Selalu Menulis
20 June 2008 | Ditulis oleh: EWA |Oleh Ersis Warmansyah Abbas
SERING, senangtiasa, terus menerus, atau melakukan aktivitas menulis tentu tidak bisa dilakukan siapa saja. Tetapi, kalau dilatih, dibiasakan tentu buakan hil yang mustahal. Sebab, menulis pada dasarnya pekerjaan menyenangkan, menyehatkan, membahagiakan, dan terutama melempangkan pikiran dan perasaan.
Jumat, 20 Juni 2008, pukul 00.20 saya bertanya kepada Toni Februari yang sedang rehat menyeting buku ajar Pengantar Antropologi. “Ton”, kata saya: “Coba ingat satu kata”. Dia menjawab: “Selalu”. Selalu?
Susah memaknai pilihan tersebut dalam kaitan analisis psikologis. Tapi, sudahlah. Saya ingin membuktikan bahwa ‘menulis’ dapat dimulai dari apa dan mana saja. Saya memilih lead selalu untuk judul tulisan ini.
Dalam kandungan menulis, selalu, tidak putus-putus tentu bukan berarti dalam arti seperti bernafas. Selalu menulis dimaknai dalam kandungan rutin. Artinya tidak abai, tidak menulis bak menunggu hari Lebaran, sekali setahun. Tetapi, menulis secara teratur. Dalam satu tulisan saya meamsalkan menulis bak sholat. Teratur, terus-menerus, dan dengan tujuan yang jelas.
Menulis bak sholat mengandung makna bahwa disitu ada kewajiban, ada pengabdian, ada keajekan, ada hal penyerta sebagai prasayarat dari bersuci, mengabdi, melakukan kewajiban, dan seterusnya.
Kalau menulis sudah menjadi bagian kehidupan, menjadi habit, maka tidak ada kenaan beban padanya. Tidak dendaan tekan, tidak keterpaksaan, tidak palu godam menyiksa, tetapi yang ada adalah kenikmatan.
Rasakan sejuknya air menyapu muka saat berudhu, tangan terangkat mewakili dalamnya hati memanjat doa, mengangkat tangan berserah dan meluluhkan batin pada Rabb, melabuhkan beban hikmah doa, di akhiri “Asalamulaikum Warahmatullahi Wabarakatuhu.
“Ton”, kata saya, ”begitulah menulis”. Sungguh nikmat, nyaman mengharungi dengan dendang ria kehidupan. Menulis membebaskan diri, menulis bak sholat.
Bagaimana menurut Sampeyan?
Banjarbaru, 20 Juni 2008.













18 Responses to “Selalu Menulis”
By toni tea on Jun 20, 2008 | Reply
cuma 12 menit, menulis bisa dilakukan disela-sela kerapatan aktivitas kehidupan, menjadi syarat akan ketenangan jiwa yang sudah terbiasa dalam labirin kehidupan…siip metodenya pak….yap heeee
***hayya … tinggal take over.
By Septha on Jun 20, 2008 | Reply
Hal yang selalu menjadi kebiasaan dalam hidup kita, bila diaplikasikan akan sangat mudah dan tak perlu membutuhkan waktu yang lama dalam pelaksanaanya. Termasuk menulis. Betul ga pak? Hehe,,
***Seperti … tu di tulisan bego menulis
By laporan on Jun 20, 2008 | Reply
Saya setuju pak ersis jika menulis suatu kewajiban (tentu saja bagi orang yang merasa memiliki tanggung jawab untuk menulis). Betul dengan jawaban yg kemarin: “Menulislah apa saja yg akan kau tulis”. Jika tulisan tsb memunculkan perdebadan yang pedas, maka “Beri argumen dan pendapat anda!”. Semoga waktu2 yg akan datang tidak ada lagi yg bernasib spt galileo dkk. Meskipun saya tetap yakin masih banyak yg takut untuk menulis karena konsekuensi tsb.
By taliguci on Jun 20, 2008 | Reply
Saya masih dalam proses pak.. masih butuh waktu, perlu banyak upaya, harus banyak belajar dan berlatih.. Mungkin harus lebih sabar ya pak?
By wawan halwany on Jun 20, 2008 | Reply
Menulis anggap saja sedang jatuh cinta sama menulis. Kalau kita sedang jatuh cinta biasanya yang nggak bisa bikin puisi bisa jadi lancar dech pak. Mungkin kayanya kalau kita udah cinta ama namanya menulis apapun bisa dijadikan tulisan benar gak pak.
By syaharuddin on Jun 20, 2008 | Reply
sebenarnya, ia juga sih…..tapi koq memulainya terlalu banyak pertimbangan ya….? ah mungkin saya stress mikirin tesis….ah alasan lagi, berkilah lagi…..1001 alasan.
By ella on Jun 20, 2008 | Reply
sebenarnya, hari ini saya ingin nulis, gara-gara membaca berita yang keliru ttg UAN, tapi saya sibuk mau final tes….? lagi-lagi alasan. Kapan bisa jadi penulis kalau cuma alasan yang saya lontarkan…..!
By DV on Jun 20, 2008 | Reply
Anda menulis seperti makan kacang, Pak! Mengagumkan.
By erly on Jun 20, 2008 | Reply
Saya sedang menulis komentar di sini. Walaupun sebenarnya saya tidak yakin apa yang ingin saya komentari, tetapi dengan menulis di sini saya merasa lega. Lho? aneh ya… :p
By gempur on Jun 20, 2008 | Reply
ibaratnya menulis seperti buang air ya pak! hehehehe
By taufik on Jun 20, 2008 | Reply
saya mungkin termasuk orang yang “kemaruk” menulis, rasanya kurang afdhol kalau ada momen penting tanpa kita isi dengan corat-coret “kada karuan”. Terima kasih pak Ersis tuk asupan2 gizi motivasi menulisnya! Bravo.
By Kurt on Jun 20, 2008 | Reply
Ah jadi panas saya dikompor2in terus nih sama om EWA. buat taufik bagi lauk nya dong biar kemaruk. heheh
By danu on Jun 20, 2008 | Reply
apalagi kalo udah jadi penulis atawa profesinya menulis mau tak mau ya harus menulis. nikmat memang kalo bukan paksaan.
***Ya ya ya, tanpa paksaan, nyaman banar.
By suhadinet on Jun 20, 2008 | Reply
Waw, cara mendapatkan inspirasi menulis hanya dengan bertanya:
“Coba ingat satu kata”.
Dia menjawab: “Selalu”. Selalu?
dan lalu Pak Ersis jadikan lead untuk sebuah tulisan.
Ini bukti!
Ini Fakta!
Menulis bisa dimulai dari mana saja.
Pak…buku puisinya kok gak nyampe-nyampe?
Saya kirim alamat lewat email bapak untuk kirim koment ke blog saya. Gak jadi kirim?
He..he…nagih.
Pak..kritisi cerpen saya yang terbaru donk..jangan pujian.
Judulnya Ikhlas untuk Kepergian Orang-Orang Tercinta.
Upss..sori juga gak jadi ukutan lomba menulis 100tahun KB. Pas mau kirim kemarin,ee ternyata deadlinenya tanggal 17. Sorry..sorry…I am so sorry Sir!
By Ikkyu_san on Jun 21, 2008 | Reply
Benar pak kalau sudah terbiasa menulis, rasanya ada sesuatu yang hilang jika tidak menulis. Karena itu saya juga biasakan menulis apa saja bahkan hal yang ringan, kecuali memang benar-benar tidak ada waktu.
***ya ya ya, itu jalan yang benar he he (Kaya polantas aja).
By Rimba on Jun 21, 2008 | Reply
memang yang namanya menulis sering membuat kita keenakan dan lupa akan waktu tapi mengasyikan juga…he…he salam kenal pak….
***Menulis justru mengingat waktu, mengingat diri, mengngat Pencipta dan seterusnya. Menulis menjagakan pikiran, bukan melupakan he he. Salam kenal.
By marshmallow on Jun 22, 2008 | Reply
dengan menulis saya (terpaksa) membaca.
itu salah satu keuntungan yang paling saya rasakan.
menulis satu paper membuat saya membaca minimal 10 paper lainnya.
wah, banyak sekali ilmunya.
***Ya ya ya itu, dengan menulis kita membaca dan memproses bacaan. Nyamaaaaaaaaaaan.
By Siti Fatimah Ahmad on Jun 25, 2008 | Reply
Tidak menulis setiap hari ….seperti kehilangan sesuatu. Saya sudah menghasilkan banyak idea penulisan sejak zaman sekolah lagi, kebanyakkannya ditulis dalam bentuk pengalaman dan penceritaan yang santai. Cuma tidak dibukukan. Gaya penulisan saya sama seperti yang tuan tulis dalam tiap bicara tulisan tuan. Santai, harmoni dan mudah difahami. Cuma bahasa saya ada tambahan ulam-ulamannya. Maklumlah perempuan. Kerana itu jiwa saya amat sesuai dengan cara penulisan tuan. Selalu menulis menjadikan otak kita semakin tajam malah seorang budiman menyatakan … dengan menulis kita boleh awet muda. Masya Allah. Begitu sekali hebatnya menulis. Ini semua kurniaan Allah swt kerana otak yang sentiasa diurus akan tampak hebat walau usianya dimakan masa.
***Wah kalau begitu tinggal dibukukan. Apa yang bisa saya bantu agar jadi buku mBak?