Kompor Menulis
21 June 2008 | Ditulis oleh: EWA |Oleh Ersis Warmansyah Abbas
“AH, jadi panas dikompor-kompori terus (menulis) oleh Om EWA”, tulis seseorang. Pada lain kesempatan dia menulis, “Bos, saya, walaupun habis ‘murtad menulis’ kini sadar lagi. Tapi begitulah, ‘ibadah menulis’ belum istiqomah. Mohon bimbingannya. Biar jangan murtad menulis lagi.
Kompor menulis dapat diartikan memicu, memotivasi, atau membangkitan gairah menulis. Arti kamusis kompor (KBBI:1988: 453): perapian untuk memasak yang menggunakan minyak tanah, dan sebagainya untuk bahan bakar. Dalam kaitan menulis tulisan yang membuat seseorang tergairah menulis.
Serial tulisan saya perihal menulis nampaknya bersifat komporis; mengompori, memanas-manasi. Seorang teman mengistilahkan motivator. Di banyak blog ditulis sebagai provokator. Ah, mbuh.
Ya, secara sadar mengayun langkah berkehendak berbimbing tangan dengan siapa saja mengairahkan menulis. Di ranah ‘darat’ tergolong gila-gilan kampanye menulis. Sampai-sampai membentuk KP EWAMCo.
Kenapa ngompor-ngompori? Padahal, pemerintah, Pertamina, lagi tidak senang dengan kompor berbahan bakar minyak tanah? Pemerintah lagi panik, dan membuat panik rakyat dengan elpiji, tidak karu-karuan.
Dalam kehidupan, sadar atau tidak, banyak hal, beragam peristiwa, dari yang wajar sampai menghina yang memacu adrenalin, membangunkan ‘the sleeping giant’, otak kita untuk aktif. Menulis di atapnya. Ha?
Dengan menulis kita berpikir. Dengan menulis membaca terpelihara. Daya pikir dipergunakan, perasaan dirawat, penyakit-penyakit hati dan kerak-kerak pikiran terkikis, amarah reda, hal-hal tidak tersampaikan lisan bisa ditulis. Pokoknya, banyak hal positif dapat dipetik.
Katakanlah ingin banyak orang meraih manfaatnya. Lagi pula, semoga kawula terbius menulis. Konon, manusia purbakala, manusia prasejarah, tidak menulis, tidak pandai menulis. Kita kan bukan manusia prasejarah. Plus, menulis mengembangkan peradaban. Jadi, mari menulis, dan terus menulis. Menulis on the track.
Bagaimana menurut Sampeyan?
Banjarbaru, 21 Juni 2008.













17 Responses to “Kompor Menulis”
By Fien Prasetyo on Jun 21, 2008 | Reply
bagus di’komporin’nulis,asal ga meleduk aja tu kompor…keep on writing @salam
By sawali tuhusetya on Jun 21, 2008 | Reply
memabngunkan raksa tidur agaknya memang butuh semangat dan pemicu adrenalin yang kuat, pak ersis, hehehehe
tapi bener banget, pak, menulis adalah aktivitas kreatif utk memberangus kerak2 yang ada dalam syaraf otak itu. *hih sok tahu*
***Mengkis dan membangunkan syaraf agar tetap berkembang (kali aja).
By ichanx on Jun 21, 2008 | Reply
bagusnya… jadi kompor menulis sambil megang pecut.. orang yang gak nulis, pecut… wakakakak
***Wakakaka
By laporan on Jun 21, 2008 | Reply
istilah lain si api biru, pak ersis
By Atakintunk on Jun 21, 2008 | Reply
tak kirain kompor meleduk!!
hhehehe
***Ledukkan saja dengan menulis he he
By Septha on Jun 21, 2008 | Reply
Jangan cuma dikompori aja pak, Bakar aja sekalian, biar masak, hehe,, biar semua orang terpacu n semangat untuk menulis,, kadang khan hidup ini perlu dipaksa.
***Kompor itu yang membakar, kan? Selamat terbakar.
By zoel on Jun 22, 2008 | Reply
aku juga hanya ingin menulis
***Yap, jangan hanya, tapi … menulis, menulis, dan terus menulis.
By budimeeong on Jun 22, 2008 | Reply
Pagi ini ulun dapat curhat dari Pa ADE YOLANDO di blog http://budimeeong.wordpress.com tentang Hasil UAN anaknya..kira-kira seperti ini.
“Saya hanyalah segelintir orang tua yang sedang berusaha mencari nilai hasil UAN anaknya. Ternyata tidak pernah ada pengumuman mengenai situs pengumuman hasil uan.
Ketika kami mencoba untuk mengakses situs SMP dimana anak kami bersekolah ternyata situs tersebut tidak dapat diakses karena keterbatasan kemampuan server dan bandwidth di sekolah tersebut. SMPN 11 adalah salah satu SMP yang saya yakin memiliki fasilitas yang lebih baik dari pada SMP yang ada di pinggir jakarta. Bila situs SMP 11 saja mengalami kesulitan untuk akses apalagi SMP lainnya.
Semoga Tuhan mengampuni para pembuatan kebijakan yang mungkin terlalu empuk untuk duduk dikursi sehingga lupa untuk turun kebawah melihat kesiapan yang ada.
Sekedar informasi bahwa setelah gagal mencoba mengakses dari rumah dengan menggunakan public bandwidth, saya mencoba menggunakan dedicated bandwidth dengan besar 256 KBps namun ternyata masalah yang ditemui tetap sama. Semoga saja ketidak bisaan situs tersebut diakses tidak disalah gunakan dengan merubah data yang ada.
ps : sms gatewaynya omong kosong karena setelah dicoba ke 3977 tidak pernah juga ada response.”
mudah-mudahan menjadi KOMPOR MENULISnya pa EWA. terima kasih
***Ya ya … apinya semakin membiru.
By t i n i on Jun 22, 2008 | Reply
Kompor harus sering ganti sumbu dan bahan bakarnya cukup, supaya apinya tetap biru dan merata.
Bahan2nya sebagai berikut : ..
*halah, kok ya jadi koki?
***hayya … kalau kompor menulis justru ngak diganti sumbunya, tinggal pantik … jreng, biru apinya.
By achoey sang khilaf on Jun 22, 2008 | Reply
Pak saya sedang mencoba membuat cerita
coba koreksi !
makasih
***Jangan pernah mencoba he he. Lakukan saja. Apa yang bisa saya bantu?
By febry on Jun 22, 2008 | Reply
Yap..Kompor menulis..Biar panas terus.Asal jangan “panas-panas tahi ayam” aja menulisnya.hee..he..
***Waduh seperti apa sih ‘panas-panas tahi ayam’? Pingin ngarasain deh …
By suhadinet on Jun 22, 2008 | Reply
the sleeping giant…
otak kita…….
Ya katanya kemampuan otak yang kita pakai baru seper berapa gitu dari potensi sesungguhnya…katanya para ahli..
besarnya segunung dalam lautan…
yang kita gunakan cuma puncaknya yang muncul di permukaan.
***Yap, mari bangukan Si Raksasa yang terlelap dengan menulis. Mari, mari, menulis.
By kucluk on Jun 23, 2008 | Reply
tolong pak saya dikompori, biar bisa semangat lagi menulis..
***Yap, siaaaaaaaaaaaaaaaaaap. Menulis, menulis, dan terus menulis.
By abdee on Jun 23, 2008 | Reply
asal ngomporinya nggak pake blue energy aja…
bikin ribet.
***Mudahan tidak, blue writing kali aje … dan yang satu ini nyata-nyata ada lho, bukan boong-boongan.
By oeddin on Jun 25, 2008 | Reply
Mas, bagaimana agar kompornya terus nyala ?
***Nah, saya tulis dipostingan terbaru; jangan mikir, jangan membaca, jangan bertanya; sulut saja sumbu pemantik tulisan. Bingung? Ngaklah kalau baca tulisan terbaru saya.
By oeddin on Jun 25, 2008 | Reply
Selain perlu di kompori mungkin juga perlu orang lain sebagai provokator agar kita terpacu menulis …
***Jadikan saja provokatornya he he … banyak kan tulisan saya yang ngompori (he he).
By meiy on Jun 25, 2008 | Reply
kompor provokator. yap betul itu pak, tapi kalau positif kenapa enggak?
***He he provokator nich ye