Pelitlah, Menulislah
1 June 2008 | Ditulis oleh: EWA |Oleh Ersis Warmansyah Abbas
(Tulisan ini saya tulis dalam 10 menit sembari diskusi)
PELIT? Pelit berarti terlampau hemat, kikir. Kalau ada teman yang maunya menerima saja, tidak mau berbagi, itu namanya kikir alias pelit. Pelit, kalau dikaji, bisa jadi berurusan atau berpangkal pada masalah kejiwaan.
Contoh sederhanya begini. Dalam berteman, ada teman yang ringan tangan mentraktir makan, ada pula yang maunya ditraktir melulu. Kalau lupa membawanya makan (gratis) malah ditagih. Kog situ pelit amat sih, ngak mau ngajak makan lagi. Dia lupa, tidak pernah membayari makan, maunya gratis melulu.
Tulisan ini dipicu lelucon sambil kerja pagi ini, Minggu, 1 Juni 2008, di ruang kerja saya. Seorang teman pusing blognya di blogspot ngadat. Saya anjurkan ke wordpress, alasannya kurang bisa berkreasi. Bagus.
Menurut saya WP praktis. Saya katakan: “Kalau mau WP untuk menyalurkan kekreatifan, pindah ke yang berbayar. Kata siapa mahal? Buka Dapurhosting, dengan membayar Rp.25 setahun, sekali lagi baca, Rp.25 setahun sudah pindah status ke blog berbayar, dan silahkan berkreasi”. Beberapa blog dibawah ‘naungan’ saya dibeli di NicSpace. Murah meriah.
Itu soal sikap. Rp.25 per tahun berarti per bulan seharga satu wadai (kue). “Mas, itu bukan masalah mahal atau tidak, masalah pelit, he he”. Kali tertawa-tawa. Ok lah, sebagai perangsang, kalian semua saya belikan setahun. Kalau blognya bagus, ya nanti tambah sendiri he he.
Banyak hal, terutama dalam kaitan tulis-menulis, bisa jadi karena urusan pelit-memelit hingga tidak dijadikan prioritas. Kenapa kalian malas menulis? Bercanda memotivasi saya goda: “Karena kalian pada dasarnya turunan orang-orang pelit, he he. Punya ilmu, pengalaman, atau hal-hal lucu, tapi tidak mau berbagi. Alasan yang dikemukakan. Kini, coba tulis”.
Saya yakin, bukan maksud menghina, tapi memotivasi. Kalau tidak pelit dengan pikiran, jangan beralasan, dan menulislah. “Bagaimana kalau jelek, salah, tidak menarik?”. Manusia belajar dari kesalahan dan kebetulan. Kalau kalian salah, bisa belajar dari kesalahan, orang lain belajar dari kesalahan (kebodohan) kalian. Bermanfaatkan?
Coba berpikir radikal. Malas membaca, jangan-jangan karena pelit belajar ilmu (pengetahuan). Beralasan susah menulis, karena pelit menulis. Untuk diri saja kikir, bagaimana mau berbagi dengan sesama. Itulah pelit.
Dalam hal rizki, ustad Yufuf Mansur punya kiat, bersedalah, rizki akan datang tanpa diduga. Disamping buku berian ustadz mansur, saya baca buku Maulana Muhammad Zakariyyah Al-Kandahlawi Rah A., Ingin Kaya Bersedekalah dan beberapa buku lainnya.
Tentu ukan bermaksud menandingi Yusuf Mansur dalam soal bersedekah. Pikiran tergoda, bisa jadi agak lancar menulis karena ‘bersedekah’, berbagi pengalaman. Banyak teman-teman yang terinspirasi dengan tulisan saya. Saya pesedekah tulisan (geer loe). Namanya saya pikiran yang tiba-tiba terpantik. Maaf ya.
Sudahlah, dalam kaitan menulis, semakin menulis semakin mudah. Saya punya contoh lain, susah mengomentari tulisan di blogspot. Paling-paling kalau ada shoutbox baru berkomentar. Dasar pelit, pelit sekadar belajar dan atau menaklukkan diri berkomentar. Mohon maaf bagi teman-teman blogspotmania. Tapi, suka berselancar ke blog Sampeyan sabarataan.
Pelit, kikir, dalam menulis, barangkali karena memang tidak suka berbagi (ngak ini bencanda euy). Yang pasti, manakala rutin menulis, tidak kikir menuls, kelancaran menulis, menulis menjadi mudah.
Tulisan ini, sekadar penggugah. Betapa, dari hal sederhana, kejadian yang remeh-temeh, bisa menulis satu artikel, dan … Insyah Allah akan menjadi bagian buku. Ya, karena tidak kikir, tidak pelit menulis.
Bagaimana menurut Sampeyan?
Banjarbaru, 1 Juni 2008.










17 Responses to “Pelitlah, Menulislah”
By SQ on Jun 1, 2008 | Reply
Boleh pak. tapi ada hal lainnya, dalam tataran menulis, pelit menjadi alasan, tapi kenapa pelit?
masih ada alasan lainnya seperti tidak pede dengan tulisan sendiri, takut di olok-olok tulisannya jelek..makanya jadi takut berbagi.
By Robert Manurung on Jun 1, 2008 | Reply
Betul Bang, blogspot itu menyusahkan pengunjung yang ingin komen. Kalau istilah populernya blogspot nggak friendly user.
Aku suka WP dan belum melihat alternatif lain.
Salam merdeka
By kangbarok on Jun 1, 2008 | Reply
saya ada shout boxnya loh! komentarnya loh! hehehe
***Yoi.
By Anang on Jun 1, 2008 | Reply
ternyata pelit disegala bidang apapun bisa mengakibatkan hal buruk ya.. yuk hlangkan pelit menulis…. hayukk
***Hayuk … memang tidak disukai dari sononya he he. Belajar tidak pelit, seni hidup lho Mas Anang. Tapi, saya masih pelit juga he he untuk beberapa hal.
By sawali tuhusetya on Jun 1, 2008 | Reply
blog memang media yang tepat utk sharing dan bersilaturahmi, pak. ttg blogspot dan wordpress saya kira2 punya kelebihan dan kekurangan masing2. itu tergantung pemegang adminnya. sekarang, layanan utk berkomentar di blogspot juga sedikit ada kemudahan, kok, nggak terlalu repot kayak dulu. komen di shoutbox itu tak akan ada pengaruhnya terhadap akses postingan, pak. itu kan hanya utk say hello saja, hehehehe
sekarang shoutbox di blog saya malah saya lepas, hehehehe
merepotkan proses loading!
***Setuju. Aneh juga, saya dah takut duluan ama blogspoy, jadi mohon maaf. Saya ni ah … Mudahan ada yang lain; Oggyg bermasalah terus tu.
By hamsin on Jun 1, 2008 | Reply
ngomong2 masalah pelit kita bisa dijauhkan dari rezeki lho pak, so jgn pelit menulis
By suhadinet on Jun 1, 2008 | Reply
Saya bukannya pelit Pak
Cuma nulisnya itu yang agak susah…
Mulai dengan kata apa?
Diakhiri kata apa?
Bikin supaya menarik gimana cara?
Kadangkala setelah selesai nulis dibaca, e..ketahuan gak bagusnya..
Tapi saya tetap terus belajar kok Pak.
***sama-sam belajar dengan menulis. Semua tulisan bagus, yang jelek-bagus, penilaian tentang tulisan. Kita menulis ajalah dulu, ntar menilai he he.
By sluman slumun slamet on Jun 1, 2008 | Reply
saya juga nggak pelit kok pak….
tapi pak kalo terlalu dermawan gimana? kasihan pembaca… keteteran buat mengikutinya….
**Amin. Jadi rizki menulisnya berkembang, karena disedekahkan.
By hanggadamai on Jun 2, 2008 | Reply
domain berbayar, pengen sih tapi keknya masih banyak keperluan yg harus ditunaikan sebelumnya,,
itu termasuk pelit bukan pak??
***Ya. Itu kan masalah prioritas. Rp.25 per tahun. Alias, Rp.2 an per bulan he he.
By Yari NK on Jun 2, 2008 | Reply
Kalau pelit menulis…. mungkin dia nggak percaya diri atau mungkin ia tidak bisa menulis dengan baik (setidaknya menurut persepsinya sendiri. Nah, kalau sudah begitu, giliran kitalah yang untuk tidak pelit berbagi pengetahuan caranya menulis kepada dia dan meningkatkan kepercayaan dirinya agar dia tidak “pelit” lagi…..
***Itu dia. Kita motivasi, mari jangan pelit menulis.
By Hery Azwan on Jun 2, 2008 | Reply
Sumpah, Pak. Saya nggak pelit kok dalam menulis. Semua sudah saya tuliskan. Eh, yang bener?
Salam Pelit ehh Menulis, Pak.
***He he … bisa aja
By Siti Fatimah Ahmad on Jun 2, 2008 | Reply
Ya betul.Saya setuju dengan tulisan tuan.Apa yang kita hidangkan dalam penulisan kita walau sedikit atau banyak buat tatapan mata (sekadar dibaca)dan santapan rohani (menusuk ke jiwa yang akhirnya memantulkan gerak laku untuk berubah)bukan untuk diri kita semata-mata, malah ia adalah kongsian ilmu buat semua.Semua manusia yang memahami catatan kita.
Jika kita kikir atau pelit dengan ilmu yang ada. Rugi teramat rugi. Sedikit ilmu yang kita calitkan buat bacaan dan jika bermanfaat ia berubah pemikiran manusia yang akhirnya manusia itu berhijrah dengan kuasa ilmu yang kita tulis walau hanya beberapa ayat itu. Sungguh menguntungkan bukan! Ganjarannya mengalir sampai ke akhirat. Tak perlu wang tapi piala Allah yang begitu tinggi nilainya. Ilmu ini kepunyaan Allah. Kita hanya laluan yang diberi sedikit ilmu untuk menyaksikan kekuasaan dan keagungan dalam ciptaanNya.
Allah punyai ilmu atas seluruh alam dan mahluk ciptaanNya.Tiada bandingan ilmu atau kalimah2 Allah itu. sebagaimana firman Allah swt dalam surah al-Kahfi : ayat 109 yang bermaksud :
“Katakanlah (wahai Muhammad): Kalaulah semua jenis lautan menjadi tinta untuk menulis kalimah2 Tuhanku, sudah tentu akan kering lautan itu sebelum habis kalimah2 Tuhanku, walaupun Kami tambahi lagi dengan lautan yang sebanding dengannya”
Ternyata Allah tidak pernah kikir dengan ilmuNya. Maka manusia sebagai hambaNya perlu mengambil tiap iktibar sifat pemurah Allah dan sifat Baginda Rasul SAW yang sentiasa pemurah kepada sesiapa sahaja.
Malah SENYUMAN itu juga perlu disedekahkan pada sesiapa agar dapat pahala dan disifatkan sebagai separuh dari IMAN.Senyumlah seindah suria. Pasti dunia akan ceria selamanya. Bayangkan dunia ini, jika SENYUMAN pun kita pelit/kikirkan juga. PASTI MATAHARI akan suram sepanjang masa. Rasa-rasa saya saja. Betulnya belum tentu.
***Sip, saya justru merasa dapat pencerahan dari Sampeyan. Oh ya, ada punya blog?
By eNPe on Jun 2, 2008 | Reply
kadang gak enak juga komen di blogspot tp gak punya ID blogspot, alhasil komen di shoutbox

ulun lagi proses buat domain *promosi mode on*
By Siti Fatimah Ahmad on Jun 3, 2008 | Reply
Terima kasih tuan, jika tulisan saya ini memberi pencerahan buat tuan dan sesiapa yang membacanya. Saya sekadar hanya ingin berkongsi ilmu Allah yang dipinjamkan sedikit buat saya bagi menajamkan minda dan mengasahkan kebolehan saya dalam bidang penulisan.
Rasa segan pula, bila orang sehebat tuan jadi “tercerah” oleh penulisan saya yang tidak seberapa ini. Yang sebenarnya saya yang rasa lebih mendapat pencerahan dengan segala idea yang tuan tuliskan kerana dengan rasa tersebut, mendorong saya untuk mendapat lebih banyak idea untuk menulis dan bagaimana untuk memudahkan penulisan. Moga Allah memudahkan urusan ilmu kita semua.
Maaf tuan, saya tidak punyai blog sendiri. Hanya pelayar internet yang sekadar ingin berkongsi ilmu yang boleh dimanfaatkan bersama.
Pantun Melayu :
Buah cempedak di luar pagar.
Ambil galah tolong jolokkan.
Saya budak baru belajar.
Kalau salah tolong tunjukkan.
Terima kasih atas perhatian tuan terhadap tulisan saya.
By Alex on Jun 3, 2008 | Reply
iya juga ya pak, dari hal remeh temeh bisa jadi tulisan, bahkan bisa jadi buku……hehe
By esa on Jun 3, 2008 | Reply
lagi lagi cuma bilang “Setuju”
Pa Ersis bener, klo mo lancar nulis, tulisalah..apapun. Dan alhamdulillah, sekarang sudah mulai lebih baik, tapi hari ini kok aneh ya Pak..ga bisa nulis di blog, bukan krn blognya error, tapi ga tau mo nulis apa, paling cuma job review di blog kantor
By yadi on Jun 14, 2008 | Reply
bujjur tu bank ae !!!
***Yoha … mudahan aja ai