Waras Menulis

22 June 2008 | Ditulis oleh: EWA |

Oleh Ersis Warmansyah Abbas

MENULIS adalah muntahan ‘aktivitas diri’, paduan antara pikiran, perasaan, dan atau pengalaman, adonan picuan ide dalam bentuk kata-kata, ungkapan. Siapa yang tidak mampu berpikir, tidak punya perasaan, tidak memiliki informasi, tidak akan pernah mampu alias waras menulis.
 
Logika jangan dibalik, yang tidak menulis tidak mampu berpikir, misalnya. Yang pertama sistem pengolahan pengetahuan, dan kedua ‘pengeluaran’ pengetahuan. Apa pun alasan dan kondisi obyektifnya, untuk yang pertama, semua orang waras pasti memiliki, dan yang kedua, tidak setiap orang waras, waras menulis.
 
Waras dalam pengertian: sehat, sehat rohani dan jasmansi, Insya Allah milik kita semua. Kalau tidak waras, Sampeyan tidak akan membaca tulisan ini. Tetapi, waras menulis belum tentu pegangan setiap orang.
 
Menulis —bentuk aktivitasnya mengetik— dalam artian melahirkan pikiran atau perasaan, adalah aktivitas orang waras. Sebagai orang waras, punya potensi besar waras menulis. Waras dalam arti kejiwaan tidak selalu berkorelasi signifikans dengan menulis.
 
Dengan kata lain, modal waras rohani dan jasmani akan lebih bagus menjelma menjadi waras menulis. Maaf, banyak diantara kita yang —sekali lagi, maaf— tidak atau kurang waras menulis. Menulisnya sakit alias tidak sehat.
 
Merwaraskan menulis, berarti memulai dari awal. Menangguk informasi yang benar, membiasakan mengelola informasi, entry behaviore secara benar, dan melatih melahirkan pikiran dan perasaan secara benar. Kenapa tidak waras menulis?
 
Bisa jadi sistem penerimaan informasi atau pengelolaannya tidak sehat hingga susah ‘dipanggil’ ke luar. Atau, penerimaan dan pengelolaan tidak sakit, sehat saja, namun kurang sehat dalam pengeluaran. Yang terakhir memerlukan latihan. Ya, dengan menulis.
 
Ibarat penyakit, kalau lecek, apalagi digerogoti tumor,  bahaya bo. Berkehendak menulis, yang ke luar alasan-alasan tidak menulis. Maunya menulis, yang dikeluarkan alasan. Ketiakwarasan (menulis) karena kanker alasan sudah begitu mencengkeram. Stadium X, kali aje.
 
Bagaimana menurut Sampeyan?
 
Banjarbaru, 22 Juni 2008.

  1. 14 Responses to “Waras Menulis”

  2. By realylife on Jun 22, 2008 | Reply

    setuju banget pak , menulis waras , bole juga nich
    maaf saya baru bisa mampir ke rumah barunya
    kira2 kapan ya saya juga punya rumah baru?

    ***He he kan kapan, tinggal bikin, boyongan he he. Salam.

  3. By marshmallow on Jun 22, 2008 | Reply

    seneng banget pak ersis sudi mampir ke rumah saya.
    masih hangover nih saking senengnya.
    menurut artikel ini, waras menulis terkait sistem input, pengolahan dan output.
    ibarat tubuh manusia, kalau makan melulu (input) tapi gak bab (output), jadi penyakit dong ya, pak?
    makanya musti nulis… (daripada ngomel)

    ***Ya, karea senang dan senang saya ke blog Sampeyan he he. Salam.

  4. By laporan on Jun 22, 2008 | Reply

    Bisa jadi, si penulis aslinya waras tetapi karena info yg masuk ke otak hal-hal atau sumber-sumber yg tidak waras! Akhirnya ketularan tidak waras, dan menulis tulisan yg dibaca oleh orang yg tidak waras juga. Jadi repot nti. hehehe.

    ***Jadi, ngak waras menulis he he

  5. By taliguci on Jun 23, 2008 | Reply

    Kira-kira menurut pak ersis, bentuk ngga waras menulis seperti apa ya pak? Apa nggak terlalu subjektif pak??

    ***Ngak waras menulis kan ngak sehat, nulisnya ngak tuntas, mandeg, ngak jelas, dan sejenisnya. Ngak ngak subyektif kog, soalnya dapat dipindai dari tulisan he he (sila korek mana tahu emang ngak tepat he he).

  6. By gempur on Jun 23, 2008 | Reply

    Ya iyalah… hehehehehe… kanker alasan sudah menggerogoti setiap bidang kehidupan.. halah… :D

    ***Kalau aktivitas menulis, baik aja kali ya (mana tahu). Salam menulis.

  7. By sawali tuhusetya on Jun 23, 2008 | Reply

    semoga saja bangsa ini masih banyak orang yang bisa “waras menulis”, pak ersis, sehingga banyak pemikiran kreatif yang bisa di-share kepada orang lain. btw, kira2 saya masih “waras menulis”, nggak, ya, pak, hehehehe :smile:

    ***Amin-amin. Konon, menulis pertanda meninggalkan status manusia prasejarah dan manusia purbakalah, apa betul pak?

  8. By Jenderal on Jun 23, 2008 | Reply

    wah kalau waras menulis , saya jadi binung…

    seperti seorang pencipta lagu atau penulis puisi yang mendapat ilham untuk menulis bait kata yang indah justru saat ia sedang “tidak waras”…

    ***Waras dalam pengertian ini pada menulisnya, bukan pada ‘kondisi’ orang yang menulis dalam arti psikologi dan raganya. Waras diri belum tentu waras menulis.

    piye jal nek ngono kuwi…?? :)

  9. By ai on Jun 23, 2008 | Reply

    menurut saya semua orang bisa menulis, pernah saya baca satu buku yang mengajarkan bagaimana cara kita supaya menjadi seorang yang handal dalam menulis, selalu tuangkan semua hal pada semua keadaan, misalnya ada daun jatuh tulis, ada hujan tulis, sedang bahagia tulis…pokoknya semua kejadian yang terjadi pada kita bisa kita jadikan untuk bahan menulis, dengan itu kita bisa terlatih dalam menulis dan wawasan kita bertambah…^^

    ***Siiip ai. Tetapi, tidak semua orang mau mengasah kemampuannya itu, banyak yang mengabaikan. it yang kita motivasi (kalau mau). Salam.

  10. By avartara on Jun 23, 2008 | Reply

    Kadang kita harus berjuang menghadapi “kanker” ini,….pernah juga saya mengalami,…tapi selalu digelitik blogger lainnya

    ***Cara efektif, bilo takui jo paluru datangi sanjatonyo

  11. By taufik on Jun 23, 2008 | Reply

    mudahan saya termasuk orang yang “waras” itu…

    ***Amin itu perumpaan aja kog, jangan diseriusi he he

  12. By meiy on Jun 23, 2008 | Reply

    hihi lucu aja bapak ini, stadium x, parah kali tuh pak :D

    ***Kira-kira sudah lewat kalau stadium segitu, tapi … kalau dibaca eks lain lagi artinya. Salam. bagaimana Medan punya cerita?

  13. By sondang on Jun 23, 2008 | Reply

    rutin menulis setiap hari membuatku tetap waras, sekarang aku merasa kehilangan sesuatu jika saja tidak bisa menulis hari ini.menulis terus, semakin banyak menulis ide terus berdatangan…menulis itu ibarat pancing yang memancing ikan ide bermunculan. tidak menulis artinya tidak punya pancing tuk mengail ide.

  14. By nurkhulis wardani on Jun 24, 2008 | Reply

    iiiih…. malu jga kalau tergolong orang-orang yang tidak waras menulis…
    hehehehe…..

  15. By Siti Fatimah Ahmad on Jun 25, 2008 | Reply

    Menulis dalam keadaan waras menjadikan kita dapat berfikir secara stabil. Tidak akan berlaku “pengkhianatan” dalam penulisan yang boleh menjadikan orang lain duduk seperti dalam “bara api”. Kewarasan tersebut menampilkan kebenaran dan sikap sedar diri bari orang yang membacanya. Kalau orang tidak waras menulis….ternyata disitu perlu juga dilihat dari sudut kesenian penulisan cara itu. Ia amat menarik untuk dibuat kajian.

    ***Setuju …

Post a Comment