Marah Menulis

15 June 2008 | Ditulis oleh: EWA |

Oleh Ersis Warmansyah Abbas

PENULIS juga manusia. Ya, iyalah. Pasti. Penulis bukan binatang. Konon, satu perbedaan antara manusia dan binatang pada kemampuan menulis. Jangan pula sampai ada kesimpulan, manusia yang tidak (mampu) menulis sama dengan binatang. Itu ngawur namanya.
 
Penulis juga manusia. Pasti itu. Manusia, seperti juga binatang, bisa marah. Kalau manusia (penulis) marah, wajar. Secara ‘kolokan’ dipakai istilah, penulis juga manusia. Jangan sampai memilih istilah penulis juga binatang. Bisa terjadi Perang Dunia Maya.
 
Marah, sekiranya pada posrsinya, wajar. Marah sifat manusia. Bagaimanapun, manusia punya kehendak. Apabila kehendak semakin kuat, menjadi keniginan. Keinginan yang menggebu-gebu berujung emosi. Emosi yang tidak terkendali bermuara ‘marah’.
 
Penampakkan tulisan, misalnya bermuatan marah-marah, tentu berasal dari diri yang marah. Ketika suatu kali seorang teman mengkritik tulisan saya sebagai ungkapan kemarahan, agak heran. Saya baca beberapa buku yang telah ditulis, kog biasa-biasa saja tu.
 
Saya sampai pada kesimpulan, ini soal persepsi dan penilaian. Saya menilai diri sendiri dan Si Kawan menilai saya. Susah mencocokkannya. Sekalipun demikian, hal tersebut dijadikan masukan. Ya, mulai memilih diksi yang lebih bersahabat. E … banyak pembaca protes, tulisan Ersis ‘kurang ramai’. Nah, lo.
 
Ya, sudah. Menulis pengungkapan pikiran dan perasaan. Apa yang ditulis ‘pantulan’ diri. Tidak bisa mengelak. Lain halnya kalau bicara, bisa didebat atau tidak diakui. Menulis, ya tertulis. Tidak bisa berkelit. Wajar ada orang ‘takut’ menulis, takut ketahuan kelemahannya.
 
Ah, marah menulis? Marah kepada siapa ya? Yah sudah, anggap pada diri. Dengan menulis akan tertampak refleksi kemarahan. Bisa introspeksi. Ambil sisi baiknya.
 
Jadi, tidak usah takut menulis, marah atau marah-marah. Tulis saja. Menulis adalah proses kehidupan. Ibarat penyakit, kalau terdeteksi lebih mudah mengobatinya.
 
Bagaimana menurut Sampeyan?
 
Banjarbaru, 15 Juni 2008.

  1. 13 Responses to “Marah Menulis”

  2. By afeb on Jun 15, 2008 | Reply

    Yap..Baguslah kalau marah menulis.Berarti menulis merupakan pengungkapan emosi.Dengan begitu emosi tersalurkan secara positif.he3

  3. By aminhers on Jun 15, 2008 | Reply

    Haaahaa…. kalau marah menulislah , ini yang belom di coba,karena jarang marah ; maka suasana hati seperti ini perlu nanti di coba dan mudah2an bisa di ingat.menulis perlu di kembangkan dalam berbagai suasana , betulkan Bang ?

  4. By sawali tuhusetya on Jun 15, 2008 | Reply

    marah dalam tulisan jika jelas argumentasinya masalah memiliki kelebihan tersendiri, pak, kecuali kalau marahnya kesel sama istri, haks …. lantas dipublish! itu yang bikin repot, pak, wakakakaka :grin:

    ***Waduh … kesal sama istri jika ditulis justru menarik he he

  5. By syaharuddin on Jun 16, 2008 | Reply

    definisi atai persepsi orang tentu marah be rbeda-beda. Saya pun kadang menulis karena marah. “Marah” termasuk jengkel, kesel dlsb. akhirnya saya menulis. Kalau gak nulis justru “marahnya” lama, bisa bikin stress. Jadi menulislah jika kau marah, maka stress pun hilang….

    ***Satu manfaatnya ya begitu itu he he

  6. By Alex Abdillah on Jun 16, 2008 | Reply

    menulis bisa meredakan kemarahan…tul nggak pak ??

    ***Persis …

  7. By suhadinet on Jun 16, 2008 | Reply

    Heran ya, sumber tulisan Bapak tentang menulis gak ada matinya.

    ***Lho, dulu kan sudah ditulis, otak kita seluas jagat raya ciptaan Allah SWT; dunia mini, nah bila dikembangkan kan bak sumur mendasar, semakin dikali semakin banyak sumber airnya

  8. By wawan halwany on Jun 16, 2008 | Reply

    wah makasih pak, udah mampir ke blog saya. Salam kenal juga, saya juga mulai saat ini berusaha menulis tiap hari. Malu juga ama Bapak, sesibuk-sibuknya kegiatan masih sempat nulis.

    ***Yap … senang nich dengan janji Sampeyan. Lakukan … apa yang bisa dibantu?

  9. By hamsin on Jun 16, 2008 | Reply

    membaca tulisan bapak ini suatu solusi bagi saya pikir-pikir benar juga pak ya ketimbang kalau gi emosi diwujudkan sesuatu yang negatif alangkah baiknya disalurkan kesebuah tulisan mungkin otomatis emosi jadi reda…..

    ***Lakukan …

  10. By Rita on Jun 17, 2008 | Reply

    Hahaha, hiiiihihihh tuk paragraf 1-2 :D
    Paragraf 6…O gitu ya pak, takut nulis bisa berarti takut ketauan belang, eh kelemahannya ya :D
    Masih paragraf 6… iya ya…. sapa taakuut.. GAKR (gituajako’repot)ya..hehe :D

    ***GAKR … dari pada repot, nulis aja kali

  11. By sondang on Jun 17, 2008 | Reply

    kemarin pas jalan-jalan ke Gramedia sempat baca sebuah buku pengarangnya lupa tetapi judul bukunya kalau tidak salah “Quantum Writing” buku tentang bagaimana menulis juga. dibuku itu saja baca manfaat menulis juga banyak. salah satunya untuk kesehatan. menurut penelitian yang mereka buat, mahasiswa di luar negeri, menyimpulkan setelah dilakukan pengujian terhadap beberapa mahasiswa, menulis itu sangat baik untuk menjaga kesehatan dan menambah kekebalan tubuh. kok bisa? itulah hebatnya kegiatan menulis.
    bagaimana caranya, mereka menuliskan masalah-masalah yang mengganggu pikiran mereka saat ini sekitar 15 menit sehari, masalah yang hendak ditulis tidak perlu yang paling traumatis tetapi tentang masalah yang kita hadapi saat ini, hasilnya adalah hidup lebih tenang dan bahagia dan mengurangi kunjungan ke dokter. marah juga salah satu masalah hidup dan menuliskan mengapa kita marah bisa membuat diri kita lebih baik. tidak percaya?mari kita buktikan masing-masing.

    ***yap, lakukan. Pasti jelas hasilnya. Setujuuuuuuuuuuu.

  12. By Siti Fatimah Ahmad on Jun 17, 2008 | Reply

    Menulis ketika marah adalah sesuatu yang mengasyikkan dan sangat benarlah kata seorang kaunselor. Kalau mahu tahu kita hebat menulis atau tidak. maka cubalah menulis ketika marah. Sebenarnya itu adalah terapi menghilang rasa marah. Wah ! Saya buat ujian atas diri sendiri bila keadaaan marah pada seseorang dan terus membawa diri ke alam penulisan bagi melahirkan perasaan dan kemarahan melalui tulisan itu atas beberapa perkara.

    Sangat memeranjatkan saya. Banyak perkara yang saya tulis hasil mengeluarkan emosi tersebut.Namun bila emosi tenang kembali. Saya meneliti isian tulisan saya. Sungguh memilukan. Ternyata syaitan musuh manusia. Apa yang benarnya. Ketika marah itu, kita menulis bersama dan bergandingan dengan syaitan. Wal’iyazubillah.

    Tapi manfaatnya, keresahan jiwa dan kebencian sudah pudar kerana diluahkan atas kertas. Jiwa jadi sihat dan tenang. Alhamdulillah. Cuma tulisan tadi perlu dipunah sebagai kenangan agar tidak memberkas lagi dalam jiwa pada masa akan datang. Persahabatan akan selamat tanpa kebencian.

    ***Namanya katarsis mBak. Memenej marah itu tugas manusia seperti dicontohkan Rasulullah. Ada beberapa buku bagus tentang itu, ada karangan Al Gazali, Al Jauziyah, Amru Khalid, sampai A-Qorni. Saya suka beca dan praktikkan. Setannya lari sendiri. Jangan sekali-kali terpengaruh setan, itu musuh kecil saja, kalau ditakuti dan dibiarka berkembang di pikiran, barulah dia jadi besar dan menakitkan. Mari kita jinakkan.

  13. By Siti Fatimah Ahmad on Jun 17, 2008 | Reply

    Terima kasih atas ingatan tuan dan cadangan buku-buku rujukan. Saya rasa kagum sekali sebab tuan punyai kehebatan menghalau setan tanpa perlu penyapu atau alat bantu mengajar untuk setan itu..he..he…he… Ia lari sendiri. Boleh diturunkan ilmunya supaya boleh dikongsi bersama. Ya betul kata tuan. Setan perlu dijinakkan. Antaranya dengan cara berdialog.

    ***Hayya muji teris nich … gima tu tentang Kamus Malaysia? Minta alamatnya deh mBak Siti.

  14. By Siti Fatimah Ahmad on Jun 19, 2008 | Reply

    Assalaamu’alaikum Tuan Ersis,

    Kamus Bahasa Malaysia itu sudah diperolehi, akan dikirim ikut alamat yang tuan tulis walau saya masih samar-samar akan alamat disana sebab sememangnya di sana alamat negeri tidak punya nombor poskod negerinya. Jika betul saya akan kirim dalam kadar segera. Saya akan maklum nanti.Alamat saya akan disertakan bersama.

    Apa boleh dimakbulkan permintaan saya ini. Dulu saya setuju menerima tawaran kedua dari cadangan tuan. Jika saya mencadangkan tawaran ketiga untuk pertimbangan tuan, harap tidak akan ditolak. Baru sekarang saya memikirkannya. Cadangan ketiga, kamus bahasa Malaysia dari saya buat tuan itu adalah sebagai pertukaran kepada buku-buku karya tuan. Terlalu ingin saya untuk memiliki dan membaca buku-buku karya tuan. Harap dipertimbang dengan jawaban yang menggembirakan.

    Terima kasih atas budi baik dan harap dipermudahkan Allah dalam segala urusan. Salam persaudaraan dari Malaysia.

Post a Comment