Menulis Menghajar Diri

10 June 2008 | Ditulis oleh: EWA |

Oleh Ersis Warmansyah Abbas

ALKISAH seorang yang sangat berkeinginan menulis bersemangat sharing: “Pak, saya betul-betul ingin menulis, menjadi penulis”. Biasa. Untuk membesarkan hati dia tambahkan: “Ingin produktif menulis seperti Bapak”.
 
Wualah-wualah. Saya kerjain habis. Tidak mungkin, kata saya. Kalaupun keinginan sangat kuat, saya ragu. Jarang orang yang mampu melewati etape sangat menyakitkan. Melawan diri. Sebab, menulis itu melakukan, bukan berwacana. Sampeyan nampaknya terbiasa berargumen, bukan melakukan.
 
Merah padam mukanya. Apa peduli saya. Tapi, kalau memang serius, saya kasih resep. Tanpa pikir panjang dia OK. Yap, kalau begitu wajib tobat nasuha. Bingunglah dia. Saya berikan beberapa tip.
 
Pertama, mengakui bodoh. Namun, berkemauan belajar. Menulis untuk belajar, bukan memamerkan pengetahuan. Karena itu belajarlah, tulislah apa-apa yang tidak diketahui. Tahap awal, tulis tentang apa-apa yang tidak diketahui.
 
Hal dasarnya, banyak orang menulis ingin pamer, merasa lebih tahu segala hal. Ketika menuliskan apa yang dipikirkan, karena memang pengetahuan kurang, mandeg deh. Artinya, antara bayangan dan kemampuan (menulis) diskrapensinya lempang.
 
Kedua, kosongkan pikiran, baik ketika membaca, mengamati, dan menulis. Kosong dalam pengertian dari yang bukan obyek. Kata lainnya fokus. Misalnya, akan menulis tentang menulis seronok. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1988: 828) menyenangkan. Menulis seronok artinya menulis menyenangkan.
 
Coba kalau di pikiran sudah dipatenkan seronok itu artinya jorok, disamping melawan kamus, salah arti, ikut kebodohan berjamaah. Kalau pikiran ‘disosongkan’ kita akan dapat informasi yang benar dan menulis berdasarkan konsep yang benar.
 
Ketiga, apa pun yang terjadi, begitu memulai menulis jangan pernah berhenti sebelum ide selesai ditulis. Banyak orang, menulis satu-dua aline berhenti. Ntar disambung. Besok begitu lagi. Tidak sadar, yang dilatih, yang dibiasakan, menulis tidak tuntas.
 
Akibatnya syaraf-syaraf dilatih bekerja tidak tuntas. Semakin hari syaraf ketidaktuntaskan semakin kenyal, semakin berkembang. Bukan menulis (tuntas) yang menjadi kemampuan, tetapi involusi menulis.
 
Keempat, menulislah dari dalam diri. Enyahkan hal-hal di luar diri. Harus begini-begitu. Dalam latihan menulis, hal-hal ideal itu bayangan. Kemampuan kita ya diri kita, bukan orang lain, bukan karya orang yang bagus. Semua itu pedoman. Diri kita ya kita.
 
Betapa dongoknya meamsal diri seperti Hamka atau Pram, wong baru belajar. Kalau sudah biasa, sudah kompeten, mereka bisa dikalahkan. Tapi, ini kan memula. Masyak sih mengidentifikasi diri sebagai penulis hebat. Tahu dirilah. Berkaca.
 
Kelima, sadari apa yang dimiliki diri sekian nolnya di belakang koma. Karena itu perbanyak membaca, mengamati, olah pikir, dan seterusnya. Perbanyak pengetahuan di rumah otak. Dan, tulislah apa yang sudah ada di rumah otak. Jangan di luar itu.
 
Ini mengarah pada teknik praktis, disatu sisi selalu menambah pengetahuan, disisi lain menuliskan pengetahuan yang sudah mantap. Dari tulisan yang mantap akan semakin sempurna. Itu akan menjadi muatan diri.
 
Keenam, pastikan menulis apa yang dipahami. Jangan pernah menulis apa yang tidak dipahami. Istilahnya menulis hal-hal sederhana. Sesuai kemampuan.
 
Ketujuh, gunakan otak, jangan perasaan. Banyak orang merasakan tulisannya jelek. Itu soa perasaan. JK Rowling, Dan Brown, dan banyak lagi ketika menyerahkan naskahnya ke penerbit ditolak. Penerbit ‘merasa’ karya tersebut tak layak. E … ada penerbit rasional, ini genre baru, terbitkan. Meledaklah karya yang semua disepelekan.
 
Artinya, antara menulis dan penilaian itu dua hal berbeda. Tugas Sampeyan menulis, bukan menilai. Apalagi karya sendiri. Menulisnya saja pemula, apalagi menilai. Jadi tahu dirilah. Hajar diri sendiri. Jangan orang lain.
 
lntinya, menulis melawan diri. Melawan ego. Melawan malas. Melawan alasan. Lalu, ditukar dengan melakukan. Bahasa agamanya, taubat. Taubat dari hal-hal yang membelenggu, dan beralih dengan melakukan.
 
Oh, tips tersebut untuk penulis pemula. Bagi yang sudah piawai, abaikan saja.
 
Bagaimana menurut Sampeyan?
 
Banjarbaru, 10 Juni 2008.

  1. 11 Responses to “Menulis Menghajar Diri”

  2. By meiy on Jun 10, 2008 | Reply

    saya bukan pemula, bukan juga piawai, hanya enjoy saja menulis, tapi tetap harus tobat kayanya :D

  3. By eNPe on Jun 10, 2008 | Reply

    ulun masih pemula dalam hal tulis menulis. akhir2 ini tulisan ulun tergores begitu saja, mengalir ketika ada kejadian yang menggugah hati. daripada lama2 baru menulis, memikirkan rangkaian kata yang bagus, hari itu juga apa yang ada dipikiran n terlihat oleh mata *kejadian tsb* lgsg diketik. beres deh! kadang stlh menulis, lupa membaca kembali shg ada ketikan yg salah huruf dll. tp dl pernah menulis trus dibaca berulang2, eh taunya malah jadi amburadul krn sudah terkontaminasi lingkungan sekitar.huehehehe… *maap bah, komen pjg gini* :D

  4. By sondang on Jun 10, 2008 | Reply

    kata-kata diatas selalu mengena langsung ke jantung hati. sadar kesalahan selama ini letaknya dimana setelah membaca tulisan gagasan bapak ini. mudah dicerna dan mudah dilakukan, syarat-syarat menjadi penulis tidak begitu susah sebenarnya sesulit yang diajarkan buku-buku lainnya kepada saya.
    ada buku yang membuat saya tidak mampu menulis tetapi tulisan motivasi ini menghancurkan semua belenggu-belenggu yang ada dalam diriku.
    menulis adalah belajar jika langsung jadi penulis hebat dalam waktu yang singkat itu namanya jenius atau jarang terjadi tetapi dalam menulis harus dimulai dari tangga pertama yakni kata pertama dan terus menerus menaiki tangga dalam hal ini terus menulis. semua yang dilatih dengan baik akan menjadi mahir dan baik. jadi teruslah menulis apa pun walau sepertinya hal itu tidak berguna, membuat catatan harian juga berguna ada yang mengatakan untuk menyeimbangkan emosional sebab masalah-masalah kita uraikan jadi tulisan. ada yang mengatakan menulis membuat hidup sehat. apapun alasannya bagi saya menulis itu menyenangkan.

  5. By sawali tuhusetya on Jun 10, 2008 | Reply

    teori menulis ala pak ewa memang dahsyat. selalu saja ada trik baru bagaimana menyiasati keinginan utk menulis. “Menulis menghajar diri”, semoga saja ndak sampek babak-belur, hehehehe :lol:

  6. By Qizink La Aziva on Jun 10, 2008 | Reply

    Saya sepakat tuh, kalau mau menulis harus banyak membaca juga!

    kualitas tulisan menggambarkan kualitas bacaan seseorang.

    Kalau tulisan pengen dibaca orang lain, kudu sering juga baca tulisan orang lain… ( rumus menulis yang aneh :D )

  7. By mega on Jun 10, 2008 | Reply

    wah rumhanya kok berubah ya..jadi kagok masuk ke sini..
    pakabar uda Ewa..?

  8. By aLe on Jun 10, 2008 | Reply

    Tulisan oM EWA yg beruntun tentang menulis aLe save ke MS Word, biar enak bacanya ^^

  9. By suhadinet on Jun 10, 2008 | Reply

    Taubatannasuha ya Pak?
    He..he… :lol:
    Becanda Pak. Kalau ke sini saya selalu tersinggung. He..he.. tapi singgungan Bapak baik untuk saya. Bagaikan obat dari pohon kina yang manjur untuk penyakit “malaria” saya.

  10. By tutinonka on Jun 10, 2008 | Reply

    Menurut saya, teknik menulis pada setiap orang berbeda-beda. Ada yang perlu membuat outline dulu, ada yang langsung ke detail. Ada yang sekali duduk (seperti Pak EWA) ada juga yang perlu beberapa kali duduk-berdiri.

    Saya baru tahu, Pak Ersis dari KalSel. Saya pernah ke Banjarmasin, Martapura, sampai ke Kandangan.Saya paham bahasa Banjar (suami dari sana), tapi kalau disuruh ngomong … nyuwun pangapunten, mboten saged … hehehe …

  11. By hanggadamai on Jun 11, 2008 | Reply

    wah makasih banyak loh pak..tipsnya..
    diriku masih harus banyak belajar menulis

  12. By Siti Fatimah Ahmad on Jun 12, 2008 | Reply

    Salam kunjungan dari seberang.Terima kasih atas pencerahan tulisan tuan tentang tajuk di atas. Begitu senang dibaca dan mudah difaham.

    Sesuatu yang kita ajarkan kepada orang lain dengan senang hati, sama sekali tidak menyusahkan malah mendapat kebaikan dan ganjaran yang berpanjangan di dunia dan akhirat.

Post a Comment