Tergugah, Menulislah

4 June 2008 | Ditulis oleh: EWA |

Oleh Ersis Warmansyah Abbas

HIDUPKU berjalan datar-datar saja, kata seseorang. Hidup kog berjalan, mana datar pula, emang marmut, emang lapangan sepakbola?, sulang seseorang. Ya, sudahlah, kita tidak mendiskusikan hal-hal kebahasaan.
 
Tidak ada hidup yang monoton. Irama kehidupan sangat lincah. Ibarat waktu, kita hidup dalam lintasan waktu. Kemarin tidak sama dengan hari ini dan berbeda dengan esok. Hidup dan kehidupan, sebagaimana persistiwa hanya terjadi sekali, emmalig. Sekali dan selesai.
 
Artinya, pengalaman boleh sama dalam pengertian pola, tetapi pasti bukan pada kejadian atau persitiwanya. Sampeyan boleh saja bersetubuh dengan isteri pagi kemarin, bila bersanggama tadi pagi, waktu dan ruangnya berbeda. Kehidupan manusia berbeda dengan mesin.
 
Manusia, hidup dengan pikirannya, bukan seperti mesin yang bergerak sesuai aturan mekanisme kerja. Manusia, ujar psikolog, punya kepribadian yang berbeda antara satu dengan lainnya. Kepribadian yang dibangun atas pengetahuan, perasaan, dan naluri. Karena itu, tidak ada manusia yang sama. Setiap orang adalah individu; individual differences.
 
Kekutaan individual differences menjadikan respon dan atau perlakuan terhadap sesuatu berbeda, yang juga membedakan hasilnya. Tidak peduli, atas ‘peristiwa’ yang sama pada ruang dan waktu yang sama. Karena itu, wajar ada letupan-letupan khusus, ada gugah, menggugah diri; menjagakan, membangkitkan, membangunkan.
 
Dapat dikatakan, apabila memahami, kehidupan manusia pada setiap etapenya akan selalu tergugah, terbangkitkan. Misalkan, melihat bunga-bunga yang tengah mekar di halaman rumah, perasaan keindahan terpantik. Perasaan itu telah kita punyai, ada di diri kita, apabila melihat bunga mekar, tergugah.  
 
Kebetulan saya dosen. Suatu kali Bambang Subiyakto menggoda: “Wualah, Sampeyan bersemangat benar memberi kuliah”. Cuek saya jawab: “Angkatan ini mahasiswinya cantik-cantik, dan … ketika saya minta beli buku, mereka pada beli. Jadi, bersemangat”. Tergugah. Wajar dong, lebih bersemangat melihat orang cantik dari jelek (seperti saya), dan mau membaca.
 
Saya ingin menyampaikan, ketergugahan adalah keseharian kita. Tinggal, bagaimana memaknainya. Ketika melihat seseorang dipukuli, bukankah kita tergugah, iba? Mendengar pidato petinggi negeri, kita tahu itu dusta, bukankah rasa muak tergugah? Ketika rakyat terpuruk kemiskinan, elite sibuk mengurus partai, bukankah rasa intelektual kita tergugah? Masalah kita kemiskinan, potensi dan dana demi politik, sungguh konyol.
 
Ketergugahan, sekali lagi, yang kita dapatkan pada setiap etape kehidupan, bahkan tiap saat. Pertanyaannya, kenapa tidak ditulis? Gugah, adalah pemantik diri; diri kita terjaga atas ketukkannya. Potensi kasih, potensi sayang, potensi pintar, potensi berani, potens kreatif, dan seterusnya selalu dan selalu terpantik. Sudahkan terpindai?
 
Dalam kaitan menulis ketergugahan pematik menulis. Ragam potensi diri akan berkumpul menghimpun energi menyambut rangsangan, gugahan. Inga’-inga’, kehidupan remaja. Baca lagi surat-surat cinta yang dikirm guna merayu (calon) kekasih hati. Waduh, kata-katanya terjalin indah. Itu saat masa remaja yang lebih bermodal perasaan ketimbang rasionalitas. Hasilnya menakjubkan.
 
Ketika umur semakin mendaki, setelah kuliah, apalagi bacaan semakin banyak, pengalaman semakin bertimbun, logikanya ketergugahan semakin sensisitif. Dan, karena itu, ketergugahan semakin lihay, menulis semakin mudah. Begitu logikanya.
 
Kalau sudah demikian, tinggal melakukan satu hal lagi, menulis. Menulis, ya menulis. Tidak usah lagi belajar teori, minta pendapat, membodohkan diri dengan mempertanyakan tulisan sendiri kurang elok, tidak asyik dibaca. Cara-cara tersebut cara purbakala. Lalu?
 
Menulis saja. Menulis bukan teori. Bukan barang kopian seperti hasil pabrikan, tetapi tuangan pikiran. Solusinya latihlah menulis dengan menulis. Mula-mula agak susah, ya wajar, kalau dilakukan terus menerus, akan mudah dengan sendirinya. Mula-mula jauh dari yang diinginkan, kalau fasih yang akan membanggakan.
 
Pernah melihat tetesan air melubangi batu? Ya, itu karena keteguhan, terus-menerus, dan batu sekeras apapun berlubang oleh tetesan air. Kembali kepada ketergugahan, itu kita dapatkan setiap hari, dan saat-saat sedemikian adalah saat emas menulis. Tidak percaya? Bukiikan. Lakukan, now.
 
Bagaimana Menurut Sampeyan?
 
Banjarbaru, 4 Juni 2008.

  1. 10 Responses to “Tergugah, Menulislah”

  2. By Yoyo on Jun 4, 2008 | Reply

    Saya juga masih terus belajar menulis Mas….

    ***Sama. Mari kita belajar dan terus belajar.

  3. By Alex on Jun 4, 2008 | Reply

    saya juga tergugah ketika pak Ersis membuat komen……

    …..kemudian aku reguk cinta dan menikmatinya……..aku suka kata-kata itu

    ternyata ada seorang Dosen yg sekaliber pak Ersis, yang suka kata2 itu, padahal apalah saya ini, saya hanya orangbiasa.

    ***Berarti terus menlis dong …

  4. By hanggadamai on Jun 4, 2008 | Reply

    Diriku harus banyak belajar menulis…

    ***Sama-sama belajar Mas.

  5. By syaharuddin on Jun 4, 2008 | Reply

    …Inga’-inga’, kehidupan remaja. Baca lagi surat-surat cinta yang dikirm guna merayu (calon) kekasih hati. Waduh, kata-katanya terjalin indah. Itu saat masa remaja yang lebih bermodal perasaan ketimbang rasionalitas. Hasilnya menakjubkan…uraian EWA benar. Saya pernah bertanya kepada 3 orang ttg pernyataan di atas.Hasilnya,ternyata mereka dulunya ahli membuat puisi –bahkan juara–, menulis surat cinta –sampai berlembar2 dan catatan hubungan romantis yg bahasanya sungguh menakjubkan. Tapi…mereka bilang GAK BISA MENULIS…sungguh aneh bin ajaib.

    ***Ajaib he he … banyak orang suka menghilangkan tongkatnya.

  6. By pendy on Jun 4, 2008 | Reply

    bagaimana pa cara menyambungkan kata-kata dalam membuat suatu karya tulis….?
    binggung saya,maklum lah baru semester 2.

    ***Hayya .. tulis saja berderet-deret berurutan, gitu aja. Kalau bahasa akademisnya, runtut dan kronologis.

  7. By Siti Fatimah Ahmad on Jun 4, 2008 | Reply

    “MANUSIA HIDUP DENGAN FIKIRANNYA.”

    Suatu ungkapan yang begitu menarik minda saya tentang rangkaian ayat tulisan tuan.
    Persoalannya. Kenapa manusia hidup dengan fikirannya ? Kenapa bukan dengan matanya? atau telinganya ? atau mulutnya ? atau hidungnya? Bukankah semua itu nikmat deria yang amat penting dari Yang Maha Esa kepada hambaNya untuk meneruskan kehidupan di alam maya. Justeru itu, jika hilang deria rasa tersebut, pasti tiada lagi makna pada rasa sebenarnya. Tergugatkah kita ?

    Kenapa FIKIRAN jadi pilihan untuk menerus kehidupan manusia? Ternyata fikiran @ minda @otak @ akal adalah satu makhluk ajaib dan berkuasa atas upaya manusia. Ia adalah anugerah Allah swt sebagai pengiktirafan kepada manusia dengan gelaran ULUL ALBAB (orang2 yang berakal) jika betul-betul manusia menggunakan akalnya. Baca, teliti dan hayatilah ayat-ayat Allah berkaitan ulul albab dan ciri2nya seperti surah shod: 29; fathir:28; ali-imran:190; baqarah: 260, 269; Israk:36; Tergugat jugakah kita ?

    Melalui fikiran ini, manusia diuji dengan pelbagai rasa gugatan, keluh, resah dan gelisah yang natijahnya nanti; samada boleh memenangkan diri atau melemahkan diri. Samada semakin berjaya atau menuju jurang kegagalan. Samada semakin ceria atau sentiasa dalam kesedian. Samada menjadi manusia yang lebih optimis atau pesimis.Atau menjadi manusia yang apa apa saja.

    Hal ini dijelaskan juga oleh Anton J. Muller : “Keresahan datang bukan selalu, ia datang bukan hanya kerana kita gagal dalam mencari daya penyesuaian diri TETAPI juga lantaran kita tidak mampu mengenal diri sendiri. Saya tambah lagi : juga tidak mampu dalam mengenal TUHAN dengan sebenar-benarnya. Cinta pada bunga ia akan LAYU. Cinta pada manusia ia akan PERGI. Cinta pada Allah ia tetap KEKAL ABADI.

  8. By sawali tuhusetya on Jun 5, 2008 | Reply

    kalau pikiran sudah tergugah, konon syaraf2 motorik akan tergerak juga untuk melakukan perintah dari otak. tapi kok ada juga yang sudah tergugah, masih juga motrotiknya ndak bergerak, ya, pak?

    ***Yoi. Perlu didorong, akinya ngak ngisi Pak ai.

  9. By aminhers on Jun 5, 2008 | Reply

    Biasanya kalau tergugah dengan sesuatu obyek, menulis agak lancar seperti mengalunnya air sungai.

    ***Persis.

  10. By Haris MAP on Jun 5, 2008 | Reply

    batu di tetesi air akan lapuk,cuma kapan waktunya itu yang masih jadi tanda tanya nya. terkait masalah batu, bila Batu ginjal ma batu marin kira kira lapuk jua kah boss,

  11. By tri aja gin on Jun 5, 2008 | Reply

    wah…ada tambahan energi baru tuk nulis. kasihhhh dahhhhh

    ***Energi selalu ada … he he. kalau untuk menulis.

Post a Comment