Kecewa, Menulislah
2 June 2008 | Ditulis oleh: EWA |Oleh Ersis Warmansyah Abbas
HIDUP dan kehidupan, bak roda pedati, begitu amsal lama. Kalau roda lagi di bawah, tabahlah. Tidak mungkin selamanya. Minimal mengambil pelajaran bagaimana rasanya hidup di bawah agar jangan di bawah terus.
Ibarat kata, saat-saat menderita, jadikan ‘obat jiwa’, medan memperkuat diri. Orang-orang menderita, biasanya kuat. Pelajari sejarah orang-orang hebat. Allah mendengar dan mengabulkan doa orang-orang teraniaya. Kalau menganiaya diri dengan malas, lain lagi persoalannya.
Kalau larut dalam derita, terjun ke jurang fatalistik, itu dosa. Rasulullah, menegakkan Islam dihajar kiri-kanan. Dijadikan ‘pelajaran’ sekaligus aplikasi iman. Hasilnya, dari padang pasir jazirah Arab, dari orang tak pandai baca-tulis (ummi) berkembanglah agama rahmatan lilalamin, Islam.
Saya suka membaca, apa saja, karya Khalil Gibran. Penyair sekaligus filosof Lebanon tersebut, tulisan-tulisannya begitu membuai. Ketika membaca bagaimana penggambaran tanah nan indah di bibir Laut Tengah dalam derita nasionalisme rindukan kedamaian, sungguh menngugah gugat pemikiran dan perasaan. Tulisan pujangga patah hati itu mengangumkan.
Entah kenapa, benar atau tidak, Gibran adalah anak Lebonon yang kecewa, negaranya silih berganti ‘dikuasai’ bangsa asing. Hatinya tertekuk pilu. Apa daya, kenyataan adalah hal yang tidak terbantah.
Derita batin, derita pikiran, dan angan akan kedamaian dan ketenteraman diramu dalam puisi dan prosa. Goresan tangan Gibran dikatakan rangkaian kata-kata paling indah. Kecewa akan kenyataan disikapi dengan rinduan yang, mungkin saja, tidak membumi.
Artinya, kalau boleh dikatakan demikian, darah kekecewaan, dari derita batin, dari impian yang jauh dari kenyataan, lahirlah tulisan-tulisan dahsyat. Menulis ‘menuangkan’ apa yang ada di pikiran, yang dilumat-lumat rasa; dari dalam perenungan.
Saya tah hendak mengatakan, kalau ingin menulis yang baik, menderitalah. Bukan. Bukan pula, buatlah diri menderita, lalu menulislah. Bukan. Hidup dan kehidupan, siapa pun Sampeyan, tidak lepas dari derita, dari kekecewaan.
Kalau boleh sharing, pada derita, pada kekecawaan, kalau membiasakan berpikir positif, energi yang membalut adalah energi dahsyat. Jangan larutkan diri pada kecewa, tapi tulislah gagasan-gagasan brilian mengatasi kekecewaan. Pada setiap orang itu pasti ada.
Ya, ketika kita kecewa, ditimpa hal yang tidak disukai. Pada waktu itu potensi akan maju ke depan, demi mempertahankan kehidupan sampai bagaimana mencari jalan ke luar terbaik. Pada kondisi kebathinan sedemikian, potensi menulis mencapai puncaknya.
Ada memang yang apabila dihadapkan pada posisi sulit, justru otaknya tumpul. Tetapi, hal tersebut sangat jarang, kecuali memang sudah dipupuk. Contoh sederhana, kalau takut menghadapi UN, orang akan giat belajar. Sampai-sampai, tidak paham lagi mana jalan halal mana jalan terkutuk.
Sekalipun demikian, selama kontrol pikir masih sehat, rata-rata manusia mengeluarkan kiat-kita jitu dalam pikiran. Bahwa, mengaplikasikannya susah, itu masalah semua orang. Karena itu, melatihkan pikiran dalam ambilan tindakan enjadi penting. Celaka kalau terjerembab fatalistik.
Dalam kaitan menulis, ibarat harimau bangun. Nah, tulislah potensi yang sedang memuai tersebut. Menghadapi kekecewaan, segala yang kita punya akan maju ke depan. Siap mengeluarkan hal terbaiknya.
Tepatnya, kalau kecewa jangan larut dalam kekecewaan, tapi gunakan potensi diri untuk menulis. Menulis dalam situasi kebathinan sedemikian akan melejitkan pikiran, dan Insya Allah tulisan akan baik. Asal, bukan dalam bentuk berkeluh-kesah.
Bagaimana menurut Sampeyan?
Banjarbaru, 2 Juni 2008.










14 Responses to “Kecewa, Menulislah”
By SQ on Jun 2, 2008 | Reply
Yap, menulis sangat memotivasi diri. Menulis hal-hal besar untuk menjadi orang besar, siapa tahu, suatu saat akan berhasil mencapai impian.
Menulis menuju jalan kenyataan yang diinginkan, meskipun sebelumnya dihadang berbagai ejekan kalau si penulis tak mesti selalu bisa merealisasikan apa yang telah ditulis.
Yap,
, tapi itulah pembelajaran diri. Seyogyanya semua manusia ingin terus berproses menjadi lebih baik. Dengan berbagi dan mengekspresikan diri lewat tulisan…kenapa tidak?
***Yap, maksud ditangkap. Jawabannya, Amin.
By german on Jun 2, 2008 | Reply
menulis, menulislah
By akmalhasan on Jun 3, 2008 | Reply
Bagai dua sisi dari sebuah coin, Allah menurunkan ujian kekecewaan berbarengan dengan rahmatNya, bisa dalam bentuk hikmah dan pemaknaan atas kekecewaan tsb atau dalam bentuk naiknya tingkat pemahaman akal.
Menelurkan butir-butir hikmah dalam bentuk tulisan adalah ide brilyan. Tulisan, terlepas betapa pun tingkat obyektivitasnya, telah terbukti menjadi harta warisan yang amat berharga yang barangkali lebih berharga dari sebongkah emas.
Blog yang digagas om EWA ini penuh inspirasi untuk menulis. Saya bersyukur menjadi orang yang turut tergugah dan tersadarkan.
Maaf om kalo ambungannya ketinggian, tapi demikianlah adanya.
Salam.
By Alex on Jun 3, 2008 | Reply
benar pak, thanks atas pencerahannya.
pak saya link blog bapak ya ???
By achoey sang khilaf on Jun 3, 2008 | Reply
Pak, bijak benar postingannya
menggugah kreatifitas
By achoey sang khilaf on Jun 3, 2008 | Reply
Pak boleh nanya gak
enurut Bapak, pantaskah saya jadi penulis?
Kira2 layak terbit gak tulisan saya?
Gimana caranya ya?
By aminhers on Jun 3, 2008 | Reply
[...........kalau kecewa jangan larut dalam kekecewaan, tapi gunakan potensi diri untuk menulis..........]
akan saya ingat itu !
trims Bang Ersis
By ILYAS AFSOH on Jun 3, 2008 | Reply
SAYA menulis kadang terinspirasi oleh rasa kecewa
kecewa dan bahagia
ibarat dua sisi mata uang
By hanggadamai on Jun 3, 2008 | Reply
kecewa boleh yg penting jangan berlarut2
By bangpay on Jun 3, 2008 | Reply
saya juga nulis biasanya karena kecewa, kecelakaan, kecemplung di got, atau paling sering gara2 liat cewek-cewek kece….
ah pokoknya menulis!
By Iwan Awaludin on Jun 3, 2008 | Reply
Orang Indonesia banyak yang kecewa, kenapa hasil tulisannya sedikit yah?
By Hery Azwan on Jun 3, 2008 | Reply
Kang Abik juga dapat menyelesaikan AAC saat dia kecewa setelah kecelakaan dengan motornya. Saat itu dia yang lulusan Al Azhar merasa kecewa tidak dapat berbuat apa2. Udah jauh2 sekolah di luar negeri kok cuma gini2 aja.
By esa on Jun 3, 2008 | Reply
speechles. Selalu menggugah tulisan Pak Ersis ini. Syukran jazilan, jazakallah khayran katsira..
Yup, minimal dengan menuliskan itu bisa menghibur diri, lalu setelahnya memberikan solusi atau penyemangat pada diri. Sy masih sering berkeluh kesah, tapi mudah-mudahan akan lebih baik.
Pokoknya TULIS. Jangan malas menulis. Meski targetan melenceng, tapi pasti suatu saat akan tercapai selama kita terus bermimpi. Apalah yang sa punya selain mimpi, doa dan ALLAH..yang akan mewujudkan mimpi itu.
Tulis..tulis..tulis!!
***Ya ya ya … tulis-tulis tulis.
By Kurt on Jun 8, 2008 | Reply
Assalamu’alaikum wr. wb.
Menulis pada waktu “kecewa”, hasilnya justru tidak mengecewakan yah. Menulis saat penuh derita, hasilnya bukan penderitaan. wasih seperti yang dulu, menyegarkan mengendorkan syaraf dan memantik selalu.
Bang maafin aye, gak balas sms,g ak komentar dan seterusnya. Mestinya masalah ini ditulis yah, tapi kok gak saya tetap menulis meski dalam diam, saya akan terus menulis meski dalam setiap kekecewaan. Sulit virus yang kau tanam itu dihilangkan.
Salam ta’dzim dan hormat saya sekaligus memohon maaf atas segala kehilafanku selama ini (ceeileee, kaya sinetron aza)
*** I see. Ya, kata-kata asyik menulis dalam diam (ntar saya ambil ya anggap sedekah). Dalam EWT menulis di otak, dan nyimpan sementara di memori. Usahakan ‘lahirkan’ agar tidak membeku di memori. Kalau tidak dikeluarkan nanti akan membangun komunitas lupa di otak. Salam. Dan, sama-sama memaafkan, sinetron blog kali he he