Menulis Mafia Puisi

30 May 2008 | Ditulis oleh: EWA |

Oleh Ersis Warmansyah Abbas

KOMENTAR seorang sahabat bloger, Leah, sempat membuat saya tertawa. Pada komentar tersebut, termuat kelucuan, keseriusan, dan (mungkin) kalau dilanjutkan bisa jadi debatable. Betapa tidak.
 
“Waduh mending dikasih setumpuk soal mafia (matematika, fisika, dan kimia) dari pada harus memahami puisi he he”. Kosakata mafia yang berkonotasi kurang positif merujuk kepada gangster di Amerika Serikat, bermula dari organisasi Cosa Nostra di pulau Sisilia Itali, menjadi akronim matematika, fisika, dan kimia.
 
Ya,  komen atas postingan puisi saya, Kepada Angin. Menggoda pikiran. Bukankah matematika itu abstrak, seabstrak puisi? Bisa jadi, 2+2=4. Dua apa dan yang mana, 4 apa dan yang mana. Ngak ada kan?
 
Tidak kalah menggoda saya jawab: “Salam. Persepsi harus dirubah Neng … coba simak-simak: E=MC2. Itu adalah puisi terhebat notasi matematika, dari raupan ruang dan waku, energi, berasal dari kerja kimiawi otak Einstein. Bukti bahwa puisi itu adalah hal tertinggi kemampuan otak. Yaha, karya mBah Einstein contohnya. Kalau 2+2=4, apa menariknya? Matematika itu adalah ilmu paling abstrak, begitu juga mafia … he he. Saudaranya puisi.
 
Tentu, jawaban komen bersifat canda. Saya minta Kang Jupri mau membahas di blognya, Bicara Matematika yang populer tersebut. Maaf, saking menariknya, Akang yang tengah belajar matematika di negeri Belanda, mantan penjajah negeri kita yang sangat kejam tersebut, saya goda: Kang, Sampeyan ‘bicara’ matematika, atau ‘menulis’ (tentang) matematika?
 
Dalam berpuisiria, ketika menuliskan kata ‘kelam’ misalnya, pemaknaannya tidak berhenti pada arti kata, agak gelap, kurang terang, suram, tapi … bisa diartikan ‘kemana-mana’ sesuai persepsi, pengetahuan dan rasa pembacanya. Membaca karya Khalil Gibran, misalnya, sekalipun  beranjak dari area Lebanon yang cantik nian tersebut,  wanginya menjelajah dunia. Puisi bisa dinikmati dalam ruang dan waktu tanpa sekat. Begitu juga mafia, dan ilmu lain. Mafia, kekonkretnya susah diwujudkan, dinotasikan pada rumus-rumus. Itulah puisi.
 
Saya cuplikan tulisan saya pada suatu postingan di www.webersis.com. Alam semesta ini berisi empat hal; materi, energi, ruang, dan waktu. Keempatnya berfungsi membentuk alam semesta. Perubahan pada materi dan energi akan membawa perubahan pada ruang dan waktu. Wah, kalau dilanjutkan nanti dibilang kuliah fisika. Jauhlah dari bidang saya.
 
Pemahanan dasar tersebut, pada postingan lain saya kaitkan dengan Isra’ mikraj Rasulullah. Jibril menjemput Nabi Muhammad SAW. Karena akan menghadap Allah SWT, disucikan. Dibelah dada Beliau. Lalu, menaiki Buraq, berbadan kuda berkepala wanita cantik, dan bersayap. Ketiga makhluk terbang ke Masjidil Aqsa. Rasulullah sholat malam, dan kemudian menuju Sidratul Muntaha. Banyak hal diperlihatkan. Setelah melakukan ‘negosiasi’ dengan Allah SWT, disepakati, umat Muhammad SAW diwajibkan sholat lima waktu.
 
Begitu kisah (konyol?) Isra’ Mi’raj waktu kecil. Mana pula, gambar Buraq terpampang di banyak dinding rumah. Imjinasi berkembang. Muncul pertanyaan, dimana Allah SWT bertempat? Enak kali ya naik Buraq? Kog cepat amat tu perjalanan malam tersebut. Dan, seterusnya.
 
Saya tak hendak membahas soal Isra’ mikraj dalam arti kejadiannya, atau menyoal Buraq, sampai inti pati perjalanan malam Rasulullah. Saya meyakini sesuai firman Allah SWT (QS Israa’: 17). Bagaimama memahaminya?
 
Saya juga tak hendak menganalogikan dengan tayangan Startrek dan film-film ikutan lainnya. Apalagi mengembangkan imajinasi, karena suka main games bernuansa transporder. Setelah membaca buku Agus Mustofa, Terpesona di Sidratul Muntaha, goyang pikiran (sedikit) mendapat jawaban. Dan … dalam menggali dan memahami kerja otak, terutama dalam kaitan menulis, mendapat komparasi yang cantik. Apa itu?
 
Betapa tidak. Jarak Mekah-Jerussalem, 1.500 km, ditempuh dalam sekejap.  Apatah lagi, ke Sidratul Muntaha —yang entah dimana— pergi-pulang dalam setengah malam. Ruang dan waktu dilipat ringkas. Argumen, kun fayakun, kurang memuaskan. Pasti ada penjelasannya.
 
Sementara itu di lain ketika, pikiran mengotak-atik hakikat mimpi. Mimpi sekejab, setelah bangun ketika diurai durasinya begitu panjang. Ketika menulis, terkadang … tahu-tahu (bukan tempe, lho) jadi begitu saja. Kapan ya mikirnya? Ada sinyal, waktu di alam pikiran, tidak sama dengan alam nyata. Setidaknya, persepsi tentang waktu.
 
Gambaran pikiran perjalanan Rasulullah, tidak lagi dipahami bak perjalanan manusia biasa. Bukan Rasulullah yang gagah bertubuh atletis dengan rambut panjang sampai pertengahan bahu. Bukan pula ‘kuda’ Buraq dengan gambaran rada-rada aneh. Tetapi, Rasulullah telah diubah bak malaikat, seperti Jibril.
 
Raga Rasulullah tidak lagi bak raga kita yang tersusun dari atom-atom. Materinya ‘dihilangkan’ hingga berbobot nol. Dengan demikian menjadi energi sehingga ketika bergerak mampu seperti kecepatan cahaya (ukuran kecepatan tertinggi di alam semesta). Atau, barangkali lebih dari itu. Yang bisa sedemikian hanyalah photon, yaitu kuantum-kuantum penyusun cahaya itu sendiri.
 
Dus, ruang dan waktu tidak layak lagi dipahami sebagaimana pada kehidupan —setidaknya persepsi tentang ruang dan waktu. Agak rumit memang. Saya yang menulis ini tidak terlalu paham, apalagi yakin. Raba-raba pemahaman awal yang berbuah pengertian.
 
Ruang dan waktu bisa ‘dilipat’, dan … kecepatan … karena energi sudah tingkat tinggi, dan materi tidak lagi pada benda sebagaimana yang bisa kita raba dan lihat, berubah sesuai kadarnya. Tidak mudah memahaminya, apalagi mengkorelasikan dengan ‘alam kita’. Tetapi ada sinyal, jangan-jangan hal-hal tersebut ada (juga) di otak. Di otak? Yes.
 
Suatu kali merenung. Bagaimana bisa berwisata ke masa kecil, terkadang mendarat di bulan —gara dusta-dusta Amerika Serikat (AS) yang menggebu-gebu ke Bulan, e … setelah nyampe nggak berani untuk kedua kali, kini mau ke Mars. Atau, berkelana ke Havana, kadang mendarat di Sarajevo,  bahkan ketika remaja, merayu Yessy Gusman dan memacarinya.
 
Terkadang, ketika rindu Bapak (87) dan Ibu (76), sholat malam, berdoa, meluluhkan diri dalam hening, e … bisa nyampe (seakan-akan) di dipan tempat sering membaca waktu Sekolah Rakyat. Setelah tekniknya agak matang, setiap saat. Padahal, jaraknya ribuan km. Bisa jadi lho, semua itu permainan neuron-neuron di otak.
 
Puisi adalah tangkapan pikiran dan nurani dari medan yang begitu luas, dipress menjadi kata-kata bermakna. Bisa jadi, seperti mafia, esensi dan bentangan hakekat sesuatu yang begitu luas, tidak bermuara, unlimited untuk ‘merangkumnya’ diperlukan lambang, rumus, notasi, agar hal tak terbatas tersebut dapat dibatasi hingga —kira-kira— bisa dipahami.
 
Begitu mafia, begitu pusisi. Ah, nampaknya saya ngawur lagi nich, menulis hal yang tidak dikuasai. Hanya saja kenapa takut? Saya punya saudara, teman, dan kerabat dunia maya.Kalau salah mudahan mereka menolong membetulkan. Tak iya.
 
Mari menulis tentang mafia, mari menulis puisi, menulis mari menulis, apa saja.
 
Bagaimana menurut Sampeyan?
 
Banjarbaru, 30 Mei 2008.

  1. 13 Responses to “Menulis Mafia Puisi”

  2. By akmalhasan on May 30, 2008 | Reply

    Bagaimana menurut Sampeyan?
    *** Mengagumkan :)

    Segala hal yang masih abtract di dalam ranah pikiran telah coba dibongkar dengan bahasa lugas dan santun. Tersirat koridor-koridor pemahaman lama mulai dikritisi. Menurut saya, ini sungguh hasil satu hasil ekplorasi yang mengagumkan, karena pada akhirnya kita sampai pada wilayah di luar jangkauan, yang mau tidak mau mesti kita tembus, lalu membumikannya dalam bentuk (form) puisi, rumus, mafia, dan sebagainya. Seperti kira-kira kata Einstein “Tuhan tidak bermain dadu”.

    ***ya ya, maksih ambungannya, jadi malu nich. mBah Einstein, kalau dibaca seksama karyanya, kayaknya tu orang Muslim deh … minus syahadat dan seterusnya.

    Trims Om.

  3. By indra1082 on May 30, 2008 | Reply

    Puisi ada mafianya juga toh????
    Hm… dunia….dunia….

    ***Hayya … esensinya Mas Indra.

  4. By prayogo on May 30, 2008 | Reply

    Pak Ersis, sekedar saran informasi saja. Kok sekarang tulisannya lebih kecil dari yang dulu ya. Atau ini hanya di komputer saya saja.

    ***Sedikit agak kecil, turun satu poin sesuai disain cashing. Apa perlu diperbesar?

  5. By Siti Fatimah Ahmad on May 30, 2008 | Reply

    Tulisan tuan hari ini begitu merangsang pemikiran saya untuk memikirkan sesuatu yang hebat dan menarik.

    Kehebatan dan tarikan itu tertumpu kepada tulisan yang berkaitan tunggangan Baginda Rasul SAW dalam peristiwa israk dan mikraj iaitu BURAQ. Minda saya jadi terpanggil semula akan satu potret yang menghiasi dinding sebuah rumah dipinggir Laut China Selatan di negeri Sarawak, yang pernah saya kunjungi beberapa tahun yang lalu. Gambaran buraq itu seperti yang tuan gambarkan iaitu berbadan kuda, berkepala wanita cantik dengan pakaian yang mempesonakan, penuh warna warni dan bersayap. Dihiasi dengan hiasan yang bergermelapan. Saat itu saya berfikir mengapa buraq digambarkan sedemikian. Apa pentingnya buraq sehingga menjadi lakaran yang menghiasi rumah? Jawabannya belum saya perolehi hingga sekarang.

    Apa mungkin tuan boleh memaklumi saya dari mana tuan mendapat gambaran buraq tersebut? Adakah ia benar ? dan apa pula rujukan yang menguatkan bagi mensahihkan gambaran buraq yang tuan tuliskan di atas? Harapan saya, tuan tidak keberatan membantu saya untuk menyelesaikan persoalan minda selama ini. Terima kasih dihulurkan dahulu untuk jawaban yang belum ada.

    ***Itu di kampung-kampung kami di Sumatera, dan bisa jadi di seluruh Nusantara. Ciptaan Yahudi, konon kabarnya. Sungguh pelecehan terhadap Islam … bodohnya orang Islam mengamini. Insya Allah kapan-kapan diposting deh. Salam.

  6. By HZ_MUBARAK MAP on May 30, 2008 | Reply

    menulis mafia menulis asalah perumpamaan yang menarik….pha lagi bila besok besok ada skandal menulis.nice guys.

  7. By afeb on May 30, 2008 | Reply

    Siip dah…Dengan puisi kita bisa mengungkap isi dunia dengan kata -kata.sebenarnya dunia ini puitis bila kita benar-benar memahami setiap isyaratnya.Mari menulis puisi..he.

    ***Gimana, kalau Al-Quran itu puisi tiada tara, dan cintaan Allah SWT adalah puisi sesungguhnya.

  8. By suhadinet on May 30, 2008 | Reply

    Puisi memberikan kesempatan kepada pikiran kita untuk bebas…
    Begitu ya Pak? (takutnya salah tangkap, maklum dodol)

    ***Ya, ngak kog, kira-kira begitu. E … ngapain ditangkap he he …

  9. By achoey sang khilaf on May 30, 2008 | Reply

    ya menulis untuk mempercantik kreasi

    ***Bisa jadi.

  10. By nenyok on May 30, 2008 | Reply

    Salam
    Membaca puisi, mencoba memahami sebuah puisi buat saya ada keasyikan tersendiri terkadang menebak2 apa yang tersirat di balik2 kata2nya, yah bener Bapak bilang ada kemungkinan banyak persepsi dan makna bahkan hanya dari sebuah kata

    ***Sama dong.

  11. By Siti Fatimah Ahmad on May 30, 2008 | Reply

    Terima kasih tuan atas sedikit info yang diberikan. Namun saya akan menanti juga maklumat tuan yang bertanda “kapan-kapan diposting” ? itu. Bunyinya saja sangat menarik untuk didengari.

    Kebetulan persoalan yang saya tanya kepada tuan tadi menjadikan saya mengambil tindakan untuk membuat sedikit kajian perpustakaan tentang peristiwa Israk Mikraj dan tumpuan saya adalah tentang rupa bentuk buraq yang sebenarnya.

    Kesimpulannya, kebanyakkan rujukan yang saya perolehi dari sumber internet (setakat yang saya temui) dan buku tidak menjelaskan sanad yang sampai kepada Rasulullah saw. Namun semua ulamak bersetuju dan bersepakat akan kebenaran rupa Buraq itu. Saya akan jelaskan selepas ini.

    Dalam usaha yang masih mengharap akan terjumpanya jawaban bagi persoalan buraq tersebut. Akhirnya saya terjumpa dalam ratusan buku pustaka saya sebuah buku yang bertajuk ISRA’ DAN MI’RAJ : Satu Analisa Baru , alih bahasa oleh Syed Ahmad Semait, 1981, terbitan Pustaka Nasional Pte Ltd. Singapura. Buku ini adalah buku kajian agama hasil penyelidikan oleh Abdul Halim Mahmud dari judul asal bahasa Arabnya - “Al-Isra’ wal Mi’raj”. Sumbernya berpandukan nash-nash dari al-Quran dan hadis Rasul SAW di samping rujukan sahih dan riwayat yang benar.

    Selain kebenaran firman Allah dalam surah al-Isra’ : ayat 1, surah al-Najm : ayat 1 – 18, surah al-Takwir : ayat 19 – 24 tentang peristiwa ini. Tentang BURAQ pula, dinyatakan dalam hadis Nabi SAW. Berkata Imam Ahmad : telah berbicara kepada kepada kami Hasan bin Musa, katanya telah berbicara kepada kami Hammad bin Salamah, katanya telah memberitahu kami Tsbit al-Bunani, daripada Anas bin Malik r.a bahawasanya Rasulullah saw telah bersabda :

    “KENDERAAN BURAQ TELAH DIBAWAKAN KEPADAKU, SEDANG IA ADALAH BINATANG BERWARNA PUTIH, BENTUKNYA LEBIH BESAR SEDIKIT DARIPADA KELDAI DAN KECIL DARI BAGHAL, KAKINYA DILETAKKAN DIHUJUNG BUNTUTNYA. Aku mengenderainya hingga sampai di Baitul-Maqdis, aku ikat tali ikatan kenderaan itu di tempat di mana para nabi mengikat kenderaan masing-masing………hingga habis peristiwa tersebut. Maaf, terlalu panjang untuk dijelaskan hadis ini. Yang pentingnya adalah gambaran BURAQ yang Rasulullah benarkan bukan seperti gambaran Israiliyyat tersebut. Mohon ampun dari Allah jika masih ramai umat Islam membenarkan rupa yang tidak seperti gambaran Baginda Rasul SAW tersebut.

    ***Ya, tapi ngak janji ya. Saya takut lupa. Banyak postingan ini atas permintaan teman-teman, dan banyak yang lupa, karena … ya itu tadi, banyak hal mau diposting. Yang penting kita sepakat, cerita Buraq lebih kepada khayalan … lahiran Yahudi.

  12. By zoel on May 30, 2008 | Reply

    asal jangan mafia yang di lagu slank ajah :lol:

    ***Ha ha ha

  13. By Alex on May 31, 2008 | Reply

    Mafia saya paling tak suka pak, puyeng tujuh keliling…….tapi puisi sukalah dikit-dikit, tapi lebih kepada suasana hati.

    tapi kalo mafia puisi ??? hah..apa pula itu ?

  14. By Alex on May 31, 2008 | Reply

    berarti mafia senayan itu

    matematika fisika kimia senayan ya ????????? haha

Post a Comment