoga dengan semakin banyaknya buku yang di buat oleh para mahasiswa bisa menjadi penambah koleksi buku-buku di perpustakaan kita.

  31. By Riduan Saidi on Jun 26, 2008 | Reply

    Ass…
    EWT…hebat sekali. Mengalahkan teori menulis manapun.

  32. By santy Dwi Pratiwi on Jun 26, 2008 | Reply

    Mahasiswa menulis, harus dong. Sebagai kaum muda penerus bangsa Mahasiswa harus menjadi generasi yang berkualitas salah satunya dengan menulis. Dengan menulis mahasiswa dapat menuangkan pengetahuan dan pikiran yang dimilikinya. Tulisan – tulisan anak kecil seperti Diary Anne Frank dapat menceritakan dengan detail apa yang dia alami saat Perang Dunia II, kumpulan puisi Mattie J. Stepanek dapat memotivasi orang lain untuk mensyukuri kehidupan, apalagi mahasiswa yang umurnya jauh lebih tua dan pola pikirnya sudah dewasa, tentunya pasti bisa menghasilkan tulisan yang jauh lebih dashyat memberikan pengaruh bagi dunia, minimal bagi lingkungan di sekitarnya(kampus). Yang penting adalah adanya niat dan kemauan untuk menulis serta tidak pernah berhenti untuk terus belajar dan berusaha untuk menjadi inspirasi bagi orang lain agar dapat memberikan pengaruh baik bagi dunia.

  33. By aLe on Jun 26, 2008 | Reply

    ah, aLe masih kalah langkah dibanding mereka yg telah mengirimkan karya,.

    ***Ngak, wong tulisan Sameyan punya ciri khas … kan bukan Piala Eropa he he … kita punya filsafat, berbagai dan saling memotivasi menulis. Salam.

  34. By toni februari on Jun 26, 2008 | Reply

    hajar trus…portal-portal penghalang kreatifitas menulis..heee dengan senjata pembuktian..

  35. By Ganjar Muttaqin on Jun 26, 2008 | Reply

    Pada awalnya menulis bagi saya seorang mahasiswa merupakan hal yang sulit, akan tetapi setelah melakukannya ternyata berbanding terbalik.. begitu mudah begitu nyaman, menumpahkan isi dalam otak kedalam sebuah tinta cyber hehehehehhe

    ***Yoi, lanjutkan.

  36. By nurkhulis wardani on Jun 26, 2008 | Reply

    asal ada kemauan untuk berusaha kayaknya hal yang sulit bisa jadi mudah,seperti halnya menulis…

    ***Persis … dan lakukan, pasti jadi. Dijamin deh.

  37. By vida aulia rakhman on Jun 26, 2008 | Reply

    Kadang kita sering menganggap segala sesuatu yang belum dimulai sangat sulit,namun akhirnya kebiasaan itu berkurang seiring dengan motivasi dan dorongan pribadi serta keinginan yang kuat untuk memulainya.menulis adalah tempat curhat yang paling tepat.
    ————————————————–
    maaf ya pak tadi saya terlambat datangnya sehingga waktu nama dipanggil saya tidak ada ditempat.mungkin darisini saya bisa memberikan alasan saya kemarin mengalami kecelekaan sehingga cukup lama gk bisa ikut kuliah antropologi,smoga bapak bisa memaklumi.
    terima kasih…

  38. By Chairi Ramadhan on Jun 26, 2008 | Reply

    Terima kasih bapa…
    Bapa telah memberikan pengetahuan,panduan, dan mengajari bagaimana cara menulis yang baik…
    Terima kasih bapak untuk semuanya…

  39. By randy ahmad on Jun 27, 2008 | Reply

    Saya merasa sangat beruntung bisa terlibat dalam mata kuliah bapa, saya menjadi termotivasi untuk menulis, dan hal itu akan saya tingatkan terus. Ya walaupun saya merasa masih sulit untuk menulis, tapi saya yakin bila terus diasah, pasti bisa.

  40. By Setiyadie on Jun 27, 2008 | Reply

    Ass, EWA..
    Saya rasa juga begitu, intinya menulis lah apa yang ada dipikiran kita, jangan pernah mengeluh terlebih dahulu sebelum kita mencoba.. Akhirnya tulis lah untuk diri kita sendiri, apa yang kita pikir kan, kita lakukan adalah untuk kita. Ciptakan budaya membaca sejak kecil dan teruskan menulis mulai sekarang..ok

  41. By Muhammad Fauzi on Jun 27, 2008 | Reply

    Setiap manusia pasti dikarunia oleh Allah SWT otak, tinggal kita bagaimana memanfaatkan agar otak tersebut bisa berjalan sebagaimana mestinya. Otak dikasih Allah SWT untuk berpikir, berpikir cerdas, tanggap melihat sikon di sekitar. Kalau kita sudah menggunakan otak untuk berpikir, tentu akan timbul apa yang dinamakan menulis. Kadang-kadang kita masih saja memendam apa yang ada di dalam otak, hasil dari apa yang sudah dipikirkan tidak kita tulis, entah alasan apa yang menjadikan kita takut menulis, apakah alasan takut salah…?Alasan takut salah inilah yang sering Pak EWA sebut-sebut sebagai penghalang kita untuk menulis, Beliau sering mengumandangkan dalam kuliahnya “MENULIS ITU MUDAH, TULIS APA YANG MAU DITULIS, JANGAN TAKUT SALAH”. Tujuan dari itu semua tentu agar kita semua memanfatkan apa yang dinamakan otak untuk berpikir, setelah kita berpikir, lalu timbul motivasi untuk menulis.

  42. By henny suryaningsih on Jun 27, 2008 | Reply

    terkadang ingin memulainya saja yang susah dengan berbagai alasan tetapi sekarang setelah bisa menulis meski hanya satu dua kata malah terbalik.menulis lewat media yang seperti ini pun menjadikan kita lebih bersemangat lagi.semua kata sudah di gunakan untuk membujuk orang suka menulis,satu saja kesimpulannya adalah semangat….

  43. By Noor Fahriani on Jun 27, 2008 | Reply

    Assalamualaikum

    Pekerjaan ap saja yang dikira sangatlah sulit untuk dilakukan pasti akan sangat sulit apabila kita tidak mencobanya….
    apabila hanya dipikirkan saja pastilah sangat sulit, jadi berusahalah untuk mecobanya agar yang tadinya berpikiran bahwa menulis itu sangat sulit dengan mencoba menulis kita akan tau bahwa menulis tidaklah sulit…asal kita mau mencobanya dan tidak gampang menyerah dengan keadaan…

    Wa’alalikumsalam

  44. By M.Agustiannur on Jun 27, 2008 | Reply

    menulis memang mudah seperti yang sering disampaikan, tapi kesulitannya adalah menyampaikan tulisan kita keorang lain yang masih takut untuk dianggap jelek bahkan dianggap tulisan yang tak berguna. tapidengan tulisan kita memilikibukti karya sebagai manusia yang memiliki akal dan ilmu pengetahuan.jadi buat yang masih ragu untuk menulis mari kita coba untuk singkirkan keraguan itu dan mari buat karya tulis sebanyaknya!

  45. By Catur Widyastuti PH on Jun 27, 2008 | Reply

    Catur Widyastuti PH

    Kita dari SD sudah diajarkan oleh guru untuk bisa menulis, membaca, kemudian berhitung dan selanjutnya. Hingga ke Perguruan Tinggi itu tetap berlangsung. Jadi mengapa hal seperti menulis masih sangat sulit kita lakukan? Ayo mulai sekarang kita belajar menulis, menulis tanpa guru seperti yang sering diucapkan oleh Pa Ewa. Kita pasti bisa koq. Asal ada niat, kemauan, dan terlebih lagi ayo bertindak” dilakukan”. Semoga Majalah FKIP U-View dan Buku Ajar Antropologinya cepat terbit dan sukses untuk semuanya.

  46. By juwita sari on Jun 27, 2008 | Reply

    Awalnya jujur saya merasa berat waktu anda menugaskan kami untuk menulis buku. Akan tetapi setelah menulis ternyata ada rasa yang saya dapat, yaitu kebebasan, kebanggaan , serta kelegaan karena bisa juga saya akhirnya menulis. padahal sebelumnya saya selalu berfikir menulis itu sulit, dan mempusingkan,sehingga saya tidak pernah mau menulis.
    Satu ucapan saya untuk anda,terima kasih telah membuat saya mau memulai untuk melakukan hal baru yang dulu benar-benar saya takuti, yaitu menulis.

  47. By Puji Astuti on Jun 27, 2008 | Reply

    Mahasiswa menulis, menulis adalah suatu pengalaman yang tak terduga dan menakjubkan bagi saya. Pertama kali menulis rasanya kalau dipikir-pikir itu hal yang mustahil,namun ternyata setelah dicoba-coba ternyata menulis itu sangat-sangat menyenangkan terlebih lagi kalau buku yang kita tulis itu banyak diminati dan bisa dinikmati oleh pembacanya…jadi ga sabar niehhh mau bikin buku lagi…….

  48. By abdul rahman s. on Jun 27, 2008 | Reply

    menulis bagi saya sangat mengasyikan karena dengan menulis kita akan lebih mudah untuk mengetahui perkembangan ilmu pengetahuan. menulis memang mudah tapi sangat sulit untuk menyampaikannya kepada orang lain karena kita takut dengan apa yang kita tulis, takut jelek dan tidak berguna bagi orang lain. Tapi dengan adanya tulisan telah memiliki bukti bahwa kita sebagai manusia yang memiliki akal pikiran dan ilmu pengetahuan yang berguna bagi kita, bagi orang lain. semoga apa yang kita tulis bisa bermanfaat bagi kita dan semua masyarakat yang menanggapinya, hal ini akan timbul untuk berfikir sehingga timbul pula motivasi untuk menulis.

  49. By Irma on Jun 27, 2008 | Reply

    Mahasiswa menulis.Walaupun awalnya dirasa sangat sulit, namun setelah dilakukan…
    persepsi saya berubah, bahwa menulis itu sangat mudah. Menulis, tulis semua yang ada dipikiran kita dan tuangkan kedalam tulisan. Singkirkan semua rasa ragu dan tanamkan dalam diri kita bahwa menulis sangat mudah.

  50. By sondang on Jun 27, 2008 | Reply

    saya selalu tersenyum dan merasa tergetar dengan tulisan bapak ini. saya terharu betapa besar semangat menulisnya hingga bisa mempengaruhi banyak orang dan itu tampaknya tidak sia-sia, sebab memang yang dituliskan bapak ini adalah kebenaran tentang menulis begitulah menurut pendapat saja. bahkan ada yang sudah berhasil membuat buku. dan syaratnya cukup sederhana, siapa pun bisa, tulis, tulis dan tulis.

  51. By Ni Luh on Jun 27, 2008 | Reply

    Menulis memang sesuatu yang mudah tapi bagi saya menulis itu tidak mudah karena jujur saja baru pertama kali saya menulis untuk sebuah buku. Ini merupakan hal yang baru bagi saya. Walaupun menulis tidak menggunakan teori namun bagi saya untuk menulis harus belajar terlebih dahulu agar bisa mempertanggungjawabkan tulisan kita.

  52. By Linda Araini on Jun 27, 2008 | Reply

    Menulis bagi saya memerlukan semangat. Dengan Semangat, siapa pun bisa menulis asal dia mau dan melakukannya.Meskipun menulis dikatakan mudah dan tidak memerlukan teori tapi bagi saya, jika tulisan tersebut hanya untuk di baca oleh dirinya sendiri tak apa jika asala-asalan atau semaunya tapi jika tulisan tersebut nantinya untuk dibaca oleh orang lain maka haruslah memeperhatikan aturan-aturan tertentu agar tulisan tersebut tidak berdampak buruk bagi si penulis dan orang lain.
    Dengan adanya buku yang ditulis oleh mahasiswa semester IV dan VI semoga ini menjadi awal untuk mahasiswa mulai menulis sesering mungkin.

  53. By zulhajiah on Jun 27, 2008 | Reply

    Mengikuti MK.Anthropologi yang memahamkan betapa mudah dan pentingnya kegiatan menulis, terpahami juga bahwa penting memahami apa yang telah ditulis. Meresapi dan membelajarkan pada diri sendiri tentang apa yang telah ditulis.

  54. By wiwik norliyana s on Jun 27, 2008 | Reply

    Menulis itu gampang-gampang susah. Gampang jika kita memiliki niat dan semangat untuk menulis. Dan akan menjadi suatu hal yang susah jika kita selalu dibingungkan dengan berbagai alasan untuk tidak menulis.

  55. By Martina on Jun 27, 2008 | Reply

    Apapun pekerjaan di dunia ini kalau disugestikan sulit akan menjadi sulit. Tapi jika kita menganggap mudah dan berprinsif kita pasti bisa, maka semuanya pun akan menjadi mudah, termasuk pekerjaan menulis.
    Memang pekerjaan menulis adalah pekerjaan yang akan menghasilkan sesuatu yang konkrit. Sehingga kalau terdapat kesalahan akan ketahuan. Tapi jangan takut salah dalam menulis, bukankah kesalahan adalah pelajaran yang paling berharga ? Lagi pula belum tentu orang yang menyalahkan tulisan kita bisa menulis !!!

  56. By Asmia Ulfah on Jun 27, 2008 | Reply

    Menulis…menulis…
    Ya memang benar menulis itu mudah, tapi sebagian orang beranggapan menulis itu adalah momok yang “mungkin” menakutkan untuk dilakukan. Akan tetapi mahasiswa Pa EWA sudah membuktikan bahwa kegiatan menulis itu adalah perkara yang tidak terlalu sulit dilakukan. Bagi saya Pa EWA adalah inspirasi untuk menulis, karena Pa EWA lah saya punya BLog : http://www.miabu.wordpress.com.
    Terima kasih pa EWA, saya akan terus menulis, walau pun dalam tahap “belajar” sebagaimana pa EWA menulis.

  57. By NURIL NAJMI on Jun 27, 2008 | Reply

    Menulis dan menghasilkan karya tulis apalagi yang bermanfaat bagi semua orang serasa ada kepuasan tersendiri,,mungkin hal itu yang saya rasakan sekarang,ternyata menulis itu sangat mudah,kita tidak perlu takut,asalkan ada niat dan kemauan pasti ada jalan,,
    Bangga rasanya sudah bisa menghasilkan buku ajar sendiri,,sukses dan terimakasih buat Bapa yang sudah memotivasi kami untuk menulis,,tanpa Bapa mungkin menulis saat ini bagi saya adalah suatu hal yang menakutkan..

  58. By Akbar Alamsyah Hidayat on Jun 27, 2008 | Reply

    Sebelumnya yang saya tahu adalah bila sebuah peradaban itu dikatakan sudah memasuki masa sejarah atau modern, bila telah mempunyai bukti otentik yang biasanya berupa tulisan yang mana dapat menjadi bukti. jadi bila manusia belum punya tulisan, berarti dia masih dalam masa prasejarah, begitu pula dengan mahasiswa yang mana merupakan calon intelektual yang nantinya akan menjadi penerus cita-cita bangsa. Jadi mahasiswa harus punya tulisan, setidaknya walau hanya berupa sebuah artikel.

  59. By Helma Novieanty on Jun 27, 2008 | Reply

    Awalnya bagi saya sulit sekali untuk menuangkan sesuatu dalam bentuk tulisan,tetapi setelah dikerjakan mudah juga, Intinya adalah niat yang tulus, tidak beralasan apapun, paham serta ungkapkan apa yang kita lihat dan rasakan kemudian tulis, lalu jadilah sebuah tulisan.Sepintas memang sulit,kuncinya adalah banyak membaca,jangan pernah takut salah untuk melakukan sesuatu. Dan akhirnya pembuatan buku ajar ala mahasiswa mendekati rampung dibuat.Sebuah kebanggaan bagi saya,melakukan sesuatu yang (mudahan) sangat berguna untuk orang lain.Sungguh ini merupakan suatu yang sangat memotivasi saya untuk membuat tulisan walaupun masih “kecil-kecillan” karena saya ini masih dalam tahap belajar.

  60. By Arien Noor Rahman on Jun 27, 2008 | Reply

    Dulu bagi saya menulis adalah hal yang sulit. Tapi ternyata setelah melakukannya, menulis adalah hal yang mudah. Kapan pun saya bisa menulis. Dengan menulis saya dapat mengungkapkan segala sesuatu yang ada dipikiran saya. jadi, mulai sekarang ayo kita menulis !!!

  61. By Sri Wahyu Astuti on Jun 27, 2008 | Reply

    Menurut saya menulis memang mudah, tapi menulis yang benar-benar tersruktur & terkonsep itu sulit. Setiap orang pastikan menginginkan tulisannya di anggap bagus. Pemikiran seperti itu kadang – kadang yang timbul menghantui dan menjadi gak PEDE dengan apa yang sudah ditulis. Kritik dan saran dari orang itu sangat perlu guna sebagai koreksi namun kadang-kadang kritik dan saran tersebut menjatuhkan semangat.
    Mungkin untuk kali pertama orang mengenal bapak pasti mereka akan tidak suka mendengar cara bapak ngomong oleh karena itu orang-orang yang baru kenal itu haru sering-sering dong tatap muka, bahwa itulah cara bapak memotivasi mahasiswanya dan Alhamdulillah setelah mengikuti perkuliah dengan bapak saya mulai berani menulis itu juga awalnya karena tugas dan masih sangat malas melakukannya, tapi untuk sekarang bisa dikatakan suatu kegitan mengisi waktu luang selain jalan-jalan bahkan tempat curhat.oleh karena itu saya mencoba menulis dan mengirimkannya kekoran, dari tulisan-tulisan yang saya kirim tersebut ada bebepa diantaranya yang dimuat di koran dan itu merupakan suatu motivasi lagi selain yang diberikan bapak dalam perkuliahan. Tapi yang saya heran, saya itu pelupa jadi kadang-kadang ada tulisan saya yang belum rampung eh bikin lagi yang baru, ya ga bisa dihindari juga yang namanya mencari mood itu masih ada tertanam.

  62. By Akhmad fauji on Jun 27, 2008 | Reply

    Memang mnulis itu ga perlu teori macam2,tinggal nulis aja lngsung,karna menulis itu suatu praktek yg harus dilakukan agar terciptanya tulisan.Kalau hanya berteori saja tanpa memprakteknnya,tak akan tercipta suatu tulisn.

    Saya sebgai seorng maha siswa,memang merasakan sudah sngat bnyak pengethuan yang dimasukan,namun dalam kenyataannya pengethuan itu hanya sia2 saja kalau tidak dpraktekn

  63. By Siti Fatimah Ahmad on Jun 28, 2008 | Reply

    Tuan Ersis. Saya kagum…tuan betul-betul melakukan anjakan paradigma yang hebat kepada potensi besar para mahasiswa di UNLAM. Harap jejak itu akan saya susuli. Syabas buat semua Mahasiswa yang berkarya dalam blog ini.

    Jika anda dapat mengubah jalan fikiran anda. Maka dengan yang demikian, anda juga akan dapat mengubah jalan hidup anda. Teruskan usaha menjadi penulis yang berwibawa dengan ilmu sedia ada. Salam dari Malaysia buat semua Mahasiswa di FKIP UNLAM dari saya Mahasiswa Fakulti Pendidikan, Universiti Kebangsaan Malaysia.

    ***Yoi, disampaikan … mari bersalam-salaman; mari saling memberi; memberi kesenangan, pengharapan, dan berbagi hal-hal baik. Amin.

  64. By AKHMAD FAUJI on Jun 28, 2008 | Reply

    Memang menulis itu tidak perlu teori macam-macam,tinggal nulis aja langsung maka akan terciptalah suatu tulisan.karna menulis itu suatu praktek yang harus dilakukan agar terciptanya suatu tulisan.kalau hanya berteori saja tanpa mempraktekannya tidak akan tercipta suatu tulisan.

    Sebagai seorang mahasiawa yang sudah berusia 21 tahun,saya merasa sudah banyak sekali pengetahuan yang dimasukan keotak saya ini, dari SD,SMP,SMA, dan kuliah ini.Namun semuanya itu saya rasa sia-sia saja dan akan hilang dari ingatan saya dengan sia-sia pula kalau tidak dipraktekan dengan membuat suatu tulisan.Karena yang saya rasakan sekarang ini setelah mengikuti kuliah paEWA dan membuat beberapa tulisan,saya merasakan hal yang sangat berbeda.Karena setelah saya membuat tulisan,tulisan saya itu selalu lebih muda diingat dan selalu terekam diotak.

    Beda dengan cara-cara yang lain dalam belajar dikelas,hanya dengan berceramah dan membaca buku orang lain,pelajaran yang seperti itu cepat sekali hilangnya dari memory otak.

  65. By Hanik Puspitasari on Jun 28, 2008 | Reply

    Modal utama dalam menulis yaitu keinginan. Kalau sudah ada keinginan, rintangan yang ada gak jadi masalah. Yang kedua, yang bisa mendorong untuk menulis adalah adanya paksaan dari luar…

    Membuat buku ajar merupakan sesuatu yang belum pernah terfikirkan sebelumnya. Kaget juga waktu pertama kali melihat print out dari buku ajar antropologi yang akan diterbitkan… Ga nyangka aja!! Semoga aja proses buku ini lancar dan cepat jadi. Bisa menjadi motivasi bagi kami untuk lebih giat menulis dan menjadikan menulis sebagai kebutuhan. Amin….

  66. By Haryani on Jun 28, 2008 | Reply

    untuk membiasakan kebiasaan menulis, perlu proses,perlu tekad dan semangat yang kuat,dilatih secara kuntinue. Maka dari itu apabila aktivitas menulis masih “bolong-bolong”,berarti belum bisa dinamakan sebuah kebiasaan.Jadi masih perlu kekuatan dorongan baik dari diri sndiri maupun orang lain, karena komunitas atau sebuah lingkungan dimana seseorang tinggal juga dapat mempengaruhi pribadi dan kebiasaan.

  67. By Novi Ariyanti on Jun 28, 2008 | Reply

    Menulis memang memerlukan motivasi yang akan memunculkan semangat dalam diri mahasiswa. Pada awalnya saya tidak terlalu PD untuk menulis, tapi setelah mendapatkan bimbingan dari EWA, saya menjadi berani untuk menulis. Makasih banyak ya EWA, Trik-trik menulisnya memang jitu dech…

  68. By dharma setyawan on Jun 28, 2008 | Reply

    membaca comment dari sdr Akhmad Fauzi saya jadi teringat pepatah ..”bila ilmu adalah binatang buruan maka tulisan adalah tali pengikat yang paling erat” ya dengan tulisan, ilmu yang kita dapat akan lebih memanfaat untuk semua. semua “ide” (yang merupakan sumber kebudayaan)menjadi dapat tersampaikan dan diketahui oleh banyak orang.

    mahasiswa menulis merupakan suatu yang biasa, namun mahasiswa menulis yang terkonsep rapi dan berkarakter seperti Ewa itu luar biasa. sepakat dgn yang dikatakan sdri Sri wahyu astuti bahwa menulis terstuktur rapi itu agak sulit bagi pemula seperti kita-kita,namun ada trik untuk mengatasi itu yaitu apa yang disebut zero mind proces (ZMP)”ngutip juga sih dari EWA…”

  69. By a.muzain on Jun 30, 2008 | Reply

    kalau saya kasih saran bila bapa menulis sebuah buku,jangan lagi ada kata2 yang tidak enak.coba lihat al-quran,selain panduan hidup juga panduan bagaimana menulis itu yang baik.misalnya dalam kata2 bersetubuh ,dalam al-quran hanya bergaul dengan istri saja.misalnya bapa menulis buku dengan dengan tata bahasa yang baik.saya yakin orang akan berbondong-bondong membeli buku bapa,seperti keistimewaaan al-quran yang setiap orang mengaguminya karena tata bahasanya.

  1. 1 Trackback(s)

  2. Jul 17, 2008: Mahasiswa menulis « Dwisetiowati’s Weblog

Post a Comment