Ghibah Menulis

13 June 2008 | Ditulis oleh: EWA |

Oleh Ersis Warmansyah Abbas

SEMOGA Allah SWT memelihara hati dan pikiran kita. Semoga Allah SWT menuntun hati dan pikiran Sampeyan ke jalan yang benar, perilaku tidak menyimpang, dan selalu berbuat konstruktif. Amin.
 
Tiba-tiba ada ‘teguran’ di palung hati: “Hai, Ersis. Apakah menulisanmu on the track?”. Saya tidak mampu menjawabnya, namun tersadar, akan berusaha ke jalan yang benar. Jalan benar sebagaimana dirdhoi Allah SWT kepada orang-orang sebelum kita. Amin.
 
Saya sadar, terkadang agak ‘nakal’ menulis. Tetapi, apakah ghibah dalam menulis? Semoga tidak. Kalaupun pernah, mohon dimaafkan. Memang ada yang bertestimoni: Bang aku kena. Sifat-sifat (buruk) tersebut ada pada diriku. Banyak hal-hal senada dikomen www.webersis.com.
 
Mencopot contoh terkadang perlu ‘menghentak’. Tapi, sungguh hidup. Kalau ado nan talatuang katiko naik, tasingguang katiko turun, bukan maksud hati sedemikian. Apalagi ber-ghibah-ghibah. No way.
 
Ghibah adalah perbuatan mengunjingi aib orang lain. Menulis ala ghibah menulis dengan maksud menjelek-jelekkan, membicarakan buruk orang lain. Dapat pula dipastikan, karena menulis dari dalam diri, menulis ghibah berasal dari diri. Auzubillahi min zaliq.
 
Lalu, bagaimana kalau menulis kelemahan pemerintah, atau kesal dan menulis keburukan pejabat yang kebijakan mendenda melulu? Atau, mengambil contoh pimpinan yang dongok, mahasiswa pemalas, pembaca yang malas membaca termasuk ghibah?
 
Sementara, minimal untuk membuat agar hati tidak ciut, tidak ghibah. Sebab, tujuannya agar jadi renungan dan memantik perbaikan, minimal pada pembaca. Niatnya tidak bergunjing, memberi masukan. Wualah alasan.
 
Kalaupun terkategori ghibah, mudah-mudahan menjadi pelejaran bagi penulis (saya). Sebaiknya kita menjauhkan diri dari ghibah. Idealnya demikian, tetapi penulis juga manusia? Manusia dengan segala kelemahannya. Mari berusaha menjadi baik dan kuat. Amin.
   
Bagaimana menurut Sampeyan?
 
Banjarbaru, 13 Juni 2008.

  1. 17 Responses to “Ghibah Menulis”

  2. By tri aja gin on Jun 13, 2008 | Reply

    menulis mempunyai kekuatan yang luar biasa. bisa menimbulkan penafsiran berbeda tiap pembacanya, itulah resiko. syukur bisa membuat org senang, namun sabar juga jika ada yg marah. pantang mundur, yg penting niatnya. ghibah, ngk juga tuhhhhhhhhh.

  3. By sawali tuhusetya on Jun 13, 2008 | Reply

    jangan2 tulisan2 saya termasuk kategori ghibah, pak, karena suka colek sana colek sini, terutama kepada mereka yang nggak becus mengelola pendidikan, wakakakaka :lol:

  4. By suhadinet on Jun 13, 2008 | Reply

    It’s OK saja buat saya Pak.
    Orang menjadi ingat dengan kekurangannya atau kekhilafannya karena membaca tulisan seseorang bukankah itu berarti tulisan itu telah mencapai salah satu maksudnya?
    Ghibah? Kayaknya bukan deh.

    Sebuah pengingat-penyadar bagi yang tak ingat-tak sadar.
    Sebuah cermin-untuk mengaca diri.

  5. By ubadbmarko on Jun 13, 2008 | Reply

    ga saya mah pak haji, cuman berseloteh saja.

  6. By nenyok on Jun 13, 2008 | Reply

    Salam
    *mikir* mungkin hmm, lebih menyerang atau mengghibah pada sifatnya kali ya Pa (jika disangkutin ma objek manusia) bukan sama manusianya itu sendiri, beda kan kita mengatakan saya tidak suka sama si A ketimbang saya tidak suka sama sifatnya si A. *sok tahu saya* :)

  7. By Panda on Jun 14, 2008 | Reply

    setuju, tapi bagaimana jika menulis mengultuskan diri? ada banyak penulis yang kulihat begitu. yah, mari kita lebih baik. termasuk menghindar membaca tulisan orang hanya karena apriori.

  8. By Daniel Mahendra on Jun 14, 2008 | Reply

    Bagaimana dengan satire, Pak…

  9. By Ratna on Jun 14, 2008 | Reply

    Kalau saya sih asal ngga nyebut namanya aja. Ngga tunjuk hidungnya. Membicarakan perilaku orang lain untuk diambil hikmahnya. Bukan membicarakan si Fulannya.

  10. By taufik on Jun 14, 2008 | Reply

    Imam Nawawi berkata,”Ketahuilah bahwasanya ghibah diperbolehkan untuk tujuan yang benar dan syar’i, di mana tidak mungkin sampai kepada tujuan tersebut, kecuali dengan cara berghibah….”
    “…di antaranya, apabila seorang yang memiliki kedudukan dalam pemerintahan, sedang ia tidak menjalankan tugas sebagaimana mestinya, bisa disebabkan karena memang ia tidak pantas menduduki jabatan tersebut, atau karena ia itu adalah orang yang fasik atau ia orang yang lalai, dan yang semacamnya…”

  11. By wawan halwany on Jun 14, 2008 | Reply

    Asal niat kita baik untuk memperbaiki kayanya nggak apa-apa dech. Tapi kita nggak boleh hanya menyalahkan saja pak. Harus mencoba mencari solusi masalah yang kita tuliskan. Mungkin kalau niat kita ikhlas pasti orang yang kita kritik akan menerimanya. Salam sukses selalu pak ersis. salam kenal.

    **Niat kuncinya, setujuuuuuuuuuuu

  12. By Asmia Ulfah on Jun 14, 2008 | Reply

    Menulis tentang kenyataan atau fakta memang disebut nakal….?
    ngga salah tuh…
    maju terus Pantang mUndur….Biarkan kucing mengeong, Pa EWA tetap berlalu…ehehehehe

  13. By utchanovsky on Jun 14, 2008 | Reply

    Mari “meng-ghibah” sebelum dilarang. Sebelum “ghibah” dipatenkan dalam UU ITE baru oleh pemerintah dan kroni2nya.

    ***ha ha ha

  14. By zoel on Jun 14, 2008 | Reply

    saya juga takut akan ghibah… jadi hati hati aja mo nulis… :D

    ***Yoi, mari kudu hati-hati …

  15. By aminhers on Jun 14, 2008 | Reply

    yang penting dalam menulis tidak mengada-ada, dan akurasi data harus jelas dan lengkap.
    salam
    aminhers

    ***Setuju Mas … dan semua itu hanya bisa dilakukan dengan melakukan

  16. By Sandy Guswan on Jun 15, 2008 | Reply

    Kalau tujuan menulis kita baik, Insya Allah kita terhindar dari Ghibah.

    ***Ya ya, setiap penulis akan berprindip, tujuannya baik he he

  17. By Alex Abdillah on Jun 16, 2008 | Reply

    yup….setuju pak Ersis..

    ***Yoi kita bersetuju

  18. By Rita on Jun 17, 2008 | Reply

    Kalo yang ditulis gini : tau gak pak RT kemarin maling mangga di kebun tetangga, habis si empunya kebun pelit banget, gak mau mbagi2 buah mangganya…Wes pemilihan RT berikutnya ya milih aku aja…..Ini termasuk ghibah gak ya hehe… menjurus ke fitnah….:D ato kampanye ya hehe :D

    ***ha ha … menurut Mas Taufik ngak tu, malah baik katanya he he.

Post a Comment