Senang, Menulislah
5 June 2008 | Ditulis oleh: EWA |Oleh Ersis Warmansyah Abbas
KETIKA suasana hati suka, dalam keadaan baik, rasa puas dan lega mengayuti, adalah kondisi nyaman melakukan apa saja. Begitu sih teorinya. Kalau dalam teori menulis ‘purbakala’, kira-kira lagi mood, in the mood.
Dalam beberapa buku saya, teori tersebut telah disoroti dan memplesetkan menjadi belenggu. Menulis kalau lagi mood. Sampai-sampai, kalau tidak mood tidak menulis. Lucu. Mood itu suasana hati, kog ditunggu. Ciptakan, kondisikan suasana hati baik setiap saat.
Sampeyan mencari mood dimana saja, menunggu di terminal tidak bakalan dapat. Padahal, caranya mudah. Kondisikan suasana hati selalu baik. Bahkan, jangankan dalam suasana hati senang, dalam gundah gelana, ketika kecewa sekali pun baik untuk menulis.
Karena berbau gagas usang, kali ini kita diskusikan, bukan saja bagaimana menulis di kala suasana hati senang, yang banyak orang mengabaikannya dan hanya menikmati sebatas senang, bersenang-senang. Padahal, dalam kaitan menulis tinggal satu langkah lagi, menuliskan apa saja suasana senang yang dialami.
Bahkan, bagi penulis fasih, kondisi tersebut dijadikan landas pijak untuk menulis berbagai hal. Kalau pemula, cukuplah menuliskan hal-hal yang menyenangkan. Kalau sudah terbiasa, saat senang, menulislah tentang apa saja. Mentang-mentang senang, hanya menikmati kegembiraan sepanjang hari. Kalau sampai ketawa sendiri, tetangga bisa curiga. Kalau sering-sering, bagaimana kalau ada yang menganjurkan ke psikiater he he.
Tidak diragukan lagi, saat-saat senang, adalah waktu emas menulis. Apabila kita tidak punya ganjalan di hati, pada pikiran, sungguh menulis begitu mudah, begitu enteng. Apa saja mudah ditulis.
Hanya saja, kehidupan ini tidak selalu sebagaimana yang diharapkan. Tidak ada orang yang merindukan ketidaksenangan, tetapi hal-hal tidak menyenangkan hinggap. Kenapa tidak dilakukan pada lapisan, ketika senang menulislah, ketika tidak senang jadikan menulis agar tersenang. Pada tingkat ‘tinggi’ menulis bersenang-senang. Intinya, jangan dijadikan mood titik pusat, tetapi menulisnya.
Rahasia lancar menulis ketika hati senang, ketika plong, ya fokus. Pikiran-pikiran menganjal, yang menganggu, yang meruwetkan proses berpikir terpinggirkan. Itulah kuncinya, berpikir fokus dalam artian tidak diganggu hal-hal lain. Atau, pikiran siap beroperasi tanpa ada gangguan apa pun. Menulis jadi lancar.
Dalam pemahaman demikian, pada sharing menulis saya anjurkan, kalau menulis jangan bertanya, jauhkan kamus, buku, surat kabar, majalah … atau apa saja. Lupa, ragu, biarkan saja. Sebab, begitu menulis terganggu hal-hal sepele tersebut, konsentrasi buyar.
Pakai tehnik tulis saja, atau … (titik-titik). Misal ingin mengutip cogito ergo sum yang dikutip dari Rene Decarte. Misal lupa, cogito atau corgito, Descartes atau Descater, atau Edwar de Bono? Tinggalkan saja, tulis suka-suka, kalau sudah selesai cek, dan betulkan.
Kalau lupa, otak dipaksakan bekerja, bisa rusak suasana, bisa-bisa memaki diri, kog lupa nich, dasar otak udang. Mau mencek di majalah atau buku, bukunya ngak ketemu-temu, mau bertanya sama anak, anak tidak tahu, dan bla-bla. Akhirnya suasana senang jadi rusak.
Penyakit tersebut banyak diidap orang dan ibarat kanker tidak dibuang. Akibatnya, kesenangan menulis, kenikmatan menulis jadi hilang. Bagaimana tidak, susana nyaman dirusak sendiri. Apa susahnya menjaga suasana pikiran dan perasaan sendiri?
Ya, semua itu memerlukan latihan. Latihan menulis dengan menulis, melakukan. Dalam melakukan itulah kiat-kiat ditemukan. Menulislah dalam suasana senang, dan jadikan menulis pemicu suasana senang. Mari bersenang-senang menulis.
Bagaimana menurut Sampeyan?
Banjarbaru, 5 Juni 2008.










22 Responses to “Senang, Menulislah”
By achoey sang khilaf on Jun 5, 2008 | Reply
mohon doa dan dukungannya
saya ingin bisa menulis seperti Bapak
By Alex on Jun 5, 2008 | Reply
Dengan menulis beban yg menggelayut bisa terlepaskan, dan kita bisa happy…….
thanks pak Guru gue..hehe
By yudhi on Jun 5, 2008 | Reply
yah dengan menulis kita bisa mengembangkan kreasi dan menyalur kan inspirasi.
salam kenal.
By iva on Jun 5, 2008 | Reply
saya ingin sekali bisa m,enulis buku mohon dukungannya
By syaharuddin on Jun 5, 2008 | Reply
sangking senangnya, saya biasanya malah gak nulis mungkin karena terlalu bahagia, jadi gak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Ternyata saya salah selama ini….
By Siti Fatimah Ahmad on Jun 5, 2008 | Reply
Ya betul. Bagi saya suasana senang dan seronok menjadikan saya lebih santai memikirkan sesuatu untuk ditulis. Ideanya datang mencurah-curah seperti alunan air yang mengalir laju tanpa henti-henti. Sedar-sedar sudah lima enam muka surat ditulis. Yang penting adalah menulis dengan fikiran dan pengalaman. Jangan lupa sambil menulis itu perlu juga disertai rasa ceria dan ingin menjadikan orang lain yang membacanya juga ceria seperti mana yang tuan tulis melalui artikel ini. Sungguh senang membacanya kerana saya percaya tuan menulisnya dengan hati yang senang dan ceria. Terima kasih atas idea yang hebat itu. Ia pasti menyenangkan sesiapa yang menbacanya dan berazam untuk terus menulis dan menulis.
By hanggadamai on Jun 6, 2008 | Reply
yukk menjaga pikiran dan perasaan diri sendiri..
*
By Hery Azwan on Jun 6, 2008 | Reply
Wah, saya lagi senang nih. Mau nulis ah…
By Ahmad Nur Irsan Finazli on Jun 6, 2008 | Reply
Wah, saya tercerahkan kembali dengan membaca tulisan ini. Siip.
By ahsin muslim on Jun 6, 2008 | Reply
saya ingin sekali menulis, tapi menumbuhkan semangat menulis itu yang susah. apalagi ditambah banyaknya tugas kuliah. sehingga susah tuk mulai menulis.
bapak punya solusinya…
By aminhers on Jun 6, 2008 | Reply
menulis harus jadi menu kedua setelah makan
By firman on Jun 7, 2008 | Reply
Saya juga seperti itu, tulis aja dulu, terus langsung posting. Baru dah dipoles-poles lagi.
Kayak ujian, kerjain yg gampang, yg susah nyontek teman
By syaharuddin on Jun 7, 2008 | Reply
tumben gak ada tulisan baru? kira-kira lagi nanganin proyek “serius” ya paK…? kalau sehari apalagi seminggu gak nulis, kira-kira EWA malah gak stres ya?….ibarat orang tiap hari sholat, tiba2 gak sholat kan jadi pusing tuh….karena ada “sesuatu” yang hilang….ah itu kan kira-kiraku aja.
By aLe on Jun 7, 2008 | Reply
Hehe,
Bnr jg yah, mood kok ditunggu ^^
ah, bnr2 dah, klo k bLog oM EWA apapun bs jd bhn utk menulis.,
By santoso on Jun 7, 2008 | Reply
susah susah gampang,kalo dibuat susah ya pasti lebih susah,tapi kalo dibuat gampang,mudah-mudahan deh… bisa lancar nulisnya
By M Shodiq Mustika on Jun 7, 2008 | Reply
ingat Pak Ersis, saya senang
ingat buku kiriman Pak Ersis, saya pun senang
ingat blog ini, saya senang juga
……….
(Nah, saya sudah menulis, ‘kan, Pak)
By unai on Jun 7, 2008 | Reply
Pak, apa kabar? lama sekali saya tak kemari. Rindu…saya terperangkap kesibukan. Tulis terus ya pak
By mathematicse on Jun 7, 2008 | Reply
Pak, kalau saya sih, sebelum menulis, saya seperti sudah mengumpulkan bahan2 yang akan ditulis (idenya sudah terkumpul di pikiran). Bila ada hal2 yang meragukan, kurang tahu, atau apalah anmanya, saya cari-cari dulu biar tahu, baca2. Nah, bila sudah okey, baru deh saya nulis. Lebih mudah, cepat pula menuliskannya. Karena sudah tertulis dulu di pikiran.
By mathematicse on Jun 7, 2008 | Reply
Nah, apalagi menuliskannya dalam keadaan senang. Waaaaaaah pasti enjoy menulisnya.
Tapi kalau dalam keadaan senang, tapi ga ada bahan/ide untuk dituliskan, ya sama aja boong..
By raffdee on Jun 7, 2008 | Reply
ya, mas ersis,menulis itu diperlukan mood yang baik, kang abik ” ayat-ayat cinta” dan “ketika cinta bertasbih” banyak beraktifitas menulis ketika fajar subuh mulai naik, subhanallah.raffdee
By Kurt on Jun 8, 2008 | Reply
SENANG MENULISLAH. iya bang, saya sedang senang nih, makanya nulis komentar hehehe
***Yap, menulis itu yang penting he he
By sondang on Jun 10, 2008 | Reply
“pakai teknik tulis saja”
kata-kata pak Ersis seperti inilah yang membebaskan belenggu hambatan menulisku.
selama ini aku mengiginkan tulisan yang hebat dan terus berangan-angan dan ketika hendak menulis tidak tahu lagi apa yang mau ditulis, bingung jadinya. eh makin ingin buat tulisan bagus makin pusing lagi, karena malam kantuk pun makin menjadi dan malah ketiduran lagi. menulis pun gak jadi-jadi malah jadi menakutkan.
kini aku bisa bebas menulis dan bersenang-senang dalam menulis karena siapa coba? motivasi menulis yang dianjurkan pak Ersis yang langsung mengena pada sasaran.