Sibuklah, Menulislah
1 June 2008 | Ditulis oleh: EWA |Oleh Ersis Warmansyah Abbas
PERTANYAAN paling banyak diajukan selama bergiat memotivasi menulis adalah: Apa resep paling jitu agar kreatif menulis Pak?”. Jawaban paling ‘merangsang’ saya adalah: “Bersibukrialah”.
Tentu saja jawaban tersebut digugat balik. Wajar. Banyak orang beralasan tidak punya waktu untuk menulis. Sibuk. Banyak hal yang dikerjakan. Hari-hari penuh dengan kegiatan. Dan, seterusnya.
Bahkan ada yang menyoal, Anda enak saja menganjurkan demikian, kurang kerjaan sih. Bisa jadi. Tapi, kalau dipikir-pikir, kalau sibuk dikatakan mengisi hari-hari dengan pekerjaan, dapat dikatakan saya termasuk orang sibuk. Dapat pula dikategorikan orang santai. Tergantung dari sudut pandang.
Kepada anggota KP EWA’MCo. saya katakan begini: “Coba tulis apa yang kalian kerjakan selama seminggu, dan apa hasilnya”. Mereka rata-rata mahasiswa semester awal. Hasilnya, wualah, tugas rutin saja keteter dengan hasil kurang jelas, he he.
Maaf, bukan pamer. Minggu lalu, 18-24 Mei 2004, disedot ‘tour’ jurnalistik ke Jakarta dan mengerjakan beberapa hal tentang perjalanan tersebut. Minggu ini, waktu disedot untuk dua hal, melakukan wawancara dengan petingi PKS Kalsel dan mempersiakan pembukaan Multazam Utama Tour Cabang Banjarmasin.
Yang pertama, untuk nomor khusus Banjarbaroe Post, dan yang kedua pengembangan bisnis mantan mahasiswa saya. Dia sukses mengembangkan beberapa perusahaan dan ‘membawa’ membuka bisnis baru. Merancang acara, tempat, melobi Wagub Kalsel dan Rektor IAIN Antasari untuk launching di Hotel Banjarmasin Indah. Plus, media promosinya.
Tugas rutin mengontrol kolam ikan, memberi kuliah, dan menulis. Lebih seru, membeli buku serial Gajah Mada karya Langit Kresna Hariadi. Sungguh berasyik-asyik menikmati petualangan Bekel Gajah Mada. Juga, membaca serial buku Haji dan Umrah. Tidak ketingalan buku terbaru Amin Rais, Memperjuangkan Masyarakat Madani dan karya Thomas L. Harrison dan Mary F. Frakes, The DNA of Success. Sungguh membuai pikiran.
Kemaren, Jumta, 30 Mei menyelesaikan naskah cetak dengan kru Bandjarbaroe Post sampai jam 01.00 dini hari. Setelah itu memposting dua tulisan di blog, dan membaca buku Iwan Gayo, Buku Pintar Haji dan Umroh. Jam 03 dini hari tidur.
Karena minggu family day, janjian dengan Bambang Subiyakto dan Jumadi, bersenang-senang di hari Sabtu. Ualah … pagi-pagi Qomar dan Suci sudah datang. Mereka mendata buku-buku saya. Seminggu belum kelar. Bersama Bambang ke kantor dan membaca naskah akhir untuk diantar ke percetakan. Lalu kami ke Banjarmasin.
Rencana ke jembatan Rumpiang Marabahan, gagal. E … Erwin dari Jakarta me-SMS, dia mau weekend di Banjar, akan naik pesawat di Soekarno-Hatta. Kami ke Gramedia, terus menonton di Stuido 21, Indian Jones, Kingdom of The Crystal Skull. Setelah itu menelepon dan menjemput Erwin di hotel Arum. Makan malam di RM Padang.
Saat-saat begini, apalagi di mobil, adalah waktu emas berbicara banyak hal. Terbayang minggu depan akan sibuk mengurus PMPB, Pokja Peningkatan Mutu Pendidikan Banjarbaru. Dan … ini lebih penting, dalam kegiatan tersebut ide-ide muncul dan dimatangkan. Begitu sampai di rumah tinggal menyalin dari otak. Sebab, sudah ditulis di otak. Apa boleh buat, pergelaran Raihan dari Malaysia yang digagas Lihan, hanya dinikmati satu lagu. Sekadar mengantar Erwin. Kami pulang ke Banjarbaru.
Artinya, semakin waktu terpakai, semakin memudahkan menulis. Pernah dicoba bermalas-malas, leyeh-leyeh seminggu. Waduh, ngantuk melulu. Makan, baca-baca, ngantuk. Jadi paham, kalau kebayankan waktu luang malas bawaannya. Dan, … alasan begitu mudah didapat.
Penjelajaahn hari-hari memudahkan menulis. Istilahnya, apa saja bisa ditulis. Sibuk, mengajarkan, tidak memikirkan apa yang akan ditulis, tetapi menulis apa yang dipikirkan.
Kata-kata terakhir selalu saya tekankan kepada anggota KP EWA’MCo. Jangan mau bodoh, memikirkan bertahun-tahun apa yang akan ditulis hingga kehilangan waktu untuk menulis. Tulis apa yang dipikirkan, now.
Jadi, jangan pernah beralasan sibuk untuk tidak menulis. Tetapi, sibukkan diri, dan menulislah. Insya Allah, menulis menjadi mudah. Minimal, melatih diri agar tidak mengembangbiakan alasan untuk tidak menulis.
Bagaimana menurut Sampeyan?
Banjarbaru, 1 Juni 2008.













9 Responses to “Sibuklah, Menulislah”
By sawali tuhusetya on Jun 1, 2008 | Reply
semakin banyak kesibukan, justru makin terpacu utk terus menulis, ya, pak. makin mantab. alasan menunda utk menulis bisa jadi akan memfosil jadi penghambat. kalau dah begitu niat utk menulis jadi tersumbat. bener nggak ya, pak?
By Suci on Jun 1, 2008 | Reply
sebenarnya alasan itu bukan datang dari kesibukan, dari diri sendiri…hehe…diri sendiri yang membuat alasan itu selalu ada…
By SQ on Jun 1, 2008 | Reply
terima kasih atas masukannya pak…
By Teguh on Jun 1, 2008 | Reply
Hmmm..saya jadi malu, thanks atas “colekan2″nya Pak Ersis.
***Mohon maaf ya.
By Siti Fatimah Ahmad on Jun 1, 2008 | Reply
Terima kasih tuan akan kiriman salam yang dihulurkan. Semoga silaturahmi antara sesama muslim akan berpanjangan dengan pancaran ilmu yang disandarkan.
Saya tidak pernah tidak setuju dengan apa yang tuan tulis dan bicarakan setakat yang saya baca lewat penulisan tuan di dalam blog ini. Segalanya sangat relevan dengan kehidupan kita semua. Malah saya kagum dengan idea-idea yang dipancarkan. Hebat. Kerana dalam kesibukan, minda tuan bekerja dengan ligat memutarkan tiap peristiwa dengan cepat sekali untuk dibaca keesokannya.
Tersentuh saya dengan kesibukan yang dibicara sehingga tiada masa untuk kita mencoret sesuatu yang boleh dimanfaatkan. Rugi andai kita diberi ruang lapang untuk memikirkan sesuatu di minda namun hanya sekadar berlalu di minda sahaja tanpa mencapai pen atau pensil untuk ditulis segala idea yang datang sebagai sesuatu yang tetap dan diingat bila-bila masa jika kita ingin untuk merujuk semula.
Rugi patut dirasai oleh jiwa kita, andai apa yang dilorongkan oleh Allah melalui fikiran kita tika itu, tidak dimanfaat sebaiknya kerana idea yang sama diberi Allah tidak akan sama pada masa lainnya. Jadi, pastikan kita sentiasa ada pen/pensil dan kertas walau sesibuk mana untuk mencoret setiap idea yang hadir. saya pasti keseronokan menulis akan jadi satu habit berpanjangan. Terima kasih tuan dosen.
***Sama-sama. Senang dapat teman Islam dari Malaysia.
By Hery Azwan on Jun 2, 2008 | Reply
Wah, jadwalnya asyik juga, Pak.
Membaca buku, nonton film, makan2, jalan2, pelatihan. Semuanya bahan untuk menulis. Saya setuju dengan Bapak. Kalau tidak ada kegiatan malah sulit menulis.
Salam
***he he he … kalau tidak ada kegiatan, ya ngak ada produk, dan … susah menulis.
By Alex on Jun 3, 2008 | Reply
yup setuju banget pak, memang luar biasa pak ersis, benar sekali pak, semakin kita banyak bergerak dan sibuk, semakin banyak ide utk nulis.
thanks motivasinya
By esa on Jun 3, 2008 | Reply
setuju Pak EWA..sy sering seperti itu, minimal menuliskan kalimat inti dari ide yang muncul di tengah kesibukan itu. Wah,,keren keren!!
By Bibidapi on Jun 16, 2008 | Reply
wah bener juga sih pak, saya jadi tersentil nih… mungkin rutinitas saya tiap hari yang membuat saya hidup saya gak menarik, pagi berangkat kerja, pulang kerja sudah capek, tidur, lalu bangun pagi berangkat kerja lagi dan begitu seterusnya. jadi saya merasa tidak ada hal menarik yang mesti dijadikan bahan menulis. kecuali kalau weekend, itu adalah hari bersosialisasi bagi saya, jalan2, kumpul dengan keluarga, main dengan keponakan2, mungkin ini bisa dijadikan bahan tulisan, tapi ya itu tadi, saking asyiknya menikmati weekend, saya jadi beralasan untuk tidak menulis. terima kasih pak cakrawalanya
***Yap … ingat ya, yang tidak menarik itu sangat menarik untuk ditulis.