Spontan Menulis

25 June 2008 | Ditulis oleh: EWA |

Oleh Ersis Warmansyah Abbas

MUNGKINKAH menulis (secara) Spontan? Menulis serta merta, tanpa dipikir atau direncanakan? Bisa lah yaw.  Mohon permakluman, bukan bermaksud pamer atau riya, hal ini ditulis terdorong keinginan memotivasi. Banyak tulisan saya maujud spontan.
 
Biasanya, begitu ada pemantik, langsung menulis. Misalnya, ketika seseorang bertanya tentang mood menulis. Sungguh, tidak tahu ‘ujung pankalnya’ langsung jawab, langsung tulis.
 
Suatu kali, DR. Shadiqien memberi kuliah gratis. Tubuh kita punya pasukan pelawan penyeakit. Misal, melalui mulut virus masuk, ‘pasukan tubuh’ beramai-ramai menyerang. Kalau tubuh lemah, tidak sehat, barulah penyakit menang. Karena itu, jagalah kesehatan badaniah dan rohaniah, petuahnya.
 
Hal tersebut dirasakan ketika menulis. Ketika ada permintaan menulis persepsi masyarakat tentang menabung, entah dari mana, bahan-bahan berkumpul begitu saja di titik pada kuala otak. Formulasikan, dan … tulis. Jadilah tulisan.
 
Analogi lainnya pada bicara. Sebagai dosen, adakalanya pertanyaan mahasiswa aneh-aneh, tajam, dan ‘terpercaya’.  Jawaban meluncur begitu saja. Pernah ngobrol ngalor-ngidul? Pernalah. Apakah yang akan diobrolkan dipikirkan? Direncanakan? Tidak. Spontan.
 
Artinya, menulis pun bisa demikian. Bahkan, lebih ‘ringan’. Sebab punya waktu untuk berpikir. Berbicara? Jangankan berpikir dalam artian dalam, kalau perlu teman bicara tidak diberi kesempatan bicara, he he.
 
Kalau berbicara saja bisa spontan, menulis kenapa tidak? Jangan main anak tirikan potensi dong. Menulis itu berbicara pada aktivitas mengetik. Bedanya, apa yang dibicarakan ditelan ruang, tidak berbekas. Menulis?
 
Ada buktinya, ya tulisan. Karena ada bukti, kalau salah tidak bisa berkilah. Tertuliiiiiiiis. Wajar orang lebih suka bicara dari menulis, sebab kalau menulis akan ketahuan salahnya. Apalagi, menulis sopontan, he he.
 
Bagaimana menurut Sampeyan?
 
Banjarbaru, 25 Juni 2008.

  1. 21 Responses to “Spontan Menulis”

  2. By Donny Verdian on Jun 25, 2008 | Reply

    Menulis spontan? Waw! Berat Pak…
    Sespontan-spontannya saya, pasti setelah selesai semuanya ditulis mesti check betul-betul satu per satu…

    Kok ndak bisa langsung jadi dan langsung publish ya!??

  3. By suhadinet on Jun 25, 2008 | Reply

    Pak Ersis mengatakan:
    Kalau berbicara saja bisa spontan, menulis kenapa tidak? Jangan main anak tirikan potensi dong. Menulis itu berbicara pada aktivitas mengetik. Bedanya, apa yang dibicarakan ditelan ruang, tidak berbekas.

    =================
    Setuju,
    cuma kesulitan saya seringkali saat menuangkan dalam tulisan adalah keluaran yang kompleks dari pemikiran kita di otak tak terakomodasi seluruhnya oleh kemampuan jari-jari kita memencet tuts keyboard. Analoginya begini, pemikiran seperti arus air yang begitu deras, tapi lubang pengeluarannya melalui menulis itu sempit sekali. Akibatnya, banyak yang tak terkover oleh tulisan. Ngomong kayaknya tetap lebih mudah buat saya sampai detik ini, kecepatan mulut menyebut jumlah kata per satuan waktu lebih banyak.
    Ah..
    Inginnya bisa menulis lebih spontan.

  4. By Alex Abdillah on Jun 25, 2008 | Reply

    ASS..
    Spontan nulis….biasanya orang yg udah terlatih dlm hal penulisan, kecuali tulisan2 ringan saja.
    salut deh pak.

    ***Penemuan saja banyak yang spontan … masih ingat cerita Archimedes … Eurika eurika eurika?

  5. By achoey sang khilaf on Jun 25, 2008 | Reply

    ehm
    Pak, cerita yng saya tulis di blog biasanya spontan :)
    Mohon bimbingannya selalu!

    ***Wong tulisan bagus gitu … saya kan selalu baca postingan Sampeyan.

  6. By Wempi on Jun 25, 2008 | Reply

    Tulisan wempi yang traficnya tinggi biasanya tulisan spontan.

    ***Itu tandanya banyak disuka, menulis spontan lebih mudah dan asyik.

  7. By taufik on Jun 25, 2008 | Reply

    kalau saya, biasanya ide tulisan itu muncul “spontan”, kalau dah muncul langsung “diikat”, buat out line,tulisan apa yang terlintas di benak, tambah bumbu2 dari bahan bacaan,pengalaman,diskusi,surfing internet, pokoknya dari mana saja. Godok sampai “matang”, jangan sampai gosong,siap deh dihidangkan kpd “penikmat”sekalian. hehe, kayak resep masakan. Tabik pak Ersis…

    ***ya ya ya sama dong.

  8. By meiy on Jun 25, 2008 | Reply

    saya hampir selalu menulis spontan jadi kelabakan kalau situs gratisannya eror, suka males menyimpan tulisan hehe..

    tapi saya masih sering tersangkut alasan waktu (alasan di cari!), belum bisa menulis lancar jaya di tengah kesibukan bejibun kaya bapak, jadi malu.

    ***Ah ngaklah … pasti bisa spontan; ujung kompetensi adalah spontanitas (yang pas tentunya).

  9. By laporan on Jun 25, 2008 | Reply

    Bisa! tapi hanya pak ersis doang hehehe. Tapi kalau dipikir-pikir, kebanyakan mikir, jadi ngak terbit-terbit. hehehe

    ***He he banyak orang lain lebih bisa euy … saya menuliskan saja he he

  10. By leah on Jun 25, 2008 | Reply

    nulis spontan?
    kalo lagi marah, bete, sebel pasti bisa nulis dengan lancar dan tanpa edit.
    Tapi habis gitu langsung didelete heuehu

    ***Jangan dibuang, karya sendiri mBak; tulis aja ntar diedit … kan nyaman tu. Insya Allah kalau diedit hasilnya dahsyat.

  11. By Edi Psw on Jun 25, 2008 | Reply

    Tapi tidak semua orang bisa begitu kan, Pak. Pak Ersis bisa menulis spontan karena sudah terbiasa menulis. Tetapi saya, karena mungkin kurang terbiasa, membuat tulisan dengan spontan itu merupakan hal yang sulit.

    ***Dulu juga gitu, bahkan ngak bisa menulis he he. Terus melatih menulis, belajar menulis dengan menulis eh … jadi mudah, dan bisa spontan he he

  12. By Siti Fatimah Ahmad on Jun 25, 2008 | Reply

    Lega… ini yang terakhir untuk hari ini. Seperti meng’qadha’kan tulisan yang sudah beberapa hari tidak memberi maklum balasnya.

    Menulis dengan spontan sangat seronok. Apatah lagi jika menulis dengan melihat apa yang berlaku didepan mata. Terasa gatal pula tangan untuk terus menulis dan membina bahasa. Terus tulis tanpa perlu ditunda-tunda. Jika tidak idea akan hilang begitu sahaja. Rugi. Kerana itu… “wajib” ada pen/pensil dan kertas ditangan atau PDA yang hebat dan moden atau capai sahaja MP3 atau MP4 nya. Rakamkan suara kita dan kemudian baru lontarkan dalam tulisan. Mudah dan senang.Jangan susahkan diri dalam menulis. Tulis apa sahaja yang terlintas dihati, otak , mata dan apa sahaja bentuknya untuk dihasilkan dalam penulisan. Terima kasih tuan Ersis atas pencerahan ilmu tulisan tuan.Seperti setiap hari saya mendapat “nutriment” hasil bacaan dari tulisan tuan.

    Dengan hormatnya, jika ada kesudian dan masa lapang, dipersilakan tuan Ersis dan rakan kenalan pembaca dari negara Indonesia untuk ke laman blog saya yang baharu berusia 12 hari di http://websitifatimah.sosblog.com. Semoga kita dapat bersama meningkatkan ilmu dan bertukar-tukar fikiran. Salam hormat dari Malaysia.

    *** Yoi, makasih mBak, salam persahabatan dari Indonesia. Besok saya dolan-dolan ke blog Sampeyan. Punya blog baru ya? Selamat. Mari kita jalin persahabatan serumpun, sesama seiman, dan sesama manusia. Salam dari Indonesia.

    Hayo … teman-teman Indonesia, nich mBak Siti teman kita dari Malaysia … mari saling bersilaturahmi.

  13. By wawan halwany on Jun 25, 2008 | Reply

    Wah betul pak kayanya kalau kita paksain menulis bisa aja tuh. Ngak perlu banyak-banyak lah ulai dari catatan harian/kejadian sehari-hari kayanya apa saja pasti bisa jadi tulisan.

    ***Ya ya dari apa yang kita alami, kita pikirkan tulis … pasti jadi tulisn.

  14. By sawali tuhusetya on Jun 26, 2008 | Reply

    menulis spontan bisa saja, pak, hehehe :lol: tapi tergantung juga genre tulisannya, mau tulisan serius atau santai. kalau tulisan santai bisa ditulis sambil tiduran, pak, hehehehe :smile:

    ***Wah hebat … menulis ala sekarang kan ‘mengetik’, gimana tu tehnik ngetik sembari tidur he he

  15. By sluman slumun slamet on Jun 26, 2008 | Reply

    beberapa post saya juga spontan….:D

    ***Yap. menulis paling mudah ya spontan.

  16. By prayogo on Jun 26, 2008 | Reply

    Kalau saya belum bisa pak, spontan dalam menulis. Karena media untuk menulisnya belum punya. Dan memang setiap kali saya melihat sesuatu yang saya anggap aneh, pasti terlintas untuk menulisnya, rasanya gatel kalau melihat sesuatu tidak di tuliskan. Dan jadinya memang sekarang apa saja maunya di tulis.

  17. By Suci on Jun 26, 2008 | Reply

    Padahal hasil bahasa yang dihasilkan ketika berbicara itu melalui proses pengolahan terlebih dahulu. Kata-kata acak yang terkumpul kemudian diolah oleh otak yang kemudian menghasilkan kalimat-kalimat terstruktur yang mudah dipahami.

    Otak bawah sadar yang mungkin membuat berbicara menjadi hal yang sangat gampang.

    bedanya ketika menulis otak bawah sadar masih belum berperan secara penuh, jika tidak dilatih.

    Kalau berbicara bisa dilakukan pada tataran “kegiatan bawah sadar”, pasti menulis juga sangat bisa.

    Nah, bagian itu yang sulit.he

  18. By jengtika on Jun 26, 2008 | Reply

    ide penulisan sering muncul spontan. Kalo kelamaan nulisnya alias ditunda-tunda malah cepat hilang jugah :)

    salam kenal, pak.

    ***Salam kenal juga, ya menulis spontan.

  19. By Rizal Hasannor on Jun 26, 2008 | Reply

    menulis spontan. . .semua orang saya kira pasti bisa, asal mau. Tapi kalo nulis asal-asalan bisa gawat juga tuh. . .

  20. By nurkhulis wardani on Jun 27, 2008 | Reply

    takut salahnya ketahuan mungkin, jadi takut juga nulisnya, apalagi nulisnya spontan, bisa salah terus tu…^_^

  21. By A Wicaksono on Oct 17, 2008 | Reply

    Aku dah nyobain nulis spontan. Terutama kalau lagi ada masalah. Ternyata aktifitas ini bisa jadi obat stress lho. Konon, pak Hernowo, penulis buku “Mengikat Makna” yang terkenal itu menjadikan menulis “spontan” sebagai pengobatan alternatif. Wah, kalau gitu, kita harus sering-sering nulis spontan ya…

    **Persis … mari praktikkan.

  22. By septi wulandari on Apr 22, 2009 | Reply

    assalamualaikum..

    saya sangat senang menulis spontan,,

    tapi kadang saat dibaca lagi hasilnya kurang memuaskan,,

    bila tak keberatan,, maukah ajari saya untuk menulis lebih dalam??

    saling berkirim email ya pak,,

    terus ajari saya,,, karena saya hanya punya semangat yang takkkan pernah hilang

Post a Comment