Pandir Menulis
16 June 2008 | Ditulis oleh: EWA |Oleh Ersis Warmansyah Abbas
SUNGGUH kata seorang yang sharing menulis, Si Anu itu Pak ai, baru menulis satu dua tulisan yang dimuat di media cetak, sombongnya luar biasa. Kayaknya, dia saja yang paling pintar di dunia ini.
Bagus, kata saya. Yang penting dia menulis. Soal mau sombong, sok, atau menggurui, soal lain. Tulisan yang telah menjadi pantas diapresasi. Soal dia sombong atau tidak, tidak ada kaitanya dengan menulis. Kalau tidak berkenan, jangan berteman dengan dia. Beres.
Yang parah, tidak menulis, berlagak paling piawai. Apa saja tulisan orang dicemooh. Lebih parah, ada yang mengangungkannya. Maka, terbuailah dia. Asal mengkritik tulisan orang berasa hebat. Kalau dia guru atau dosen, bisa berakibat buruk bagi anak didiknya.
Orang yang suka menulis bukan karena pandai, tetapi, karena sadar masih pandir? Pandir? Yes. Penulis adalah pembelajar. Melihat sesuatu, fenomena, hal-hal baru, hal-hal yang belum terpikirkan orang, dipikirkannya. Lalu, dibelajarkan, didayagunakan otaknya. Belajar dengan menuliskan apa yang dipelajari. Membunuh pandir pengetahuan, pandir menulis.
Begitulah. Kalau kamu beranggapan saya menulis karena pintar, itu ngawur. Saya menulis karena pandir, alias bodoh, atawa goblok. Ingin tahu, mempelajari sebisanya, dan menuliskannya. Kalau dianggap kurang atau salah konsep diperbaiki. Ujung-ujungnya dapat pengetahuan.
Implikasi aplikatifnya, tidak usah menunggu pintar dulu baru menulis. Banyak orang pintar tetapi tidak menulis. Idealnya, pintar dulu baru menulis. Kita tidak sharing pintar atau hal-hal ideal, tetapi menulis. Menulis ya menulis saja dengan hasil tulisan.
Dengan kata lain, kalau merasa diri masih pandir, menulislah. Insya Allah akan lebih cepat pintar. Sebab, pada aktivitas menulis tersebut terangkum makna hakiki belajar, pembelajaran diri. Plus, melawan pandir menulis.
Jadi, menulislah. Biar saja dikatakan orang pandir. Bukankah tidak menulis lebih pandir, he he.
Bagaimana menurut Sampeyan?
Banjarbaru, 16 Juni 2008.










9 Responses to “Pandir Menulis”
By wawan halwany on Jun 16, 2008 | Reply
Setuju mas. Terkadang menulis melatih otak kanan kita untuk mengungkapkan isi hati kita, atau pengalaman kita. Emang kadang kita hanya bisa ngomong tapi kalau di suruh nulis nggak bisa. Saya juga merasa menulis itu susah banget loh. Tapi saya inget dech pesan guru sma saya. Salah satu cara untuk belajar menulis adalah dengan meulis buku harian(diary). Emang cara ini saya rsa cukup efektif buat kita nulis. Masa dalam sehari ngak ada peristiwa yang kita bisa nulis. Dan menulis itu kayanya harus dipaksa dech. Saya juga mencoba memaksakan diri untuk tidap hari menulis. Apa saja dech bisa di tulis. Nggak perlu berat-berat. Apalagi sekarang lagi jamannya nulis di blog.
***Yap … apa saja bisa ditulis kalau ditulis. Setujuuuuuuuuu
By mathematicse on Jun 16, 2008 | Reply
Iya, biar pandirnya pergi, dan pandainya datang ke diri kita, maka menulislah…
***Biar pandirnya kalah he he
By suhadinet on Jun 16, 2008 | Reply
Pak Ersis mengatakan:
“Begitulah. Kalau kamu beranggapan saya menulis karena pintar, itu ngawur. Saya menulis karena pandir, alias bodoh, atawa goblok. Ingin tahu, mempelajari sebisanya, dan menuliskannya. Kalau dianggap kurang atau salah konsep diperbaiki. Ujung-ujungnya dapat pengetahuan.”
=====================
Saya “catat” ini baik-baik dan akan saya “simpan” Pak.
***Yoi.
By nenyok on Jun 16, 2008 | Reply
Salam
wah trims nie saya jadi ngerasa agak terhibur, postingan ini mencerahkan Pa soalnya saya juga bukan menulis karena saya pandai tapi karena ingin menulis saja, ga ada alasan lain
Menulis ya menulis saja kali Pak
***Ingin tidak pandir he he
By noorlatifah on Jun 16, 2008 | Reply
Betul juga, kalau pandir melulu kapan menulisnya? Maaf lama ga muncul lagi ngurus sekolahnya anak.
**hayya … menulis melawan pandir he he
By noorlatifah on Jun 16, 2008 | Reply
Blognya sudah diupdet tuh Pak.
**Yoha.
By Rita on Jun 17, 2008 | Reply
“kalau merasa diri masih pandir, menulislah. Insya Allah akan lebih cepat pintar. Sebab, pada aktivitas menulis tersebut terangkum makna hakiki belajar, pembelajaran diri. Plus, melawan pandir menulis”.
Mbaca ini jadi semangat dan pe-de nulis pak…
Walau belum bisa pidato(penyampaian secara lisan) seenggaknya udah blajar nulis ya
***Yoi. Lakukan menulis, dengan itu kita belajar. Monggo.
By sondang on Jun 17, 2008 | Reply
benar banget tuh pak, lebih banyak menulis semakin jauh dari bodoh. atau mencoba lepas dari kebodohan.atau bisa saja tetap merasa bodoh agar bisa mau terus menulis. kan kalau sudah merasa pintar, malah tak mau menulis lagi.
***Minimal menulis untuk belajar, ya khan?
By Siti Fatimah Ahmad on Jun 17, 2008 | Reply
Semua orang sudah menjadi penulis sejak usia bawah tiga tahun. Macam-macam ditulisnya. Mulanya dengan titik hujan, gelombang, garisan panjang pendek, bulatan kecil besar Bila umur meningkat usia empat tahun ke atas, maka mulai pula menulis abjad dari A ke Z. Membentuk dan membunyikan suku kata, perkataan dan ayat. Wah ! ternyata kita sudah terlalu lama profesional dalam penulisan. Itu tandanya bakat semulajadi sudah lama ada dalam diri kita. Tetapi kerana kita yang tidak mahu ambil tahu, maka kebodohan datang menciumnya.
Jadi teruskan usaha kerana dengan membaca, menulis dan menghitung itu akan menghilangkan kebodohan. Menyedari diri kita bodoh adalah langkah yang besar menuju kepintaran dan kecemerlangan diri. Selamat Maju jaya.
***Yoi, begitula kenyataannya. Kalau sekarang, ketika pengeatahuan dan pengalaman bertambah, kenapa kog disulit-sulitkan. Aneh khan?