Menulis Menyiksa Diri

12 June 2008 | Ditulis oleh: EWA |

Oleh Ersis Warmansyah Abbas

MALAM semakin larut. Hujan rintik-rintik. Suara jangkrik sayup-sayup ditingkahi pekikkan kodok,  harmoni nyaman di telinga. Kegairahan malam terundang. Pekik sorak pendukung Jerman di Piala Eropa mengoda semangat. Sedotan kopi hangat memacu andrenalin. Jari-jari semakin lincah menari di keyboard komputer.
 
Huruf demi huruf tergabung, kata demi kata tersusun, membentuk kalimat membuat alinea, paragraf menjadi halaman. Tangan tak mau berhenti. Ada yangt mendamai di ranah otak, ada cuatan gimana gitu di kuala rasa. Hidup adalah kenikmatan berkarya.
 
Malam semakin larut. Ketika sajadah terbentang, raga dan jiwa menghadapNya. Kesunyian malam,  kehitmatan mengetuk pintu sadar. Hidup begitu indah. Tidak perlu dicari kemana-mana. Ada pada diri.
 
Malam semakin larut. Udara terasa menyesak dada. Mata tak mau terpejam. Kekecewaan tadi siang semakin sempurna menguasai pikiran menenda rasa. Dasar pimpinan goblok, bisanya marah melulu. Dasar dosen dungu, bisanya menyalahkan. Dasar orang tua pelit, biasanya menasihati, memberi duit bebelit-belit. Dasar-dasar, dasar … brengsek.
 
Pemerintah, waduh buruknya. Mengurus minyak tidak becus, rugi melulu. Membangun PLN mengecewakan. Yang diperlukan beras, yang dibesarkan partai. Katanya memperjuangkan rakyat kecil, tidurnya di hotel mewah, seharga kerbau petani. Mendongeng memperjuangan saat kampanye, begitu menjadi anggota dewan ngorok dipertontonkan.
 
Duh … engkang. Bagaimana mana mau maju, yang dipikirkan bagaimana menjual BUMN, bukan bekerja keras membeli BUMN negara lain. Dikatakan bangsa ini bangsa pemalas, mereka tidak pernah melihat bagaimana petani dari pagi sampai senja membolak tanah, bagaimana buruh pelabuhan membebankan dipunggungnya beban 100 kilo hingga peluhnya menjadi peluh darah. Untuk mendapatkan uang Rp.10 ribu.
 
Siapa yang malas? Yang bermobilkah yang rajin? Begitu masuk kantor meminta kopi dan kue, lalu membaca koran sampai siang. Lalu, lalu, dan lalu … pulang. Mengurus pekerjaan tidak pernah selesai.
 
Lalu, petanikah, nelayankah yang mengkorup uang  negara, yang menipu lewat pasar saham, yang memotong proyek jalan, atau reboisasi hutan? Duh … engkang, kalau bangsa ini bangsa terkorup sedunia, siapa sih sebenarnya yang korup?
 
Wualah … level pendidikan tidak terkira. Membaca buku satu dua sehari, mengeluh. Menulis kata beralasan. Mengembangkan ide mandeg, membeli buku apalagi fasilitas internet bak jihat fi sabililah. Ada saja alasan, ada saja argumen. Kalau berkaya, nanti dulu.
 
Pekerjaan melelahkan. Menyita waktu. Harus membaca, harus berpikir, harus beproduksi. Menyiksa diri. Memapas kenyamanan ngorok melelehkan liur ketika tidur. Menulis menghalang-halangi kenikmatan malas. Ya itu tadi, menyiksa.
 
Wahai saudara sebangsa dan se-Tanah Air. Wahai saudara seiman. Kalau sesuatu kita respon dengan positif, kita kerjakan berdasarkan senang dari lubuk jiwa akan membangkitkan kegairahan menyamankan kerja, apalagi bila maujud. Tidak ada hasil tanpa bekerja. Tidak akan terbangun dan terkembang potesi apabila tidak dilatih. Kebudayaan bukan turun dari langit.
 
Tinggal, bagaimana kita memaknai. Kalau dipatok sebagai siksaan maka akan menjdi siksaan. Silahkan pilih jalan yang disuka. Kekira ke kawasan malas, mengeluh, dan berkilah. Ke kanan menulis, dan berkarya.
 
Adalah kedunguan, dan sangat dungu, apablia menulis menyiksa diri. Bagi saya, menulis justru ‘membebaskan’ diri, meringankan diri. Belive it or not.
 
Bagaimana menurut Sampeyan?
 
Banjarbaru, 11 Juni 2008.

  1. 15 Responses to “Menulis Menyiksa Diri”

  2. By aminhers on Jun 12, 2008 | Reply

    kuncinya ada 4 yaitu:mencoba , belajar,mencoba ,belajar.Sampai bisa dan bermanfaat.

    ***tepat sekaliiiiii

  3. By M Shodiq Mustika on Jun 12, 2008 | Reply

    Assalamu’alaykum.

    Dengan hormat, saya memohon Pak Ersis berkenan menyampaikan komentar (endorsement) terhadap naskah buku terbaru saya: Dzikir Cinta Islami (Cara Dzikir sesuai Syariat untuk Atasi Segala Masalah Cinta, baik cinta orangtua-anak maupun asmara pria-wanita, baik pranikah maupun suami-istri). Naskah ini hendak diterbitkan secepatnya oleh QultumMedia, Jakarta.

    Untuk pertimbangan, silakan simak lima buah sampel dari naskah buku tersebut, yaitu:

    Kata Pengantar & Daftar Isi – http://muhshodiq.wordpress.com/2008/06/11/cara-dzikir-untuk-atasi-segala-masalah-cinta/

    Bab 3, 7, 12, 20. (link-nya terdapat pada Daftar Isi di atas)

    Demikian permohonan saya. Terima kasih atas perkenannya.

    Wassalam,

    M Shodiq Mustika
    penulis buku best-seller Istikharah Cinta

    ***Insya Allah.

  4. By meiy on Jun 12, 2008 | Reply

    soal pilihan, persoalan sebenarnya lebih banyak di hati ya pak. kalau pekerjaan dianggap menyiksa misalnya, ya pasti akan tersiksa, kalau pekerjaan disukai, pasti akan enjoy. alhamdulillah

    begitu juga menulis, menyehatkan, membahagiakan, insya Allah :)

    ***Yap.

  5. By avartara on Jun 12, 2008 | Reply

    Alhamdulillah Pak,… segala sesuatu yang kita kerjakan dengan ikhlas, insyaallah mempermudah langkah.

    ***Ya, ikhlas, ha paling indah dan nyaman.

  6. By DV on Jun 12, 2008 | Reply

    Ketika saya membaca tulisan Anda ini, saya seperti diseret untuk melihat keadaan general negeri ini dengan sudut pandang yang unik.

    Lucu! Menarik!

  7. By sondang on Jun 12, 2008 | Reply

    menulis memang perlu bekerja keras ya menghalau malas, menghalau kebodohan. tidak mungkin sampai ke langit kalau tidak terus menaiki tangga satu persatu, kecual Superman.

    ***Ya Mas Sondang. Saya minta maaf, ingin komen di blog Sampeyan, tapi ngak pintar komen di blogspot. Maaf ya.

  8. By suhadinet on Jun 12, 2008 | Reply

    Saya percaya Pak. I do believe it Sir.
    Sekarang saya mulai belajar mengeluarkan uneg-uneg dengan cara saya sendiri lewat tulisan.
    Thanks.

    ***Yeah, mari menulis, dan terus menulis

  9. By isnuansa on Jun 12, 2008 | Reply

    sesuai dengan tema blog saya, murni curhatan isnuansa, buat saya menulis itu melegakan…

    ***Curhat dengan menuliskannya, itulah menulis … ya kan mBak?

  10. By sawali tuhusetya on Jun 12, 2008 | Reply

    inilah nasib negara yang menjadikan politik sbg panglima, pak ersis, hehehehe :lol: rakyat hanya dilirik saat kampane. setelah dapat kursi,rakyat dilupakan. mending nulia aja, yak, pak, hehehehe :lol:

    ***Ya ya ya mending nulis saja, nulis … ntuk tidak dilupakan, he he

  11. By theloebizz on Jun 12, 2008 | Reply

    setujuuuuhh!!!!….
    buat sy sgt melegakan ketika segala isi pikiran yg memenuhi ruang otak bisa dituangkan dlm bentuk tulisan :)

    ***Yoi, setujuuuuuuuuu again.

  12. By hanna on Jun 13, 2008 | Reply

    Ya, Jerman kalah 1-2 ding.

    Yang naik mobil rajinnya jalan2 dan cari tempat hiburan, Pak, hehe. Maaf, baru berkunjung. Lagi sibuk banget. Menulis tak pernah menyiksa koq, malah nikmat. Saya rasa tak ada hal yang menyiksa bila kita bisa menikmatinya.

    ***Hayya … tapi jagan lama-lama dong ngak mampirnya. Jadi kangen

  13. By leah on Jun 13, 2008 | Reply

    Bagi saya ngeblog itu belajar menulis dan mencintai menulis. heheheh

    ***Bagi saya untuk lintasan menulis buku, euy

  14. By Daniel Mahendra on Jun 13, 2008 | Reply

    Ai, dengan menulis kita bisa menggelontorkan segerombolan pikiran yang ada di kepala, di hati. Keluar. Tidak melulu mengendap di palung pikiran. Kita mencoba membebaskannya. Mengejawantahkannya. Sehingga kita tidak tersiksa lagi. Namun terkadang, yang menyiksa-nyiksa itu menginspirasi penulis. Hehe!

    Salam!

    ***Ya ya persis. Salam.

  15. By Rita on Jun 17, 2008 | Reply

    Menulis tempat saya curhat, mengeluarkan segala uneg2 yg ada dikepala…. Menulis bukan nyiksa diri,sebaliknya justru membuat saya legaaa…

    ***Yap. katarsis. Saya pegang yang ini. Legaaaaaaaaaaaaaaa.

  16. By nurkhulis wardani on Jun 20, 2008 | Reply

    klonya nga ikhlas itu sama artinya dengan terpaksa melakukan sesuatu…
    pasti hasilnya nga bakalan bagus,,

Post a Comment