Menulis Itu Ibadah
24 June 2008 | Ditulis oleh: EWA |Oleh Ersis Warmansyah Abbas
Menulis, pada pilahan positifnya adalah ladang ibadah; memberi, berbagi, dakwah, petuah, sampai pencerahan.
IBADAH. Kalau pada bab terdahulu tergambar betapa pilar-pilar menulis yang seharusnya dipancangkan mereka yang patut jauh dari harapan, pada bab ini dipapar pemahaman, bagaimana ‘pelit’ menulis direnggut dari dalam diri. Sangatlah mustahil menulis menjadi sesuatu menyenangkan, kalau filsafat menulis tidak didudukkan pada ranah memberi. Menulis, karena itu, bukan saja katarsis, tetapi berguna bagi orang lain, pembaca. Menulis, idealnya, untuk diri sendiri dan sesama.
Entah kenapa, mungkin akibat pindaian sadar bodoh saja, keinginan membaca menjadi-jadi. Ironisnya, semakin membaca, semakin sadar betapa bodohnya diri ini. Pada suatu perenungan, terlintas: Kalau membaca terus, berarti mengambil energi —entah dari mana— dan ketika terkumpul di kuala pikir, menandem lubuk rasa, medukung bentukan kepribadian, bukankah hanya menyalurkan nafsu-nafsu serakah diri? Hanya mengambil, tidak berbagi, tidak memberi. Puncaknya memaki diri, dasar egois.
Mula-mula mengaca diri: Menulis? Emang lo siapa? Pantaskah sudah menulis? Gimana kalau salah? Gimana kalau dihajar orang? Gimana kalau dikatatan sok tahu? Gimana? Gimana? Semua pertanyaan, dalam pikiran, bermuara pada: Nanti-nanti saja. Belajarlah dulu ini-itu. Ujung-ujungnya, tidak menulis.
Alhamdulillah, entah datang dari mana, seolah-olah ada bisikan langsung ke lubuk hati: Tulis saja. Paling-paling salah, kalau salah perbaiki. Belajar lagi, nulis lagi, lama-lama akan bagus kog. Mahasuci Allah SWT, menulis menjadi begitu lancar. Ada ketika, tanpa ‘berpikir’, … mengalir begitu saja. Asal ada pemantik, dalam hitungan menit, jadilah.
Tapi, ya itu tadi. Bukan tulisan hebat, bukan tulisan berbobot, bukan yang mantap. Pokoknya bukan yang sempurna seperti ‘dituntut’ teori atau didengungkan kritikus. Tulisan seadanya.
Ya, tulisan ala kadarnya. Plessss. E … kog ya ada saja orang yang nanggap, merespon. Lebih takjub, puluhan orang terinspirasi, termotivasi, mengambil manfaat dari tulisan-tulisan saya. Tulisan tidak bermutu saja bermanfaat. Makin bersemangat deh kitorang. Tulis, tulis, dan terus tulis. Buku tentang menulis saja, sudah 7 dalam bentuk draft.
Sungguh luar biasa. Saya juga tidak tahu, kenapa ketika banyak orang bersliturahim mengatakan: Terima Kasih Pak. Buku Anda —Menulis Sangat Mudah— sungguh menginspirasi, membangkit kesadaran yang terlelap, dan bla-bla. Tiba-tiba, munul kesadaran; inilah sarana berbagi, berbagi dari apa yang diambil dari ‘membaca’.
Sejak lama, nampaknya telah terjerembab menjadi orang yang merasa selalu kekurangan. Kurang ilmulah, kurang pede berbagi karena diri merasa miskin, kekurangan, seolah-olah tidak ada yang pantas dibagi. Mungkin, karena kebanyakan masukan pikiran-pikiran kapitalis; segala sesuatu diukur dengan kebendaan. Kini, dapat merasa menjadi orang kaya; walaupun bukan karya harta.
Bayangkan, punya sedikit kemampuan menulis, dapat berbagi. Kalau pikran kolot yang dipakai, sekalipun Doktor, kalau merasa kurang terus, yah kapan mau berbagi. Ini orang konyol berpengetahuan sekadarnya saya, bisa berbagi. Apa tidak hebat?
Saudara-saudara sekalian, apa yang ditulis tersebut bisa jadi sangat sederhana, tetapi tidak untuk pemicu kesadaran dan semangat. Ketika merasa kaya —kaya yang tidak riya dan sombong— bisa berbagi, menyelinap suntikan baru: Jadikan menulis sebagai ibadah. Ini yang luar biasa.
Jadi, kita boleh saja miskin materi atau jabatan, pangkat atau capaian akademis, namun bisa ‘kaya’ dan mampu berbagai. Ya, dengan sedikit kemampuan, langsung membaginya. Mudah-mudahan menjadi ibadah.
Mudah-mudahan Allah SWT merestui, menulis bukan saja baik untuk belajar, untuk katarsis dan kebaikan diri, tetapi juga bermanfaat bagi sesama. Moga saja.
Bagaimana menurut Sampeyan?
Banjarbaru, 19 Septemebr 2007.
****Saya heran, kog tulisan ini ngendon di daftar tunggu posting; apa ke save ngak ke publish atau terdobel. Dari bingun ya posting aja lagi. Mana tahu bermanfaat.













29 Responses to “Menulis Itu Ibadah”
By Anang Banjar on Jun 24, 2008 | Reply
Kalau menulis itu ibadah, Semoga saja yang menulis tulisan ini tidak “riya” dalam ibadah (menulis)… Kalau menulis terlalu atau masuk dalam tataran “riya” kayaknya sudah tidak masuk lagi dalam kategori ibadah… Wallahu’alam Bis Sawwab…
***Amin.
By laporan on Jun 24, 2008 | Reply
Memang beginilah yang disebut dengan ersis writing theory, konsiten. btw menulis bukan sport, sehingga tidak ada pemecahan record. Kalau ngak bisa best seller, nobel, atau lomba nulis tingkat RT, no problem. Minimal katarsis, bisa orgasme. huehehehe
***Katarsis tanpa orgasme atau ejakulasi dini he he
By wawan halwany on Jun 24, 2008 | Reply
Benar pak terkadang kita nulis tuh takut tulisan kita nggak berbobot. Padahal kan yang penting kemauan kita untuk menulis. Terkadang kita terlalu kaku atau terlalu banyak berpikir. Padahal mulai aja untuk nulis apa aja bisa kok jadi tulisan.
***ya ya nulis aja, itu lebih baik, ntar juga bagus. Salam.
By ika on Jun 24, 2008 | Reply
tadinya saya sering malu untuk posting diblog kaerna tulisan ndak berbobot,,sekarang udah lebih pede walau tulisan ga berbobot juga,,hehe
By Daniel Mahendra on Jun 24, 2008 | Reply
@ Laporan:
Ersis writing theory? Aha! Terdengar menarik, Mas Aryo. Hehe.
Tapi, ah, akhirnya ada juga menulis yang mengacu pada menyerahan diri pada tujuan Ketuhanan. Sehingga kita tidak ragu dan takut dalam merawikan hati dan pikiran kita dalam menulis.
By Alex Abdillah on Jun 24, 2008 | Reply
Ass.
yup..setuju banget Pak Ersis, inilah salahsatu kenapa sy nulis di blog..hehe
tentunya harus niat karena Allah.
By marshmallow on Jun 24, 2008 | Reply
@ika: sama tuh.
suka gak pede sama tulisan sendiri.
padahal yang penting kan nulis.
kalau ditanggapi alhamdulillah.
kalau dikritik insyaAllah konstruktif.
kalau gak dua-duanya, yang penting kan udah nulis…
By endang on Jun 24, 2008 | Reply
menulis……berbicara kepada diri sendiri dan kepada siapa yg mungkin lewat dan berhenti untuk membaca……menulis, manakala hati gundah karena tercetus barisan kata melayang-layang tanpa tahu siapa yang sudi mendengar barisan kata itu terucap lisan………menulis, itu melepaskan diri…….
By Diah on Jun 24, 2008 | Reply
Wah betul sekalai ..menulis itu ibadah..apalagi menulis seperti artikel diatas..bikin yang membaca seneng
By achoey sang khilaf on Jun 24, 2008 | Reply
coba cek postingan say Pak
apakah ini termasuk menulis yang ibadah?
Makasih sebelumnya
By monsterikan on Jun 24, 2008 | Reply
canggiH!
gue bukan orang relijius tapi tulisannya canggih
By bangpay on Jun 24, 2008 | Reply
menulis memang bisa jadi ibadah, sebagaimana menulis komentar juga bisa menjadi beribadah ataupun mandi dosa…
nagai pisau, bisa buat masak, bisa juga buat ngudel-udel isi perut orang…
nice writing!
By masenchipz on Jun 24, 2008 | Reply
menulis oh menulis… dah ibadah… dapet pahala… dapet dollar lagi om…. indah banget dunia ini…. hiks…hiks…
By Bule06 on Jun 24, 2008 | Reply
keinginan menulis selalu ada namun cara penyam[aian keluarnya sangat ditakuti karena masih was-was dengan apa yang sudah ditulis.
By sawali tuhusetya on Jun 24, 2008 | Reply
nilai ibadah menulis, menurutku loh, pak, lebih banyak ditentukan oleh kemanfaatannya bagi orang lain, bukan semata2 sekadar ingin menumpahkan uneg2 dan pemikiran.
By ahsani taqwiem on Jun 24, 2008 | Reply
semua kan bergantung niat dulu (sok tau)…
he…
semoga saja makin banyak tulisan yang dinilaiNYA ibadah. amin…
tabik!
By taufik on Jun 24, 2008 | Reply
menulis (bagi saya) adalah sebuah proses untuk menjadi pekerja sejati, pembelajar sejati, dan pecinta sejati. Dan tiga peran ini, jika saya kaitkan dengan duniawiyah, maka berfungsi sebagai warisan setelah mati. Sebaliknya, jika saat kaitkan dengan ukhrawiyah, maka berfungsi sebagai bekal setelah mati. Oleh karena itu, menulis bagi saya adalah warisan sekaligus bekal untuk menjemput kematian.
By Robert Manurung on Jun 24, 2008 | Reply
pokoknya : harus nulis hehehe…
By nurkhulis wardani on Jun 24, 2008 | Reply
betul bos ae….
berbagi dalam hal kebaikan itu ibadah,,
By meiy on Jun 24, 2008 | Reply
saya juga sering merasa bodoh tiap kali mbaca buku baru pak
mungkin sama juga dg memberi harta, kalo nunggu kaya dulu, sapa yg jamin ya kita kaya raya, berilah semampu kita, tak materi, ada fikiran, tenaga. ya gak pak..
By enzha21 on Jun 24, 2008 | Reply
salam kenal bang …..
betul apa yang ditulis abang…. semakin banyak membaca maka semakain banyak kita tahu… semakin banayk tahu baerarti semakin banyak ilmu yang telah kita serap. saat itulah kita akan merasa begitu kecil dan bahkan sangat kecil didunia ini, kita gak akan mampu lagi tengadah walau sejenak… saat seperti ini mungkin akan bingung sebenarnya kita siapa? dan lagi dimana? mau ngapain? tapi berkat ilmu yang kita telah serap, kita mampu berjalan dijalan yang benar dan takkan kesasar.
By suhadinet on Jun 24, 2008 | Reply
Kata Pak Ersis: “Kalau membaca terus, berarti mengambil energi —entah dari mana— dan ketika terkumpul di kuala pikir, menandem lubuk rasa, medukung bentukan kepribadian, bukankah hanya menyalurkan nafsu-nafsu serakah diri? Hanya mengambil, tidak berbagi, tidak memberi. Puncaknya memaki diri, dasar egois.”
=============
Membaca saja tak cukup sepertinya ya Pak. Harus dilanjutkan dengan menulis. Saya setuju dengan Bapak.
“Dengan membaca, kita membuat otak membentuk “lubang-pori” keingintahuan yang baru. Makin diisi lubang-pori itu, lubang-pori baru yang lebih banyak jumlah akan muncul. Makin banyak membaca, makin merasa bodoh kita,makin merasa banyak yang tidak diketahui- karena lubang-pori itu semakin banyak jumlahnya. Otak bagaikan spons yang siap menyerap apa saja. Tapi ada saat-saat tertentu di mana spons itu menjadi jenuh dengan air ilmu pengetahuan. Hingga kita peras spons jenuh itu dengan cara membaginya lewat kata dalam diskusi dan tulisan. Spons itu akan kembali fresh dan siap melahap apa saja lagi yang disuguhkan kepadanya.
===========
Berbagi membuat kita juga mengelaborasi kembali pemahaman yang kita peroleh sebelumnya. Benar kata agama, dengan sedekah tak kan kita menjadi miskin. Justru menjadi semakin berlipat-lipat kaya.
Terimakasih
By Atah on Jun 24, 2008 | Reply
sangat setuju, bang!!
tapi saya masih belum bisa nulis dengan tema2 yang mengajak pada kebaikan…
kebanyakan tulisan konyolnya!
tapi, tetap saya usahakan agar ada esensi yang bisa diambil pembaca…
makasih tulisannya, bang!
By Suci on Jun 25, 2008 | Reply
sekali lagi semua perbutan kan tergantung pada niatnya. kalau dengan nilai baik dan untuk bermanfaat bagi orang lain, InsyaAllah bernilai ibadah. Walau didalamnya, tidak sengaja dimuati oleh kalimat-kalimat yang mungkin saja punya potensi untuk disalahartikan.
Nah, pada tataran pembaca, hal itu bisa jadi sangat relatif. Tapi, semoga apa yang sudah diniatkan menjadi ibadah, tetap akan memberi nilai positif dan manfaat bagi banyak orang lainnya.
***Tapi, kalau niat baik melulu tanpa ditrealisasikan kurang afdol juga kan?
By Siti Fatimah Ahmad on Jun 25, 2008 | Reply
Melalui penulisan kita dapat merubah manusia yang tidak dapat dirubah melalui lisan. Kerana dengan kata-kata tulisan itu kita dapat memainkan rona dan lenggok bahasa yang baik, cantik, harmoni, indah dan menyenangkan. Ya….yang pastinya kertas itu tidak punyai wajah dan rupa yang boleh menceritakan perilaku orang yang berbicara. maka si pembaca akan membaca dengan mata hatinya. Perubahan akan berlaku secara beransur-ansur. Berbeza dengan manusia yang saling berhadapan akan tampak bahasa badan dan gerak lakunya. Kesannya..mungkin kurang berhasil. Lalu… tulisan juga berperanan menjalankan dakwahnya.
Contohnya….Para Nabi dan rasul, para sahabat dan pemerintah Islam terdahulu dan sekarang (jika ada) sentiasa mengirimkan warkah tulisan mereka kepada pemerintah negara-negara bukan Islam untuk seruan Islam. Maka menulislah untuk pencerahan hati orang lain. Moga kita dapat pahala ibadahnya.
Aduh….tuan Ersis, seperti berlari-lari saya untuk mengejar tiap tulisan tuan yang saya baca setiap hari tapi belum ada masa untuk memberi respon kerana saya sibuk dengan bahan tulisan saya sendiri. Semuanya ditulis hari ini kecuali Ejakulasi Menulis….naik seram bila membacanya. Salam dari Malaysia.
***Ha ha … Oh ya, komen awal saya bersetuju … Nabi dan Rasul telah meneladani, kini tinggal kita lakukan, menulis, menulis, dan menulis.
By sondang on Jun 25, 2008 | Reply
contohnya saya pak, bisa belajar dari tulisan bapak yang sederhana dan bisa memotivasi saya untuk mulai menulis, setiap hari saya jadi rutin menulis. kalau tidak untuk dibaca orang lain ya belajar menulis untuk mengubah ide-ide dalam kepala menjadi tulisan.
dulu memang saya sudah bisa menulis beberapa cerpen
tiba-tiba saya tidak bisa menulis lagi selama 3 tahun
saya baca buku-buku tapi saya makin tenggelam dan merasa tertekan sebab ada terus dorongan dari dalam diri untuk mulai menulis tetapi tidak tahu mau menulis apa, takut salah tidak sesuai dengan buku teori-teori menulis tadi dan akhirnya tidak bisa menulis apa-apa.
saya jalan-jalan ke gramedia dan menemukan buku bapak dan saya mencoba tanpa banyak teori seperti yang bapak usulkan dan ternyata bisa dan semakin hari saya semakin asyik menulis.semakin banyak menulis ide pun semakin banyak ingin dituliskan.luarbiasa!
***Waduh … saya bangga nich sama Mas Sondang. Asyik menulis. Asyik. Mari terus menulis, santai saja, enjoy saja.
By david pangemanan on Oct 25, 2008 | Reply
KENDARAANK KREDIT HILANG VERSI PT. TUNAS FINANCE
Jika Anda membeli kendaraan dengan cara angsuran dengan menggunakan jasa pembiayaan PT. Tunas Finance (PT. Tunas Financindo Sarana), maka disarankan Anda ekstra hati-hati menjaga kendaraan Anda agar jangan digondol maling. Sebab jika kehilangan terjadi maka Anda akan mengalami hal-hal sebagai berikut:
1. Anda harus melunasi seluruh angsuran (pokok hutang dan bunga) yang belum jatuh tempo.
2. Jumlah penggantian yang tidak jelas dari Perusahaan Asuransi, karena hak Anda untuk melakukan negosiasi harga penggantian telah diambil alih oleh PT. Tunas Finance.
3. Perusahaan Asuransi (khususnya PT. Asuransi Wahana Tata) akan membayar klaim dengan menggunakan lebih dari satu kuitansi pembayaran. Hal ini dimaksudkan agar memudahkan PT. Tunas Finance melakukan penggelapan besarnya dana penggantian.(memfasilitasi penggelapan?)
4. Sebesar apapun DP maupun prestasi angsuran yang telah Anda keluarkan, Anda hanya akan menerima penggantian yang besarnya tidak lebih besar dari nilai sekali angsur.
5. Anda tidak perlu mengharapkan perlindungan hukum karena kemampuan Penyidik (khususnya Poltabes Surakarta) menafsirkan Undang-Undang No. 42 Tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia, ternyata sangat subyektif.
Demikian kasus empiris saya, semoga bermanfaat.
david.pangemanan@yahoo.com
***Wow … berat tu
By refnedi on Mar 8, 2009 | Reply
tul tu,saya sesampainya nanti dirumah langsung ambil pena,buku dan langsung nulis biar dapat pahala
By Jannerson Girsang on Apr 15, 2009 | Reply
“Jadi, kita boleh saja miskin materi atau jabatan, pangkat atau capaian akademis, namun bisa ‘kaya’ dan mampu berbagi. Ya, dengan sedikit kemampuan, langsung membaginya. Mudah-mudahan menjadi ibadah”. Dua kalimat ini sungguh-sungguh menyentak hati. Orang berani bersuara, dan memotivasi suara orang lain. Salut sama pak EWA.
Belajar Menulis setelah Tua!. Mohon bimbingan.