Menulis ‘Membunuh’ Diri
9 June 2008 | Ditulis oleh: EWA |Oleh Ersis Warmansyah Abbas
MALAM itu saya dikagetkan dengan kedatangan seorang teman. Dia dosen PTN berpredikat akademis Doktor. Saya persilahkan duduk sementara saya menyelesaikan tulisan. Tanggung. Saya tidak terbiasa menunda artikel, setelah selesai baru beraktivitas lain.
Setelah isteri menyuguhkan kopi, kami ngopi bareng. Ndilalah, dia tidak sabar. Nyerocos bercerita betapa tulisannya di media cetak ditanggapi gegap gempita rekan-rekannya di kampus. Sampai disidang segala macam dan emosi ikut ‘bicara’. Kursi ditendang. Asyiiiik.
Kawan ini terpukul sekali. Dia menulis tentang ‘kekurangsuksesan’ penelitian yang dilakukan rekan-rekannya. Meradangalah yang dikritik. Saya sempat berpikir, tulisan balas dengan tulisan dong. Dari argumen teruji bangun kesepahaman. Jadikan bagus.
Ketika dia mengatakan akan mengajukan ke polisi, tanpa menyadari hak, langsung saya larang: “Buat apa. Kekuatan akademik justru pada perbedaan dalam mencari solusi paling pas. Kalau main kekerasan, apalagi sampai berperkara secara hukum, itu ‘dunia lain’. Kalian harusnya nemberi contoh”. Dia terpana.
Akhirnya dia setuju tidak mempersoalkan. Anjuran memaafkan, diamini. Pesan saya tancapkan: “Sampeyan jangan bunuh diri gara-gara ‘dihajar’. Terus menulis. Jadikan pembelajaran dan pemotivasi. Saya mengalami hal lebih sadis. Mari belajar dari kejadian”. Kata teman-teman gaya tulisan saya kini lebih santun. Mbuh, yang penting belajar dan terus belajar.
Bagi penulis penula yang mentalnya kurang kuat, ‘tendangan’ pihak lain bisa mendebarkan kalaulah tidak dapat dikatakan membunuh kehendak menulis. Bayangkan, susah paya membaca literatur, membolak-balik kamus, merangkai kata, memilih diksi, e … dihajar. Mana tahan.
Yang ingin saya sampaikan, pada dasarnya bukan orang lain yang membunuh, tetapi diri sendiri. Kog iso? Lha, yang menulis siapa? Yang menghentikan atau tidak menulis siapa? Yang bermental buih siapa? Diri sendiri bukan?
Sebaliknya, ada pepatah: Semakin tinggi pohon, semakin digoyang angin, akarnya semakin kuat. Nah, kenapa tidak muatan pesan pepatah itu yang dipagut. Memperkuat diri dengan kritik dan hajaran orang.
Menulis, tepatnya membiasakan menulis, ibarat belajar bersepeda. Pertama kali menaiki sepeda bisa jatuh. Memulai mengendarai, bisa-bisa berakibat tumit luka karena belum paham keseimbangan. Karena kemauan keras, tetap saja belajar. Dan, … bisa dengan gagah bersepedaria. Coba periksa lutut banyak orang, ada kunat sebagai bayaran belajar.
Begitu juga menulis. Ingat hanya sedikit orang yang tulisan pertamanya langsung dimuat media. Banyak yang puluhan, bahkan ada yang ratusan tulisan dikirim, baru dimuat. Setelah itu, lenggang kankung saja lagi. Artinya, dalam (belajar) menulis ada tahap–tahapannya. Tidak bisa langsung OK. Memangnya sim salabim?
Menulis, bukan andai-andaian atau berkutat belajar teori. Menulis adalah kenyataan, guru itu sendiri. Manakala tulisan menjadi, kita bisa langsung mendeteksi, tulisan itu bagus apa tidak? Kalau berteori, berangan-angan, akan menulis ini-itu, sebagus tulisan Hamka atau Khalil Gibran, dijamin deh … akan susah menjadi penulis. Keingian berjarak dengan kenyataan. Tulisan nyata, dan kenyataan.
Menghadapi kenyataan banyak orang yang kurang tangguh. Digoyang angin lembut saja tumbang. Kalau angin putingbeliung menerpa, bisa-bisa hancur-lebur. Patah semangat. Lalu, menganggap diri bodoh, tidak bakat, suasana tidak kondusif, dan bla-bla. Padahal, kesemua itu sekadar alasan. Pembenaran karena jiwa raupuh.
Akibat finalnya, alasan-alasan dijadikan palu godam memvonis, tidak mampu menulis. Keinginan mengebu-ngebu, semangat belajar dibunuh, terjadi pertentangn batin. Stres. Terus, bunuh diri, membunuh potensi menulis. Kalau demikian ceritanya, wassalam.
Tulisan ini diakhiri dengan pesan, jangan pernah membunuh potensi menulis, dan … jangan pernah … menulis untuk membunuh potensi menulis. Menulislah demi mengembangkan potensi menulis.
Bagaimana menurut Sampeyan?
Banjarbaru, 9 Juni 2008.










16 Responses to “Menulis ‘Membunuh’ Diri”
By sawali tuhusetya on Jun 9, 2008 | Reply
petuah yang bijak, pak ersis. melayani orang yang “alergi” kritik memang susah, pak. mending menulis saja. bagusnya itu tulisan dilawan dg mengangkat pena, bukan ngangkat kursi, hehehehe
***Orang pintar nampaknya tidak selalu cerdas ya Pak
By sawali tuhusetya on Jun 9, 2008 | Reply
Tidak tahu kalau saya ternyata bisa komen vertamax di blog pak ersis yang mencerahkan ini, haks …
***Hayya … tu suka godain gaya saya di blog Sampeyan kan …
By hanggadamai on Jun 9, 2008 | Reply
wah postingan kali ini hampir mirip yg dirasakan temenku, gara2 postingannya dirinya mendapatkan bogem mentah dan kening yg mendarat di tembok beberapa kali..
Bener banget pak, kita harus mengambil hikmah dari semua ini, bukan menambah masalah…
***Walaha … jangan-jangan banyak juga yan telah ‘menikmati’ hal serupa. Kasian ya, masih ada yang praktik ala zaman purba.
By Fien Prasetyo on Jun 9, 2008 | Reply
setuju p.ersis…tulisan p.ersis yg ini betul2 mengena…nutrisi buat sy unt kembali semangat menulis sampe kapanpun..keep on writing !
***Nie mBak Fien muji terus, jadi malu nich … yeah, keep on writing.
By Yari NK on Jun 9, 2008 | Reply
Wah kali ini saya setuju 1000% dengan Pak Ersis dengan kata2nya yang indah:
“Kekuatan akademik justru pada perbedaan dalam mencari solusi paling pas. Kalau main kekerasan, apalagi sampai berperkara secara hukum, itu ‘dunia lain’. Kalian harusnya nemberi contoh.”
Perselisihan di dalam dunia akademis (kecuali yang mencakup kriminalitas dan masalah non-akademisnya sendiri) memang seyogianya mandiri dan tidak perlu aparat hukum untuk menyelesaikannya.
Pertama: Sebagai intelektual tentu mereka seharusnya bisa untuk menyelesaikannya secara intelektual juga. Malu dong, yang mengaku intelektual tidak bisa menyelesaikan masalahnya secara intelektual juga.
Kedua: Di setiap perselisihan akademik, saya percaya selalu ada proses “pembelajaran” di baliknya. Seharusnya anggaplah kritik itu sebagai cambuk agar mereka semua lebih meningkatkan kualitas penelitiannya di masa mendatang. Dan yang mengkritik seharusnya juga lebih fokus mengkritik pada obyek penelitiannya dan tidak melebar pada subyek penelitinya dengan tendensi untuk menjatuhkan martabat si peneliti. Tentu dalam mengkritik juga ada etikanya…..
***Ya ya. Kata lainnya, obyektivitas … tinggalkan subyektivitas. OK Kang.
By Evi on Jun 9, 2008 | Reply
Kalau menurut saya, kritik itu komoditas paling murah sedunia dan paling mudah untuk di dapat. Jadi kalau ada yang mengkritik tulisan kita, ngapain harus sampai nendang2 kursi segala, emang bisa membuat tulisan kita lebih baik?
***Komoditas paling murah … dan, saya ingin juga nendang kursi, sakit ngak ya? He he
By awan on Jun 9, 2008 | Reply
Menulis adalah kegiatan menyampaikan ide dalam bahasa tulisan. Daripada dipendam lebih baik di keluarkan…
ini kunjungan balasan, sekedar mampir 
By Alex Abdillah on Jun 9, 2008 | Reply
dan jadikan menulis untuk menghiudupkan……menghidupkan hati,menghidupkan suasana,perasaan dan jiwa……
betul kan pak ???
By sigid on Jun 9, 2008 | Reply
Seumur-umur, saya baru sekali memiliki tulisan yang dilempar untuk konsumsi umum waktu itu paper untuk sebuah jurnal. Untungnya ndak banyak peminat jadi ndak banyak kritik, he he.
Sekarang ini saya bisanya ya hanya nulis di blog dengan kualitas yang tidak jelas. Jauh dari unsur-unsur sastra. Kalau pas di kepala pikirannya aneh-aneh, terus nulis.
By Siti Fatimah Ahmad on Jun 9, 2008 | Reply
Saya tertarik dengan tajuk tuan di atas : MENULIS ‘MEMBUNUH’ DIRI. Memang tepat tulisan tuan tersebut kerana sebenarnya tanpa disedari seorang penulis menulis tulisannya dengan ‘darahnya’ sendiri.
Saya berkata demikian kerana minda adalah seperti kubu dalam peperangan. Sekiranya anda meruntuhkannya dengan membiarkan musuh menyerang anda, pasti anda akan tewas dalam setiap peperangan : darah anda akan tumpah tanpa nilai dan makna yang berharga. Maka pertahankan kubu tersebut walau siapapun yang datang menyerang dengan strategi yang bijaksana tanpa mempamirkan rasa ketakutan.
Kritikan adalah kehebatan yang perlu diterima oleh setiap penulis sebagai suatu penghargaan walaupun disifatkan umpama penghinaan atau kejelekan kerana ‘hebatnya’ tulisan kita yang dikritik itu; telah mampu membangunkan “harimau” yang sedang lena dari zon keselesaannya. Yang pastimya - “bukan mudah menarik perhatian orang terhadap tulisan kita.”
CARA MENGHADAPI KRITIKAN adalah bersikap kukuh seperti pohon beringin, tetapi tetap rendah hati (Eleanor Roosevelt). CARA MENGHINDARI KRITIKAN adalah jangan berbuat apa-apa dan jangan menjadi sesiapapun (Elbert Hubbard). Oleh itu, apabila anda tidak tahan dikritik maka jangan cuba memulai sesuatu yang baru. HAKIKATNYA….hanya dengan mata dan mulut orang lainlah, kita dapat mengenal kekurangan kita yang akhirnya membangunkan ‘RAKSASA’ yang tidur dalam diri kita sehingga kita menjadi kuat dan bersedia kembali meneruskan perjuangan.
Aduh….ternyata sakit lagi kalau isteri, suami dan anak-anak yang mengkritik kita. Sabar- sabar ajelah kan tuan Ersis. Salam kebaikan dari Malaysia.
By aminhers on Jun 10, 2008 | Reply
Hukum aksi dan reaksi di alam ini tetap ada.
Solusi Kang Ersis pada postingan di atas itu benar adanya,penulis harus siap (me-manage)aksi dari tulisannya yg di baca orang lain dengan rasional, minimal membuat tulisan lagi yang intinya minta maaf, bahwa ide tulisannya tidak sefaham dengan pembaca.
trims
By sondang on Jun 10, 2008 | Reply
sebaiknya sih sama seperti yang dikatakan pak Ersis bahwa kita mesti mencari jalan keluar yang lain daripada melapor pada polisi kecuali sudah terjadi kekerasan cocok juga polisi dipanggil daripada melakukan perlawanan secara pisik, hukum rimba kali ya?
bagiku tindakan penolakan seperti itu sampai menggebrak meja atau menendang kursi kita buat jadi tantangan untuk lebih giat menulis lagi. bisa juga kita membaca ulang tulisan kita, ada apa sebenarnya?
kita tentunya mesti bangga bahwa ternyata tulisan juga bisa membuat pengaruh cukup nyata di masyarakat hingga penulis pun kadang dijegal karena bertentangan dengan pendapat mereka. inilah bukti bahwa menulis itu bisa mempengaruhi masyarakat daripada kita teriak-teriak tiada orang yang peduli malah dibilang gila lagi.
pingin juga tuh saya merasakan kritikan dari orang lain atas tulisan-tulisan saya, tapi masih perlu kerja keras untuk mencapainya wong sampai saat ini tulisanku belum mampu mempengaruhi redaktur sebuah koran. ini juga menjadi suatu tantangan buatku dan aku tidak akan berhenti menulis jika dalam waktu dekat mereka juga tidak terpengaruh hingga ratusan kali mencoba dan terus menulis. sebab pada dasarnya menulis itu sudah belajar mengasah otak, belajar menumpahkan gagasan dalam bentuk tulisan dan itu buatku sangat menyenangkan.menulis memberi semangat baru dalam hidupku.
By budimeeong on Jun 10, 2008 | Reply
berani berbuat, berani bertanggung jawab.
By meiy on Jun 10, 2008 | Reply
mestinya menulis ‘memghidupkan’ diri ya pak,setuju, kritik adalah trigger utk lebih maju.
By mathematicse on Jun 11, 2008 | Reply
Hihihihi… memang kadangkala ada orang yang tidak suka kita menulis. Segala sesuatunya dipanang dari sudut negatif. Tulisan kita dianggap tidak layak dsb. Dikritik, dst.
Saya juga pernah, oleh seorang teman, katanya tulisan saya tidak bagus. Saya daim saja, tidak menanggapi. Tidak saya dengar sama sekali. Walaupun dia berulang-ulang mengatakan tulisan say tidak bagsu dan tidak enak dibaca.
Dia mencoba membunuh semangat saya. Dan saya pun segera membunuh semangat membunuhnya.
Whua ha ha ha ha…
By Wendie Razif Soetikno, S.Si., MDM on Jun 23, 2008 | Reply
Kriteria tulisan itu baik atau tidak kan sangat subyektif. Tulisan saya pernah ditolak suatu media, tapi setelah dikirim ke media lain, ternyata diterima. Jadi ya, maju terus. Jangan patah karena penilaian orang. Masih banyak orang lain yang punya pendapat berbeda
***ITu dai yang benar, terus tulis, terus kirim …