Menulis Meresahkan Diri
8 June 2008 | Ditulis oleh: EWA |Oleh Ersis Warmansyah Abbas
KOPYOK, sebut saja begitu namanya, kalau ditinjau dari pola pikir yang dituangkan pada tulisannya cukup bagus. Potensi dan kapasitas menulisnya cukup menjanjikan. Hanya saja, perkembangan kepenulisannya belakangan kurang bagus. Ada apa?
Teman-teman seangkatannya sharing menulis sudah lebih lancar, bahkan beberapa orang sudah menulis buku. Si Kopyok, yang semula (merasa) paling jago, sudah dianggap ‘peninggalan sejarah’. Kasihan juga. Apa pasal?
Kopyok sangat hobi mengkritisi, kalaulah tidak dapat dikatakan punya hobi khusus, menghakimi tulisan teman-teman. Duga-duaga saya, karena kemajuan rekan-rekannya pesat, untuk memperlihatkan kejagoannya, ya itu mengkritisi karya orang lain.
Tidak soal sebenarnya. Bukankah tulisan perlu dikritisi? Kita perlu kritikus untuk memperbaiki karya. Ada orang yang hobi ‘membantai’ tulisan orang lain. Klop. Tetapi, Kopyok belum pantas mengibarkan diri sebagai kritikus. Wong tulisannya saja perlu dikritisi. Lagi pula, bagaimana mungkin ‘membedah’ atau ‘menasehati’ orang lain lengkap dengan segala petunjuk kalau karyanya baru tingkat pemula.
Saya pernah menganjurkan, sudahlah biar saja teman-teman menulis sesukanya, sebisanya. Namanya saja belajar. Pikirannya bagus juga. Sejak awal kudu hati-hati, kudu ferpeck. Para pe-sharing menulis di KP EWA’MCo. memakai memanfaatkan Ersis Writing Theory (EWT). Menulis sembari membangun teori.
Tepatnya, tulis saja dulu apa yang hendak ditulis. Setelah jadi tulisan didiskusikan. Bukan mendiskusikan tulisan yang belum ditulis. Nanti hebat pada tataran diskusi, menulisnya lupa. Kehendak sempurna pada tahap memula, justru bisa menjerumuskan pada belenggu, dan menuliskannya tidak jadi-jadi.
Karena itu, setelah tulisan menjadi, apalagi dimuat di media cetak, didiskusikan tuntas. Dengan cara itu, tulisan berikutnya lebih baik. Lain halnya, kalau dipasang portal, tulisan yang baik itu begini-begitu. Kalau hal demikian semua orang paham. Inti soal, bagaimana menulis yang baik itu dilakukan. Bukan bagaimana ranah idealnya.
Lebih celaka, tentu bagi Kopyok, neuron kritisnya membesar hingga menjadi hobi. Tentu saja urat saraf kritisnya berkembang karena diasah, dan … ketika secara psikologis kalah, berubah menjadi sinis. Tulisan orang, blog orang, cara orang, salah melulu. Sayangnya, karyanya ya begitu-begitu saja. Akhirnya, orang enggan berdiskusi, sharing. Menyalahkan melulu sih.
Buat Kopyok, juga makhluk sejenisnya, saya acung jempol dan berterima kasih. Berterima kasih? Ya, kalau tulisan saya dikritisi, Alhamdulillah. Kalau pantas dijadikan masukan, kenapa tidak? Jangankan dari Kopyok, bila anjing bisa memberi saran, kalau konstruktif kenapa diabaikan. Tetapi, bagi pemula tentu lain kisahnya.
Pendek kisah, saya anjurkan. Begini saja Mas. Kalau Sampeyan mampu memberi contoh karya bagus, pasti dicari orang. Tepatnya, perbaiki karya sendiri. Kalau bagus, pasti dicari dan dibaca orang. Kalau menulis di media cetak akan dibaca orang. Menulis buku laris karena dibutuhkan. Kalau membuat blog pasti ramai dikunjungi, wong diperlukan kog.
Kalau nyinyir, dan ketika menulis berkarakter bengis, memandang karya orang jelek melulu, akhirnya membuat jiwa resah. Itu namanya membuat sumur keresahan. Yang rugi diri sendiri. Sementera yang serius latihan menulis dengan menulis kemampuannya semakin berkembang.
Dengan kata lain, memperbaiki, dan selalu memperbaiki, karya mutlak adanya. Untuk itu diperlukan kelapangan pikiran dan perasaan. Sebaliknya, jangan meresahkan diri dengan penilaian sendiri, baik terhadap diri (karya) sendiri, juga karya orang lain.
Kalau tumor keresahan disarangkan di otak, ya nanti mumet sendiri. Hidup perlu suasana nyaman, menulis lebih afdol bersusana nyaman. Resah dan keresahan, gelisah dan kegelisahan adalah belenggu menulis. Belenggu diri sendiri, dan bisa pula orang yang tidak berkarakter akan terganggu.
Mari membenahi karya. Syukur membantu karya teman. Jangan, sekali-kali jangan, meresahkan diri. Menulis jangan meresahkan diri. Menulislah untuk kenyamanan.
Bagaimana menurut Sampeyan?
Banjarbaru, 31 Mei 2008.










12 Responses to “Menulis Meresahkan Diri”
By Sandy Guswan on Jun 8, 2008 | Reply
Setuju ……
By Badiyo on Jun 8, 2008 | Reply
Kalau saya, wong dalam suasana nyaman saja belum tentu bisa menulis, apalagi dalam kondisi resah
By Raja Huta on Jun 8, 2008 | Reply
Ajakan buat semua blogger Indonsia, dan bagi siapa saja yang mensyukuri anugrah Tuhan berupa pesona keindahan Danau Toba, keunikan Taman Nasional Komodo, dan fenomena Gunung Krakatau :
ayo berikan suara dukungan (vote secara online) buat ketiga obyek wisata nasional itu, agar menang dalam pemilihan sedunia “Tujuh Keajaiban Alam”.
Saat ini, ketiga obyek wisata kebanggan kita itu masih terseok-seok di papan tengah, di antara 77 kontestan terpilih dari seluruh dunia.
Sedihnya, kita masih kalah dari Singapura dan Malaysia.
Info selengkapnya, silakan klik link ini :
http://tobadreams.wordpress.com/2008/06/06/dukung-danau-toba-agar-masuk-tujuh-keajaiban-alam/
terima kasih
***Yoha, meluncur kr TKP.
By Siti Fatimah Ahmad on Jun 8, 2008 | Reply
Satu cabaran yang amat hebat apabila setiap karya atau tulisan kita dibincang dan diberikan kritikan. Namun tidak dinafikan, ada kritikan yang membina dn ada yang menghina, memperlekeh dan memberi sindiran pedas tanpa memahami pengertian erti penulisan tersebut. Ya benar. Kerana jiwanya resah dengan kebaikan dan kemajuan orang lain. Perlukan ubat untuk merawat keresahan itu biar tenang, nyaman dan sembuh agar selepas itu dapat bersama dalam kegembiraan melihat kemajuan dan kejayaan orang lain. Saling bantu membantu adalah suruhan agama. Jangan berusaha dalam membantu merobohkan kebaikan dan kemuliaan.
Bagi yang berusaha mempertingkatkan mutu penyampaiannya baik dalam aspek penulisan, syarahan, pembentangan atau apa-apa sahaja. Teruskan usaha tanpa perlu menoleh ke belakang dan menerima kritikan sebagai tanda kemajuan diri. Kasihanilah mereka yang membuat kritikan tidak membantu tersebut kerana mereka membuat penilaian tanpa menempuhi jalan pemikiran dan pengalaman yang sama dengan kita.
Jadilah seorang yang berjiwa dan berpemikiran besar. Jangan jadi orang yang berjiwa kecil. Menurut Walt Whitman :Orang yang berjiwa kecil cepat naik darah apabila dirinya dikritik. Tetapi orang yang bijaksana mampu memetik hikmah daripada orang yang mengkritiknya dan mampu menganalisis serta menguji dirinya sendiri.
Terima kasih. Tulisan tuan mengingat dan memberi pencerahan kepada saya untuk sentiasa memberi “kredit” yang membina dan menghargai tiap sumbangan daripada sesiapa sahaja yang telah menyumbangkan idea dengan semampunya.
***Ya, jangan-jangan komentar dan masukan dari Sampeyan lebih bagus dari tulisan-tulisan saya. Makasih atas atensinya. Salam dari Indonesia.
By Kurt on Jun 8, 2008 | Reply
Bang EWA, saya berusaha memperbaiki karya, namun sayangnya apa yang harus diperbaiki sebab menulsi itu sendiri ibarat air mengalir begitu saja. Apakah memperbaiki itu seperti meniru orang lain? bukankah sampean mengatakan tidak! terus gerangan apa yang harus dieperbaiki sementara tulisan sendiri itu tidak mengerti baik atau jelek.
***Ya biarkan saja. Kalau dikirim ke media, kalau salah dibaiki redakturnya, kalau dibukukan dibaiki oenyunting naskah … itu kalau perlu. Jangan meniru orang dong, lagi pula mana bisa meniru, menulis kan dari otak, bukan dari fabrikan he he … kuea-kura dalam perahau. Salam. Kangen.
By Zul... on Jun 8, 2008 | Reply
Menulis tidak harus membuat resah, tetapi harus bisa membunuh keresahan itu sendiri. Keresahan menghantui seorang penulis karena dia tidak mampu menguasai diri sendiri. Yang menguasai justru rasa takut, takut salah, takut ga selesai, atau takut ketahuan takut.
Jadi, jika resah melanda. Stop dulu menulisnya. Atasi dulu keresahan dengan banyak membaca tulisan orang lain.
Tabik!
***Hayya … kalau resah melanda salurkan dengan menulis, tulis keresahan tersebut. Hilang deh resahnya. Gimana?
By Juliach on Jun 8, 2008 | Reply
Aku resah, susah buka blog anda.
Ihhh, jadi gemes dan resah…….
***Nah kog bisa begitu? Disini lancar-lancar saja tu … ada apa ya?
By sawali tuhusetya on Jun 9, 2008 | Reply
saya justru senang kalau resah, pak ersis. keresahan justru sering jadi sumber inspirasi *halah* kalau tidak resah justru saya sering menciptakan keresahan agar atmosfer menulis bisa tertancap. wew… mau niru2 style bahasa pak ersis kok nggak bisa juga, haks …
***Hayya … Resah, menulislah. Ciptakan keresahan, lalu menulis … itu tingkat tinggi Pak ai. Ah jangan niru tulisan saya, Sampeyan itu justru guru saya.
By Alex Abdillah on Jun 9, 2008 | Reply
yup.menulislah untuk kenyamanan………
salut…….pada setiap postingan pak Ersis ;
topic boleh beda tapi substansinya sama….hebat euy !!
By aminhers on Jun 10, 2008 | Reply
akibat menulis menjadi resah ?
saya belum sampai ke tingkat seperti itu.walau ada orang yang kurang senang tulisan saya di blog, itu hanya beda persepsi dan latar belakang saja, sing penting tulisan itu tidak menyudutkan seseorang (membuat resah orang).
trims
By sondang on Jun 10, 2008 | Reply
daripada terus-terus mengkritisi dan akhirnya jadi sinis lebih baik apa yang kita kritisi kita tuliskan, kan jadi bahan tulisan juga. kalau tulisan kritikan kita bagus karena sering dilatih pasti banyak juga tuh yang suka membacanya tetapi kalau bahasanya juga jelek dan kritikannya juga menghancurkan ini namanya pemberangusan yang tidak ada manfaatnya bagi diri dan orang lain.
mengkritik juga pasti ada aturan sopan santunnya. jika tidak suka dengan tulisan orang ya buat tulisan sendiri yang dirasa lebih bagus, bukan mengkritik agar kita tampak hebat tetapi setelah menulis akan tampak bodohnya. daripada terus-terusan mengkritik, ga ada kerjaan lain kali ya, lebih baik deh mengasah otak dengan menulis.
By esa on Jun 17, 2008 | Reply
Saya suka juga sama komentar Pak EWA..Setuju banget. hehe, soalnya ngalamin banget. Kadang klo diliat-liat, blog sy jd dumb of my brain alias brain dumb meski ga selalu gitu sih..udah kaya tempat sampah aja
***Sampah diolah jadi kompos, sangat bermanfaatkan. Tapi, saya ngak setuju deh dibilang tempat sampah, saya kan sering ke tempat Sampeyan, bagus kog. Dosa lho bilang barang bagus sampah.