Menulis Manusia Purbakala
31 May 2008 | Ditulis oleh: EWA |Oleh Ersis Warmansyah Abbas
KALAU melontar imajinasi ke zaman purbakala, bisa jadi ada kesimpulan aneh, hidup di masa itu, nyaman dan menyamankan. Alam menyediakan segala kebutuhan kehidupan. Tidak heran, berbagai gerakan, back to nature digerakkan sangat serius.
Alam nyaman, alam dahulu kala. Alam asri dengan hutan-hutan perawan, burung-burung yang bersiul, ombak jernih mendatangkan keikmatan, udara masuk paru-paru mendamaikan. Alam kehidupan manusia prubakala.
Ya, alamnya, manusianya, tidak sekejam manusia sekarang yang tega-teganya menghancurkan tempat hidup dan berkehidupan. Alam kini bisa menjelma menjadi musuh manusia, tersebab manusia lalai pada alam. Alam berian Yang Mahakuasa.
Sungguh sayang, jarum kehidupan tidak bisa diputar balik. Alam purbakala masa lalu. Kehidupan lurus ke depan. Back to the future adalah jargon manusia masa kini. Masa terdekat adalah masa depan. Zaman terjauh, dan semakin menjauh, adalah masa lalu. Manusia dungu yang bermimpi kembali hidup ke era purbakala. Masa lalu adalah pelajaran, ilham, dan inspirasi.
Banyak simpankan kepositipan alam purbakala, dan (pada) manusia purbakala. Dalam kaitan menulis, dalam tatapan pengembangan kebudayaan, terlepas dari aneka kepositifannya, ada hal ‘lucu’ yang tidak dapat kita tiru dari manusia purbakala. Apa itu?
Kemampuan membaca dan menulis. Dalam kaca pandang demikian, terlepas apakah benar kebudyaan kita sekarang ‘maju’ atau malahan mundur, tidak dapat tidak, manusia purbakala sering ‘dicemooh’. Manusia moderen sandangan kebanggaan.
Lucunya, sekalipun kibaran manusia modern dijadikan kebanggaan, banyak yang berprilaku purbakala. Malas membaca, apalagi menyediakan bacaan. Pikiran berkembang, ilmu dan tehnologi melejit bak meteor, tetapi kemamampun ‘merekam’ dan ‘mengembangkannya’ mengalami involusi. Maaf, terutama bagi manusia-manusia Indonesia yang katanya hidup di era moderen. Contohnya saya. Betapa tidak. Banyak perilaku manusia purbakala dipagut erat.
Manusia purbakala adalah manusi yang tidak piawai membaca, tidak mampu menulis. Kecerdasan dan kecapakan untuk itu tidak memadai. Diperlukan waktu berabad-abad mencapai tahapan kebudayaan membaca, dan menulis. Kebudayaan, dan nilai-nilai dilestarikan dengan menceritakan, mendongengkan. Akibatnya kebudyaan dan peradaban lamban berkebang.
India, misalnya, negara yang dengan Indonesia hampir mengalami problem pembangunan yang sama, kini tidak dapat dipandang enteng lagi. Pajar India dan Cina, konon dikatakan, adalah cahaya Abab XII. Kenapa?
Satu sisi yang perlu dicermati, para intelektual India menuliskan pikiran mereka untuk disambungsampaikan ke khalayak. Buku-buku dicetak besar-besaran dengan harga murah. ‘Kebudayaan’ berbicara, menghabiskan hari-hari di ruangan seminar atau kedai kopi, dikurangi. India negara berkempabng pesat, akan menjadi jawara produk teknologi tinggi. Berbuat, berkarya, tidak bicara doang.
Menulis, dan tandem membaca, adalah pilihan mencerdaskan. Jangan ditanya, pengembangan ilmu dan tehnologi di negara-negara Uni Eropa, AS, dan Jepang yang berbasis penelitian, menghargai membaca dan menulis. Membaca di stasiun, di ruang tunggu, atau dimana saja. Tidak beradu debat, beradu bicara. Intelektual mereka menulis. Meninggalkan gaya manusia purbakala yang belum mampu membaca dan menulis.
Setiap oang yang menulis, apalagi yang ditulisnya baik dan bermanfaat pada dimensi manapun, pastilah diawali dengan membaca; menbaca yang tersurat dan tersirat. Itulah ciri manusia moderen.
Kalau, baru berkemampuan membaca, memburu bacaan hasil pikiran mereka, ibarat manusia purba, berposisi food fathering ilmu dan tehnologi. Gelisah dan bersumpah serapah, tentang produk bacaan tulisan orang, tetapi tidak menulis sebarispun. Cemas dengan pengaruh American Idol, atau Dora Emon, dan menghabiskan berhalaman-halaman surat kabar membahasnya, namun … lupa menulis yang lebih hebat dari itu.
Kita, barangkali, mengalihkan kemampuan bicara dalam mendebat, mencaci, memakin, mengritisi atas nama kehebatan, tetapi lupa menulis. Sebenarnya, manusia purbakalakah kita? Atau, bersemangat manusia moderen, tetapi tindakan manusia purbakala. Entahlah.
Bagaimana menurut Sampeyan?
Banjarbaru, 31 Mei 2008.













56 Responses to “Menulis Manusia Purbakala”
By SQ on May 31, 2008 | Reply
kemampuan membaca dan menulis memang berbanding lurus dengan peradaban manusia.
Yang sangat jelas tercatat dalam sejarah, sesudah mesin cetak ditemukan oleh Guttenburg, dunia melahirkan banyak ilmuwan-ilmuwan hebat.
produksi buku semakin dipercaya untuk mewariskan ilmu. saya malah berpendapat
,selain guru,penulis adalah ujung tombak penyebar ilmu pengetahuan
By Alex on May 31, 2008 | Reply
zaman purbakala itu kira2 kapan tu ya pak???
karena sekarang masih ada orang purbakala rupanya……hehe.:D
By Suci on Jun 1, 2008 | Reply
Kata orang….sejarah mencatat…tapi sebenarnya kita yang mencatat sejarah
By septha on Jun 5, 2008 | Reply
Memang Dalam Konteks nyata dalam kehidupan, Sejarah dimulai sejak manusia mengenal adanya tulisan. Namun yang namanya tidak pernah akan luput dari alasan-alasan yang diciptakan dirinya sendiri untuk tidak menulis. Hal inilah yang melanda sebagian besar masyarakat Indonesia Termasuk Para Akademisi, sehingga dapat disimpulkan bahwa negara kita ini sebagian besara masyarakatnya masih berada dalam jaman prasejarah meskipun sudah mengenal tulisan dan membaca. Termasuk Saya,, Hehe,,
By Akhmad fauji on Jun 6, 2008 | Reply
Kalau berbicara keadaan kehidupan dijaman purba dan jaman sekarang,kalau dibandingkan secara fisik sepertinya lebih enak jaman purba.Soalnya jaman purba itu kehidupannya lebih damai,cukup untuk mencari makan sehari saja yang sudah disediakan alam.berbeda dengan jaman sekarang,kehidupan penuh dengan tantangan dan persaingan,mau apa2 mesti harus bayar.Sepertinya alam pun sudah mengenal yang namanya uang,sehingga tidak menyediakan yang gratis lagi.
Namun itulah kehidupan,yang merupakan suatu pilihan,apakah kita ingin maju/apa adanya.Kita harus berani menghadapi tantangan hidup ini,karna hidup adalah masalah dan masalah itu harus kita selesaikan.Agar kita bisa maju kita merti memper banyak pengetahuan kita,caranya ya tidak lain dan tidak bukan yaitu dengan membaca.
Namun mestinya kita tidak sekedar membaca saja,dan mengikuti apa yang kita baca saja.kita mesti menyerap hal yang kita baca dan kita ciptakan suatu ilmu/pengetahuan baru yang kita sesuaikan dengan keperluan dan kepentingan kita.Hal inilah yang disebut inovasi individual yang akan membuat kita maju.Kalau kita hanya mengikuti seperti apa yang kita baca saja,kita tidak akan bisa maju melebihi orang yang kita tiru saja.
Apalagi kalau hasil karya/ilmu yang kita miliki kita jadikan buku atau tulisan,lebih bagus lagi.Karna akan menjadi kekal selamanya dan dapat dimanfaatkan orang lain.
By Riduan Saidi on Jun 6, 2008 | Reply
Ass…Ewa
Manusia purbakala lebih parah lagi dari manusia pra sejarah. Mereka tidak pandai bicara maupun menulis. Menulis merupakan kebudayaan yang lebih berarti dibanding kebudayaan bicara. Menulis hasilnya akan dapat dilihat oleh banyak orang terlepas baik atau tidaknya hasil tulisan tersebut.
Kebudayaan berbicara sebaiknya dikurangi apalagi kalau cuma omongan yang tidak karuan. Bangsa yang pandai menulis kebudayaan akan lebih maju. Pandai berbicara memang tidak salah. Tetapi harus seimbang antara omongan dan tulisan.
By Setiyadi on Jun 6, 2008 | Reply
Ass, EWA..
Zaman purbakala alam sangat mempengaruhi kehidupan manusia. Dengan kata lain kehidupan masa itu dipengaruhi oleh alam. Namun sekarang manusia lah yang menentukan alam, manusia dengan kemampuannya mampu merubah alam. Apa-apa yang dihasilkan manusia dengan menggunakan cipta, karsa, dan rasanya adalah sebuah kebudayaan. Kebudyaan tersebut ada yang berwujud dan ada yang tidak. Dengan kemampuan membaca dan menulis manusia jaman sekarang seharusnya tidak boleh kalah dengan manusia jaman-jaman purba. Semakin banyak orang menghasilkan tulisan maka akan semakin besar kesempatan menciptakan sebuah peradaban besar, tidak hanya dengan omongan tentunya. Jadi mulai sekarang, perbanyak lah menulis dan kurangi berbicara..
By wiwik norliyana on Jun 6, 2008 | Reply
Ass…
Tong kosong nyaring bunyinya. Saat ini mungkin peribahasa itu yang pantas buat kita (termasuk saya). Banyak bicara tanpa menghasilkan sesuatu yang bermanfaat. Zamannya memang modern, tapi kita tidak lebih hidup di zaman prasejarah. Setiap orang mungkin saja bisa menulis, tapi tidak setiap orang bisa mengeluarkan idenya dalam bentuk tulisan. Ya..itu salah satu alasan mengapa kita tidak menulis. Saya sendiri merasa sulit untuk menulis (termasuk manusia purbakala ya pak).
Mengabadikan suatu ide dalam bentuk tulisan memang sangat bermanfaat. Mengapa demikian? Apa pun yang kita tulis tidak bisa dibantah oleh orang lain, karena kita mempunyai bukti tertulis sedangkan orang lain tidak.
Jadi, sebaiknya dari sekarang kita mulai menulis. Mulai dari hal-hal kecil ke hal-hal yang besar. Tinggalkan zaman purbakala dan benar-benar belajar menjadi manusia zaman modern.
By diah eka rini on Jun 6, 2008 | Reply
kita adalah manusia purbakala yang bertopengkan moderenisasi. kita sekarang hanya bisa menikmati yang telah ada tanpa pernah menghasilkan sesuatu yang berguna. bahkan bisa di katakan kita masih memakai cara-cara purba yaitu menjadi konsumen produk purba. lebih parahnya lagi life style modern tapi pemikiran purba. janganlah terus terusan hidup di jaman purba ayo kita beraction hasil karya adalah buktinya. melalui tulisan sudah membuktikan kita keluar dari jaman purba setidaknya anak cucu kita nanti lebih banyak ilmunya dari cuma sekedar Food gathering seperti yang kita dapatkan sekarang.
By Dwi Setiowati on Jun 7, 2008 | Reply
Manusia purbakala dan modern hanya memiliki satu perbedaan. Manusia purba hanya memikirkan cara makan yang membuat pikiran mereka berkembang, sedangkan manusia modern hanya memikirkan “konsumsi” yang membuat mereka mundur ke jaman purbakala. Manusia purba dalam perkembangannya menuangkan ide-idenya ke dalam tulisan dan manusia modern dalam kemundurannya menuangkan ide-idenya ke dalam omongan. Lalu siapakah yang pantas disebut manusia purba? (termasuk saya kira-kira manusia purba juga)
By MARTINA on Jun 7, 2008 | Reply
MENULIS MANUSIA PURBAKALA
Bertolak dari ciri yang bapak berikan tentang manusia purbakala dan manusia modern, berarti manusia Indonesia termasuk dalam kategori manusia bersemangat modern tetapi tinadakan purbakala. Dikatakan bersemangat modern, karena dimana-mana kita selalu mengklaim bahwa kita adalah manusia modern dan memang kita telah hidup di zaman di mana orang sudah mampu membaca dan menulis. Dikatakan bertindak purbakala, karena kita hanya sebatas mampu membaca bacaan hasil pemikiran orang lain tanpa mampu menulis (berpola food gathering). Dan kadang kala kemampuan itupun tidak kita gunakan, kita malas membaca. Sehingga wajar kalau kita tidak mampu menulis, apa yang mau ditulis kalau otak kita kosong akan ilmu.
Manusia Indonesia (termasuk saya) adalah manusia yang malas membaca. Sulit sekali menerapkan kebudayaan membaca di Indonesia. Orang yang membaca akan mendapat cemoohan, dikatakan sok pintar dsbnya. Sebagai contoh yang paling nyata dapat kita jumpai di FKIP Unlam sendiri. Kalau tidak ada dosen, para mahasiswanya lebih memilih ngerumpi, bercanda ria, ketawa-ketiwi, gaya sana sini. Kalau ada diantaranya yang mencoba membaca pasti dikatakan “ anak rajin ni ye” bla bla bla…
Di Indonesia orang malu membaca. Orang takut dicemoohkan, takut dikatakan sok kepintaran, takut dikatakan yang macam-macam. Sedangkan di negara lain, seperti di Jepang orang malu kalau tidak baca. Gimana bisa nulis klo ga baca? Klo kaya gini terus kapan kita bisa maju??
By ihya ul ihsan on Jun 7, 2008 | Reply
Satu hal yang katanya pasti membedakan manusia prasejarah dengan manusia sejarah adalah kemampuan menulis dan membaca.Namun seringkali manusia sejarah yang mengaku modern masih berprilaku seperti manusia Prasejarah.Dengan menulis dan membaca kehidupan berkembang.Catatan-catatan merupakan alat untuk dapat menuju zaman sejarah.Untuk tetap berada di zaman sejarah kita harus tetap memiliki catatan-catatan.
By selvia agustina on Jun 7, 2008 | Reply
Kita yang sekarang hidup di zaman modern,tentunya berbeda dengan manusia yang hidupnya di zaman purbakala.Kehidupan di zaman modern ini tentunya seharusnya mempunyai peradaban yang lebih tinggi dari pada kehidupan zaman purbakala.Dengan kemampuan membaca dan menulislah yang dapat mengangkat peradaban suatu manusia menjadi lebih tinggi.Orang yang menulis tentunya orang yang membaca.Namun orang yang membaca belum tentu menjadi orang yang menulis.
By Linda Araini on Jun 7, 2008 | Reply
Manusia purbakala wajar saja jika tidak memiliki kemampuan membaca dan menulis, hidupnya saja bergantung dengan apa yang disediakan oleh alam begitu pula dengan hidup yang berpindah-pindah. jika dilihat berbeda sekali dengan kehidupan msnusia di zaman sekarang yang lebih maju. manusia bukan hanya bisa tergantung pada alam tetapi juga mengolah alam dengan adanya berbagai kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan. seharusnya memang, kemajuan yang ada diarengi dengan semangat untuk mbaca dan menulis agar tidak ketinggalan. Dengan membaca dan menulis kita bisa mengikuti perubahan zaman dan pengetahuan yang ada di otak kita bisa bertambah.Bukankah kita lebih maju dalam cara berpikir dari pada manusia purbakala oleh karena itu kita harus meningkatkan kemampuan membaca dan menulis.
By Ni Luh Sri Arsini on Jun 7, 2008 | Reply
Manusia pra sejarah dan sejarah memang berbeda yaitu dari kemampuan membaca dan menulisnya. Semua orang memiliki kemampuan membaca dan menulis, hanya saja tidak semua orang menggunakan kemampuan yang ia miliki dengan semaksimal mungkin. Kebanyakan orang cuek dengan masalah membaca dan menulis . Hal ini tidak sesuai dengan zaman sejarah yang dikatakan moderen saat ini . Namun kita dapat dikatakan memiliki pola pikir yang lebih maju jika dibandingkan dengan manusia purba , walau pun kita masih tergolong malas untuk menulis. Hal ini dapat dilihat pada berbagai bidang kehidupan , misalnya tekhnologi yang digunakan sudah lebih canggih jika dibandingkan dengan zaman purba.
By Asmia Ulfah on Jun 7, 2008 | Reply
Dijaman yang modern ini ternyata masih banyak yang berpikir seperti manusia purbakala, seperti kita liat di media-media, banyak yang mengkritis tetapi tidak mau berpikir memberi solusinya. Di Indonesia tidak terhitung jumlah perguruan tinggi, mahasiswa, dokter, professor, sarjana, insinyur dan lain-lain. Lalu seberapa besar kontribusi mereka untuk bangsa ini ? tentunya kita sudah tau. Di pasaran sudah banyak beredar ribuan bahkan jutaan buku, tentunya masih banyak yang ingin disebut bukan manusia purbakala, budaya ngeblog saya rasa juga bagus untuk perkembangan membaca dan menulis. Menurut saya, bermanfaat atau tidaknya tulisan kita, itu tergantung dari pemikiran orang. Menulis dan membacalah !!!!
Berbahagialah menjadi manusia jaman sekarang dari pada manusia di jaman purba.
By abdul rahman s. on Jun 7, 2008 | Reply
Manusia purba kala adalah manusia yang belum dapat kemampuan untuk menulis dan membaca, karena di zaman itu manusianya masih menggunakan pradapannya. di bandingkan dengan kehidupan yang modern sekarang tentu akan lebih mudahkita menggunkananya karean kehidupan sekarang sudah canggih, jika dilhat berbeda sekali dengan kehidupan manusia sekarang.
By Santy Dwi P. on Jun 7, 2008 | Reply
Zaman purbakala, memang pada saat itu keadaan alam masih asri dan nyaman tidak ada kecemasan akan global warming atau berkurangnya lapisan ozon. Dan manusia yang hidup pada masa itu adalah manusia yang tidak bisa membaca dan menulis. Tetapi kita manusia modern yang sudah tau menulis dan membaca malah malas untuk melakukannya. Bukan karena tidak bisa tetapi karena MALAS. Sayangnya pendidikan kita di indonesia juga terkenal akan budaya malasnya, guru dan murid sama – sama malas , bahkan di perguruan tinggi juga demikian akhirnya pendidikan menjadi tidak maksimal,menulis dan membaca tidak menjadi suatu kebiasaan.
sering dikatakan bahwa membaca adalah jendela ilmu, lewat membaca manusia bisa mendapatkan banyak pengetahuan. dengan adanya pengetahuan manusia bisa menuangkan pengetahuannya itu dengan menulis. Kebiasaan membaca dan menulis harus dilatih sedini mungkin agar saat besar sudah terbiasa membaca dan menulis. Bila kita rajin membaca dan menulis maka kita akan menjadi manusia yang berkualitas, dan yang pasti tidak menjadi manusia yang Omong Doang….
By Melisa Prawita Sari on Jun 8, 2008 | Reply
Apabila mendengar kata manusia purbakala, maka kita dapat membayangkan bagaimana kehidupan manusia tersebut yang hidup di zaman purbakala dimana kehidupan mereka sangatlah bergantung pada alam, beda sekali dengan zaman yang sekarang kita rasakan kita hidup dengan teknologi yang serba canggih dan modern, semua hal dapat kita peroleh dengan instan. Kita sebagai manusia yang hidup di zaman modern ini harusnya bisa lebih pandai memanfaatkan semua kecanggihan teknologi untuk hal-hal yang bermanfaat. Namun, kebanyakan dari kita banyak melupakan hal tersebut karena terlena dengan semua keindahan teknologi sekarang dan tidak jarang dengan adanya kecanggihan teknologi tersebut digunakan untuk hal-hal yang negatif.
Salah satu hal yang dapat kita lakukan sebagai manusia yang ‘modern’ adalah dengan menulis. Menulis hal-hal yang bermanfaat. Kita semua sebenarnya memang mampu menulis apalagi semua fasilitas di zaman sekarang dapat mempercepat dan mempermudah kita melakukan segala hal untuk menulis. Oleh karena itu memang tidak sepantasnya kita berkeluh kesah dalam menulis karena dengan tulisan kita dapat membuktikan bahwa kita benar-benar manusia modern yang hidup di zaman modern.
By Siti Nurul Kamila on Jun 8, 2008 | Reply
Manusia yang hidup di zaman purbakala disebut sebagai manusia purba begitu juga dengan manusia yang hidup di zaman modern disebut sebagai manusia modern. Namun, apakah pantas kita mendapat julukan manusia modern? Sedangkan untuk menulis saja sering malas melakukannya. Jadi apa bedanya manusia sekarang dengan manusia zaman dulu atau zaman purba? supaya dapat membedakannya dan tidak disebut sebagai manusia purba, marilah mulai dari sekarang kita pergiat menulis, agar kita dapat menjadi manusia modern yang bertanggung jawab.
By muhammad fauzi on Jun 9, 2008 | Reply
Intinya dari dua tulisan yang Bapak tulis adalah mari kita menulis, tulis apa yang mau ditulis itu saja sebenarnya, tidak usah susah2 kita memikirkan jauh2 ke India, bahkan sampai ke Cina…gila laluuu…ngapain mikir sampai ke sana, bahkan membanding-bandingkan dengan orang purbakala, ke zaman bahala…bisa2 jadi stress kita mikirnya jauh sekali…yang penting adalah mari kita menulis…tulis apa yang mau ditulis, itu saja, sangat simple kan…
By muhammad fauzi on Jun 9, 2008 | Reply
Pak Ersis…ini presensi mata kuliah pengantar antropologi yang kedua, jumlah pertemuan 6 kali, presensi pertama sudah Bapak ambil, Saya minta maaf Pak karena lewat sini, kemarin tidak sempat menyerahkan sama Bapak…
ANGKATAN 2006 HADIR
1. CHAIRI RAMADHAN A1A106002 4
2. NI LUH SRI ARSINI A1A106013 6
3. RAIHANAH A1A106042
4. SITI NURUL KAMILA A1A106020 4
5. HENNY SURYANINGSIH A1A106029 5
6. IRMA A1A106049 6
7. HELMI HAKIM A1A106003 5
8. AKBAR ALAMSYAH. H A1A106026 4
9. PUJI ASTUTI A1A106009 6
10.RIDUAN SAIDI A1A106048 5
11.IHYA UL IHSAN A1A106033 4
12.SETIYADI A1A106025 5
13.LINDA ARAINI A1A106008 6
14.WIWIK NORLIYANA. S A1A106006 5
15.SITI NURHAPSAH A1A106051 5
16.SELVIA AGUSTINA A1A106010 5
17.MINI FEBRIANTI A1A106044 6
18.MARTINA A1A106018 6
19.MELISA PRAWITA SARI A1A106034 6
20.JUWITA SARI A1A106016 6
21.NOOR FAHRIANI A1A106007 5
22.NURKHULIS WARDANI A1A106022 5
23.ZUL HAZIAH A1A106050 6
24.RUMADI A1A106038 4
25.NOVI ARIANTI A1A106023 4
26.ASMIA ULFAH A1A106031 4
27.HADI RAHMAN A1A106024 5
28.FARIDA ARIYANI A1A106039 5
29.GANJAR MUTTAQIN A1A106028 5
30.M. YUMNI RASYID A1A106001 4
31.RIZAL HASANNOR A1A106019 5
32.RANDI AHMAD A1A106027 4
33.ARIEN NOOR RAHMAN A1A106021 3
34.VIDA AULIA RAHMAN A1A106015 4
ANGKATAN 2003, 2004, 2005 HADIR
1. MUHAMMAD FAUZI A1A104003 6
2. TONI FEBRUARI A1A105038 6
3. M. AGUSTIANNUR A1A105032 6
4. NURIL NAJMI A1A105023 5
5. GANDA RESNADI A1A105012 6
6. FAHRIAN HEFNI A1A105046 4
7. ERINA MARSIANA A1A105014 4
8. HELMA NOVIEANTY A1A105007 4
9. DIAH EKA RINI A1A105011 6
10.TRIA SAKTI LIANTI A1A105004 6
11.HAMIDAH ULFAH A1A105021 5
12.KAMSINAH A1A105037 4
13.ISTIQOMAH A1A105031
14.SEPTHAYUDHA. H A1A105049 6
15.AM. HAMSIN. F A1A104031 6
16.ABDUL RAHMAN. S A1A104018 6
17.LAUDA IMA A1A104036
18.CATUR WIDYASTUTI. PH A1A104019 5
19.SISWATI A1A104037
20.DINA YULINDA A1A105019 6
21.HARYANI A1A105015 4
22.SANTY DWI PRATIWI A1A105024 5
23.NOVI DAHLIANI A1A105045 4
24.HANIK PUSPITA SARI A1A105047 5
25.A. MUZAIN A1A103027 5
26.RISMA YUNYTA A1A104001
27.DHARMA SETYAWAN A1A103043 4
28.AKHMAD FAUJI A1A105029 6
29.DWI SETIOWATI A1A105027 4
30.DEWI KOMALASARI A1A105002 5
31.MUHAMMAD HIDAYAT A1A105005 5
32.SRI WAHYU ASTUTI A1A105010 5
By Mini Febrianti on Jun 9, 2008 | Reply
Manusia yang masih menggantungkan dirinya dengan alam atau food gathering tak ubahnya kita termasuk ke dalam katagori masyarakat prasejarah atau primitif. Manusia memasuki zaman sejaraah ditandai dengan manusia itu mengenal tulisan. Tulisan yang pertama kali ditemukan adalah prasasti kutai yang terletak di tepi sungai Mahakam, Kabupaten Mahakam Kutai, Kalimantan Timur. Prasasti itu memakai bahasa sanskerta dan huruf pallawa menunjukkan bahwa telah terdapat golongan sosial masyarakat yang menguasai bahasa dan tulisan tersebut. Dari embrio Kutai lah mulai berkembang tulis menulis. Kita yang hidup di zaman serba modern, perihal tulis menulis ini tentunya sejak zaman sejarah sampai sekarang terus mengalami perkembangan karena di zaman modern ini kita yang telah mengenyam pendidikan sudah banyak yang bisa baca tulis berbeda dengan zaman sejarah yang hanya golongan teryentu yang bisa baca tulis. Dengan pengetahuan baca tulis, kita bisa membudayakan membaga dan menulis dalam kehidupan sehari-hari agar kita tidak disebut masyarakat yang masih primitif.
By Farida Ariyani on Jun 10, 2008 | Reply
ass….
manusia purbakala yaaaa manusia yang ngga bisa nulis.jadi kalau ada manusia jaman sekarang yang ngga bisa nulis yaaaa manusia purbakala namanya.
wss…….
By Helmi Hakim on Jun 10, 2008 | Reply
Manusia yang tidak bisa membaca dan menulis adalah manusia purbakala dan manusia yang mampu membaca dan menulis adalah manusia sejarah/modern.tapi kalau manusia yang bisanya cuma bisa baca aja dan cuma mengkritiki tulisan punya orang itu masuk manusia jaman sejarah/modern atau masuk pada manusia proto sejarah.
By Rumadi on Jun 10, 2008 | Reply
manusia purbakala manusia yang ngga mampu menulis.jaman sekarang juga banyak yamg tergolong dalam manusia purbakala.
By Noor fahriani on Jun 10, 2008 | Reply
Assalamualaikum
saat manusia berada di zaman prasejarah, segala sesuatu yang ada sangatlah terbatas, dan potensi2 yang ada pada diri mereka belumlah tergali dengan optimal karena keterbatsan yang ada, tapi dengan segala keterbatasan yang dimiliki,mereka mencoba untuk bertahan dengan cara menggunakan segala sesuatu yang ada yang telah diberikan oleh yang kuasa. tapi manusia sekarang yang sudah di beri kemudahan dalam melakukan segalanya malah kurang mengembangkan potensi yang ada pada diri mereka. membaca saja orang zaman sekarang sudah mulai malas, apalagi di suruh menulis, padahal tinggal megambil alat tulis yang sudah tersedia..
jadi, siapakah yang pantas menyandang gelar manusia Prasejarah???
kita yang ada sekarng di sebut manusia modern hanya karena kita lahir peradaban sudah lebih maju daripada dahulu….
Wassalam
By VIDA AULIA RAKHMAN on Jun 10, 2008 | Reply
Purbakala merupakan sebuah sebutan zaman dulu untuk kehidupan dimana tidak mengenal adanya tulisan namun zaman itu berubah seiring dengan perjalanan waktu dan terciptalah sebua tulisan, tulisan pertama ditemukan pada prasasti kerajaan Kutai. Hal ini membuktikan betapa berpengaruhnya keinginaan suatu kelompok manusia untuk menjadi lebih baik. Pada masa sekarang keinginan untuk dapat menulis dan berkarya sangat begejolak namun kebayakan dari orang-orang sulitnya untuk mengeluarkan pikirannya dalam sebuah tulisan. Hal ini dapat dikatakan sebagai hasil dari pengaruh kehidupan modern dimana kreatifitas seseorang sangat berpengaruh pada keadaan hidupnya.Mungkin faktor inilah yang muncul sebagai pemicu keinginan menulis.pada masa purbakala hal ini dilakukan sebagai bentuk keberadaan peradaban mereka.
By Hamidah ulfah on Jun 11, 2008 | Reply
Manusia yang tidak mampu untuk membaca dan menulis masuk dalam kategori manusia purbakala, sedangkan manusia yang mampu membaca dan menulis namun pada kenyataan nya tidak mampu untuk menulis tergolong manusia modern.Lalu apa bedanya kita dengan manusia purba zaman dulu,toh kenginan untuk menulis itu sepertinya sangat sulit untuk dimunculkan,kemungkinan orang takut atau malas menulis dikarenakan takut ketahuan salahnya, padahal tulisan yang dibuat itu belum tentu salah, hanya mungkin masih kurang pengetahuan yang dimiiki, seandainya pengetahuan itu dipertajam lagi dengan sering-seringnya membaca pasti kita akan banyak mendapatkan pengetahuan dan akhirnya bisa dituangkan kedalam sebuah tulisan.
By kamsinah on Jun 11, 2008 | Reply
Berbicara mengenai manusia purba atau purbakala, pasti pikiran kita langsung tertuju dengan zaman dulu, manusia yang kehidupannya bergantung pada alam sekitar, manusia yang sangat sederhana, pola kehidupannya seadanya, tidak mengenal baca tulis, tidak modern dan jauh tertinggal bila dibanding manusia zaman sekarang yang mana serba canggih dan modern.
Bila dilihat perbandingan manusia zaman purba dan manusia sekarang memang sangat jauh mengalami perubahan, baik dilihat dari segi fisik, cara berpakaian, pola pikir dan sosialnya, yang mana manusia zaman sekarang atau modern sudah mencapai tahap yang lebih tinggi, mengenal tulisan dapat membaca, dapat menggunakan alat teknologi yang serba canggih dan modern , tetapi kebanyakan yang berkembang maju dan pesat hanya dari segi penampilan dan gaya hidup saja, sedangkan penguasaan ilmu pengetahuan dan ilmu teknologi masih kurang, masih banyak yang malas membaca dan menulis , apalagi menjadikan hasil bacaannya dan pikirannya kedalam bentuk tulisan atau membukukannya menjadi sebuah karya.
Tak dapat dipungkiri masyarakat kita lebih senang berbicara, berkomentar tanpa ada bukti atau sebuah hasil karya sendiri baik dalam bentuk buku atau karya yang menunjukkan kalau masyarakat kita bisa menampilkan sebuah karya, hasil cipta dan sebuah kebanggaan yang menunjukkan kalau kita telah menjadi manusia yang modern dan telah berpindah dari manusia purba, dan menyandang predikat manusia sejarah yaitu manusia yang telah mengenal tulisan.
By DINA YULINDA on Jun 12, 2008 | Reply
Pada tradisinya manusia purbakala tak pernah menulis ataupun membaca itu karena tradidisi dan kebudayaan mereka. Pada saat manusia mengenal bacaan dan menulis mereka mengklem diri sebagai manusia modern namun tanpa disadari masih banyak pola budaya purbakala yang mereka lakukan. Contohnya saja, manusia pada zaman purba marah dengan manusia lain kemudian berkelahi layaknya hewan. Tapi manusia modern pun marah dan melakukan hal yang sama, padahal masih banyak jalan yang bisa menunjukkan kemarahan kita tanpa bersikap layaknya manusia purba yaitu dengan menulis, kita bisa mengkritik siapa saja lewat tulisan tanpa harus berluka - luka karena berkelahi fisik.
Begitu pula ketika kita iri melihat kemajuan negara lain, tak perlu dengki karena mereka memang benar - benar telah menjadi manusia modern dengan memanfaatkan tulisan dan membaca untuk kemajuan sementara kita masih sibuk adu mulut di warung pagi - pagi, atau bergosip ketika tak ada kerjaaan hal itulah yang menjadikan kita manusia yang terlahir di zaman modern dengan kebudayaan yang masih purbakala.
By Ganjar Muttaqin on Jun 12, 2008 | Reply
Ass EWA……
Memang yang membedakan manusia zaman modern dengan manusia purba hanyalah kemampuan menulis dan membaca, banyak manusia “super” yang memiliki berbagai macam gelar keduniawian akan tetapi mereka tidak mampu menggunakan kemampuan mereka tersebut untuk menulis.”No Action Talk Only” itulah hal yang kita lihat pada kebanyakan masyarakat modern sekarang, mereka lebih banyak berbicara daripada berbuat sesuatu yang berguna bagi bangsa dan mereka sendiri. Mudah-mudahan bangsa Indonesia menjadi bangsa yang modern seutuhnya dan sejati…
By Rizal Hasannor on Jun 12, 2008 | Reply
Ass…
Kita sebagai manusia yang katanya moderen dengan segala peradabannya yang sudah maju harusnya malu dengan manusia purbakala. Pada masa purbakala manusia dituntut untuk melakukan penemuan untuk mempermudah hidupnya seperti cara membuat api dan tempat tinggal. Sedangkan kita yang segala sesuatunya sudah serba mudah malah belum menghasilkan apa-apa. Bahkan membuat tulisan satu paragraf saja harus berpikir 1000 kali. Jadi apa yang bisa kita banggakan dari diri kita. Kita cuma pintar bicara tapi miskin kreatifitas.
Wss…
By juwita sari on Jun 12, 2008 | Reply
Ass,
Menurut saya apabila manusia sekarang dibandingkan dengan manusia purbakala sepertinya masih terlalu bagus, karena nampaknya manusia sekarang lebih jauh ketinggalan kelakuanya daripada manusia purba alias lebih primitif…..
apa sebabnya?
manusia purba tidak bisa menulis disebabkan karena mereka belum mengenal huruf-huruf. walaupun begitu mereka tetap punya kemauan untuk menunjukan keberadaan mereka kepada anak cucunya, misalnya dengan cara menggambar-gambar dinding gua.
sedangkan manusia sekarang tidak menulis bukan karena tidak mengenal huruf-huruf, tetapi karena malas. alasanya karena tidak punya ide. bagaimana bisa punya ide, kalau yang ada di otaknya cuma hal-hal negatif, bukan pengetahuan. pengetahuan hanya bisa di dapat apabila rajin membaca, tetapi parahnya lagi orang sekarang terutama orang Indonesia malas membaca, mereka lebih senang pergi ke mal, nonton KDI dan tidur, tidur lalu tidur lagi…..
kalau begini caranya apa yang akan kita wariskan kepada anak cucu kita? dan bagaimana mereka akan tahu keberadaan kita.
jadi sebutan apa ya yang pantas buat kita si pemalas menulis dan membaca????
By Zul Haziah on Jun 12, 2008 | Reply
Manusia purba hidup dengan cara food gathering, memenuhi kebutuhan hidup dengan bergantung pada alam. Mengambil hasil-hasil alam untuk keperluan hidup tanpa adanya usaha untuk memproses kembali hasil-hasil alam yang telah ada tersebut menjadi produk baru, kalaupun ada hanya menghasilkan produk yang bentuk fisik dan sifat/fungsinya sama dengan produk terdahulu. Apa yang disediakan oleh alam langsung dikonsumsi. Berbeda dengan manusia modern yang melakukan pemprosesan kembali hasil-hasil alam tersebut menjadi produk baru, yang bentuk fisik dan fungsinya berbeda dengan produk sebelumnya.
Singkatnya, manusia modern adalah manusia yang mampu menghasilkan / mengolah sesuatu hal yang ada menjadi sesuatu hal yang baru, sedangkan manusia purba tidak.
Begitu juga dalam hal membaca dan menulis. Ketika membaca sebuah buku, banyak pengetahuan-pengetahuan yang di dapat dan masuk ke dalam otak. Di dalam kepala pengetahuan-pengetahuan tersebut kemudian diproses/digabungkan dengan pengetahuan-pengetahuan yang sudah ada dalam otak. Kemudian, hasil proses tersebut akan menghasilkan suatu pengetahuan/pemikiran baru yang berbeda dari buku yang di baca sebelumnya. Pengetahuan baru yang ada pun dituangkan dalam bentuk tulisan, dengan kata/kalimat sendiri, sehingga menghasilkan tulisan-tulisan yang benar-benar baru, dan menjadi hasil karya sendiri.
Membaca buku, memproses pengetahuan yang didapat dari buku tersebut dengan pengetahuan yang sudah ada di dalam otak, yang akhirnya menghasilkan pemikiran-pemikiran baru dan dituangkan dalam bentuk tulisan, merupakan tindakan manusia modern, karna mampu mengolah sesuatu hal yang ada menjadi sesuatu hal yang baru, sesuatu hal yang berbeda dari keadaannya yang semula. Sedangkan manusia yang kerjanya hanya menjiplak karya-karya / tulisan-tulisan dengan sama persis dengan tulisan yang sudah ada, bisa dikatakan sebagai manusia modern, tetapi masih memiliki pola tindakan manusia purba, karna tidak mampu/mau berusaha mengolah/membuat sesuatu hal yang baru. Hanya bisa langsung mengkonsumsi tulisan-tulisan tersebut, tanpa mau memprosesnya terlebih dahulu dalam kepala.
By henny suryaningsih on Jun 13, 2008 | Reply
Tidak banyak yang bisa dikatakan karena sudah sangat sulit untuk di rubah, alasan yang sangat luar biasa sudah lebih dulu nangkring di otak kita sebelam mamulai mengeluarkan isi otak kita ke dalam bentuk tulisan, ada yang malas lah, tidak ada inspirasi lah, keterbatasan media lah, takut di kritik orang lain lah, takut salah lah dan selusin alasan yang lain. Mungkin kita tidak ingin kehadiran kita yang lebih berat meninggalkan bantal dan guling daripada banyak bekerja ini di lihat atau bahkan di warisi oleh anak cucu kita nanti maka kita tidak ada keinginan untuk menulis kebudayaan kita saat ini????
Apapun yang terjadi saya tidak akan menyalahkan siapa-siapa karena tidak ada yang perlu disalahkan karena saya juga termasuk di dalamnya. Jadikan semangat dan cambuk yang sangat keras jika tidak ingin lebih lama lagi stastus pemalas ini ada di dalam nama kita.
By haryani on Jun 13, 2008 | Reply
Yang membuat manusia menjadi modern adalah pemikirannya.kuno dan modernnya pemikiran dapat ditentukan dari input yang masuk ke dalam otak manusia, kemudian direalisasikan dalam suatu tindakan. hal paling mendasar yang dapat membedakan antara manusia modern dengan manusia purbakala, salah satunya adalah dari adanya tulisan. barangsiapa (mengaku manusia modern)yang menginginkan perbedaan dengan manusia purba, sudah seharusnya ia mau menorehkan tulisan-tulisannya, sebagai tanda bahwa ia benar-benar terwujud sebagai manusia yang modern,bukan medern-modernan.karena manusia modern (untuk era sekarang) memang sulit dibedakan bentuknya dengan manusia prasejarah(coba lihat aja cara berpakaiannya,mana ada yang beda,penutup tubuhnya sangat irit), nah jalan paling aman untuk membedakan dua makhluk yang berlainan zaman itu ya memang sama tulisan. kalau manusia modern masih nggak mau ninggalin tulisan, ya apa bedanya sama manusia purba
By Puji Astuti on Jun 13, 2008 | Reply
Purbakala adalah zaman dimana orang belum menulis, tapi nampaknya di zaman super modern ini lebih parah lagi kayaknya dech…apa gunanya hidup di zaman modern yang serba canggih tapi mempunyai pola pikir manusia purbakala…mulai sekarang cobalah menulis hal-hal kecil, mungkin saja dari hal-hal yang kecil tersebut kita mampu membuat sebuah karya yang bisa bermanfaat baik sekarang atupun nanti-nantinya
By Irma on Jun 13, 2008 | Reply
Jika menilik kebelakang, tepatnya pada zaman purbakala dimana manusia sama sekali belum mengenal membaca dan menulis. Manusia pada zaman itu sangat bergantung dengan apa yang disediakan oleh alam. Sehingga, pikiran mereka hanya sebatas bagaimana cara bertahan hidup dan memenuhi kebutuhannya akan konsumsi saja. Berbeda dengan Manusia modern saat ini. Mereka dapat merubah alam, tentunya dengan pengetahuan yang mereka miliki. Bagaimana caranya? salah satunya yaitu dengan membaca dan menulis. Manusia modern dikatakan sebagai manusia yang sudah mengenal membaca dan menulis. Namun, dengan predikat tersebut apakah manusia sekarang sudah dikatakan sebagai manusia modern seutuhnya. Kita tentunya dapat melihat fakta bahwa Masih banyak manusia sekarang yang tanpa mereka sadari, perlahan-lahan mereka berada pada zaman purbakala. Tidak banyak manusia sekarang yang menuangkan pikirannya dengan menulis. Bukannya tidak bisa, namun karena suatu penyakit yang disebut malas…,dan seperti yang kita ketahui penyakit itu telah menjamur dikehidupan manusia modern saat ini.
By Akbar Alamsyah Hidayat on Jun 14, 2008 | Reply
ass…
Yang pastinya untuk menulis itu sebenarnyua jangan terlalu banyak berfikir, kebanyakan berfikir malah memandulkan pikiran kita, karena materi di otak kita akan habis
wss……..
By st.nurhapsah on Jun 14, 2008 | Reply
Jika diberi pilihan saya mau kembali ke keadaan alam jaman dahulu, tetapi pola pikirnya maju seperti era sekarang. karena bila dikaitkan dengan menulis, kemungkinan akan banyak sekali bahan yang dapat saya uraikan berdasarkan hasil pengamatan. Itu bila seperti harapan yang saya utarakan diatas.
By A.muzain on Jun 14, 2008 | Reply
ya wajar-wajar saja kalau orang mendamba-dambakan kembali masa sebelumnya,orang desa ingin sekali kekota,sedangkan orang kota ingin berlibur kedesa.ada apa ya? itu untuk mencari suasana baru dan menghilangkan jenuh.saya orang yang menghargai perbedaan.seperti ada buruh,tengkulak,tuan tanah,preman dan lain2.ittu sebagai suatu siklus yang harus dipahami.kalau itu diperdebatan tidak akan habisnya,sama halnya selera masing2itu berbeda.yang lebih penting apa tugas kita sekarang? jalani dengan sungguh2 akan terlihat hasilnya.
By Erina Marsiana on Jun 15, 2008 | Reply
Kalau berbicara masalah zaman Purbakala, kita memang bisa melihat perbedaan yang sangat signifikan dengan zaman sekarang. Zaman Purbakala itu hanya bagian dari masa lalu, dimana kita bisa belajar dari semua itu. Kalau dilihat manusia sekarang memang banyak malasnya yang khususnya membaca atupun menulis. Namun, rasa malas itu sendiri sudah merupakan suatu fitrah dari Tuhan, tapi dari situ kita harus yakin bahwa pemberian tuhan itu selalu ada manfaatnya, hanya saja permasalahannya terletak pada bagaimana kita mengatasi rasa malas tersebut. Karena Hidup itu adalah pilihan, tergantung kita mawo memilih kaya gimana.
By Hanik Puspitasari on Jun 15, 2008 | Reply
Supaya bisa menghasilkan suatu peradaban yang benar-benar beradab, perlu diubah dulu pemahaman yang ada pada suatu peradaban tersebut. Karena pola fikir atas setiap masalahlah yang menjadikan pembeda paling nyata antara manusia modern dengan manusia purba. Manusia purba berfikiran, bahwa dalam hidup yang terpenting adalah mempertahankan hidup dengan berbagai cara. Bagi manusia Modern, seharusnya bersikap sebaliknya. Kalau manusi purba tidak punya aturan hidup, manusia modern tentunya punya. Manusia purba berfikiran membaca dan menulis tidak penting, manusia modern harus berfikiran membaca dan menilis itu penting.
Walaupun begitu, nampaknya banyak manusia-manusia saat ini yang dalam hidupnya masih suka hidup tanpa aturan, sekehendak hati dengan mengedepankan selera dan nafsu serta dengan dalih HAM.
By hamsin on Jun 16, 2008 | Reply
memang kalau kita menyadari apabila ingin menjadi manusia yang beradab alangkah indahnya kritik, saran, ide dan sebagainya alangkah indahnya kita tuangakn dalam sebuah tulisan sebab kita menyadari kalau hal itu dibiarkan saja berlalu mungkin akan hilang tak berbekas
By nurkhulis wardani on Jun 19, 2008 | Reply
bingung mau komentar apa…
yg jelas banyak manuasia purabakala yang hidup di zaman modern. hehehehehe
***he he bisa aja …
By M. Yumni Rasyid on Jun 19, 2008 | Reply
manusia purba merupakan manusia yang tak mengenal peradaban dan norma-norma, mereka hanya memikirkan nafsu semata. dan saya lihat itulah yang terjadi pada saat ini.
***Waduh … gawat.
By Chairi Ramadhan on Jun 19, 2008 | Reply
purba??yang saya tau orang purba tak kenal tulisan dan orang-orang yang tidak dapat menulis adalah orang purba. tapi anehnya orang sejarah yang mengenal tulisan ga mau menulis???disebut apa orang itu???
***Ngak tau ah … opo yo
By Arien Noor Rahman on Jun 20, 2008 | Reply
Manusia purba sering kali dianggap tidak memiliki peradaban oleh manusia moderen. Tapi kenyataannya zaman sekarang banyak manusia purba berdasi yang berkeliaran dan duduk dipemerintahan.
By Nuril Najmi on Jun 21, 2008 | Reply
Kita tidak manusia purbakala,tapi kita hidup di zaman seperti zaman purbakala,banyak kehidupan dan aktivitas yang dilakukan manusia sekarang mirip dan menyerupai manusia purba yang hanya bisa mendongeng dan berbicara bla bla bla,tetapi tidak pernah menghasilkan tulisan,,
By Muhammad Hidayat on Jun 21, 2008 | Reply
Menilis dan membaca adalah hal yang sangat penting pada masa sekarang, bagaimana tidak di zaman yang sudah canggih dengan berbagai kemudahan apalagi dalam hal menulis, nah apabila kita hanya membaca dan menulis kita tidak mungkin maju dengan pesat, karena kita terlebih dahulu harus memiliki motivasi untuk maju yang dijalankan dengan menulis dan membaca, mengapa kita berbeda dengan manusia prasejarah karena kita mempunyai motivasi sedangkan manusia prasejarah pada masa itu hanya belajar dari alam dan melakukannya untuk bertahan hidup, bukan untuk dikenal dan menjadi sebuah sejarah
By Helma Novieanty on Jun 23, 2008 | Reply
jangan hanya melihat perbedaan masa lalu dengan masa sekarang,kalau di beda-beda kan sih pasti A-Z terdapat perbedaan,lebih baik kita lebih mengutamakan kemajuan,membaca dan menulis lebih ditingkatkan,mulai dari hal-hal yang kecil, dengan membaca akan lebih menambah luas pengetahuan kita,apalagi kalau dibarengi dengan pengalaman yang berharga ….
By Ganda Resnadi on Jun 23, 2008 | Reply
Bagi masyarakat kita sekarang ini, modern diidentikkan dengan mapannya ekonomi seseorang, contohnya punya mobil mahal, punya pakaian mahal, pasti dikatakan sebagai “orang modern”. Padahal ada yang lebih daripada itu. Bukankah dalam era modern ini kita bisa mendapat ilmu pengetahuan dengan mempergunakan alat-alat canggih yang telah dibuat dan dipasarkan?
Jangankan menulis, menyempatkan membaca tulisan “jangan buang sampah sembarangan” saja tidak bisa, dampaknya ya sampah berserakan.
By Fahrian hefni on Jun 23, 2008 | Reply
Berbicara tentang manusia purbakala tidak lepas dengan semua kegiatan dan aktifitas yang mereka lakukan dalam kehidupan mereka. Mereka memanfaatkan alam dan hidup berdampingan dengan alam untuk melangsungkan hidup mereka. Alam sangat mesra terhadap mereka, hal ini dikarenakan mereka bisa menjaga keasrian alam dan mereka mempelajari alam dengan pengetahuaan mereka yang terbatas. Beda halnya dengan manusia sekarang yang katanya modern, yang banyak mempunyai ilmu pengetahuan. Akan tetapi mereka sangat serakah, demi mengharapkan keuntungan tega-teganya merusak alam.
Lalu disini timbul pertanyaan, apakah bedanya manusia modern dan manusia purba?
Ini adalah suatu pertanyaan yang bisa kita renungkan, tapi satu hal yang kita ingat bahwa alam beserta isinya wajib kita pelihara dan dilindungi.
Sebagai umat beragama islam yang sudah ada didalam Al-Qur’an yang menyatakan bahwa “segala kerusakan dimuka bumi ini akibat dari ulah tangan manusia”.
OLeh karena itu, baik yang katanya manusia modern atau yang manusia purba yang beragama islam harus wajib memelihara lingkungan.
By SRI WAHYU. A on Jun 23, 2008 | Reply
Memang kalau dilihat enak hidup pada zaman pubakala ga ada polusi, debu n virus di internet heheee…tapi saya lebih memilih hidup pada zaman sekarang, siapa bilang kita mengalami kemunduran toh sekarang kita sudah mengenal tulisa, bisa membaca juga membuat tulisan seperti sekarang ini. Memang kadang – kadang sikap dan tingkah laku kadang – kadang masih kaya manusia purba bahkan lebih tepat disebut binatang. Sekarang kita hidup di zaman modern pastilah peradaban kita sudah jauh lebih baik dan berkembang. Tapi yang perlu di garis bawahi adalah membaca & menulis memang sangat penting bahkan dalam agama pun di anjurkan, jadi gunakan kemampuan kita untuk suatu kemajuan dan untuk sesuatu yang berharga baik bagi diri, masyarakat, bangsa dan Negara.
By randy ahmad on Jun 24, 2008 | Reply
Apa saja yang terjadi di zaman dahulu hanya bisa dijaikan suatu pelajaran untuk masa depan. Ya memang hanya suatu pemikiran bodoh bila kita ingin kembali ke zman dulu. Namun bila dicermati lebih lanjut, di zaman modern saat ini, banyak manusia yang masih berprilaku seperti manusia prasejarah, yitu manusia yang hanya memikirkan hawa nafsu saja, yang penting apa yang di inginkannya bisa dia dapat, selesai, prsetan dengan orang lain. dan hal itu banyak kita temukan pada manusia zaman skarang.