Kepada Angin
28 May 2008 | Ditulis oleh: EWA |Wahai angin nan lalu
sampaikan padanya tentang kalimah
kamilah pemilik republik ini
yang berhak atas derita
Kami tak punya kuasa, bukan pengusaha, atau politikus, apalagi pengambil kebijakan yang tidak suka membaca iklan dan posko perang, yang tidak paham ‘mainan’ hebat-hebat
Nyanyian rindu senandung pilu tak enyah-enyah dekapan rindu sorak-sorak memanah daun telinga
rayuan burung pipit sayup-sayup mimpi
tanpa posko di halaman sarang-sarang yang tercabik-cabik
ladang-ladang merekah nanah
lidah-lidah valas bukan labuhan mimpi kami
kami realitas
Kumandang janji-janji kehilangan makna
sudalah, mengapa benang basah ditegakkan
cintailah negari ini
Wahai angin nan lalu
negeri ini amanah kami
labuhan derita balada rasa
Banjarbaru, 28 Mei 2008.













11 Responses to “Kepada Angin”
By aminhers on May 28, 2008 | Reply
Sangat di sayangkan kalau negeri ini rusak oleh orang2 yang tak bertanggung jawab. kasihan generasi penerus nanti.kasihan kita ini.
be strong, be smart,be fair, do now !
By meiy on May 28, 2008 | Reply
angin sampaikan anganku
tetang negeri yg indah damai tentram…
By Rafki RS on May 28, 2008 | Reply
Semoga negeri ini diselamatkan dari tangan-tangan penjarah yang zalim. Sangat menggugah Pak.
By mathematicse on May 28, 2008 | Reply
Pak, saya lagi baca2 puisi dari buku-buku kiriman bapak neeh. (Dari 10 buku yg bapak kirim, kok 5 yang tentang puisi).
Jujur, saya belum mampu menulis puisi. Makanya, sdikit2 saya baca buku2 puisi kiriman bapak. Mudah2an nanti bisa nulis.
***5:5 agar berimbang, he he
By mathematicse on May 28, 2008 | Reply
Jujur saya belum bisa nulis puisi. Memahami maksud sang penulis puisi saja harus kerja keras saya mah Pak.
***Matematika adalah saudara sepupu puisi, Kang.
By Willy Ediyanto on May 28, 2008 | Reply
Ya, para mahasiswa itu keluar dari sarangnya. Meneriakkan kekecewaan pada pemerintah.
Kita hidup di atas minyak, tapi minyak malah dihisap luar negeri. Kita hanya mendapat lelehannya dari mulut jerigen minyak raksasa yang dibawa/dikirim ke negeri asing.
***ha ha kata-katnya sungguh pada dan tajam.
By leah on May 29, 2008 | Reply
waduhh mending dikasih setumpuk soal
mafia ( math, fisika, kimia) daripada harus memahami puisi heheh
salam pak..
***Salam. Persepsi harus dirubah neng … coba simak-siman: E=MC2. Itu adalah puisi terhebat notasi matematika, dari raupan ruang dan waku, energi, berasal dari kerja kimiawi otak Eisnstei. Bukti bahwa puisi itu adalah hal tertinggi kemampuan otak. Yaha, karya mBah Einstein contohnya. Kalau 2+2=empat, apa menariknya. Matematika itu adalah ilmu paling abstrak, begitu juga mafia … he he. Saudaranya puisi.
By Alex on May 31, 2008 | Reply
kok ngadu sama angin pak ???
demo aja ??
inikan demo juga..demo puisi..hehe
By Ed Zoelverdi on Jun 9, 2008 | Reply
Assalamu’alaiku, ustadz,
LUAR BIASA! Kapan tempo melancong ke Betawi, silakan mampir.
Terimakasih — syukran — sudah mampir di blog kito.
Selamat berkarya, dan sukses!
Wassalam,
ED ZOELVERDI
By Ganjar Muttaqin on Jun 10, 2008 | Reply
menulis puisi,menulis lagu, lagi lagi menulis hehehehe
SALUTE 4 EWA
By setiawan on Oct 24, 2008 | Reply
ok bgt
***Yoi.