Susah Melawan Diri

29 May 2008 | Ditulis oleh: EWA |

Oleh Ersis Warmansyah Abbas

SATU diantara sekian banyak musuh menulis adalah melawan diri. Seseorang yang berkehendak menulis tidak akan menjadi kenyataan apabila tidak mampu melawan, menundukkan, dan memenej dirinya. Kalau dipadukan dengan kecanggihan alasan, maka lengkaplah ciptaan musuhnya. Tidak akan pernah menjadi penulis.
 
Seorang kawan, punya kebiasaan sangat jorok … menulis tidak pernah selesai. Satu atau dua alinea, berhenti begitu saja. Konyolnya, besok dilakukan lagi. Besoknya begitu lagi. Sampai saya katakan, bersyukur berteman dengan orang sekonyol Sampeyan. Susah lho mendapatkan teman sejorok Sampeyan. Lebih jorok, berbagai alasan ditumpahkan. Mulai dari listrik PLN padam mendadak, anak menangis, isteri minta dibelai, yang tidak ada kaitannya dengan menulis.
 
Kalau dianalisis dengan membangun sitem kerja otak sampai mindset, yang dibangun bukan kemampuan menulis, tetapi kemampuan bekerja tidak tuntas. Kemampuan bekerja (menulis) tidak tuntas (tidak selesai) bisa jadi menyamankan suasana kebathinan. Pada tingkatnya akan bangga, nich lho … tulisan saya banyak. Tinggal menyelesaikan saja.
 
Kalau ditanya kenapa tidak diuntaskan, dia akan menjawab: “Wah, soal mudah. Kalau ada waktu —saya lagi sibuk banget— akan diselesaikan”. Sebenarnya, apa yang dilakukan, baru selangkah di atas angan-angan. Kalau angan-angan dalam lamunan kepala, tulisan tidak tuntas ibarat buah jatuh di comberan. Kalau hari-hari membaui comberan mana bisa menyadari, menulis tidak tuntas ama aja boong.
 
Padahal, serumnya sederhana saja. Menulis sampai selesai. Jangan berhenti sebelum selesai. Bangun kebiasaan tersebut. Kalau menulis lagi lancar, tulislah berpanjang-panjang. Kalau lagi banyak pekerjaan, tulislah sesuai waktu yang tersedia. Intinya, tulisan selesai. Bagaimana kalau menulis novel atau buku?
 
Sama saja. Tulis per episode. Ibarat tangga, tulisan pertama adalah tangga pertama. Mau istirahat, silahkan. Setelah itu pijak tangga kedua. Kaki jangan pernah berhenti diantara dua tangga. Capek sendiri kalau mengangkang. Mana pula, posisi tidak jelas.
 
Saya ingatkan, bagi mereka yang suka beralasan, hal tersebut merupakan persoalan serius. Banyak diantara kita tidak doyan menyelesaikan pekerjaan. Bahkan di tingkat negara dan bangsa. Masalah diserahkan kepada waktu. Waktu yang akan menyelesaikannya. Banyak kasus hukum, kasus Pak Harto, kasus BLBI, nampaknya waktu yang akan menyelesaikan. Lalu, dilupakan dalam ingatan kolektif. Bangsa pelupa.
 
Selanjutnya, otomatis —habis itu sih yang dibangun— berbagai alasan akan bergabung tanpa hambatan. Entah kenapa, kalau ‘membangun’ alasan kemampuan begitu canggih. Apa saja bisa jadi alasan. Menulis ya menulis, membelai isteri ya membelai isteri, apa hubungannya? Wilayahnya berbeda, waktunya kenapa tidak diatur, kog dijadikan alasan. Aneh.
 
Sekali lagi, padahal, kalau sudah menulis tiga halaman, tinggal sehalaman lagi. Kenapa bagian terakhir dibengkalaikan. Bukankah kalau diruntut mulai dari dapatan bahan, ide, membangun konstruksi di pikiran sampai menjadikan tulisan prosesnya begitu rumit? Dasar dungu, tinggal beberapa alinea ditinggal begitu saja. Ditukar dengan alasan, alasan, dan aneka alasan.
 
Pertanyaannya, menulisnya yang susah atau melawan diri? Anak SD saja dapat berkesimpulan, memenej diri yang tidak piawai. Menulis memenej diri. Aplikasi diri. Komitmen.
 
Jadi, dalam menulis jangan lupa melawan diri dalam artian mengenyahkan hal-hal tidak positifnya. Sekaligus, menulis membangun kemampuan diri, kemampuan yang diperdapat berlandaskan latihan, melakukan. Bukan, sekali lagi bukan, menyandarkan pada alasan.
 
Selamat menulis.
 
Bagaimana menurut Sampeyan?
 
Banjarbaru, 29 Mei 2008.

  1. 14 Responses to “Susah Melawan Diri”

  2. By tri aja dehhh on May 29, 2008 | Reply

    setuju bos.
    jika beralasan ini,..itu..,ba..bi,,bu,. maka sampai kiamat tulisan kita ngk selesai (kira2 begitu). jujur diakui melawan hati susah bin ngalih. tapi kalo tidak dicoba, …kasihhhh dechhhhhhhh
    ulun sudah mencoba dan rasanya…..mak nyossss…plong seperti tacabut sasuban…

    ***Bunuh alasan. Kalau asal muasal alasan (orangnya) jangan, ntar dikira saya yang salah he he

  3. By Siti Fatimah Ahmad on May 29, 2008 | Reply

    Setuju dengan tulisan tuan.
    Hidup kita ini penuh dengan pelbagai alasan yang memungkinkan kita tidak cukup kuasa untuk melawan diri dari melunasi sesuatu. Tanpa memikirkan kesannya. Tanpa melihat kerugiannya.

    Masa tetap berlalu dengan alasan yang tidak pernah ada penghujungnya. Masa tidak akan kembali bersama alasan yang diteruskan. Masa tetap memotong jalan alasan yang sentiasa mendorong tidak melaksanakan apa-apa. Umur kita berlalu juga kerana MASA. MASA ? APA ADA PADA MASA ?

    Hal ini difirmankan Allah swt dalam surat al-Asr, ayat 1-3 yang kiranya bermaksud : “Demi MASA,Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal soleh dan nasihat menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.”

    Jika dihayati ayat ini, tentu kita akan bersegera untuk melakukan kebaikan. Demi Masa. Kerja menulis ini juga termasuk amal soleh kerana kita akan menasihati diri juga mengingati orang lain dan menetapi kesabaran untuk memikirkan kebaikan hasil penulisan kita. HENDAK SERIBU DAYA TAK HENDAK SERIBU DALIH. Setuju tak dengan pendapat saya ini. Seperti memberi ceramah pula.

    ***Bukan memberi ceramah, tapi … pencerahan. Trims ya mBak dari Malaysia, saya senang, setiap komen sampeyan diingatkan firman Allah atau hadis Rsulullah. Saya berkeinginan nanti menulis dalam kaca pandang Islam.

  4. By akmalhasan on May 29, 2008 | Reply

    Melawan diri (ego) emang bagian terberat dari perjalanan anak manusia om…
    Sepulang dari kemenangan perang Badar, Rasulullah berpesan yang intinya bahwa perang terbesar adalah mengendalikan hawa nafsu.

    Kalo kebiasan menulis sama dengan kebiasaan berbicara mungkin prosesnya jadi lebih gampang. Karena asumsi kebanyakan, untuk menulis diperlukan ba bi bu persyaratan yang malah menyurutkan semangat menulis, belom lagi munculnya alasan-alasan yang om sebutkan itu.

    Menulis dengan tuntas dibutuhkan keseriusan, ketekunan dan kemauan yang kuat. Pandai-pandailah bernegoisasi dengan diri sendiri, keluarga, dan lingkungan. Bilang aja “Ini penulis best seller lagi take action” …hehehhe

    Maaf kalo sok menggurui, hanya berbagi komentar saja.. trims

    ***He he jangan banyak tanya, nich lagi bikin buku teraris …. Oh ya, kemauan, ketekunan, dan keseriusan diperlukan bagi pemula (jangan sampai ketipu ya), kalau sudah terbiasa, menjadi bagian diri otomatis menjadi bagian diri. Jadi, semua mudah.

  5. By Qizink La Aziva on May 29, 2008 | Reply

    Saya inget dulu dipengajian diajari do’a ‘Allahuma Tuksa (Kalau ngantuk dipaksa)’ Kayaknya buat nulis juga kudu ada do’a ‘Allahuma Paksain’.

    ***Ha ha bisa aja kawan ini

  6. By iNAS on May 29, 2008 | Reply

    benar saya setuju, melawan diri sendiri itu agak susah. Apalagi dalam proses menulis, kita harus melawan malas dan melawan perasaan enteng. Kita enyahkan sikap “nanti saya akan menulis”, padahal akan dan akan tidak pernah terjadi.

    ***Ya ya, makanya kita belajar menulis dengan menulis setahap demi setahap.

  7. By aminhers on May 29, 2008 | Reply

    betul bang ersis , musuh kemajuan seseorang adalah ,ia, diri sendiri
    makanya saya posting di blog tentang 3 hal kebiasaan jelek saya (kita) yakni, telat, gosip, ntar aja;silahkan di baca,
    salam.

    ***Salam. Semua kita punya sifat jelek. Masalahnya, berani ngak ngakui, berani ngak ninggalain, dan berani ngak memperbaiki. Mudahan sudah pada taha ke tiga he he

  8. By budisan68 on May 29, 2008 | Reply

    Ulun terima kasih pian singgah di blog ulun. dari dulu saya pingin menulis karya tulis tapi selalu gak kesampaian. darimana saya mulai?
    terus saya baca komen sampean di suhadi.net akan kirim buku-buku puisi. Saya mbokya dikirimi juga.

    ***he he, silaturhami. Kalau memulia, pasti sampai, asal diteruskan. Itu kuncinya. he he … dengan senang hati.

  9. By alfaroby on May 30, 2008 | Reply

    menulis tuh aku pikir sebuah kreatifitas… sebuah kemauan untuk mengungkapkan apa yang ada dalam benak dan otak kita….

    jangan pernah membunuh rasa tersebut…. teruslah berkarya….

    ***Yoi, makasih.

  10. By assad on May 30, 2008 | Reply

    lagi-lagi saya terpesona melihat karya tuan..
    semua yang di tulis mengena banget dan paasss banget bagi masalah yang sering saya temui,,,

    *saya jadi betah,,, keliling lagi ah!!

    ***He he jangan ngeledk, ntar saya merajuk lho. Salam.

  11. By HZ_MUBARAK MAP on May 30, 2008 | Reply

    lawan musuh terbesar itu.hancurkan bila perlu,,,

    **Hayya …

  12. By nenyok on May 30, 2008 | Reply

    Salam
    Akh aleysan :D kalau saya sie Pa, sekiranya ingin membuat tulisan yang agak panjang dan diperkirakan waktu ndak cukup atau banyak gannguan, biasanya saya tuliskan draftnya, garis besarnya, poin2 apa yang mau ditulis soalnya takut keburu ilang, kalau sudah merasa ada waktu insya Alloh terselesaikan. baidewei salam kenal ya Pa :)

    **Sama-sama. Lebih asyik langsung tulis, kalau terbiasa ntar bisa berupa daf doang. Jadi, begitu ada kesempatan pertama, langsung tulis.

  13. By Alex on May 31, 2008 | Reply

    kalo sibuk dengan kerja gimana tu pak, mensiasatinya ??

  14. By Rozy on Jun 3, 2008 | Reply

    Supaya nggak menguap dan akhirnya hilang tanpa bekas, saat ide terbetik dan terlintas, jangan tunda untuk menjadikannya bahan tulisan. Insya Allah idenya nggak sia-sia dan akan menjadi tulisan yang baik :)

  15. By Kamaruddin on Sep 23, 2008 | Reply

    mohon saya dibimbing untuk dapat juga ikut meramaikan dunia maya. Sangat dangkal sekali pengetahuan saya tentang ini, atas bantuannya saya haturkan terima kasih

Post a Comment